
Saat ini, Kleine sedang duduk berhadapan dengan Piscel di sebuah restoran. Di depan mereka sudah banyak makanan laut seperti kepiting raja dan udang karang.
Kleine saat ini lupa bahwa dia sedang dalam periode makan gratis. Jadi, dia makan tanpa beban.
Sedangkan Lion yang sedang sibuk harus meluangkan waktunya untuk memasak dan mengantar makanan ke apartemen Kleine secara langsung. Tapi, siapa sangka saat sampai di depan dan mengetuk beberapa kali. Dia tidak mendapat tanggapan apapun.
Dan yang lebih membuatnya kesal, dia bahkan tidak punya nomor telepon Kleine.
Dia berpikir keras sebelum ingat kejadian kemarin. Ya, dia bertemu dengan Kleine di restoran sahabatnya. Seharunya istri sahabatnya punya nomor telepon Kleine kan. Jadi, tanpa basa-basi dia langsung menelpon Zoey.
Tapi, yang mengejutkan adalah pria itu langsung menolak panggilannya!
Lion mencoba beberapa kali sebelum setiap panggilan selalu di tolak.
Zoey sendiri saat ini sedang melihat wajah mertuanya dengan tidak senang. Ah, lebih tepatnya mereka saling memandang dengan penuh permusuhan.
Saat memasuki gerbang rumah ini. Zoey sudah kesal dengan Lea tanpa batas. Tapi, saat dia melihat wajah mertuanya. Dia lebih kesal lagi dan ingin segera pergi dari sini. Jika bukan karena ingin tahu sebuah kebenaran, dia tidak akan bertahan sampai sekarang.
Siapa yang mau tinggal bersama dengan musuh lama lebih dari satu detik?
"Assalamualaikum ma!" Sapa Lea pada ibunya dan menyalami tangan wanita paruh baya itu.
Zoey menatap wanita di depannya dengan ganas. Tapi, tangannya di remas oleh tangan lembut Lea. Dia menenangkan dirinya dan kamu untuk menyalami wanita itu di tengah ketidaksukaan dia.
Ibunya Lea tidak mempermalukan menantunya. Dia menerima tangan Zoey dengan tidak rela.
Merasakan kecanggungan itu, Lea membuka topik untuk mengacau angin yang terlalu kaku. "Ma, ini Zoey! Zoey ini mama aku," ujarnya sedikit gugup.
Tidak ada dari keduanya yang menanggapi Lea, hanya saling menatap dengan sengit.
"Loh, Lea? Kamu udah pulang?" Tanya seseorang dari belakang Zoey dan Lea. Lea mengenali suara itu. Dia menatap ibunya dengan tidak senang sebelum berbalik dan melihat teman lama Lea.
Zoey sudah berbalik lebih dulu dari Lea. Dia tidak menyangka akan ada rivalnya di rumah mertuanya di kunjungan pertamanya.
"Oh, ada tamu juga rupanya!" Ujar orang itu dengan sengiran kuda.
Pria itu berjalan mendekati tiga orang yang menatapnya dengan berbagai tatapan.
"Kok pada bengong?" Ujarnya santai, dia menatap Zoey dengan tenang seakan mereka tidak pernah menjadi rival sebelumnya.
"Oh, Lo ternya Zoey! Gak nyangka bakal ketemu disini!" Ujarnya lagi.
"Max!" Geram Zoey tidak senang dengan sapaan ramah yang dibuat oleh pria itu.
__ADS_1
"Oh, kau juga masih mengingatku?" Tanya Max dengan senyum konyol.
Lea tidak tahu harus berkata apa. Kali ini dia benar-benar bodoh dan membeku. Meskipun dia tahu ibunya tidak akan sesederhana itu dengan mengundangnya pulang. Dia tidak tahu bahwa ibunya ini akan membuat pria ini datang.
Jelas-jelas Lea sudah mengirim pesan yang mengatakan bahwa dia akan membawa Zoey. Tapi, ibunya ini sangat tidak bisa dimaafkan.
"Lo ngapain datang kesini?" Tanya Lea tidak senang, walaupun dia punya tebakan di hatinya. Dia tetap melirik ibunya dengan kebencian yang mendalam.
"Oh, Tante bilang hari ini dia membuatkan makanan siang kesukaan ku dan mengundangku untu datang."
Jawaban Max membuat Zoey semakin tidak senang dengan keadaan.
Jadi beberapa kali dering telepon tidak dia hiraukan sama sekali dan justru langsung dia matikan mendadak.
***
Lion kesal karena makanan itu tidak jadi di antara ke konsumen. Dia juga tidak tahu nomor telepon Kleine. Jadi, dia benar-benar tidak tahu harus mengantarkan makanan itu kemana.
Untunglah Lion masih punya otak seluas semesta. Dia menghubungi Geon dengan cepat dan meminta geon mencari tahu nomor pemilik apartemen ini.
Dan dengan segala perputaran dan kelilingan. Akhirnya Lion mendapat dua belas digit yang sangat indah itu. Dia menyimpan kontak itu dengan penuh pengertian dan kehalusan.
Lalu menekannya dan telepon itu mulai berdering.
Kleine menggeleng, dia mengangkat telepon itu setelah menerima panggilan.
Karena Kleine sering membuat daftar hitam pada nomor yang akrab. Jadi untuk nomor asing dia harus mengangkatnya barangkali penting. "Waalaikumsalam..." Ujar Kleine karena kebiasaan.
"Assalamualaikum!" Balas Lion dengan malu.
"Siapa?" Tanya Kleine dengan tidak sabar, dia meletakkan handphone itu di telinga dan bahunya. Lalu kedua tangannya mengupas udang dan masuk langsung ke mulutnya.
Lion sepertinya mendengar beberapa keributan. Dia mengerutkan alisnya.
"Aku Lion!" Jawabnya singkat dengan nada yang lebih datar dan dingin.
"Oh, sebentar!" Kleine mencoba mencari di ingatnya apakah dia mengenal seseorang bernama Lion?
Kleine melepas sarung plastik lagi dan menjauhkan handphone darinya. " Apa kau kenal seseorang dengan nama Lion? Apakah dia teman kita?" Bisiknya pada Piscel yang di jawab gelengan oleh wanita itu.
Lion tidak tahu harus mengatakan apa untuk pendengaran supernya ini.
"Kita membuat kesepakatan tentang membuat makanan selama satu bulan untukmu. Itu sebagai ganti rugi dari kerusakan handphone mu," ujar Lion dengan pasrah.
__ADS_1
Wanita ini bahkan sangat pelupa!
Kleine langsung ingat setelah mendengarnya. Dia juga kaget yang membuat Piscel bingung.
"Ah, jadi kenapa kau meneleponku?" Tanya Kleine semakin bodoh.
Lion punya niatan untuk memukul kepala Kleine jika saat ini gadis itu sedang berada di depannya.
Dia menenangkan dirinya,"Aku mengantarkan makan siang untukmu sesuai dengan janji."
"Ohhh...." Angguk Kleine mengerti. "Tapi saat ini aku sedang makan siang!" Ujar Kleine dengan bodoh lagi.
Yaya aku bisa mendengar decakan mulutmu yang rakus itu! Pikir Lion kesal.
"Lalu bagaimana dengan makanan yang aku buat ini?" Tanya Lion mulai tidak sabar.
"Oh, kau bisa menitipkannya ke resepsionis dan meminta mereka menyimpannya di lemari pendingin. Itu akan menjadi makan malam ku nanti, dan kau tidak usah membuat makan malam untukku nanti!" Ujar Kleine dengan ramah.
"Jika tidak ada yang lain, aku tutup dulu. Bye!" Ujar Kleine cepat dan langsung menekan tombol mati.
"Siapa?" Tanya Piscel lagi.
"Koki baru!" Jawab Kleine singkat dan dia mendapat pesan dari seseorang bahwa ada pengantar pesanan yang meminta nomornya. Dia menjawab oke dan menyimpan nomor Lion dengan nama yang asal.
"Tukang masak baru!"
Piscel hanya mengangguk ringan. Tapi, dia tahu bahwa koki yang baru ini pasti tidak sederhana. Itu pasti seorang koki terkenal.
Tapi tunggu!
"Namanya Lion?" Tanya Piscel memastikan.
Kleine hanya mengangguk dengan ringan.
"Dari Bramansa crop?" Tanya Piscel lagi.
Dan Kleine hanya mengangguk lagi.
"Gila!" Teriaknya dan menatap Kleine dengan kepala yang geleng-geleng tanpa memperhatikan mata orang lain yang menatapnya bingung.
###
😚
__ADS_1