
Lion pergi dengan ketiganya, "kenapa kau pergi begitu saja?" Tanya Rafa dengan wajah agak kesal.
Antara temannya yang tidak bisa memanfaatkan kesempatan atau karena dirinya yang tidak punya waktu untuk bertanya tenang dokter itu.
Lion mengabaikannya, dia menatap Geon dengan wajah tenang. "Aku ingin satu unit apartemen di samping miliknya malam ini juga. Jika tidak bisa maka beli satu lantai ini. Dan jika tidak bisa maka beli gedungnya!" Ujar Lion dan berjalan ke luar untuk kembali ke rumahnya yang ada si pondok indah untuk mengambil beberapa barang.
"Gerakan yang luar biasa!" Ujar Rafa dengan kagum.
"Luar biasa apanya! Heh... Ini membuatku harus bekerja lebih banyak lagi!" Ujar Geon dengan kesal.
"Kalau begitu, selamat bekerja!" Ujar Rafa dengan senyum manis dan berjalan melewati Geon setelah mengepalkan tangannya di depan geon sebagi dukungan yang afirmatif.
Geon yang sekarang mendapat pekerjaan baru harus menghela nafas. Seharusnya dia mengambil alih perusahaan keluarganya saja, tapi dia tidak terlalu suka berhadapan denganĀ orang tua yang sudah bau tanah itu.
Kleine tertidur lagi dengan mudah karena kondisi tubuhnya yang menuntut. Dia tidak tahu apa yang terjadi di luar. Saat ini dia bermimpi buruk lagi. Mimpi yang sama dengan kejadian delapan tahun lalu.
Dia terus berteriak gelisah di dalam mimpinya.
"Bangunlah!" Ujar Bles pada Dewi yang sedang tidur nyenyak.
"Ada apa?" Tanya Dewi dengan kesal.
"Kleine... Dia sepertinya bermimpi buruk!" Ujar Bles dengan cemas.
Dewi tidak menunggu kata-kata lain dari Bles, dia segera bergegas ke kamar sebelah.
"Adik ke empat?"
"Tidak! Jangan!!!"
"Adik ke empat!!!"
Kleine terus bergerak gelisah, handuk di keningnya juga telah jatuh. Seluruh tubuhnya berkeringat sangat banyak. Dewi dengan panik mengecek suhu tubuh Kleine.
Berbeda dari suhu tubuh Kleine yang tadi sangat panas, kali ini suhu tubuh Kleine menjadi sangat dingin. "Apa dia baik-baik saja?" Tanya Bles dengan cemas.
"Ini tidak baik! Cepat ambilkan beberapa selimut lagi!" Ujar Dewi cepat dan mengambil remote AC. Di menyetel agar suhu AC menjadi tinggi lagi.
__ADS_1
"Ya..." Jawab Bles setelah berlari ke lemari.
Dia mengambil sembarangan dan segera membantu Dewi memasang selimut itu pada Kleine.
"Gosok tangannya dan ambil mesin penghangat kaki!" Ujar Dewi lagi, dia mengambil minyak kayu putih lalu menggosok nya ke tangan Kleine.
Di tengah hujan, Kleine menangis dengan sedih. Di dalam pelukannya, ada seorang bocah yang berlumuran darah.
"Adik ke empat, sadarlah! Aku akan merawat mu dengan baik sampai sembuh!" Ujar Kleine dengan air mata yang tidak bisa ia hentikan.
Kleine menggendong anak kecil itu dan berlari ke depan. Dia melihat sekelilingnya yang sepi, tidak ada lagi penembak jitu itu. Bahkan tidak ada penjahat yang ingin menyerang mereka.
Serangan tadi tampaknya hanya mencegah adik ke empatnya untuk berbicara. Dia bahkan tidak berniat untuk membunuh mereka. Waktu itu Kleine semakin yakin bahwa kakak pertama mereka telah berada dalam bahaya.
Dia berlari di sepanjang jalan untuk mencari tumpangan. Karena baik mobilnya dan taksi yang mengantar adik ke empat sudah hilang entah sejak kapan.
Kleine berlari dengan putus asa, dia sedih karena tidak belajar pengobatan dengan baik. Dia hanya bisa melakukan pertolongan pertama yang paling sederhana.
"Tahanlah adik!" Bisiknya pelan.
Lion sudah mendapatkan apartemen sebelah. Dia baru saja berdiri di depan pintu rumah Kleine hanya untuk menyadari bahwa ada keributan di sana. Dia melihat bahwa pintu tidak terkunci, jadi dia mendorong barang-barangnya pada Geon yang berada di sampingnya dan berjalan masuk.
Sedangkan Dewi juga selalu mengganti handuk dingin dengan handuk hangat.
Keduanya menoleh saat melihat ada yang masuk. "Apa yang terjadi?" Tanya Lion dengan panik dan berlari untuk mendekati.
Dia melihat Kleine yang bergerak gelisah dengan banyak keringat di sekujur tubuhnya. Lalu pada bibirnya yang memburu dan tampak membeku.
"Minggir!" Ujarnya dan mendorong Dewi menjauh. Dia mengambil alih tangan Kleine dan menggosoknya dengan cepat.
Tangannya lebih dingin dari tangan Dewi yang hangat. Tapi, saat ini Kleine tidak gelisah lagi dan tidak bergumam lagi dan lagi. Semuanya tampak tenang dan suhu tubuh Kleine perlahan mulai membaik.
Kleine tidak tahu bahwa dia telah membuat panik beberapa orang. Dia saat ini sangat berterimakasih pada orang baik yang mau menghentikan mobilnya di saat orang lain mempercepat kemudi.
Kleine tidak memperhatikan siapa orang itu, dia terus menggosok tangan adik ke empatnya yang sudah mulai mendingin.
"Tolong ke rumah sakit terdekat!" Ujar Kleine dengan air mata yang tidak bisa dibedakan dengan air hujan.
__ADS_1
Orang itu hanya menjawab dengan suara ringan yang tidak Kleine dengar. Lalu dia menyodorkan sebuah jaket, "pakaikan padanya!" Ujar orang itu.
Kleine mendongak dan melihat sebuah jaket yang sangat tebal. Tanpa berpikir lama, dia langsung mengambil jaket itu dan menempelkannya pada adik ke empatnya.
"Terimakasih!" Ujar Kleine dengan tulus.
Orang itu tidak menjawab, dan segera mobil itu sampai di rumah sakit.
Kleine keluar dengan tergesa-gesa dan membawa adiknya di bantu para perawat ke ruang gawat darurat.
Saat adik ke empatnya sudah di dalam dan dokter juga sudah masuk, Kleine baru sadar akan orang asing tadi.
"Em... Nona, ini adalah biaya yang harus anda bayar dan tanda tangani." Ujar seorang perawat dengan senyum lembut.
"Apakah adikku sudah di tangani?" Tanya Kleine dengan wajah keras.
"Belum, anda harus membayar dulu agar dokter bisa langsung mengoperasi nya!" Jawab suster itu.
"Operasi dia sekarang dan aku akan mengurus pembayarannya di bawah. Yang mana yang harus aku tanda tangani?" Semua transaksi terjadi dengan cepat.
Kleine menunggu di ruang operasi dengan cemas. Dia mengeluarkan handphonenya yang sudah basah dan tidak menyala lagi. "Permisi! Apakah aku bisa meminjam ponselmu sebentar?" Tanya Kleine pada seorang paman yang lewat.
"Ya silahkan!" Jawab paman itu dengan ramah.
"Terimakasih!" Ujar Kleine cepat dan megambil telepon itu.
Dia mengetik beberapa angka dan akhirnya ada jawaban setelah tiga kali panggilan.
"Keys siapkan ruangan gawat darurat! Adik ke empat sedang di operasi saat ini. Setelah operasi aku akan memindahkan nya ke rumah sakit itu saja! Beritahu yang lain juga," ujarnya cepat dan setelah menutup telepon dia melihat pintu ruang operasi yang perlahan terbuka.
"Bagaimana operasi nya dokter?" Tanya Kleine cepat.
"Operasi pengeluaran peluru berjalan dengan lancar, tapi kami harus mengatakan dengan penuh penyesalan bahwa pita suaranya telah rusak dan kemungkinan dia tidak akan bisa berbicara lagi."
Kleine jatuh saat ini, dia sadar bahwa orang itu memang tidak ingin adik ke empat memberitahu tentang keberadaan kakak pertama.
Kleine mendorong ponsel itu pada paman tadi, mengucapkan terimakasih berulang kali dan masuk ke ruang operasi.
__ADS_1
"Adik kecil!" Bisiknya sedih setelah melihat wajah adiknya yang pucat dan tidak berdarah.
###