Serangan Cinta CEO Dingin

Serangan Cinta CEO Dingin
Chapter Seventy Eight


__ADS_3

Setelah nonton, Kleine menarik Lion ke lantai atas mall. Dia mengambil beberapa pakaian yang dia perlukan dan banyak lagi.


"Mbak, bayar!" Ujar Kleine meletakkan seluruh belanjaannya di meja kasir.


Saat Kleine mengulurkan kartu atm-nya. Lion dengan cepat memberikan atm-nya sendiri kepada tukang kasir.


"Ini belanjaan aku kali! Ngapain Lo yang bayar?" Tanya Kleine bingung dan menjauhkan tangan Lion dari tukang kasir.


"Oke!" Ujar Lion tidak ingin berdebat.


Lagipula dia takut akan membuat Kleine tidak nyaman jika dia yang membayar. Mereka bukan teman ataupun pasangan untuk saat ini.


Setelah berbelanja baju, Kleine berhenti di supermarket dekat apartment miliknya.


Kali ini sebelum Kleine bisa mengeluarkan atm-nya, Lion sudah melakukannya lebih dulu. Sehingga Kleine hanya bisa menatap Lion dengan bingung.


"Karena malam ini aku tidak perlu membuat makanan untukmu, jadi akan ku ganti dengan membayar Snack ini!" Alibi Lion dengan santai.


"Oh!" Balas Kleine tenang karena merasa itu masuk akal.


Jok belakang mobil penuh dengan tas belanjaan.


"Apa kau selalu menyetir begitu lambat?" Tanya Kleine mulai risi dengan keahlian menyetir pria itu.


Lion menoleh, "aku tidak terbiasa membawa mobil karena sopir yang biasa mengantarku kemanapun!" Lagipula asisten juga bisa menjelma menjadi sopir kan?


"Memangnya sopirku kemana?" Tanya Kleine bingung.


"Istrinya melahirkan!" Jawab Lion dengan singkat.


Geon yang sedang minum kopi bentuk keras kerena tersedak. Beberapa sekertaris di sampingnya menghampiri dan menanyakan keadaannya.


"Oh..." Jawab Kleine mengerti, tapi dia masih tidak cukup bahagia karena mobil ini bergerak lebih lambat dari siput.


"Apa boleh aku saja yang menyetir?" Tanya kleine karena dia sebenarnya tidak nyaman dengan kata klakson mobil dari tadi. Bahkan di lampu merah, Lion bergerak lebih lambat lagi sebelum lampu hijaunya benar-benar merah.


"Tidak apa-apa, sebentar lagi akan sampai!" Hibur Lion dengan santai seperti tidak mengerti maksud dari ketidaksabaran Kleine sama sekali.


Kleine hanya bisa diam karena dia merasa Lion sangat tidak peka. Dia menutup matanya dan mulai tertidur. Lion melirik Kleine yang sudah menutup matanya, dia hanya melirik sebentar karena dia tahu bahwa Kleine tidak tidur sama sekali. Dia hanya menutup matanya karena bosan.

__ADS_1


Sejak awal Lion sengaja mengambil kesempatan berlama-lama didalam mobil bersama dengan Kleine agar bisa terus mencuri-curi pandang.


Siang ini Azel datang untuk mengunjungi pria tua itu lagi. Tapi dia yang menyangka pria itu telah dipulangkan. Azel dengan keranjang buah di tangannya menjadi kesal. Dia pulang dengan marah membuat kakinya terkejut karena ulahnya.


"Ada apa Azel sayang? Katakan pada kakek siapa yang menganggu Azel kita ini?" Tanya pria tua itu dengan lembut dan penuh pengertian.


Azel membuang muka dengan kesal. "Kakek Bramansa sudah dipulangkan bahkan tidak berpamitan padaku dulu!" Ujarnya marah.


Tuan tua Carlos tertegun mendengarnya. Sebenarnya itu adalah hal yang wajar menurutnya bahkan bagi semua orang itu adalah hal yang wajar. Tapi, dia tidak ingin mengatakan kejujuran itu pada cucu tercintanya.


"Oh, itu mungkin karena mereka tergesa-gesa!" Ujar tuan tua Carlos mencoba menghibur Azel.


"Tapikan setidaknya dia harus menghubungiku dulu baru kemudian bisa pulang agar aku tidak datang dengan sia-sia! Aku tidak jadi berbelanja bersama temanku karena harus menghiburnya!" Sebenarnya tuan tua Carlos merasa Azel tidak masuk akal. Tapi, mau bagaimana lagi? Ini adalah satu-satunya cucu perempuan yang ada!


"Sudah... Sudah... Jangan marah lagi, nanti kita bisa datang kerumahnya! Bukankah bagus jika kau datang kerumahnya secara langsung dibanding terus datang ke rumah sakit? Mungkin kau bisa bertemu tuan muda Lion disana," hiburnya penuh kasih.


"Benarkah kek?" Tanya Azel bersemangat.


Pria tua itu mengangguk dengan ringan.


Aigiee memutuskan untuk pulang setelah menonton. Karena awalnya dia masih ingin mengikuti dua sejoli tadi. Tapi dia selalu ketahuan sedang mengikuti dan dengan terpaksa harus berhenti.


"Kepala pelayan!" Teriaknya dengan nada rendah.


Setelah menunggu cukup lama. Kepala pelayan itu langsung datang dengan cepat.


"Ya nyonya!"


Aigiee melihat kepala pelayan itu dan melirik sekeliling yang sangat kacau saat ini. "Katakan apa yang sedang terjadi?" Titahnya tanpa bisa ditolak.


Kepala pelayan adalah pelayan senior, tentu dia tahu yang mana yang harus di patuhi dan yang tidak.


"Tiga tuan muda sangat marah pada anda sebelumnya dan melampiaskan semuanya pada guru mereka. Sekarang para guru itu menjadi jerah dan tidak ingin mengajar disini lagi!" Lapornya tanpa melakukan kebohongan.


"Bagus!" Puji Aigiee dengan senyum sinis membuat pelayan lain merinding karena suasana di ruangan itu menjadi dingin.


Kepala pelayan hanya bisa menunduk dalam diam.


"Dimana mereka sekarang?" Tanya Aigiee dengan rendah, ada senyum yang tidak bisa dijelaskan di wajahnya yang cantik.

__ADS_1


Kepala pelayan itu terdiam saat ini. Dia melirik lantai atas tepat di arah kamar Aigiee. Tanpa pelayan itu jawab, Aigiee langsung tahu maksudnya.


"Baiklah! Bereskan kekacauan ini!" Ujarnya ramah yang tidak cocok dengan senyum jahatnya.


Kepala pelayan itu mengangguk, sedangkan Aigiee naik ke lantai atas.


Dia menghitung tangga satu persatu dengan kalimat asing yang tidak orang lain mengerti.


"Ingin membalas dendam ya?" Tanya Aigiee pelan, "itu masih tergantung apalah kalian mampu atau tidak!" Ujarnya dengan kejam.


Dia melihat pintu kamarnya yang terbuka. Aigiee tidak langsung masuk, dia menunggu di kusen pintu dengan tenang.


Melihat ketiga bocah itu yang mulai menghancurkan alat kosmetik miliknya, menggunting bajunya, menumpahkan berbagai cat di seprei kasurnya.


Kepala pelayan berpikir Aigiee akan langsung masuk dan menegur ketiganya. Di luar dugaan, Aigiee pergi lagi tanpa di perhatikan oleh tiga bocah itu.


Dia mengeluarkan ponselnya dan berjalan menuju balkon.


Kleine disaat yang bersamaan terganggu karena bunyi telponnya.


Setelah melihat nama Aigiee, Kleine merasa aneh. Setelah dari bioskop dia memang telah melihat Aigiee yang mencoba membuntuti mereka.


Tapi karena Aigiee tidak menyapa dia, Kleine juga tidak peduli


Sekarang dia menelponnya? Dia mengangkat panggilan itu.


"Ya?" Ujar Kleine membuat Lion melihat ke arahnya sejenak.


Lion penasaran siapa yang menelepon Kleine saat ini. Tapi, dia cukup tahu untuk diam dan tidak rewel. Dia hanya mendengarkan dalam diam saja.


"Apa Cuttie kekurangan teman main saat ini?" Tanya Aigiee dengan santai. Memeriksa kukunya yang belum di manikur lagi dan bersandar pada pagar balkon.


Kleine akan menjawab bahwa Cuttie sedang ada teman bermain saat ini. Tapi, dia pikir jika Aigiee yang menanyakan itu pasti untuk hal yang penting, jadi dia menjawab ya tanpa tergesa-gesa.


"Kalau begitu bisakah aku meminjamnya selam satu pekan?" Tanya Aigiee sedikit bersemangat.


Seperti yang Kleine duga, pasti Aigiee akan meminjam Cuttie darinya.


###

__ADS_1


😘


__ADS_2