Serangan Cinta CEO Dingin

Serangan Cinta CEO Dingin
Chapter Sixteen


__ADS_3

Di dunia yang selalu memikirkan keuntungan ini. Kamu mungkin tidak akan menemukan orang yang benar-benar baik. Sekarang, jika kamu butuh bantuan orang lain. Kamu harus menyiapkan sesuatu yang berharga darimu untuk ditukarkan dengan bantuannya.


***


"Apa kau masih ingin naik nona?" Tanya sopirnya pada Kleine yang masih belum naik juga.


"Ya paman, tunggu sebentar!" Jawab Kleine pada bapak sopir yang sudah kepala empat itu.


Sopir itu mengangguk.


Kleine membungkuk dan mengangkat dagu pria muda itu.


"Katakan, apa yang kau mau?" Tanya Kleine dengan dingin.


Pria muda itu tersentak.


"Aku, aku butuh bantuan kakak. Sebenarnya aku bukan pencopet, hari ini saku terpaksa karena aku sangat perlu uang. Aku mohon kakak, adikku... Dia...dia..." Pemuda itu semakin menangis sedih.


"Oh, apa kau pikir aku adalah orang baik? Enyah!" Ujar Kleine dengan malas setelah mendengar penjelasan anak muda itu.


Dia mendorong pemuda itu dengan paksa dan berjalan menuju bus.


Pemuda itu tidak menyerah, dia berteriak sangat kencang.


"Aku mohon nona, aku percaya kau orang baik! Adikku di rumah sakit, dia butuh pengobatan... Aku mohon!" Teriaknya histeris dan mencegah Kleine yang hendak memasuki pintu.


Kleine berdecak kesal.


Apa pakaiannya yang begitu flamboyan ini bisa disamakan dengan orang baik?


Wajah Kleine menunduk, dia menatap sepatunya yang sedikit lecet karena pemuda itu tadi. Mengerakkan kakinya yang kotor itu, Kleine mengangkat kepalnya dengan lambat.


"Jikapun aku orang baik, apa kau yakin tidak salah tempat meminta bantuan? Aku ini bukan orang kaya!" Ujar Kleine dengan malas.


"Tidak mungkin, meskipun aku bukan orang kaya! Tapi aku tahu bahwa anting nona adalah anting yang di jual dengan harga puluhan juta!"Teriak pemuda itu ngotot.


Para penumpang yang menunggu dengan sabar tercengang mendengar ucapan pemuda itu. Ada yang tertawa mengejek pemuda itu karena terlalu berkhayal.


Apakah orang kaya masih perlu naik bus?


Sungguh lelucon!


"Jika anda tidak jadi naik, kami akan berangkat!" Ujar sopir itu mulai tidak sabar.


Beberapa penumpang lain juga mulai berteriak untuk segera maju. Mereka perlu ke suatu tempat dengan tergesa-gesa. Untuk bersedia menunggu selama beberapa menit ini saja sudah bisa dia anggap baik. Dan terlihat bahwa perdebatan kedua orang ini masih sangat lama. Belum lagi, pemuda itu sangat suka membuat lelucon.


"Penilaianmu cukup memuaskan, baiklah aku akan membantumu. Cepat naiklah bus ini dulu!" Bisik Kleine dengan senyum licik.


Pemuda itu kaku, dia merasa aura yang begitu dingin mengusiknya. Tapi, tanpa menunggu lama dan rasa ragu lagi. Dia langsung naik mengikuti langkah Kleine.


"Tentu saja kami naik paman, bersabarlah sedikit!" Ujar Kleine dengan nada yang terkesan mengejek.

__ADS_1


Bus itu melaju membela kemacetan membawa banyak nyawa yang penuh harapan.


***


"Apa kau tahu siapa yang mengendarai mobil ini tadi pagi yang telah kau rebut tempat parkirnya dengan sombong?" Tanya Delora dengan senyum smirk yang kejam.


Draka menggeleng, tapi dia menebak itu haruslah orang penting. Tidak mungkin bos besar akan marah padanya jika itu bukan orang penting bukan?


Agen itu tercengang mendengar pertanyaan Delora. Dia menatap Draka dengan tidak senang.


"Ini adalah mobil miliki bos dibalik layar perusahaan ini, bos Greens!" Ujar Delora dengan santai. Tapi, kecuali sekertaris Mau semua orang merasa sangat tidak tenang.


Siapa?


Apa mereka tidak salah mendengar?


Bos Greens! Bos nyata perusahaan ini!


Orang yang bisa mengubah virus menjadi perangkat lunak yang lebih kuat?


Orang yang bisa mengubah kekacauan internet hanya dengan hentikan jarinya?


Orang yang mampu membalikkan keadaan?


Ini bos Greens!


Mereka yang mengintip dan menonton menatap Draka dengan kasihan sekaligus kesal.


Oh, itu sangat disayangkan mereka tidak jadi melihat idola mereka.


Jika di hitung sudah nyaris dua tahun mereka tidak melihat penampilan bos yang begitu misterius itu.


Jane yang mendengar itu langsung gemetar. Tidak! Dia telah menyinggung perasaan orang yang paling tidak bisa dia tanggung.


Bos Greens adalah orang yang paling dikagumi karena bakatnya yang luar biasa itu.


Jika bukan karena pekerjaan bos Greens, tidak akan ada hari ini bagi perusahaan ini.


Tidak akan ada nama K.E entertainment di Indonesia. Orang yang membentuk perusahaan ini selama enam tahun dan sudah menjadi yang terbesar di Indonesia!


Draka menatap agennya dengan bingung. Dia tidak tahu siapa itu bos Greens.


"Apa kau tidak tahu siapa bos Greens?" Tanya Delora dengan ejekan.


"Hah, kau bahkan tidak tahu orang besar itu siapa! Atau kau mungkin tidak tahu kalau perusahaan ini punya bos di balik layar?" Lanjut Delora bertanya dengan santai untuk memojokkan Draka.


"Oh, dan kau! Apa menjadi agen membuatmu terlalu tinggi terbangnya? Sehingga lupa untuk membuat artismu sedikit merendah?" Ujar Delora berjalan mendekati Jane yang mati kutu itu.


"Ak..aku.. aku..." Jane tidak tahu harus berkata apa, ini benar-benar diluar prediksinya.


Dia sudah berusaha untuk bisa masuk ke jabatannya yang sekarang. Berawal dari sekedar asisten artis, dia sekarang menjadi agen. Semua yang telah dia raih tidak mudah. Apalagi dia berhasil membangun artinya menjadi begitu populer!

__ADS_1


"Oh, kau bahkan tidak bisa berkata-kata, pantas saja artismu begitu buruk!" Ujarnya terus mengintimidasi kedua orang itu.


Lalu Delora tidak lagi berbicara, udara hening seketika.


Untuk mencegah keheningan, Delora bertepuk tangan. Kemudian dia menatap pintu dengan tajam, lalu pada kamera pengintai.


"Ingatlah untuk tidak meniru mereka!" Ujarnya dengan tenang dan duduk santai setelah itu.


Sekertaris Mau melihat dia sudah tenang mengambil alih kedua orang yang mati kutu itu.


Karena lapar, jiwa lain dalam diri Delora memberontak dan membuat dia ingin terus marah. Terutama setelah dia melihat tumpukan dokumen yang lebih tinggi dari wajahnya itu.


Jika saja Kleine datang hari ini....


Hah!


***


Azel yang sedang bersiap untuk shopping ke mall dengan teman sosialitanya.


"Kakek! Hari ini aku mau pergi bareng sama teman-teman aku, uang jajan aku udah habis! Kakek tambah ya?" Ujar Delora dengan manja.


"Kamu ini sangat boros!" Ujar kakek itu.


"Iya, kan uang dicari untuk dibuang!" Balas seorang wanita dengan pakaian yang menor membela Azel.


Mendengar suara yang akrab itu, kedua tua dan muda itu menoleh. Mereka melihat seorang wanita yang telah lama tidak mereka jumpai.


"Ah, bibi!" Teriak Azel manja dan berlari memeluk wanita itu.


"Azel kangen banget, banget dan banget sama bibi! Bibi kemana aja sih!" Ujar Azel dengan nada kekanakan.


Wanita itu tersenyum dan menerima pelukan Azel dengan hangat.


"Bibi juga kangen sama Azel, urusan pekerjaan bibi banyak! Lain kali bibi ajak Azel jalan-jalan ya kalau lagi gak sibuk?" Ujar wanita itu dengan lembut.


Azel tidak menjawab dia hanya mengangguk ringan dan tampak sangat patuh.


"Kamu ini, kenapa tidak telepon dulu jika sudah pulang!" Ujar kakek itu pada wanita berusia kepala empat itu.


"Ah, aku lupa!" Ujarnya dan tertawa dengan keras.


Tawanya menghilangkan kesan feminim yang tadi ada padanya.


Azel menutup telinganya dengan kesal.


"Ihhh... Bibi jangan terlalu kencang dong tawanya, sakit telinga Azel!" Teriaknya dengan wajah cemberut.


Memang pada dasarnya wajah asal itu menggemaskan. Jadi, saat dia cemberut, hal itu membuat dia semakin imut. Karena tidak tahan melihatnya, wanita itu mencubit kedua pipi Azel yang bulat sampai merah. Azel yang pipinya dicubit berusaha untuk lari dari genggaman wanita itu.


"Ahhh...." Teriak Azel kesakitan.

__ADS_1


__ADS_2