
Kleine melihat semua itu dari cctv. Semakin banyak yang keluar, maka senyum dingin Kleine semakin menjadi. Saat dia akan menyerang, bel pintu berdering. Kleine ingat bahwa pria brengsek itu akan berkunjung siang ini untuk mengantar makanan.
Dia melihat penampilan sejak, menyimpan laptop dan membuka pintu.
"Kenapa lama!" Ujar Kleine dan langsung menarik makanan dan berniat menutup pintu. Tapi, Lion sudah siap dengan cepat.
Trik ini tidak akan bisa menghalanginya untuk masuk.
Kleine yang gagal untuk kedua kalinya hanya bisa berjalan ke meja makan dengan cepat dan menyusun piring untuk dirinya sendiri tentu saja.
Lion hanya bisa menggelengkan kepala dan berjalan ke dapur, mencuci tangannya dan mengambil piring untuk dirinya sendiri.
Karena Kleine makannya selalu banyak, Lion membuat porsi makan untuk tiga orang dewasa. Meski sudah membuat rencana yang begitu bagus. Nyatanya memang tidak semulus itu.
Dia melihat sisa makanan yang di sisakan oleh Kleine untuknya memang sangat sedikit.
Kleine bahkan makan tanpa menunggu dirinya.
"Apa kau yang membuat rendang ini?" Tanya Kleine tidak percaya.
"Tentu saja!" Jawab Lion dengan percaya diri.
Meskipun makanan yang tersisa memang sedikit, Lion sangat kenyang karena puas setiap menatap wajah rakus Kleine.
"Makanlah sayurnya lebih banyak!" Ujar Lion setelah meletakkan sesendok sayur ke piring Kleine.
"Iya tahu!" Ujar Kleine asal dan mulai mengambil sendok lain.
Lion tersenyum puas dengan tingkah menggemaskan Kleine.
***
Setelah hari hampir tengah hari, Floye menarik anak-anaknya pulang untuk membuat makan siang.
Saat sampai di pintu rumah, mereka melihat ada keranjang berisi mangga gemuk dan bulat tergeletak begitu saja dengan surat putih.
"Mangga buat Devan, aku udah minta ke kak Jiji dan katanya gakpapa. Di makan ya, aku mau ikut ibu ke rumah om Ridwan. Nanti sore main di lapangan jangan lupa!" Isi surat itu sangat menggemaskan dengan banyak emoticon lucu walaupun tulisannya masih berantakan.
Floye tersenyum dan menyelipkan kertas itu ke sakunya.
Ini bukan pertama kalinya putra keduanya mendapat surat seperti ini.
Dia tiba-tiba ingat apa yang dikatakan oleh Disa di saat dia melamun kemarin. Meskipun dia melamun, tapi pendengaran yang dia miliki masih berfungsi. Dia hanya tidak ingat saja waktu itu, sekarang dia ingat.
Sepertinya memang cocok?
__ADS_1
"Waahhh.... Waria baik banget! Aku jadi pengen makan rujak. Ibu nanti buat rujak ya? Terus aku bawa main buat dibagi ke temen-temen!" Ujar Devan dengan gembira.
Floye senang karena anaknya yang satu ini sangat suka berinteraksi dan baik ke semua orang. Dia menatap putra satunya yang tampak tidak peduli sama sekali.
"Yaya... Nanti ibu buatin!"
"Yey!!! Makasih bu." Teriak Devan senang mencium pipi kanan floye dan berlari masuk untuk mandi.
"Davin mau mangganya di bikin apa? Nanti ibu buat!" Tawarnya pada anak pendiam yang menatap mangga itu dengan aneh.
"Gak suka!" Jawabnya datar.
Floye cukup tahu bahwa Davin memang tidak suka buah-buahan. Dia lebih suka sayur dan daging. Satu-satunya buah yang dia suka adalah pisang emas yang kecil dan manis. Namun pisang itu sulit didapat, jadi setiap Kleine pulang dia akan membawa pisang itu.
Meskipun sulit di dapat, jika sudah mencari ke seluruh dunia apakah benar-benar tidak menemukan.
Karena sulit menemukan, itu sebabnya Floye memutuskan untuk menanam pisang itu. Tapi, memang tidak mudah.
Davin juga masuk setelah mengatakan itu.
Dia mencuci tangannya dan menyusun hasil panen di tempat yang seharusnya.
Floye melihat nya dalam diam dan juga mencuci tangan. Dia mulai memasak di bantu oleh putra sulungnya.
"Pengangguran!" Jawab Davin dengan santai.
Floye tertegun mendengarnya.
"Seperti Tante Kleine, selalu menganggur dan bebas. Dia bisa kemanapun dan pergi sesukanya. Aku ingin seperti!"
Jawaban Davin benar-benar di luar dugaan Floye. Bahkan mungkin seluruh dunia tidak akan percaya hal ini jika dia mengatakan nya.
Orang yang pintar dan cerdas? Apakah ada yang benar-benar berpikir untuk hidup bebas tanpa bekerja?
Bukankah orang pintar itu gila dengan kerja dan penemuan atau cara membuat teknologi semakin maju?
Apa ini karena salah pergaulan?
Tapi yang menyadarkan Floye adalah satu hal!
"Bagaimana kamu bisa tahu kalau Tante Kleine menganggur?" Tanya Floye menyelidik.
"Dia sendiri yang bilang! Katanya hidup itu harus punya uang. Sewa orang untuk menghasilkan uang untuk kita dan kita hanya perlu menunggu saldo masuk dengan sabar."
"Dia benar-benar mengatakan itu?"
__ADS_1
"Ya, dia juga bilang hidup yang membosankan itu lebih baik daripada hidup monoton!"
***
Kleine yang telah mengajarkan hal buruk pada anak-anak tidak tahu bahwa dia sedang di adukan saat ini. Dia yang baru selesai mengusir Lion dengan susah payah masih belum berhasil.
"Mau Lo apa sih?" Tanya Kleine kesal pada pria yang sedang berbaring miring malas di sofa dengan tangan kanan memangku kepalanya.
Dia menatap Kleine dengan senyum nakal. Akhir-akhir ini dia mulai terbiasa tersenyum dan senyumnya sudah tidak buruk lagi. "Aku mau kamu!" Jawabnya.
"Lo gak kerja apa?" Tanya Kleine dengan kesal.
"Aku adalah bos, aku bisa mengambil cuti kapanpun yang aku mau!"
"Bangkrut tuh perusahaan Lo kalau bosnya kayak Lo gini!"
"Gakpapa, harta warisan dari kakek cukup menghidupi keluarga kita sampai anak cucu!" Jawab Lion membuat Kleine merinding setelah mendengarnya.
"Gila!" Bisik Kleine sudah tidak tahu lagi bagaimana cara mengusir setan ini.
"Katanya orang yang jatuh cinta itu gak ada yang waras. Kayaknya bener deh, aku jatuh cinta sama kamu dan kamu bilang aku gila. Dulu sih gak percaya..." Dia langsung berdiri dan mendekati Kleine, menunduk dan menatap wajah marah Kleine.
"Tapi sekarang percaya!" Bisiknya lembut lalu mencuri ciuman di pipi Kleine.
"Aku pulang!" Teriaknya di dekat pintu.
Kleine yang kecolongan kali ingin mengejar Lion, bagaimana dia bisa melamun hanya karena wajah tampan Lion dan membuat dirinya kehilangan harga diri untuk pipi tercintanya.
Namun, Lion lebih cepat darinya dan sudah menutup pintu lift.
Kleine hanya bisa mengutuk lagi dan lagi. Dia merasa kurang latihan baru-baru ini sehingga di selalu kehilangan fokusnya dan bisa dilecehkan oleh sembarang orang.
Kleine bertekad untuk melatih lagi kecepatan dan refleks miliknya.
Setelah puas mengutuk lift yang tertutup. Kleine berbalik dan mulai menjalankan bisnis. Dia hampir lupa karena terlalu marah pada pria brengsek itu.
Kleine membuka ruang kerjanya dan sudaha ada sepuluh komputer elit disana. Kleine mengeluarkan laptop kecilnya dari laci dan mulai lupa kejadian memalukan tadi.
Targetnya sudah tercapai, membuang sampah sudah selesai. Sekarang adalah saatnya untuk menunjukkan pada dunia tentang betapa baiknya orang yang mereka puji.
Satu demi satu berita kecil yang tidak begitu menarik keluar. Tapi, lama kelamaan berita itu seperti jaring laba-laba yang menyatu satu sama lain.
###
👋👋👋
__ADS_1