Serangan Cinta CEO Dingin

Serangan Cinta CEO Dingin
chapter Seventy three


__ADS_3

Bisikan Kleine membuat Zoey berpikir itu mustahil. Dengan teknologi sekarang, bagaimana dia bisa membawa Lea menjauh darinya seumur hidup ini?


Kleine melihat wajah Zoey yang tidak begitu peduli dengan apa yang dia bisikkan. Dia menepuk bahu Zoey tiga kali. Piscel yang melihatnya menyala Zoey dengan prihatin.


Tepukan di bahu Kleine memiliki arti khusus. Bisa berisi peringatan, hitung mundur, kesempatan terakhir dan keberuntungan. Dan tiga tepukan itu artinya peringatan.


Setelah menepuk bahu Zoey, Kleine berbalik. "Ayo pergi!" Ajaknya pada Piscel yang menatap Zoey dengan rasa kasihan.


"Kau bisa menunggu di mobil!" Jawab Piscel tenang.


Dia rasa dia perlu memberi pria ini peringatan agar tidak gegabah ataupun ceroboh.


Kleine melihat Piscel yang tampak akan mengatakan sesuatu, dia tidak berpikir lebih jauh dan keluar dari sana dengan segera.


"Hei... Dengar!" Ujar Piscel kepada Zoey setelah Kleine pergi.


Dia berdiri dan duduk nakal di atas meja.


Zoey memperhatikan setiap gerakan Piscel dengan lamat. Dia diam, tidak menanggapi atau menjawab. Hanya menatap Piscel tenang dan menunggu apa yang akan Piscel katakan.


"Aku mengenal Kleine lebih lama daripada aku mengenal Lea. Begitu juga sebaliknya. Tapi, Kleine adalah orang yang sangat menghormati dan menjada teman-teman. Entah itu baru ataupun lama."


Zoey masih tidak menanggapi, dia juga tidak tahu arah percakapan ini.


Piscel berdiri dari meja itu dengan malas. Dia berjalan mendekat.


Zoey tidak mengenal teman Lea yang ini, jadi dia tidak tahu nama Piscel ataupun hubungan pertemanan yang seperti apa. Ya, dia sepertinya masih jauh dari mengenal Lea.


Pernikahan selama dua tahun dan hubungan selama bertahun-tahun itu masih bukan apa-apa.


"Ya, aku tahu kau tidak mengerti maksudku. Aku juga tidak peduli kau mengerti atau tidak. Tapi, aku memperingatkan padamu untuk peduli pada apa yang dia katakan. Karena dia suka menghilangkan seseorang dan membuat jejaknya tidak pernah ditemukan. Tidak ada yang tahu apakah orang itu masih hidup atau tidak!" Piscel berkata dengan misterius.


Zoey merasa ngeri mendengar hal itu, tapi dia tetap tidak percaya bahwa Kleine memiliki kemampuan itu.


"Kau tahu nona? Berbohong di pertemuan pertama itu akan meninggalkan kesan yang buruk!" Tanggap Zoey dengan santai, dia masih merasa itu tidak mungkin.

__ADS_1


Mereka datang kesini agar dia tidak marah pada Lea?


Tapi jelas dia adalah orang yang dibohongi selama ini. Dan dia bahkan tidak diperbolehkan untuk marah? Mustahil!


"Oh, jika aku ingat dengan benar. Kau tidak pernah memiliki kesan yang baik pada teman Lea bukan?" Tanya Piscel dengan santai dan tidak peduli sedikitpun. Dia hanya mengingatkan dengan baik, tapi sepertinya orang ini tidak peduli. Jadi untuk pada dia peduli.


Zoey mengingat dengan benar. Dan memang saja, dia memang tidak memiliki pikiran yang baik untuk setiap teman yang Lea kenalkan padanya.


Tapi apa pedulinya, menurutnya teman Lea memang tidak ada yang baik!


"Sebenarnya kau benar, kami memang bukan orang baik. Tapi karena kau tahu itu, maka kau harus mempertimbangkan apa yang sering dilakukan oleh orang seperti kami!" Ujar Piscel dengan asal dan berbalik dengan santai. Dia siap pergi ketika dia ingat tujuan awalnya tetap tinggal.


"Oh, aku berniat baik dengan mengingatkan mu tentang apa yang akan terjadi jika kau menyakiti Lea. Sebenarnya kau bukan satu-satunya yang mendapat tiga tepukan bahu.


Dan orang terlahir yang mendapat itu telah kehilangan orang yang dia cintai dan sampai sekarang belum ditemukan. Dan ku dengar saat itu dia juga sedang hamil anak kembar. Betapa sialnya! Kau juga bisa bertanya pada tuan Karel tentang ini," ujar Piscel cepat.


Lalu dia berlalu tanpa berniat untuk mengatakan hal yang lain lagi.


Setelah kepergiannya Piscel, Zoey menjadi linglung.


Tuan Karel adalah kakak dari salah satu temannya di kampus! Dia juga mendengar tentang kisah cinta SMA mereka saat itu. Dan memang ada kasus dimana orang yang tuan Karel cintai menghilang karena sebuh kejadian lima tahun lalu.


Bahkan sampai sekarang dia masih mencari keberadaan orang itu meski dia tidak tahu apakah orang itu masih hidup atau tidak.


Akan baik jika Karel hanya mencarinya di dalam negeri saja. Tapi, dia sudah mencari di berbagai negara dan menempatkan banyak pengawas di setiap negara. Sayangnya hasilnya tidak pernah ditemukan. Dia menjadi ngeri dengan pemikiran itu.


Orang yang hilang tanpa jejak hanya menyisakan satu kemungkinan, yaitu kematian!


Tapi, bahkan mayat pun masih bisa ditemukan jika kebenaran akan terungkap. Namun lima tahun sudah berlalu, pencarian semakin luas dan hasil masih sama. Dia dulu sempat kasihan pada Karel.


Dia tidak bisa membayangkan jika yang ada di posisi Karel adalah dirinya.


Dia ingin menemui Karel saat ini dan bertanya tentang Kleine. Tapi, dia memikirkan Lea yang sedang tertidur. Tidak! Dia tidak bisa pergi sekarang.


Dia takut saat dia pergi, Lea akan bangun dan mencarinya. Dia takut Lea mengadu pada temannya bahwa dia sangat marah hingga kembali ke orang tuanya atau mungkin kesalahpahaman yang lain. Zoey tidak ingin terlalu gegabah.

__ADS_1


Tapi, untunglah dia mempunyai nomor telepon seniornya itu.


"Ada apa Zoey?" Tanya orang diujung sana dengan lemah.


Sejak orang itu menghilang, Karel yang ramah dan hangat memang telah hilang dan digantikan dengan Karel yang dingin dan acuh. Jadi dia tidak terkejut mendengar nada dingin dari Karel.


"Bolehkah aku bertanya sesuatu?" Tanya Zoey agak tidak yakin.


Tentu saja dia tidak yakin, ini menyangkut orang yang sangat dia pedulikan.


"Katakan!" Jawab Karel tanpa ragu.


"Ini tentang kakak ipar Floye..." Ujar Zoey semakin ragu, namun dia tetap mengatakan itu dengan pasti.


Di ujung sana terjadi keheningan yang panjang. Jika bukan karena masih ada bunyi nafas yang keluar masuk dengan pelan. Zoey bisa yakin bahwa orang lain telah pergi.


"Kau juga di peringati?" Tanya orang diujung sana kemudian setelah menghilang hampir tiga menit.


Zoey terkejut dengan tebakan langsing dari Karel. Tapi ini hanya membuktikan bahwa orang itu mengatakan yang sebenarnya.


Mendengar keheningan Zoey, karena juga ikut hening.


"Kau beruntung!" Ujar Karel pada akhirnya dengan nada rendah dan menutup telepon.


Zoey merinding mendengar suara itu. Dia beruntung? Sepertinya tidak begitu!


Karel menghela nafas gusar setelah menutup penggilan. Dia memutar kursinya dan melihat Poto di atas meja. Dia mengambilnya dengan penuh kasih dan mengelap wajah di balik kaca dengan sayang.


Poto itu sudah usang, bahkan itu lebih buruk dari kata usang sendiri. Selain Poto itu udah termakan waktu dan menjadi kuning, Poto itu tersusun seperti sebuah puzzle.


Ya, awalnya Poto itu sudah dirobek olehnya. Setelah dia menyadari bahwa Poto Floye menghilang semua media dan tidak bisa ditemukan lagi. Yang tersisa hanya Poto yang telah menjadi potongan-potongan kecil. Dia dengan pengertian mulai menyusun puzzle itu sampai tampak seperti sekarang.


"Aku pasti akan menemukan dimana pun kamu bersembunyi!" Ujarnya penuh kasih sayang dan mulai merenung.


###

__ADS_1


🤪


__ADS_2