Serangan Cinta CEO Dingin

Serangan Cinta CEO Dingin
Chapter Six


__ADS_3

Terkadang kebenaran memang sangat menyakitkan. Tapi, seburuk apapun sebuah kebenaran. Itulah yang terbaik untuk kamu dan masa depanmu.


Percayalah, lebih nyaman dengan musuh yang ada di depan mata. Dibanding dengan musuh yang masih tersembunyi dibalik selimut.


Kleine yang berpikir dia akan didorong sampai jatuh oleh ketiga anak nakal itu tidak berharap seseorang akan menolongnya.


Dan yang lebih mengejutkan lagi, itu adalah ibu tirinya yang selama ini selalu menyiksanya.


"Sedang apa kalian?" Tanya Jaena pada tiga anak yang ingin mendorong Kleine ke sungai. Dia menatap putrinya dengan bingung. Tapi, dia tidak begitu peduli.


Dia hanya sedih karena akan berpisah dengan anak semata wayangnya.


Tapi, dia juga senang karena anaknya akan di rawat oleh orang kaya setelah rencana suaminya berhasil.


"Ini, bibi! Kami tidak melakukan apa-apa!" Bantah bocah yang gendut.


Lalu dia melarikan diri dan menjauh dari sana.


Dia takut Jaena akan menghukumnya dan menceramahinya karena dia nakal.


Meskipun warga desa tidak menyukai Kleine. Tapi, warga desa juga tidak suka anak-anak menjadi nakal dan bertindak semaunya. Itu sebabnya setiap kali ada warga desa yang melihat Kleine di ganggu oleh anak-anak nakal, mereka akan memarahi anak itu agar tidak berbuat jahat lagi.


Tapi, mereka tidak melarang mereka untuk terus membully Kleine.


Anak laki-laki yang satunya juga pergi dengan cepat mengiringi langkah temannya tadi.


Sekarang hanya tersisa Kleine yang linglung, Azel yang tampak takut, dan Jaena dengan ekspresi yang aneh.


Jaena berjalan mendekati keduanya, Azel pikir ibunya akan memarahinya karena berbuat nakal. Jadi, dia secara perlahan dan tanpa sadar mundur ke arah sungai.


Jaena tidak memperhatikan Azel lagi saat ini. Dia hanya ingin maju dan mengambil Kleine segera mungkin. Dimana dia tahu bahwa saat tersisa empat langkah lagi kearah Kleine, dia akan mendengar teriakan dari putri baiknya.


Dia menoleh dengan sigap kearah tempat putrinya berdiri tadi.


Dan dia melihat putrinya nyaris hanyut di sungai.


"Azel, tidak putriku!" Teriaknya panik.


Tanpa menunda waktu, Jaena dengan cepat berlari di sepanjang tepi sungai dan mengulurkan tangannya pada Azel agar gadis kecil itu tidak hanyut terbawa arus.


Kleine yang melihat adegan itu, tidak tahu harus berbuat apa. Dia hanya bisa diam membantu.


Kleine berpikir, jika yang hanyut bukan Azel tapi dia sendiri. Apakah Jaena akan panik dan membantu dia seperti sekarang?


Atau mengabaikan dan membiarkan dia hanyut terbawa arus?


Mungkin opsi kedua lebih sesuai, karena hanya dengan itu. Jaena tidak akan merasa terganggu lagi dengan kehadiran Kleine.


Setelah berbagai usaha, akhirnya Jaena berhasil menarik Azel ke tepi sungai.


Gadis kecil itu basah kuyup dan batuk sangat banyak. Matanya merah karena terkena air secara terus-menerus.


Jaena tampak khawatir, dia berjongkok disamping Azel dan mengelus punggungnya sedikit menepuk agar membantu gadis itu mengeluarkan air yang mengganggu pernafasan putrinya.

__ADS_1


Setelah beberapa menit, Azel tidak batuk lagi. Dia menarik nafasnya dengan tenang.


Kleine tersadar dari linglungnya dan berlari menghampiri keduanya. Dia ingin membantu menepuk dada Azel agar air yang masuk ke mulutnya keluar.


Sayangnya Kleine terlalu gugup, atau bingung. Hal itu membuat Azel yang sudah lebih baik menjadi batuk kembali.


"Apa yang kamu lakukan?" Teriak seseorang yang berhasil membuat terkejut ketiga wanita itu.


Mereka menoleh serempak hanya untuk mendapati banyak orang asing dan bahkan warga desa datang mengerumuni mereka.


Kleine yang melihat banyak warga desa menjadi pucat dan ketakutan.


Ada apa dengan mereka yang datang ke sini?


***


"Mengapa begitu lama?" Tanya pimpinan penjaga pada Toni, matanya menatap penuh intimidasi.


Toni juga sedikit berkeringat dingin. Aura seorang yang begitu terlatih, dia benar-benar sangat tidak nyaman. Tapi, dia berusaha untuk sedikit lebih tenang.


Dia juga tidak lupa mengutuk Jaena yang begitu lama membawa Kleine dan Azel pulang.


Karena tidak sabaran, pimpinan itu menyuruh Toni untuk memimpin jalan mereka. Toni dengan cepat mengantar mereka ke sungai tempat biasanya Kleine mencuci.


Siapa yang tahu mereka akan melihat ibu dan anak sedang menyiksa seorang anak cantik yang lain.


Para pengawal atau penjaga itu segera bergegas dan merebut Azel dari genggaman Jaena.


Dia tidak bertanya pada Toni yang mana cucu tuan mereka. Mereka langsung bisa memutuskan hanya dengan satu pandangan.


Jelas yang lebih cantik adalah nona mereka bukan?


Toni juga tidak bisa menahan gembira saat melihat adegan di depannya.


Sungguh luar biasa, tuhan sangat mendukungnya. Dia awalnya masih berpikir cara menyakinkan para penjaga itu bahwa putrinya adalah cucu tuan mereka. Tapi, ini sungguh keberuntungan yang tiada tara.


Tapi, Azel yang masih kekanak-kanakan dan tidak tahu rencana mereka mulai berteriak dan meronta.


"Ibu!" Ujarnya gemetar karena ketakutan dan mencoba untuk berlari ke Jaena yang membeku. Dia memberontak dengan berbagai cara. Memukul pria itu, mencubit dan menggigit.


Namun, dia tetap tidak bisa lepas dari pria yang menahannya.


Warga desa lainnya juga bingung. Aneh, bukankah itu anak kandung Toni dan Jaena? Bagaimana bisa menjadi seorang cucu orang kaya? Apakah itu karena salah-salah satu dari mereka adalah seorang anak orang kaya itu?


Tapi, tidak mungkin Jaena kan? Sangat jelas siapa orang tua Jaena.


Dan juga tidak tahu tentang Toni, identitas Toni memang agak misterius. Walaupun dia sudah lama berada di desa, tapi tidak ada yang tahu apakah orang tuanya itu adalah orang tua kandung bukan?


Tapi, melihat tadi Toni yang berkompromi dengan uang, seharusnya tidak bukan?


Apakah itu Kleine? Tanya mereka dalam hati, mereka melirik gadis dekil yang berdiri ketakutan itu.


Gadis ini sendiri juga tidak jelas asal-usulnya. Seharusnya Kleine lah cucu pria kaya itu kan?

__ADS_1


Tapi, tidak ada dari warga desa yang berani menyebutkan pendapat dan pikiran mereka. Mereka hanya penonton kesenangan, dan mereka tidak suka ikut campur urusan orang lain.


"Tidak tuan! Itu bukan cucu tuannya! Itu putri kandungku! Itu, gadis itu adalah cucu tuannya yang sebenarnya!" Bantah Toni dan mencoba merebut Azel dari pimpinan itu.


Wajahnya tampak enggan dan sangat tidak terima.


Pimpinan itu tidak mau melepaskan Azel. Dia yakin ini adalah nonanya, tidak mungkin itu adalah gadis dekil dan jelek itu!


Tidak mungkin keturunan DNA tuannya akan begitu jelek!


Jaena yang melihat akting suaminya juga mulai ikut berakting.


"Tuan, suamiku benar! Ini putri kandungku, ini bukan cucunya tuan. Ini putri tersayang ku! Ini, lihat ini adalah cucu tuan yang sebenarnya!" Ujar Jaena mendekati mereka dan menarik paksa lengan Kleine.


Kleine bingung? Mengapa hari ini begitu banyak hal yang terjadi?


Dan apa semua drama yang rumit ini?


Pimpinan itu tetap tidak mau percaya, bahkan jika seluruh warga desa berkata begitu. Dia tetap tidak akan percaya!


Siapapun yang ada di posisi dia pasti juga akan memilih gadis cantik ini.


"Tuan, percayalah! Ini, benar-benar cucu tuannya!"ujar Toni dengan penuh harap.


"Tidak!" Bantah pimpinan itu.


"Ibu!" Lirih Azel, air matanya nyaris habis karena menangis dan menahan takut. Dia juga sudah lemas karena terus meronta tanpa hasil.


"Tuan, percayalah!" Ujar Jaena dan mencoba berakting sebaik mungkin,n serata mengeluarkan air mata buaya yang sangat banyak.


Pimpinan itu tidak tahan dengan dua suami istri ini. Jadi, dia memikirkan sebuah ide.


Dia menyerahkan Azel pada temannya, lalu dia berjalan mendekati Kleine.


"Baiklah, biar aku lihat lebih baik lagi!" Ujarnya dan merebut Kleine dari sisi Toni dan Jaena.


Lalu dia menarik Kleine yang bodoh ke dekat sungai.


Dengan dorongan kuat, dia mendorong Kleine ke sungai.


Semua orang terkejut, bahkan Toni dan Jaena tidak bisa menahan diri dengan terkejut.


Dan Azel yang tadi meronta dengan ganas menjadi terdiam membisu. Dia menatap pria itu semakin menakutkan.


Mereka awalnya terdiam membeku, tidak ada yang berharap pimpinan itu akan begitu kejam.


Jaena dan Toni saling lirik sekilas. Lalu mereka berteriak penuh histeris sembari mengejar Kleine yang terbawa arus sungai.


"Putriku!" Teriak Toni frustasi.


"Tidak, kau sangat kejam!" Maki Jaena pada pimpinan itu.


Lalu mereka berdua berusaha mengejar Kleine yang semakin terbawa arus.

__ADS_1


__ADS_2