
Saat perjamuan sudah selesai dan Delora ingin bergegas pulang. Dia melihat mobil hijau tuannya berdiri diam di parkiran.
Sepertinya dia lupa jika tuannya kabur tanpa membawa mobil. Di saat yang bersamaan dia menoleh hanya untuk melihat Geon yang bingung karena ada dua mobil yang berdiri di depannya. Satu mobil yang merupakan mobil tuannya dan yang lain adalah mobil yang dia pesan.
Saat mata keduanya bertatapan, mereka hanya tersenyum canggung dan masuk ke mobil dengan malu.
***
Keesokan paginya, mentari terbang dengan wajah sumringah menyambut hari yang indah.
Saat Jefri keluar dari kamarnya sembari meregangkan badannya. Dia tersentak kaget mendapati wajah Kleine yang begitu besar di depan wajahnya.
"Ah, kau... Kau... Kapan kau di depan sini?" Tanya Jefri dengan kaget sembari tangannya terus mengelus jantung.
Kleine yang mengenakan pakaian olahraga bergaris hijau menatap wajah panik Jefri. Dengan senandung kecil dia menjawab,"Oh, aku sedang bosan!" Ujarnya sembari mengelus kepala Cuttie yang entah kapan munculnya.
Jefri melihat singa yang begitu dimanjakan itu dengan pasrah. Kemarin setelah Kleine pergi, dia terus di kacau oleh hewan yang sekarang sedang bersandiwara ini.
Sekarang rasanya Jefri sangat ingin memukul hewan itu dan membiarkan Kleine melihat wajah asli singa yang berkedok kucing seperti sekarang.
"Jadi apa hubungannya dengan ku?" Tanya Jefri penasaran.
"Tentu saja aku akan dengan baik hati mengajarimu silat, fisikmu terlalu lemah untuk bermain dengan Cuttie setiap hari. Jadi, aku akan melatihku agar tidak terlalu lelah nantinya!" Jelas Kleine dengan sabar dan sangat sangat tulus.
Jefri berpikir itu tidak buruk, apalagi kemarin dia benar-benar di hajar habis-habisan oleh singa nakal yang sedang menatap dia dengan tatapan mengejek.
"Baiklah!" Angguknya ringan dan berbalik untuk menganti baju, "Aku akan mengganti baju, kau bisa membawanya pergi lebih dulu!" Ujarnya dengan sopan.
Kleine mengedikkan bahunya dengan acuh lalu menaiki Cuttie menuju halaman belakang.
Karena kamar Jefri berada di lantai bawah, jadi Kleine tidak perlu turun tangga lagi.
Halaman belakang jauh berbeda dari halaman depan. Di sana tidak ada taman yang layaknya di surga. Hanya ada satu kolam renang, lapangan besar dengan dua ring basket di kedua sisi.
Benar-benar tidak ada satupun pohon. Sangat gersang dan tidak nyaman. Tapi, hijau tetap ada dan akan selalu ada.
Lantai kolam renang itu adalah hijau. Warna lapangan basket juga hijau, bahkan ringnya juga. Jadi, meskipun tampak gersang karena tidak ada tanaman. Tapi warna itu sendiri memberikan rasa sejuk yang berbeda.
Kleine mengelus kepala singa itu dan menunduk untuk membisikkan sesuatu pada telinga Cuttie. Lalu, dia melompat dengan ringan seakan dia adalah seorang ksatria yang baru saja turun dari kuda.
__ADS_1
Paman Zen yang datang untuk menyiapkan minuman sarapan dan handuk untuk Kleine menatap tuannya dengan takjub. Meski itu bukan pertama kalinya dia melihat gerakan seperti itu. Tapi, dia masih bertepuk tangan dengan takjub.
"Anda sangat hebat non!" Puji paman Zen dan berjalan mendekat untuk menyerahkan handuk secara langsung.
Para pelayan di belakang meletakkan saran di meja yang ada di pinggir kolam renang.
Mereka juga diam-diam memuji dengan iri betapa luar biasanya tuan mereka ini.
Kleine mengambil handuk itu dan memainkan handuk itu pada di depan atas Cuttie. Membuat singa itu menari-nari mengikuti gerakan handuk yang Kleine goyangkan kanan dan kiri.
Paman Zen yang melihat senyum nakal nonanya hanya bisa geleng kepala dan mundur beberapa langkah dari keduanya.
Jadi saat Jefri datang, dia melihat sirkus singa yang melompat ria karena ulah tuannya.
Wajah natural Kleine yang mulus dan juga bening memang sangat bagus jika dipadukan dengan senyum kecil di bibir merah muda yang tampak sangat kenyal.
Kleine melihat Jefri yang berdiri diam di dekat pintu.
"Apa yang kau lihat! Ayo datang kesini," ujar Kleine setelah selesai memainkan handuk kecil dan mengajak Jefri untuk datang ke arahnya yang sedang berada di lapangan basket.
Jefri mengangguk, "Ya, sebentar!" Teriaknya dan berlari mendekat.
Kleine menyerahkan handuk kembali pada paman Zen lalu dia berjongkok untuk mengelus kepala Cuttie.
Saat sampai di dekat meja bundar dimana para pelayan wanita berdiri sejajar, "mandikan Cuttie dan siapkan sarapan untuknya setelah itu, bawa saja sarapannya kesini!" Perintahnya yang langsung di lakukan oleh para pelayan. Dengan rapi mereka mengikuti langkah Cuttie yang sombong.
Setelah melihat mereka menghilang di pintu, paman Zen kembali berjalan mendekati Kleine dan berdiri diam di ujung lapangan basket.
"Sebelum mulai, disarankan untuk melakukan pemanasan!" Ujar Kleine dan mulai memimpin pemanasan.
Di mulai dari meregangkan leher, tangan kaki dan juga pinggul. Setelah itu Kleine memerintah Jefri untuk memimpin lari mengelilingi lapangan sebanyak seratus kali.
"Apa? Seratus kali?" Tanya Jefri tidak pasti. Kedua tangannya terangkat didepan muka untuk di tunjukkan pada Kleine.
Kleine mengangguk tanpa ragu, "ya!" Jawabnya singkat lalu langsung mendorong Jefri untuk berlalu mengelilingi lapangan.
"Tap..tapi.. hei sebentar, jangan dorong aku, hei aku bisa sendiri!" Bantah Jefri tidak terima.
Tapi dia yang tubuhnya lebih besar dari Kleine itu tidak bisa mengalahkan tangan kecil Kleine yang kurus.
__ADS_1
Kleine hanya ingin mendorong Jefri agar dia tidak menawar lagi. Jadi, setelah melihat Jefri yang mengalah dan langsung berlari dengan tenang dan rapi. Dia juga melepaskan tangannya yang tadi mendorong punggung Jefri.
Melihat fitur belakang Jefri membuat Kleine merasa itu tampak sedikit mirip dengan seseorang. Tapi, dia memiliki terlalu banyak kenalan membuat dia tidak tahu yang mana dari mereka yang punggung belakangnya mirip.
Lagipula itu tidak begitu penting, jadi Kleine langsung mengabaikan hal itu dan fokus berlari.
Luas lapangan basket ini sama dengan luas lapangan yang umumnya di gunakan.
Antara Jefri yang memang sangat jarang berolahraga, atau memang luas lapangan ini terlalu luas bagi dirinya. Baru dua puluh putaran saja sudah berhasil membuat Jefri terengah-engah dan tidak sanggup melangkah lagi.
"A..hah...hah... Aku berhenti, capek!" Ujarnya ngos-ngosan dengan badan membungkuk dan kedua tangan menopang di kedua lututnya.
"Cih, lemah!" Ujar Kleine pelan dan berjalan melewati Jefri untuk meneruskan putarannya.
Paman Zen mendekati Jefri dan menyerahkan handuk yang lain untuk Jefri.
"Istirahat dulu Jefri nya!" Ujar paman Zen perhatian pada Jefri yang sedang mengelap keringatnya.
"Terimakasih paman," ujarnya menyerahkan kembali handuk itu dan melanjutkan, "tapi aku bisa melakukan beberapa lap lagi!" Ujarnya tidak bisa menahan penghinaan karena Kleine lebih kuat darinya.
Dia kemudian berlari mengikuti langkah Kleine yang sangat jauh darinya.
***
Delora semalam sangat kesal karena balas dendam dari Kleine.
Saat dia pulang ke pondok indah untuk mengantarkan mobil dan juga berniat untuk menginap di sana saja.
Tapi, di depan gerbang dia telah di hentikan oleh penjaga yang tadi menyapanya dengan ramah.
"Maaf non, non Kleine gak bolehin non masuk katanya!" Ucap penjaga itu yang masih Delora ingat sampai sekarang.
Hal yang lebih mengesalkan belum sampai di sana saja. Bahkan mobil Kleine tidak boleh Delora bawa pulang yang membuat dia hanya bisa menyerahkan kunci mobil dengan pasrah pada bapak penjaga gerbang.
###
Selamat membaca dan mohon maaf untuk segalanya.
Almi mengucapkan terimakasih untuk kalian yang mau mampir di cerita Almi yang salahnya masih banyak banget. Dari typo, Kaidah kebahasaan sampai KBBI.
__ADS_1
Terimakasih juga buat yang mau berkomentar, karena komentar kalian itu kasih Almi motivasi buat lebih rajin lagi ngetiknya walaupun masih up satu bab per hari. Tapi, nanti Almi usahain buat lebih rajin lagi.
Doain aja, sekian dan tunggu up berikutnya:)