
Di luar dugaan Kleine, ternyata lantai empat tidak memiliki tangga yang begitu rumit. Itu seperti tangga normal pada umumnya.
Namun, saat Kleine hendak menginjak tangga. Seseorang menghentikannya.
"Apa kau tidak tahu bahwa tempat itu dilarang masuk tanpa kartu identitas?" Tanya seorang itu dengan merendahkan.
Kleine berbalik.
Karena setiap bagian sebelum anak tangga selalu ada ruang yang memang cukup besar.
"Apa itu harus?" Tanya Kleine kembali.
Gadis itu menyapa Kleine dari atas kebawah dan begitulah sebaliknya.
Dia bisa melihat betapa cantiknya gadis di depannya ini. Bahkan jika dia tidak berkesempatan melihat wajah Kleine secara langsung, dia bisa mengatakan dengan yakin bahwa orang didepannya ini sangat cantik.
Dia menjadi sedikit cemburu, apalagi dengan tubuh ramping dan tinggi badan Kleine. Seorang wanita yang cemburu dan iri dengan milik orang lain pasti punya kebencian yang besar.
"Apa kau tidak tahu bahwa lantai empat hanya untuk orang khusus saja yang punya kartu identitas khusus?" Ujar gadis itu memandang rendah Kleine yang menurutnya bodoh.
"Oh, apakah itu benar?" Tanya Kleine tidak menanggapi pandangan buruk gadis itu. Dia tetap menjawab dengan sopan, "bagaimana aku bisa tidak tahu akan hal itu?" Tanya Kleine agak penasaran.
"Kau sepertinya orang baru? Apa kau sudah mendaftar dengan baik?" Tanya gadis itu semakin memandang remeh Kleine.
"Entahlah, aku kesini hanya untuk mencari seseorang. Aku bukan pelajar disini!" Jawab Kleine agak malas dan lelah.
Dia mundur dua langkah dan dudu di anakan tangga dengan tangan kanan menompang kepalanya di anakan tangga yang lain.
Mendengar ucapan Kleine, gadis itu memandang Kleine sekali lagi. Mencari seseorang? Di lantai atas? Apakah itu untuk ms. Piscel?
"Apa kau mencari ms. Piscel?" Tanyanya agak ragu. Tapi, dari penampilan Kleine yang begitu langsung dan cantik. Seharusnya dia benar-benar mengenal Miss Piscel kan?
"Ya, aku tidak tahu namanya. Tapi, dia menyuruhku untuk memangilnya. Si gadis langsing!" Jawab Kleine malas.
Gadis yang tadi memandang remeh Kleine kini terdiam.
Semua orang yang berada di gedung ini tidak ada yang tahu siapa nama panggilan Miss Piscel. Hanya beberapa orang dalam dan tentu saja pelatih. Dia cukup beruntung untuk bisa mendengar percakapan beberapa pelatih waktu itu.
Miss Piscel adalah orang yang menjadi idola semua orang.
__ADS_1
Siapapun yang berhasil menarik minatnya akan menjadi ladang itu bagi orang lain. Dia juga tak mau tertinggal.
Selama ini, dia telah berlatih sangat keras agar di lirik oleh pemilik gedung ini. Tapi, sayangnya dari dulu sampai sekarang, belum ada satupun yang berhasil menarik minat wanita itu.
Meskipun ada satu orang, itu hanya gadis miskin yang cukup beruntung. Dan dia hanya beruntung untuk bisa masuk gedung ini tanpa membayar. Bukan sebuah keuntungan dimana bisa menjadi murid khusus Miss Piscel.
Mendengar penyebutan Kleine. Gadis itu menjadi sedikit menarik dan menghormati Kleine.
Siapapun yang bisa tahu nama panggilan itu hanya orang yang sangat khusus dan dekat dengan miiss Piscel.
Dia menunduk malu.
"Ah, maaf mengganggu nona kalau begitu. Saya akan pergi dulu!" Ujarnya cepat, membungkuk dan berlari ke belakang dan masuk di ruang kanan pertama dari sini.
Kleine tersenyum, namun juga sedikit kecewa.
Dia pikir akan ada adegan dimana bos besar di injak oleh wanita kaya biasa. Lalu, dia akan menunjukkan identitasnya dengan berat membuat pengganggu itu menjadi sangat ketakutan.
Hai...
Dia tidak cukup beruntung untuk mendapat masalah itu. Kleine terlalu sedih untuk gadis yang masih cukup masuk akal itu.
Dia dengan malas berdiri, mengusir debu dari pakaiannya dan berbalik untuk melanjutkan perjalanan dengan lamban.
Seharusnya dia dulu menolak tawaran menggiurkan dari Kleine.
Menjadi bos besar ternyata tidak enak sama sekali! Lebih baik menjadi gadis manja yang tidak perlu bekerja keras.
Waktu itu dia masih labil. Pikirannya tentang menghasilkan uang secepatnya dan belajar keras agar ada perusahaan yang akan tertarik memperkejakan dirinya dengan gaji besar.
Itu sebabnya di usia yang begitu muda, dia lulus kuliah lebih awal. Dan itu benar-benar menariknya pada tempat yang sangat bagus seperti sekarang ini. Tapi, dia sekarang sedikit menyesal.
Sebanyak apapun uang yang dia miliki sekarang. Dia bahkan tidak punya waktu untuk bersantai dan menghabiskannya.
"Bos, produser Anta ingin bertemu denganmu!" Lapor sekertaris itu pada Delora.
"Biarkan dia menunggu sebentar di ruang tunggu. Aku akan menyelesaikan semua ini dulu, lalu akan menemuinya nanti!" Jawab Delora asal. Dia tidak melihat bahkan melirik sekertaris itu sama sekali.
Dia terus fokus pada berbagai dokumen yang ada di depannya.
__ADS_1
Nasib Goen sekarang jauh lebih baik dari Delora. Tapi tidak bisa dibilang begitu juga. Karena ukuran perusahaan Lion jelas lebih luas cakupannya yang membuat keringanan Geon cukup sama saja dengan apa yang Delora kerjakan saat ini.
Tapi, bagi Geon itu adalah hal yang jauh lebih baik dari kemarin. Setidaknya dia tidak perlu terlalu banyak mengurus perusahaan ini.
Sayangnya, sebaik apapun keringanan itu. Karena permintaan Lion tadi pagi. Dia masih harus mengatur ulang jadwal untuk satu bulan ke depannya.
Bahkan dia juga meminta untuk tidak membuat jadwal apapun di pagi hari yang begitu mendesak.
Meskipun memang tidak mudah. Setidaknya itu jauh lebih baik daripada mengahadapi banyak dokumen gila.
Hal yang cukup sulit disini adalah berkompromi dengan klein untuk menunda perjamuan.
Setelah menghabiskan sarapan yang dia buat sendiri dengan kesal didepan pria tua itu. Azel sedikit menyesali prilakunya.
Tapi, toh itu sudah terjadi. Jadi, mau bagaimana lagi?
Setelah berbincang cukup lama. Dan sepertinya masih belum mendapat kemajuan. Azel hanya bisa mundur terlebih dahulu.
Dia ada janji untuk berbelanja bersama temannya hari ini. Dia sudah melewatkan kesempatan bersenang-senang selama dua hari ini.
Tuan tua Bramansa juga merasa ringan setelah Azel pergi.
"Aku ingin pulang!" Ujar pria tua itu dengan pasrah.
Sebenarnya dia sudah bisa dipulangkan sejak kemarin. Tapi, dia berharap cucunya akan menjenguknya dirinya lagi hari ini. Tapi, cuci durhaka itu sangatlah tidak berbakti.
"Baiklah tuan!" Jawab ajudan itu dengan sopan dan berbalik untuk memerintahkan kepada bawahannya untuk meminta surat keterangan pulang dari dokter yang merawat tuan tua.
Kleine akhirnya sampai di lantai empat. Berbeda dari dua lantai sempit sebelumnya. Disini Kleine bisa melihat ruangan yang luas dengan dinding kaca putih membatasi tangga dan ruangan itu sejauh dua meter darinya saat ini.
Kleine maju dan mendorong pintu kaca itu dengan lembut.
Di dalam ruangan. Ada satu ruangan lagi di sudut kiri. Ruangan itu tidak terbuat dari kaca. Itu terbuat dari triplek tebal.
Kleine mengambil beberapa langkah dan duduk di kursi balon dengan malas.
"Aku tahu kau sedang mengawasi ku sejak tadi!" Ujar Kleine lelah.
"Ya, memang sangat waspada dan jelih!" Ujar seseorang dengan suara lembut dan manis. Pintu putih yang lembut itu terbuka perlahan dan menunjukkan penampilan cantik seseorang.
__ADS_1
###
Pagi menjelang siang gini enaknya ngapain yah?