
Seperti yang Kleine inginkan sebelumnya. Setelah pamit kepada Eda, dia jalan-jalan di sekeliling desa.
Semua penduduk desa melihat wajah yang tampak sangat asing itu.
Mereka tahu bahwa itu adalah seorang anak yang dibawa oleh pasangan muda itu. Tapi, mereka tidak menyadari kalau itu adalah anak yang biasanya mereka jadikan bahan gosip.
Mereka tidak menyadarinya karena penampilan Kleine memang tampak jauh lebih baik dari sebelumnya.
Kulit Kleine tidak putih, tapi itu tidak juga tidak begitu hitam. Kulitnya sekarang selaras dengan orang-orang desa.
Rambutnya juga diikat rapi, dengan jepit rambut merah muda.
Penduduk desa sangat mengagumi anak kecil yang manis itu. Mereka bahkan menyapa Kleine dengan ramah. Ada juga anak-anak desa yang ingin mengajaknya bermain.
Tapi, Kleine sudah trauma dengan anak-anak di sekitarnya. Apalagi setelah dia terluka parah waktu itu. Dia tidak berani melangkah lebih dekat.
Kleine juga tidak pandai menanggapi sapaan dari orang lain, dia hanya menunduk takut dan mengangguk rendah.
Penduduk desa mengira itu karena Kleine masih baru di sini dan tidak akrab. Jadi, mereka juga tidak begitu mempermasalahkannya.
Kleine berkeliling sampai ke pinggir desa. Di sini adalah perbatasan antara desa dengan hutan. Desa ini ada di bawa perbukitan. Dan hutan yang ada di depan Kleine sekarang adalah bukit berkah yang sangat besar.
Semua penduduk desa menyebut bukit ini bukit berkah hanya karena bukit ini sering memberikan manfaat yang banyak untuk penduduk desa.
Seperti tanahnya yang subur membuat tanaman kopi berbuah lebat. Atau sering tumbuh jenis sayuran liar yang bisa di makan.
Air dari bukit ini juga mengaliri banyak sawah di desa.
Kleine tidak tahu mengapa, tapi langkahnya seakan di tarik untuk masuk ke dalam hutan.
"Hei nak, di dalam terlalu berbahaya untuk bermain. Sebaiknya kamu pulang saja!" Ujar seorang warga desa yang lewat. Dia berniat mengingatkan Kleine.
Tapi, antara jaraknya yang terlalu jauh, atau suara warga itu yang terlalu pelan. Kleine tidak mendengarnya.
Kleine terus maju, di sepanjang jalan dia melihat ada banyak jamur di atas pohon tumbang. Entah keberuntungan atau apa, Kleine melihat sebuah kantong plastik di dekat sana.
Mungkin ini bekas warga desa yang pernah lalu, atau juga bekas para penjelajah alam.
Keindahan bukit disini membangkitkan banyak petualang untuk untuk menikmati indahnya alam tersebut.
Di perbukitan seperti ini biasanya memang banyak air terjun dan pohon tua berusia ratusan tahun yang bagus untuk spot foto.
Kleine mengenal banyak jenis jamur baik dan juga banyak sayuran yang bisa di makan. Itu karena ibu tiri yang baik itu akan mengajarkannya.
Dia memperkenalkan Kleine pada banyak jenis sayuran. Lalu dia akan memerintahkan Kleine untuk mencarinya di Hutan kecil belakang rumah mereka.
Dengan wajah penuh kesenangan, Kleine memetik banyak jamur.
Dia membayangkan betapa lezatnya jika jamur itu dimasak oleh Eda.
Tanpa Kleine sadari, dia semakin masuk kedalaman hutan. Warna terang juga mulai sedikit menghitam karena pohon yang tinggi dan besar menghalangi sinar matahari.
Setelah cukup lama, mata gelap Kleine bersinar terang.
Dia menatap pohon dengan buah kuning didepannya dengan sangat bahagia.
Itu adalah pohon belimbing liar. Bentuknya sama dengan belimbing pada umumnya. Tapi, belimbing yang ini memiliki rasa yang lebih asam dari mangga muda. Juga ukurannya terbilang kecil jika dibandingkan dengan belimbing umumnya.
Meskipun rasanya memang sangat asam. Tapi untuk anak-anak di desa, itu sudah sangat lezat. Apalagi Kleine yang tidak pernah merasakan buah manis.
Bagi Kleine setiap buah sama saja, asalkan buah dan itu bisa mengisi perutnya yang kosong. Kleine tidak pernah mempermasalahkan rasanya.
Dan menurut Kleine rasa asam jauh lebih baik dari pada rasa sayur mentah yang pahit dan tidak enak.
Kleine memetik beberapa buah dan memakannya.
Matanya terpejam dengan reaksi alami dari otaknya. Wajahnya terus tersenyum meskipun rasanya asam.
Lagipula rasa asam buahnya tidak seperti asam kehidupan Kleine sendiri.
Kleine menyelesaikan makannya, dia membawa kantong plastik berisi beberapa jamur dan sayuran lainnya. Dia berjalan kedalaman hutan.
Dia juga melihat ada buah markisa yang sudah matang. Mata Kleine sangat senang.
Biasanya Kleine sering bertemu dengan buah ini, tapi dia sendiri tidak pernah mencicipinya. Karena biasanya tidak ada yang matang, dan jikapun matang sudah di rebut oleh orang lain terlebih dahulu.
Kleine mengambil tiga buah markisa yang sudah menguning. Dia ingin mencobanya segera. Tapi, perutnya sudah makan banyak buah belimbing. Jadi, dia dengan berat hati menyimpan buah itu ke dalam kantong plastik.
Kleine berjalan sangat jauh.
Dia masih tidak sadar bahwa dia semakin masuk ke hutan yang gelap. Kleine tersandung saat dia hendak lewat di samping pohon jati yang sudah sangat besar dan tinggi.
__ADS_1
Kleine melihat benda apa yang berhasil membuatnya jatuh. Tapi, tidak di sangka ternyata itu adalah manusia.
Dengan gerakan yang cepat, Kleine mundur dan menjaga jarak dari pria muda yang tidak sadarkan diri itu.
Saat melihat pria itu tidak bergerak mendekati dia. Kleine memberanikan diri untuk maju. Dia mengayunkan tangannya di depan pria itu.
Tidak ada tanggapan.
Kleine mengamati lebih jauh, dan melihat bahwa pria yang tampaknya lebih tua sedikit darinya itu sedang terluka parah.
Di keningnya Kleine melihat luka kecil, tapi bukan itu intinya.
Karena hal mengerikan yang Kleine lihat adalah luka tusuk di perut pria muda itu.
Dia juga melihat wajah pria itu yang sangat pucat, mungkin karena kekurangan darah, atau mungkin karena menahan sakit.
Nafas pria muda itu juga tampak melemah.
Kleine ingin membantu mencabut pisau di perut pria itu. Tapi, tangannya dengan cepat di cegat oleh pria itu.
Dia meringis merasakan sakit dari genggaman pria itu.
Mata pria itu sangat tajam, dia menatap Kleine dengan ganas.
"Enyah!" Ujarnya dengan kasar.
Kleine takut melihat matanya dan dia juga semakin takut setelah mendengar suara yang begitu tajam.
Setelah tangannya di lepaskan, Kleine dengan cepat melarikan diri.
Dia berlari dengan sangat cepat. Meninggalkan barang yang tadi telah dia kumpulkan dengan susah payah
"Ah, aku melupakan itu!" Gerutu Kleine dengan kesal.
Dia berhenti, dan menoleh ke belakang.
Kleine ragu apakah harus kembali untuk mengambilnya atau tidak. Tapi, Kleine teringat buah yang tidak pernah dia cicipi itu dan merasa sangat di sayangkan jika dia tinggalkan begitu saja.
Dia berlari kembali ke sana. Sampai di sana Kleine melihat pria itu yang tampak tidak bernafas.
Kleine takut dan sangat khawatir. Dia mendekatinya dan meletakkan jarinya di hidung pria itu untuk melihat apakah dia masih hidup.
Setelah merasakan beberapa udara tipis yang terus masuk dan keluar. Kleine menghela nafas lega.
Jika Kleine kembali ke desa dan mencari pertolongan. Dia rasa nyawa pria ini sudah kembali pada penciptanya saat Kleine berhasil kembali membawa bantuan ke sini.
Untunglah Kleine ingat sesuatu. Ya, obat luka dari herbal liar.
Pada saat itu ayahnya terluka parah karena serangan perampok desa. Kleine di minta ibu tirinya untuk mencari herbal untuk ayahnya.
Saat itu Kleine juga melihat sendiri cara meresepkannya.
Berlari ke sekitar, Kleine berharap bisa menemukan herbal yang waktu itu dia dapatkan.
Kleine juga mendengar aliran sungai dari seberang Utara. Dia berlari ke sana untuk mengambil air. Tapi, dia lupa akan mengambil airnya menggunakan apa.
Untunglah Kleine gadis desa yang bertahan hidup dengan banyak cara. Dia melihat tumpukan buah bulat yang biasanya di jadikan sebagai wadah.
Kleine langsung menemukan batu untuk memotong bagian kepalanya.
Setelah mengeluarkan isinya yang sudah mengering, Kleine membersihkan dan mengisinya langsung dengan air.
Ini seperti cara bertahan hidup di hutan.
Kleine berlari lagi kearah pria tadi. Mengumpulkan kayu bakar dan menghidupkan api dengan menggosokkan kedua kayu.
Lalu, Kleine membersihkan luka di kening pria itu dan menutupinya dengan rumput yang sudah dia hancurkan.
Rumput itu adalah rumput yang telah dia cari sebelumya, dia menemukannya saat sedang mencari kayu bakar.
Itu memang cukup untuk mengobati luka yang kecil. Tapi untuk luka di perutnya, Kleine membutuhkan lebih banyak herbal dan juga pembungkus luka.
Dia mencabut pisau itu dengan cepat agar rasa sakitnya tidak terlalu banyak. Tangannya yang lain dengan telaten menahan darah yang akan muncrat.
Kemudian, dia menempelkan herbal dan merobek sedikit pakaiannya sendiri untuk membungkus luka pria itu.
Di saat Kleine sibuk mengobati pria muda itu, tanpa disadari bahwa ada mata tajam yang menatapnya dalam diam.
Karena tanpa mereka sadari, hari telah malam. Jadi, pandangan pria itu terhadap wajah Kleine tidak begitu pasti. Dia hanya tahu anak ini berumur lebih muda darinya sedikit.
Dia sangat lelah, selama ini dia bukannya tidak sadar. Dia selalu waspada pada gerakan Kleine sejak tadi. Tapi, dia berpura-pura pingsan.
__ADS_1
Sebenarnya tidak bisa juga dikatakan berpura-pura. Karena tenaganya memang sudah terkuras habis. Untuk berhasil melarikan diri dari pembunuhan. Dia telah mengorbankan banyak rasa sakit.
"Kamu sangat kasihan kakak!" Ujar Kleine dengan nada yang ironis.
"Dulu aku pikir hanya aku yang bisa begitu menderita di dunia ini. Haha, tapi aku salah. Lihatlah luka kakak ini, sangat buruk. Meskipun aku pernah terluka parah. Aku di tolong oleh dua orang baik. Dan mereka bahkan menawarkan aku hidup yang lebih baik.
Kamu tahu kak? Kamu memang jauh lebih buruk dari nasibku. Karena kamu terluka di tengah hutan, tidak ada yang bisa menemukanmu. Untunglah aku baik hati juga, jadi sekarang aku pasti akan menyelamatkanmu."
Kleine tidak tahu jika lawan bicaranya telah mendengarkan dengan diam setiap kata-katanya. Kleine hanya bercerita untuk mengisi kekosongan udara.
Sekarang sudah malam, dan ini adalah hutan. Meskipun di bukit jarang ada serigala, yang memang dasarnya tidak ada. Tapi di sini sering ada babi liar.
Biasanya babi tidak akan menyerang jika dia tidak merasa terancam. Tapi, tidak ada yang tahu bagaimana babi itu sendiri akan merasa terancam?
Pria muda itu sangat baik dalam mengingat. Dan setiap kata yang hari ini Kleine ucapkan pasti akan dia ingat sampai akhir hidupnya.
Pria muda itu merasa sangat lelah dan mengantuk, dengan rasa hangat dari api unggun kecil. Rasa kantuknya bertambah berat. Kepalanya miring dan menjadikan bahu kecil Kleine sebagai bantalan.
Keesokan paginya, saat dia bangun. Api itu sudah padam. Dia juga tidak lagi melihat gadis kecil sebelumnya. Tapi, dia melihat ada beberapa buah yang tampak enak untuk di makan.
Dengan susah payah dia memakan buah belimbing hutan itu. Dalam sekejap, dia terperangah dengan rasanya. Itu sangat asam!
Dia beralih ke buah kuning dan bulat. Kedua buah ini tidak dia kenali, tapi dia tahu ini buah yang baik untuk di makan.
Di luar dugaannya rasanya ternyata sangat enak. Meskipun ada sedikit rasa asam. Tapi, buah itu juga mengandung rasa manis. Tidak terlalu manis, tidak juga terlalu asam.
Ada dua diantaranya, dia menghabiskan keduanya dengan perlahan.
Setelah makan, dia berdiri dari sana dengan perlahan. Dia harus pergi sebelum para pembunuh itu menemukannya.
Tapi, saat dia hendak pergi, dia melihat sebuah jepit rambut merah muda yang sangat menarik perhatian. Dia membungkuk untuk mengambilnya.
Jepit rambut itu sangat sederhana, dengan gambar hello Kitty yang kecil. Di sela-sela jepit itu, dia melihat ada benang hitam yang keriting.
Tangannya mengepal dengan rasa terimakasih. Kali ini dia membantunya, suatu hari dia akan menemukan dia kembali untuk membantunya.
Lalu, pria itu berlalu dengan cepat dari tempat itu.
Kleine juga bergerak cepat bersama dengan Joko dan beberapa warga lainnya.
Tadi pagi, dia bangun lebih awal dan langsung turun bukit untuk mencari bantuan. Saat dia sampai di rumah Eda, dia melihat wajah Eda yang tampak murung.
Mereka pikir Kleine kembali ke rumah orangtuanya. Eda yang sangat bahagia dengan kehadiran Kleine menjadi sangat sedih. Dia bahkan tidak bisa tidur selama semalaman.
Itulah sebabnya, saat melihat Kleine pulang dalam keadaan sangat kacau. Eda langsung memeluknya.
Kleine tidak terlalu memperhatikan Eda. Dia menghampiri Joko dan memintanya untuk membantu pria yang Kleine temui semalam.
Mendengar ucapan Kleine, Joko mengajak beberapa warga untuk membantu.
Tapi mereka tidak menyangka bahwa tidak ada lagi seseorang disana setelah mereka sampai.
Mereka hanya melihat bekas darah, api unggun semalam dan juga buah yang tidak habis.
"Sepertinya pemuda itu sudah pergi!" Ujar seorang warga.
"Ya, karena dia sudah pergi kami akan pergi dulu!" Tambah yang lain.
Kleine tidak menyangka kakak yang terluka parah itu akan pergi begitu cepat.
Setelah semua orang pergi, hanya Kleine dan Joko yang masih bertahan.
"Tapi, dia semalam terluka parah!" Ujar Kleine lemah.
Dia tampak sangat khawatir dan rapuh.
Joko memperhatikan tingkah gadis itu, dia tidak tahan melihat gadis itu bersedih.
"Mungkin sudah ada yang menyelamatkannya sebelum kita datang!" Hiburnya pada Kleine.
Tapi, kepala Kleine menggeleng.
Dengan wajah cemberut dia berkata: "Dia semalam tertusuk pisau di perutnya. Apa yang menjemputnya adalah pembunuhnya?" Tanya dia dengan tidak pasti.
Joko juga tidak memahami hal itu, tapi mereka tidak bisa mencarinya, karena warga desa yang lain juga sudah pergi.
Melihat tempat yang tidak berantakan sedikitpun. Joko mencoba meyakinkan Kleine dengan alibi bahwa dia telah pergi sendiri. Dan itu terlihat dari tempatnya yang tidak berantakan sedikitpun.
Kleine hanya bisa mempercayai ucapan Joko dan kembali turun bukit bersamanya.
Dia tidak tahu mengapa dia begitu mengkhawatirkan pria itu. Mungkin karena nasib mereka sama?
__ADS_1
***