Serangan Cinta CEO Dingin

Serangan Cinta CEO Dingin
Chapter Four


__ADS_3

Kembali ke rumah keluarga Joko, Kleine di sambut dengan hangat.


Ada hidangan lezat di atas meja.


Dia maju ke meja bulat itu dengan wajah berbinar, mulutnya tidak bisa menahan air liurnya.


"Wahhh... Ini terlihat sangat lezat, bibi sangat baik!" Pujinya.


Entah apa yang mempengaruhi Eda untuk melakukan itu. Tapi, Joko juga melihat ada daging ayam di makan siang kali ini.


"Hehe, ini sebenarnya karena tetangga kita sedang menyembelih ayam. Dan dia membaginya separuh untuk kita!" Ujar Eda saat dia melihat tatapan penuh tanya dari suaminya.


Joko mengangguk mengerti. Orang-orang di desa umunya memang suka bergosip. Tapi, mereka selalu baik dan suka berbagi. Mereka juga sangat ramah pada orang yang baru.


"Kalau begitu kamu mandilah dulu, setelahnya kita akan makan. Kamu pasti lapar setelah sehari semalam tidak makan!" Perintah Eda dan melemparkan handuk hijau ke arah Kleine.


Kleine tidak begitu menyadari rasa laparnya. Biasanya dia memang jarang makan, dan sekarang hanya sekitar satu hari saja dia tidak makan. Rasanya tidak begitu lapar. Seperti kata pepatah, "Ala bisa karena biasa!"


Ya, karena terbiasa tidak makan, jadi sudah bisa menahan.


Tapi, melihat makanan yang begitu lezat. Kata bisa menahan itu hilang. Kleine sebenarnya sudah sangat ingin duduk dan makan. Apalagi dia sangat penasaran dengan rasa daging ayam yang tampak lezat itu.


Oh, mungkin juga karena baunya yang terlalu harum.


Dengan wajah tetap memandang ke meja makan. Kleine perlahan pergi mandi.


Setelah tidak melihat bayang Kleine. Eda bertanya pada suaminya tentang orang yang Kleine selamatkan semalam.


"Apa dia baik-baik saja?" Tanyanya dengan agak penasaran.


Dia sebenarnya agak tidak senang dengan pria yang terluka itu. Terutama setelah dia melihat baju Kleine yang memiliki sobekan besar. Meskipun harga baju itu memang tidak seberapa, tapi itu sangat cantik jika Kleine pakai.


"Dia sepertinya pergi dalam keadaan terluka. Mungkin dia takut pembunuh itu masih mencarinya," jawab Joko santai dan duduk perlahan di kursi.


Dia menuang segelas air dan meminumnya dalam sekali teguk.


"Oh!" Balas Eda tidak senang.


Di desa tetangga, semakin hari Toni tidak bisa melihat Kleine. Dia akan melampiaskan rasa marahnya pada Jaena. 


Masih bisa tenang jika Kleine hanya menghilang satu dua hari. Tapi, mereka masih belum bisa menemukan gadis itu setelah mencarinya selama lebih dari satu minggu.


"Bapak kenapa sih selalu nanyain tentang kak Kleine terus. Bukannya bapak juga gak peduli sama dia, kenapa sekarang bapak marah sama ibu cuma karena dia?" Gadis kecil itu tidak tahan lagi melihat pertengkaran ibu dan bapaknya.


Rasa dendam dan benci tumbuh semakin kuat untuk Kleine yang tidak berdosa juga tidak bersalah.


Otaknya juga sudah mulai terasa kelicikannya. Jika Kleine kembali, dia sudah bisa membayangkan bagaimana cara membalas dendam.


Toni tidak tahan melihat air mata putrinya yang berharga.

__ADS_1


Dia berlutut didepan gadis itu dan membantunya menghapus air matanya.


"Sayang, ini bukan sesuatu yang harus kamu tahu. lebih baik kamu ke kamar aja. Belajar yang rajin, agar nanti kamj bisa terbang ke bulan!" Bujuk Toni dengan penuh perhatian.


"Gak mau... Azel gak mau pergi sebelum bapak jawab Azel!" Ujarnya dengan memberontak.


Melihat putrinya yang semakin keras kepala. Toni menoleh ke arah Jaena, dia berharap bisa mendapat bantuan dari wanita itu.


Jaena yang sejak tadi menatap perselisihan ayah dan anak hanya membuang muka dengan kesal. Pertama karena dia sekarang sedang muak dengan tingkah suaminya. Dan dia ingin membalas sedikit, dan untuk yang kedua...


Mungkin karena dia juga ingin tahu alasan Toni masih suka merawat gadis itu, di banding membuang atau membunuhnya secara halus?


Melihat istrinya yang tampak sangat tidak peduli.


Toni hanya bisa menghela nafas dengan pasrah. Tapi, dia tetap tidak mau mengungkapkan hal itu.


"Huh... Nanti ya sayang, kalau udah waktunya bakal bapak kasih tau. Yang penting, sekarang kamu belajar yang rajin. Kamu percaya sama bapak, semua yang bapak lakuin ini cuma untuk kebaikan kamu kok!" Ujar Toni mencoba sangat menyakinkan.


Jaena kecewa mendengarnya. Karena alasan ini yang selalu menjadi akhir pertanyaan yang berkecamuk dalam dirinya.


Azel masih tidak terima. Tapi, memang dia bisa apa?


Dia hanya bisa menunggu rencana bapaknya berhasil terlebih dahulu. Barulah setelah itu dia akan mengerti.


Tapi, sampai kapan?


Sampai keluarga ini hancur karena perdebatan tentang gadis ulung itu?


Sekarang yang paling penting bukanlah jawaban ayahnya.


Tapi balas dendam dari rasa kesalnya.


###


Kebahagiaan itu terlalu rumit. Seperti halnya sebuah gula.


Jika kita kenalkan rasa manis kita pada orang lain. Maka, kita akan sangat dimanfaatkan. Tapi, jika kita terus menutupi rasa manisnya. Mungkin orang lain tidak akan melirik kita lebih dari dua kali.


Begitu pula tentang bahagia. Saat kita menunjukkannya terlalu berlebihan. Mungkin kita akan menjadi ladang pembicaraan yang tak berbatas. Antara iri dan juga ingin merebutnya.


Kleine senang tinggal di rumah orang lain. Setidaknya rumah ini memberi dia kehangatan, jika dibandingkan dengan tempat itu.


Dia seperti orang asing yang di pekerjakan sebagai pembantu dengan imbalan tempat tinggal.


"Ini sangat enak!" Ujar Kleine dengan senyum kekanakan yang sangat polos.


"Oh, kalau begitu makan yang banyak!" Ujar Eda dan meletakkan satu potong ayam lagi di piring plastik Kleine.


Kleine mengangguk dengan riang.

__ADS_1


Di rumah itu biasanya Kleine di tuntut dewasa di umurnya yang bahkan belum remaja ini. Dan di sini, dia bukan siapa-siapa.


Awalnya dia sangat takut berinteraksi. Tapi, setelah cukup lama dan saling mengenal. Dia mulai membuka diri pada dua orang itu. Dia juga akan bertingkah manja untuk beberapa kali.


Memang benar kata pepatah itu, tak kenal maka tak sayang.


Mereka bercanda dengan sangat menyenangkan. Tidak ada kata yang terlewatkan tanpa tawa. Kleine bahkan sangat pandai bertingkah lucu untuk menghibur keduanya.


Waktu berlalu, selama waktu yang cukup panjang ini. Setiap hari Kleine akan berpergian ke bukit itu. Dia akan membawa beberapa makanan.


Dia pergi dengan harapan, dan pulang dalam kekecewaan. Pria yang pernah dia temui tidak ada lagi. Dia masih tidak jelas apakah pria itu masih hidup atau tidak.


Seperti roda yang berputar. Seperti itulah masa damai Kleine berakhir. Sepulang dari bukit seperti biasanya, Kleine melihat Joko sedang berdebat dengan seseorang.


Seseorang itu tampak familiar. Ada juga banyak warga desa yang menyaksikan tontonan gratis itu.


Tubuh Kleine gemetar saat dia melihat ibu tirinya menegang sebuah tongkat kecil.


Toni dan Joko berdebat tentang Kleine.


Kemarin, Toni mendapat kabar tentang keberadaan Kleine di sini.


Awalnya dia ingin langsung menghampiri ke tempat ini. Tapi, itu sempat tertunda karena beberapa hal.


Jadi, saat sekarang dia sudah punya waktu. Dia langsung datang dan menuduh Joko dan istrinya mencuri putrinya. Hal itu menarik perhatian banyak warga.


Terutama kedatangan Toni dan Jaena sangat heboh. Dengan ranting seukuran tiga jari di tangan Jaena. Dan juga Toni yang membawa sebuah golok.


"Heh, orang yang tidak bisa memiliki anak, mencuri putri seseorang dengan begitu santainya!" Tuduh Toni dengan golok yang ada di tangan kanannya. Sedangkan Jaena hanya mengangguk dengan sangat antusias. Apapun yang suaminya katakan, dia hanya perlu mengangguk dan mengiyakan.


"Siapa yang mencuri siapa! Putrimu yang hampir mati di jalan. Kau harusnya bersyukur karena aku dan istriku mau menyelamatkannya. Menuduh yang tidak benar, sungguh bejat!" Balas Joko dengan tidak terima. Dia selalu benci niat baik istrinya disalahpahami.


Dia juga kesal karena Toni membuka aib dia dan istrinya secara santai.


Eda tidak terima di katakan seperti itu. Dia tertawa sinis dan berkata: "Kenapa? Kau baru mencarinya setelah merasa tidak lagi ada pembantu?"


Sekarang giliran Jaena yang kesal. Siapa juga yang kekurangan pembantu, dia menjemput gadis itu karena keinginan suaminya. Meskipun benar dia menjadikan Kleine sebagai budak. Tapi, itu karena dia merasa sangat rugi jika ada saja dan tidak bermanfaat.


"Dasar mandul! Siapa juga yang kekurangan pembantu!" Teriaknya dengan kesal.


Dia maju dengan tongkat di atas untuk memukul Eda dengan ganas.


Joko ingin mencegah perbuatan Jaena. Tapi, Toni menghadangnya dengan memamerkan golok tajam itu di depan wajahnya.


Warga menyaksikan dengan senang. Tidak ada yang berniat untuk menghentikan dua pasangan yang sedang berselisih itu.


Ada juga kerumunan yang sibuk bergosip.


Mereka tidak menyangka bahwa anak yang selama ini mereka sapa dengan ramah adalah gadis pembawa sial yang terkenal di desa sebelah.

__ADS_1


"Berhenti!"


***


__ADS_2