Serangan Cinta CEO Dingin

Serangan Cinta CEO Dingin
Chapter Thirty Five


__ADS_3

Saat mobilnya berhenti di depan gerbang rumah tuan Jhon. Azel sibuk merapikan rambut dan pakaiannya. Dia juga tidak lupa menambahkan lipstik pada bibirnya agar tampak semakin cantik.


"Ayo sayang! Kita sudah hampir telat loh ini!" Ajak Carlie berpura-pura mendesak, wajahnya tetap tersenyum dan menunggu dengan sabar.


"Sebentar bi, bibi sih gak bilang kalau bakal ada tuan muda Lion yang datang. Kan Azel gak dandan yang bagus jadinya!" Keluh Azel dengan wajah masam.


"Iya, Ino memang salah bibi!" Ujar Carlie mengalah dengan senyum tulus.


Azel tidak melanjutkan obrolan dengan Carlie. Dia sibuk memakai make up dan setelah merasa puas, barulah dia keluar dari mobil.


Wajah chubby Azel berubah drastis sekarang. Itu tampak seperti seorang gadis dewasa yang memiliki wajah kekanakan. Kaki putih Azel yang jenjang menarik perhatian semua orang.


Baju hitam dengan mutiara perak menghiasi membuat Azel semakin menawan. Jika kehadiran Lion menarik para gadis untuk berteriak girang. Maka kehadiran Azel menarik para remaja mengerumuni mereka.


"Bukanlah itu adalah cucu kesayangan tuan Carles?"


"Dia sangat cantik dengan gaun mahal itu!"


"Aku harus memaksa anakku mendekati nona Azel setelah ini!"


"Aku tidak menyangka tuan Jhon memiliki koneksi yang begitu besar."


Kalo bukan hanya ibu-ibu dan para remaja yang berbisik. Bahkan para bapak bapak juga ikut berbisik membicarakan Azel.


Banyak juga para gadis remaja yang iri dengan kecantikan Azel, tapi tidak juga menghilangkan semangat mereka untuk menjilat orang kaya bukan?


Azel dan Carlie terpisah, dua wanita cantik itu dikerumuni banyak orang. Azel yang dikerumuni oleh para remaja baik laki-laki maupun perempuan, sedangkan Carlie dikelilingi oleh para duda tampan ataupun lajang lapuk.


"Nona Carlie terlihat semakin muda saja sekarang!" Puji seorang pria berkepala empat pada Carlie.


Wanita itu hanya mengangguk dengan sopan.


"Senang bisa melihat nona Carlie lagi!"


Banyak sapaan membuat Carlie merasa kesal namun dia tahan dalam hati. Untunglah sekertarisnya datang dan mengusir para pengusik dan penjilat itu. Jadi, dia bisa melihat kearah Azel yang juga dikerumuni oleh pemuda kaya dan tampan.


Carlie merasa itu baik-baik saja, dan merupakan hal yang bagus untuk Azel bisa berinteraksi dengan banyak taipan bisnis masa depan.

__ADS_1


Dia melihat Jhon yang sibuk berbincang dengan beberapa kolega yang sedikit banyak Carlie kenali. Dia berjalan mendekat setelah mendapat gelas anggur dari pelayan.


"Tuan Jhon! Selamat."


Kalo jenjang dan putihnya sesekali akan terlihat di setiap langkahnya. Gelasnya terulur kedepan untuk chirs dengan Jhon sebagai tanda dia turut bahagia untuk kebahagiaan mereka.


Sebenarnya Carlie tidak ingin mendatangi perjamuan ini. Karena perjamuan ini membuat hatinya sakit dan teruskan terlalu tajam. Tapi, dia juga sangat perlu perjamuan ini untuk mengikat lebih banyak kontak para taipan bisnis.


Jhon menoleh dan mendapati Carlie yang begitu cantik mendekatinya.


Dia juga mengulurkan gelasnya dan melakukan chirs bersama. "Senang melihat nona Carlie mau meluangkan waktu untuk hadir di perjamuan kecil yang saya buat ini!" Sapanya balik.


Azel merasa kesulitan menghadapi para pemuda yang mengelilingi dia. Saat para pemuda itu meminta bertukar kontak, Azel hanya tersenyum manis dan matanya terus menyelidik mencari celah agar bisa keluar dari lingkaran itu.


Meskipun dia sudah terbiasa di kelilingi oleh banyak orang, tapi tetap saja dia akan merasa sesak dan pusing setiap kali ada yang mengelilingi dia.


Untunglah saat Azel merasa semakin tidak bisa menahan dirinya, para teman penjilatnya datang dan mengusir para pemuda itu.


"Azel! Ya ampun kau sangat cantik hari ini dengan gaun yang sangat mewah dan elegan ini."


"Bukankah gaun ini adalah keluar terbaru Gucci?"


"Terimakasih!"


Hanya itu yang bisa Azel jawab atas setiap kalimat yang tidak bisa semuanya Azel tangkap dengan baik.


Setelah para pemuda itu diusir oleh para gadis. Pandangan Azel terhadap tempat itu menjadi jauh lebih luas. Dai mengamati sekeliling dan melihat seorang pria tampan duduk sendirian di sudut. Dibelakangnya berdiri seorang asisten yang juga sangat tampan.


Azel pamit pada para gadis itu dan berjalan mendekati Lion.


"Kalian lanjutkan saja dulu, aku akan ke sana untuk menyapa seorang kenalan!" Ujarnya sopan dan sangat ramah.


Lalu dia berlalu dan berjalan semakin dekat dengan Lion. Para gadis itu melihat Azel yang mencoba mendekati Lion menjadi ternganga. Ada yang sudah tahu bahwa Azel dan Lion sudah berkenalan dan merasa bahwa Lion tidak akan begitu ganas dengan Azel.


Ada yang berharap Lion akan mempermalukan Azel yang mendekati dia.


"Ku dengar nona Azel sudah akrab dengan tuan muda Lion,menurutmu apakah mereka akan menjadi pasangan kedepannya?"

__ADS_1


"Apa dunia yang adil, jelas yang kaya akan berpasangan dengan orang kaya juga tentunya!"


"Mereka memang akan sangat cocok jika menjadi pasangan. Satu cantik dan yang lain tampan, apalagi keduanya adalah cucu taipan bisnis terbesar di Indonesia!"


"Apa kalian lupa mengapa tuan Lion mau datang kesini? Meskipun memang tuan Jhon yang mengundang, tapi tidak mungkin orang yang tidak mau meluangkan waktu untuk hal seperti ini akan tiba-tiba datang hari ini bukan?"


"Ah, kau benar! Itu pasti karena ada nona Greens yang telah membuat orang penasaran sampai ke tulang bukan?"


"Aku jadi tidak sabar menunggu kedatangan nona Greens, tapi kenapa dia masih belum datang juga sampai sekarang?"


"Apa ternyata tuan Jhon hanya membohongi kita?"


"Ya, mungkin dia tidak akan datang! Perjamuannya akan dimulai sekarang, sangat menyesal karena ternyata belum bisa melihat orang misterius itu."


Jaena melihat putrinya dari kejauhan. Dia hanya mental sejenak dan tidak berniat untuk mendekatinya. Setelah melirik dengan cukup, dia kembali berbincang dengan para istri istri kaya yang ada di depannya.


Toni juga melihat putrinya yang sangat cantik. Dia sangat senang melihat putrinya yang menjadi sangat cantik dan mewah sekarang ini. Dia memandang putrinya dengan lembut sebelum berbalik untuk mencari koneksi lainnya.


Dalam hati dia berpikir untuk menyempatkan diri bertemu dengan Azel dan menceritakan apa yang terjadi tahun itu.


Lion yang sedang minum anggur dalam dia merasa ada kaki yang mendekat. Dia memandang kaki putih yang sedikit pendek, lalu menatap kearah Azel.


Azel saat ini merasa jantungnya berdegup kencang. Waktu juga seakan terhenti saat itu juga. Tidak ada keributan yang datang, kakinya terhenti mendadak.


Tatapan Lion yang tajam nan dingin itu menarik hatinya layaknya magnet yang menarik besi. Jika dalam sebuah drama, mungkin akan ada banyak bunga mawar yang berjatuhan saat ini.


Lion menatap gadis yang berdiri sepuluh langkah darinya itu. Dia berdiri dan merapikan dasinya. Berjalan satu langkah demi langkah mendekat ke arah Azel. Gadis itu itu sendiri merasa jantungnya semakin tidak karuan.


Pemompaan darah di tubuhnya seperti dipercepat sepuluh kali lipat, dan terus dilipatgandakan setalah jarak antara dia dan Lion menipis.


Azel merasa semua orang memungkin bisa mendengar detak jantungnya dengan mudah karena kencangnya laju pompa itu.


Geon mengikuti dibelakang Lion dengan tenang. Dia melihat wajah Azel yang memerah tertunduk dan tidak berani menatap Lion. Geon tersenyum manis melihat tingkah malu gadis itu.


Lion sendiri tidak begitu peduli dengan pandangan orang lain. Dia tetap berjalan lurus kedepan dan mantap.


###

__ADS_1


__ADS_2