
Dia tahu apa yang sedang pria gila itu pikirkan. Dia bisa saja mencobanya jika dia mau, tapi dia tidak akan pernah melakukan hal seperti itu.
Setidaknya bukan di waktu ini, tapi siapa yang tahu dengan masa depan.
Lion memikirkan cara untuk membuat Kleine meminum obat itu. Dia pertama-tama mendudukkan Kleine dengan susah payah. Lalu mendorong pil itu ke mulut Kleine, setelah memasukkan pil, dia memberi air agar pil itu melaju ke dalam.
Mungkin karena pipinya yang terlalu besar, kesadaran Kleine akhirnya terganggu dan bangun dalam keadaan tersedak. Dia dengan lemah melihat siapa yang berada di depannya. Dia sangat ingin bertanya apa yang sedang terjadi, tapi tenggorokannya terlalu tidak nyaman dan dia mencoba untuk tenang dulu.
"Kau baik-baik saja? Minumlah dulu!" Ujar Lion dan mendekatkan gelas berisi air ke bibir Kleine. Kleine juga tidak bisa menolak dan minum dengan lambat.
Setelah obatnya tidak lagi tersangkut di tenggorokan nya Kleine merasa itu sudah tidak mengancam nyawa lagi. Kleine kemudian melihat sekelilingnya yang sangat dia kenali, lalu pada Lion untuk bertanya apa yang terjadi.
"Kau demam!" Jawab Lion singkat.
Kleine berpikir dalam hatinya, dia demam?
Dia melihat Lion tidak percaya, tapi dia tidak bisa mengatakan apapun karena tenggorokannya terasa serak dan kasar. Dia juga merasa tubuhnya memang mengeluarkan zat panas yang membuatnya gerah dan sangat ingin berendam di air dingin.
"Kau tidurlah lagi, demamnya belum mereda!" Ujar Lion kemudian.
"Apa kau haus?" Tanyanya karena Kleine tidak memberikan tanggapan padanya.
Kleine tidak menjawab dengan suara dan mengangguk. Meskipun dia telah minum segelas air sebelumnya, dia masih merasa tenggorokan ini terlalu kering.
Aku akan mengambilkannya untukmu!" Ujar Lion dengan lembut.
Kleine mengangguk lagi dan menatap punggung Lion, Kleine tidak merasa begitu khawatir tentang kehadiran Lion di kamarnya.
Lagipula dia bukan gadis-gadis pada umumnya yang sangat mengutamakan privasi. Bagi Kleine yang selalu berkumpul dengan pria asing, itu bukan apa-apa. Di ketentaraan, dia tidak bisa di sebut sebagai seorang wanita.
Saat Lion berada melewati ruang tamu, Rafa langsung berteriak dengan nada ejekan. "Apa kau sudah melakukannya? Apa itu terasa enak?"
Lion saat ini sangat ingin sekali memukul Rafa karena terlalu banyak bicara. Tapi ada suara dari ujung pintu yang menginterupsi ketiganya.
"Siapa kalian?" Tanya Bles galak dan segera masuk untuk melihat apa yang sedang terjadi.
__ADS_1
Di belakangnya ada seorang wanita yang mengikuti dengan langkah cepat.
"Di mana Kleine dan apa yang sedang kalian lakukan disini?" Tanya Bles semakin khawatir karena dia tidak melihat Kleine muncul.
"Siapa dia?" Tanya Rafa pada Lion yang juga memandang Bles dengan aneh.
"Aku tidak tahu!" Balas Geon yang tidak di tanya.
Bles melihat pintu yang sedang di perbaiki, lalu melihat tiga pria yang tampaknya tidak baik. Dia curiga mereka telah menganggu Kleine. Dia saat ini lupa siapa Kleine dan betapa kuatnya Kleine.
Lion mengabaikan Bles yang menatap mereka dengan ganas dan berjalan ke dapur untuk mengambil air.
"Siapa kalian?"
"Aku adalah dokter! Apa tidak terlihat jelas tuan?"
Bles melihat bahwa Rafa memang menggunakan jas dokter dan ada alat pendeteksi denyut jantung yang tergeletak di atas meja. Tapi, melihat ruangan yang begitu kacau. Bles langsung terbelalak dan berlari menuju kamar.
Tapi dia segera di cegah oleh Geon. "Apa yang sedang kau lakukan?" Tanya Bles penuh amarah.
"Itu tidak ada hubungannya dengan kalian, lepaskan aku!" Teriak Bles kesal dan memberontak sekuat tenaga.
Geon merasa bahwa kekuatan Bles memang sangat besar. Setiap gerakannya meninggalkan rasa sakit pada tubuhnya.
Lion segera selesai mengisi air di gelas dan melihat dua orang itu telah di sandera oleh Rafa dan Geon. Dia tidak peduli dan berjalan ke kamar Kleine.
Namun, sebelum dia masuk ke kamar, dia menoleh. "Namamu?" Tanyanya pada Bles yang masih bergulat dengan Geon.
Bles berhenti melawan dan menatap Geon."Apa maksudnya?" Tanya Bles bingung.
"Maksudnya siapa namamu!" Jawab Geon dengan malas dan menekan tubuh Bles ke sofa yang sudah sangat berantakan.
Bles berpikir sejenak sebelum menjawab dengan enggan, "Bles!" Ujarnya dengan angkuh.
Lion mengangguk dan menatap orang yang berada di tangan Rafa. Gadis itu menatap dengan tenang dan senyum malas, "Dewi!" Ujarnya singkat.
__ADS_1
Lion mengangguk dan berjalan masuk dengan gelas di tangannya. Dia duduk di pinggir sofa dan menyerahkan air itu untuk Kleine minum.
"Luar?" Tanya Kleine dengan serak karena mendengar keributan yang begitu besar.
Kleine sangat ingin sekali keluar dan melihat keributan apa yang terjadi. Tapi, tubuhnya seakan lumpuh dan tidak bisa di gerakkan sama sekali. Dia hanya bisa menunggu dengan tenang disini.
"Seseorang bernama Bles dan Dewi datang kesini dan mengaku sebagai temanmu, apa kau mengenalnya? Apa kau ingin mereka masuk?" Tanya Lion dengan lambat.
Kleine tidak tahu mengapa Bles bisa datang dengan tiba-tiba. Tapi, kurang lebih dia tahu mengapa pria itu bisa datang kesini. Itu pasti terhubung dengan Piscel.
Jadi Kleine mengangguk.
Lion juga mengangguk dan berdiri, dia berjalan ke luar.
"Masuklah!" Ujar Lion tenang dan geon serta Rafa mulai melepaskan Bles dan Dewi.
Bles memandang Geon dengan mata penuh permusuhan. Lalu dia dengan sombong berjalan melewati Geon dan tidak lupa menabrakkan bahunya pada bahu Geon. Geon sangat kesal karena ulah Bles. Tapi dia hanya diam dan tidak membuat masalah. Lion menyaksikan keduanya masuk dengan senyum menang.
Dia tidak peduli dan berdiri di kusen pintu untuk mengamati dari jauh.
"Yo... Apa kau demam!" Ujar Bles dengan senyum mengejek setelah melihat kening Kleine yang sedang di kompres.
Kleine hanya diam dan tidak menanggapi yang membuat Bles semakin suka mengacaunya. "Apa demam telah membuatmu tidak bisa bicara? Ataupun bergerak?" Tanya Bles berpura-pura bingung.
Biasanya Kleine memang tidak suka banyak bicara dan banyak gerak, pertanyaan ini memang di tujukan untuk menghina Kleine saja.
Bles duduk di samping kasur dan menyentuh kening Kleine. "Ini sangat panas, aku tidak tahu kenapa dengan suhu ini kau masih bisa sadar!" Ujarnya dan mengambil handuk kompres.
Dewi maju dan mengambil handuk itu, dia melihat es yang belum banyak meleleh dan memasukkan handuk itu ke sana. Lalu dia memerasnya dan menempelkan handuk itu ke kening Kleine secara langsung.
"Ya, aku kira sangat bagus untuk demam sesekali Kleine, agar kau tahu bahwa kesehatan itu sangat berharga!" Ujar Dewi dan mendorong Bles ke belakang.
Dewi adalah seorang dokter, hanya saja dia tidak suka membawa alat-alat dokter untuk menunjukkan bahwa dia dokter.
###
__ADS_1