
Lion menatap wajah galak Kleine dan tersenyum malu. Dia dengan sigap mengambil handphone Kleine, "maaf! Aku akan menggantinya." Ujarnya cepat.
Kleine merebut handphone itu dari tangan Lion, "tidak perlu!" Ujarnya cepat dan pergi keluar dengan kesal.
Saat Kleine membanting pintu dengan kesal, para koki di dapur memperhatikan dia dengan mata heran.
Kleine mengabaikannya dan berjalan naik ke atas. Dia melihat dua orang itu yang sedang berpelukan mesra, "ya sepertinya keahlian bermuka dua Lea semakin bagus" pikirnya.
Lion mengikuti di belakang Kleine dan juga melihat dua orang yang sedang berpelukan manja itu.
Wajah Lea menghadap pada arah tangga, tentu saja dia juga melihat dua orang yang sedang menonton mereka. Dia dengan cepat mendorong tubuh Zoey dan memberi tanda pada Zoey yang menatapnya bingung. Zoey melihat arah yang di tunjuk oleh mata Lea dan berbalik ke belakang.
Dia melihat tidak senang pada Kleine, gadis ini memang tidak baik jika terus berada di sisi Lea. Dia bahkan hampir bertengkar karena permulaan dari gadis ini. Dia tidak bisa membiarkan gadis ini datang lagi ke sini.
Karena terlalu fokus pada Kleine, Zoey bahkan tidak melihat Lion yang berdiri di belakangnya sama sekali.
"Sedang apa kau disini?" Tanya Zoey tidak senang, dia berjalan mendekati Kleine dengan ganas.
"Kau bukan tipe teman yang baik, mulai sekarang pergi dari sini dan jangan pernah mencari Lea lagi!" Usirnya dan menunjuk keluar.
Lea menunduk seperti merasa bersalah, tapi tidak ada yang tahu selain Kleine bahwa sebenarnya gadis itu sedang tertawa kemenangan. Kleine memiringkan kepalanya untuk melihat Lea yang cekikikan dalam diam.
Dia tersenyum misterius yang membuat Zoey menjadi bingung. Lalu dia menatap wajah Zoey yang sedikit lebih tinggi darinya.
"Memang bodoh!" Decaknya pelan, Zoey bahkan tidak bisa mendengar dengan jelas apa yang di katakan Kleine. Tapi, Lion yang berad di belakang Kleine dan berdiri agak jauh darinya bisa mendengar itu dengan jelas.
Dia dengan penasaran melirik Lea yang sedang menunduk. Sejak bertemu Lea, Lion merasa gadis itu tidak sesederhana yang terlihat. Sekarang dia menjadi semakin yakin dengan opininya dan dia juga setuju dengan pendapat Kleine. Temannya yang satu ini memang sangat dibodohkan oleh cinta.
"Apa katamu?" Tanya Zoey kesal, meskipun dia tidak mendengar dengan jelas. Tapi, dia rasa dia mendengar bagian akhirnya dengan jelas. Dan gadis ini benar-benar berani mengatakan dia bodoh?
Kleine tidak terpengaruh oleh aura mendominasi dari Zoey, dengan santai dia berkata: "Tidak ada!" Lalu dia berjalan maju, menyingkirkan Zoey dengan satu jari.
__ADS_1
Dia mendekat pada Lea, semakin dekat. Awalnya Zoey yang tahu niat Kleine ingin segera mencegahnya. Tapi, tangannya dengan segera tertarik kebelakang. Dia melihat orang yang menariknya dengan emosi, hanya untuk menyadari bahwa itu adalah Lion. Dia menjadi bingung dan sangat tidak senang, tapi tangannya seperti terkurung erat dia tangan Lion.
"Lepaskan aku!" Pintanya dengan nada kesal.
"Urusan wanita, hanya wanita yang mengerti!" Jawab Lion bijak. Zoey awalnya ingin terus membantah. Tapi, dia tidak bisa melawan kekuatan Lion.
Tubuh yang lemah ini benar-benar membuat Zoey tidak berdaya. Dia diam-diam bertekad untuk melatih tubuhnya agar lebih kuat dari Lion kedepannya. Tanpa dia sendiri ingat bahwa dia sudah mengatakan itu ribuan kali dalam hidupnya dan tidak pernah berhasil.
Kleine mendekatkan bibirnya ke telinga Lea. "nice game Lea!" Bisiknya dengan suara yang sangat merinding.
"Aku suka permainan ini, jadi ayo lanjutkan! Kita akan lihat siapa yang lebih baik dari siapa. Oh, aku hanya ingin memberitahu jika sesuatu yang dimulai dari kebohongan, akan selalu berakhir tragis."
"Apa maksudmu?" Tanya Lea tidak bahagia.
Kleine mundur dua langkah, dia menepuk bahu kanan Lea. "Hanya mengingatkan!" Ujarnya santai dan segera berbalik. Dia berjalan menjauh, setelah itu dia berhenti dan segera menoleh. "Oh, sepertinya aku lupa. Karena dunia ini punya dua sisi, kau harus siap untuk sisi yang lainnya. Bye!" Tangannya melambai manja dan segera berbalik.
Dia melewati Zoey yang tetap menatapnya dengan tidak senang. "Teman ku yang satu itu adalah seorang queen, ingatlah untuk tidak pernah menyakitinya!" Bisiknya pelan.
Setelahnya Kleine berjalan ke arah tangga. Lion melepaskan Zoey saat Kleine berbisik pada pria itu. Dia juga mendengar dengan jelas apa yang gadis itu bisikan.
Saat Lion sudah di bawah tangga, dia tidak melihat Kleine lagi. "Hai, sepertinya aku harus kehilangan kesempatan berkenalan dengan dia lagi." Gumamnya dengan nafas berat.
Dia bejalan keluar dari restoran dengan wajah murung, siapa yang tahu di depan restoran dia akan melihat Kleine yang sedang menghela nafas di depan restoran.
"Oh, sial sekali aku bisa punya teman seburuk dia. Lihatlah sekarang sepedaku yang rantainya telah lepas karena berada di luar sendirian. Dan aku bahkan tidak bisa makan enak hari ini!" Kutuk Kleine sembari mengelus perutnya yang rata. "Jika bukan karena dia pandai memasak, apa dia pikir aku akan berteman dengannya? Huh, lihat saja jika aku bertemu teman yang lebih pandai memasak darinya. Tidak akan pernah aku terima dia di pintu rumahku!"
"Kalau begitu ayo berteman!" Kleine kaget dengan suara orang di belakanganya. Membuat dia melompat dan berbalik dengan lincah.
"Kenapa kau lagi?" Tanya klien tidak senang.
"Aku bisa memasak yang lebih enak darinya, jadi apakah kita bisa berteman?" Ujar Lion mengabaikan pertanyaan dari Kleine.
__ADS_1
Aku tahu dia pandai memasak dan karena masakannya inilah aku terpaksa datang kemari! Tapi tidak, aku tidak akan tergoda dengan tawarannya! Pikir Kleine matang.
"Tidak! Menyingkirkan!" Ujarnya dan berjalan ke belakang Lion sembari mendorong sepedanya yang rusak.
"Hei, setidaknya anggap masakan ini sebagai tanda maafku karena telah merusak handphone mu."
Kleine menoleh dan tampak berpikir keras, tapi ekspresi wajahnya sangat meremehkan.
"Percayalah, masakan yang aku buat benar-benar lebih enak dari restoran ini. Aku bahkan bisa dengan yakin mengatakan bahwa tidak ada yang bisa menyaingi rasa masakan yang aku buat!" Janji Lion dengan tegas.
"Kau pikir aku akan tergoda?" Pikir Kleine malas dan berbalik, "Baiklah;" jawabnya setelah itu.
Lion yang sempat putus asa berpikir bahwa Kleine masih akan menolaknya. Dan dia pikir gadis itu tidak akan mempercayainya.
Seharusnya jika ada lebih banyak waktu bersama, maka tidak sulit untuk menjadi dekatkan? Pikir Lion licik.
Tidak mendengar ada langkah yang mendekat, Kleine berbalik lagi. "Apa yang kau lakukan disana? Buka mobilmu! Aku akan memasukkan sepeda ini ke bagasinya. Bagaimanapun juga harga sepeda ini tidak murah, aku harus tetap menyimpannya." Ujar Kleine yang diakhiri bisikan pada kalimat terakhirnya.
Lion tersadar dan segera maju untuk membuka bagasi mobilnya.
Lalu dia membantu Kleine melipat sepeda itu dan memasukkan dengan mudah ke bagasi mobil.
Saat Kleine masuk mobil, dia memilih kursi belakang. Dan Lion duduk sebagai supir. Lion merasa aneh dengan ini, apalagi setalah masuk Kleine memainkan telepon seperti seorang nona muda yang sedang dijemput supirnya.
Kleine mendongak, "ada apa?" Tanyanya dengan bingung.
"Ah tidak!" Jawab Lion dengan cepat dan mulai menghidupkan mobilnya.
Tidak begitu buruk menjadi sopir dari gadis cantik, pikirnya:)
###
__ADS_1
Assalamualaikum semua,:)
Sehat selalu, dan bahagia selalu yaðŸ¤