
Seorang resepsionis mengantarkan makana tak lama setelah Kleine selesai membereskan tas belanjaan. Awalnya Kleine akan melanjutkan menyimpannya di lemari pendingin. Siapa yang tahu corak warnanya telah berhasil menggodanya.
Perut Kleine berbunyi keras karena sekedar melihat. Kleine dengan enggan memasukkan mangkuk ke dalam microwave.
Setelah dipanaskan, Kleine semakin tergoda karena bau makanan itu menyebar ke seluruh ruangan.
Dia makan dengan cepat.
Dia juga sedikit menyesal karena telah mengatakan pada Lion untuk tidak perlu membuat makan malam. Hei... Perut ini memang sangat rakus.
Saat malam tiba, seperti yang mereka sepakati. Karel mengetik pintu apartemen Kleine di jam makan malam.
"Ini adalah makan malam yang baru saja ku pesan!" Ujarnya dan memperlihatkan kantong makanan pada Kleine.
"Ya, aku masih cukup kenyang! Tapi terimakasih!" Ujar Kleine dan mengambil makanan dari Karel.
"Masuklah!" Ujarnya dan membiarkan pintu terbuka lebar.
Karel mengikuti dalam diam dan duduk jika hanya di persilahkan duduk oleh tuan rumah.
Keduanya duduk saling berhadapan tanpa ada yang membuka topik. Kleine tampak sampai dan tenang, tapi Karel adalah kebalikannya.
Dia sangat ingin memulai banyak pertanyaan. Tentang keadaan Floye, anaknya, berapa jumlahnya lalu banyak lainnya. Dia setelah lima tahun mencari tanpa hasil akhirnya telah membuka pintu yang terkunci begitu erat.
Kleine mengambil salah satu cemilan yang memang dia letakkan di atas meja.
"Tidak baik memakan hal itu terlalu banyak!" Ujar Karel tanpa sadar.
"Tapi anakmu hidup dengan ini!" Jawab Kleine asal.
"Apa?" Ujar Karel agak bingung.
"Ya, putra keduamu sangat menyukai hal ini!" Jawab Kleine dengan malas.
Karel ingin marah dan mengatakan bahwa itu tidak sehat dan tidak baik jika dimakan secara berlebihan. Tapi, dia cukup bisa menahan dirinya. Jika tidak mungkin informasi yang selama ini dia tunggu akan berakhir dengan sia-sia.
"Baiklah, cukup untuk topik mengerikan ini!" Ujar Kleine setelah merasakan kesusahan di alis Karel.
__ADS_1
Dia sebenarnya tidak kasihan dengan Karel, hanya saja dia memang cukup kasihan dengan dua anak tanpa ayah itu.
"Apakah Floye sehat?" Tanya Karel cepat.
"Oh, aku lupa mengatakan bahwa kau hanya bisa menanyakan satu pertanyaan saja padaku! Jadi apa kau yakin ini menanyakan ini?" Ujar Kleine begitu santai membuat Karel terdiam.
Ada banyak pertanyaaan yang ingin dia ajukan. Tapi, dia tahu betapa sulitnya berkompromi dengan Kleine. Jika dia protes saat ini, maka lupakan. Mungkin dia tidak akan membiarkan dia menjawab satu pertanyaan pun.
"Ya, apakah dia baik-baik saja, apakah Floye sehat?" Katanya pasti tanpa ada keraguan sedikitpun.
"Kau yakin hanya ingin bertanya tentang dia? Bukan tentang anak-anak mu? Seperti ada berapa jumlahnya? Apakah mereka sehat? Lelaki atau perempuan? Apa kau tidak tertarik mendengar informasi tentangnya?" Ujar Kleine menjebak Karel agar dia ragu dan menanyakan tentang hal lain.
Karel menggeleng dengan penuh keyakinan.
"Kau yakin tidak ingin bertanya keberadaan mereka sekarang?" Tanya Kleine sekali lagi yang memang berhasil membuat Karel tergiur.
Tapi Karel masih menggeleng dengan pasti.
"Apa kau tidak ingin tau status hubungan Floye sekarang? Misalnya apakah dia sudah menikah? Atau sedang menyukai orang lain?"
"Bisakah kau jawab saja?" Ujarnya pada akhirnya yang berakhir dengan kekecewaan di mata Kleine.
"Dia sehat!" Jawab Kleine dengan singkat, dia masih berusaha memancing ikan untuk mengambil kail miliknya.
Karel berdiri dengan cepat, tangannya terulur ke atas. Kleine sudah siap jika Karel akan memukul atau menyerangnya. Tapi, diluar dugaannya tangan itu hanya berduri kokoh didepan wajahnya.
"Terimakasih untuk informasi ini, ini sangat penting bagiku! Aku puas, ke depannya kau bisa minta hal apapun padaku. Tapi tolong jangan berhubungan dengan mereka. Kau bisa meminta hartaku, uangku, orang tubuhku, darahku, bahkan sumsum tulangku. Tapi tolong jaga mereka dan jangan ambil apapun dari mereka!" Ujarnya penuh permohonan.
"Kau puas hanya dengan dua kata itu?" Tanya Kleine tidak yakin.
"Asal dia sehat, aku bisa yakin dia masih hidup! Selama dia bahagia..." Karel ingin mengatakan bahwa dia juga akan bahagia. Tapi, dia tidak memiliki intonasi itu untuk melanjutkan kata-kata berikutnya.
"Kau cukup mudah dipuaskan rupanya, kalau begitu aku tidak sungkan!" Ujar Kleine mengambil salam kerjasama dan kesepakatan dari Karel.
"Aku akan pergi dulu!" Ujar Karel dan berbalik dengan cepat.
Dia takut jika dia bertahan lebih lama lagi, dia akan bertanya banyak hal tanpa dia cerna.
__ADS_1
Namun, saat kakinya akan menginjak garis pintu. Suara Kleine berhasil menginterupsi dirinya.
"Tidak ada usaha yang akan mengkhianati hasil, apa kau percaya itu?" Tanya Kleine membuat Karel berbalik.
Dia menjawab tempat berpikir, "sebelumnya aku juga berpikir begitu, tapi ternyata memang logika itu hanya tepat pada bagian tertentu saja. Pada dasarnya ada lingkup yang lebih besar dari usaha, yaitu ketentuan takdir dan ketetapan waktu!" Dia hendak berbalik ketika selesai berbicara.
"Tapi apakah tuhan begitu pelit?" Tanya Kleine sekali lagi yang membuat Karel mengurungkan niatnya untuk pergi dari sini.
Dia menunggu di tempatnya tentang apa yang ingin dikatakan Kleine.
"Aku tidak akan menyembunyikan informasi tentangnya lagi setelah ini, selama kau bekerja lebih banyak dan bersabar." Kleine berjalan mendekat, "akan ada jawaban yang telah kau tunggu!" Dia menepuk bahu itu sekali dengan ringan, yang artinya kesempatan tanpa batas.
Bukannya merasa senang, Karel menatap Kleine yang telah memunggunginya. "Tapi kenapa?" Tanyanya dengan linglung.
"Karena aku sahabatnya!" Jawab Kleine tanpa berbalik.
"Apa maksudnya?" Tanya Karel masih tidak mengerti.
"CK," Kleine akhirnya berbalik dan menatap Karel dengan pandangan merendahkan seakan sedang melihat seorang idiot.
"Untuk menyenangkan seorang ibu, maka dekati anaknya! Untuk menyenangkan seorang anak, maka beri dia apa yang dia inginkan. Untuk mendapat restu seorang teman dari orang spesial, maka pujilah orang itu di depan temannya!" Jawab Kleine dengan malas.
"Tapi aku tidak memuji Floye didepanmu?" Ujar Karel masih bodoh.
"Ckckck... Kau ini sangat bodoh, mengapa bisa membangun kerajaan bisnis yang begitu besar?" Tanya Kleine bingung. "Tentu saja itu karena kau lebih khawatir dengan keadaan Floye saat ini dibanding kondisi apapun yang aku tawarkan! Apa kau masih tidak mengerti?" Tanya Kleine yang sudah kehabisan kesabaran.
Karel menggeleng dengan cepat, dia akhirnya mengerti mengapa Kleine begitu cerewet tadi. Ternyata gadis di depannya ini sedang mengujinya!
"Terimakasih! Untuk hari ini tidak akan pernah aku lupakan!" Ujarnya membungkuk sangat rendah didepan Kleine.
"Lupakan!" Ujar Kleine dengan tenang dan berbalik,"jangan lupa tutup pintunya!" Lanjutnya malas seperti biasanya.
"Terimakasih!" Ujar Karel sekali lagi.
###
°~°
__ADS_1