Serangan Cinta CEO Dingin

Serangan Cinta CEO Dingin
Chapter Twenty One


__ADS_3

Yang kuat tidak selalu yang paling terakhir bertahan. Karena sekarang otak lebih canggih untuk digunakan bahan adu.


Yang lemah, tidak selalu menjadi yang kalah paling buruk. Dengan pikiran licik, ada banyak jebakan yang bisa mengalahkan lawan.


Namun, orang kuat yang berpura-pura lemah. Oh, itu mungkin karena dia pintar dan licik?


Lalu bagaimana dengan yang lemah tapi selalu berpura-pura kuat?


***


Karena tangga berada di ruangan yang tertutup. Itu hanya memiliki sedikit penerangan dari lampu di setiap lantainya.


Kleine berjalan dengan santai, kegelapan itu tidak mengganggunya.


Sebagian orang lebih memilih untuk melewati lift dibanding tangga. Jadi, suasana di sana sangat tenang dan damai. Hanya ada beberapa orang yang tidak sabar saja yang mau meluangkan waktu melewati tangga.


Contohnya dua orang remaja perempuan yang Kleine temui. Mereka mengangguk dengan takut saat melihat Kleine.


Ditempat yang tidak begitu terang ini, belum lagi wajah Kleine yang putih. Dan yang lebih parah Kleine bisa turun dengan tenang tanpa ada penerangan tambahan seperti mereka.


Sebagai dua gadis remaja yang manja, mereka takut. Apalagi ini adalah rumah sakit! Tempat banyak orang meninggal dan tempat paling sering film horor ditanyangkan.


Setelah satu lantai cukup jauh dari Kleine, mereka berlari dengan cepat keatas. Kleine yang mendengar suara ketukan yang cepat hanya memutar matanya dengan malas.


"Penakut!" Ejeknya dan mengambil handphone dari sakunya.


Setelah seharian penuh, terlalu banyak kejutan hari ini. Dan sekarang sudah hampir jam dua belas siang.


Kleine berjalan dengan langkah yang sedikit lambat. Dia merasakan suara nafas yang begitu cepat didepannya. Itu seperti suara orang yang hampir kehabisan nafasnya.


Meskipun Kleine bukan orang baik dan suka ikut campur dengan urusan orang lain. Tapi, dia tidak bisa membiarkan kejahatan berkeliaran disekitarnya.


Dia berjalan sedikit cepat dan melihat seorang pemuda berpakaian serba hitam sedang membekap mulut pria tua.


"Sepertinya aku cukup sial hari ini untuk bertemu banyak penjahat dalam sekali jalan," ujar Kleine bosan saat dia mengintimidasi penjahat itu dengan tatapannya.


"Siapa kau?" Ujar pria itu dan menyandera kakek dengan pisau. Dia melepaskan bekapannya pada lelaki tua itu.


"Apakah setiap penjahat selalu bertanya seperti itu setiap kali mereka ditemukan pahlawan?" Tanya Kleine dengan malas. Dia maju dua langkah, dengan gerakan ringan kakinya melayang dan menendang tangan pria itu yang memegang pisau dekat leher sandera.

__ADS_1


Dengan gerakan yang tidak bisa dilihat dengan jelas oleh mata telanjang. Tangan Kleine turut untu memukul penjahat itu dan menarik lelaki tua yang sesak nafas itu.


"Kau... Kau!" Teriak penjahat yang jatuh tersungkur didekat dinding itu.


"Apa kau ingin bertarung?" Tanya Kleine dengan menantang.


Penjahat itu mengingat betapa percaya dirinya kaki Kleine menyerang pisau yang bahkan sangat dekat dengan leher lelaki tua itu. Dan yang lebih mengejutkan pisau itu tidak mengenai atau menggores sedikitpun leher lelaki itu.


Dia tidak ingin bertarung, jelas dia akan kalah jika melawan. Siapapun bisa dengan jelas berada ditingkat mana perempuan didepannya dia dalam seni beladiri.


Meskipun Kleine adalah seorang perempuan, dia tidak berani meremehkan Kleine.


Dia berdiri dan ingin melarikan diri ke bawah secepat mungkin. Siapa yang tahu akan ada dua orang berseragam hitam lainnya datang.


Kleine tidak berniat mengejar ataupun bertarung dengan penjahat lemah itu. Hanya menurunkan derajatnya saja jika dia menghabiskan waktu untuk orang yang tidak pantas. Dia melihat pria tua yang kesulitan bernafas itu.


Menekan beberapa titik akupuntur pada pria itu. Kleine melalukan beberapa gerakan lain, dan setelah itu dia melihat dua orang telah mengalahkan seorang penjahat tadi.


"Apakah kalian keluarganya?" Tanya Kleine asal. Walaupun dia tahu pria tua ini tidak mungkin menjadi keluarga para pengawal itu.


Dari pakaiannya, pria tua ini haruslah seorang pasien rumah sakit. Dan dua orang berseragam hitam itu memakai baju khusus yang berarti bahwa mereka adalah seorang penjaga khusus.


Mereka mengangguk sebagai rasa terimakasih. Lalu mengambil tuan mereka dan hendak berpamitan.


"Terimakasih telah menyelamatkan tuan kami nona, bisakah kami mengetahui nama nona? Kami akan membalasnya dikemudian hari," tanya salah satu dari mereka.


Kleine menggeleng pelan dan berjalan melewati mereka dengan tenang.


"Ini, nona?" Tanya mereka bingung.


"Aku hanya lewat!" Jawab Kleine malas.


Keduanya saling memandang dengan tidak pasti.


Ini?


Sudahlah!


Mereka akan menceritakan hal itu pada tuan mereka nantinya.

__ADS_1


Mereka segera menelepon Geon dan melaporkan keberadaan mereka. Setelah itu mereka membawa tuan tua itu ke lantai sebelumnya.


Kleine menggoyangkan tangan kanannya yang tadi memukul penjahat itu. Hari ini tangannya sudah memukul banyak hal. Misalnya melempar batu pada pada Jefri. Berkelahi dengan pemuda yang mencoba mendekatinya. Dan sekarang menyelamatkan seorang kakek dari penjahat.


Saat Kleine sampai pada taman belakang rumah sakit. Dia melihat banyak pasien yang berjalan-jalan untuk mencari udara segar. Pemandangan ini sangat bagus dan menyegarkan.


Kleine pernah tinggal di rumah sakit untuk waktu yang lama. Dan bisa dibilang dia menjadi sering ke rumah sakit karena mengalami banyak luka.


Dia berjalan mendekat pada seorang wanita yang duduk di kursi roda sendirian.


"Apakah anda sendiri?" Tanya Kleine dengan senyum lembut.


Wanita itu menoleh dan melihat wajah Kleine yang cantik dan lembut. Dia balas tersenyum dan mengangguk kecil.


"Orang sepertiku memang layak sendirian," jawabnya dengan begitu sedih.


Kleine mendorongnya mendekat pada kursi kosong. Wanita itu tidak takut kemana Kleine akan membawanya. Dia merasa nyaman dan aman saat melihat senyum Kleine yang lembut itu.


"Apa kau tidak takut aku menculikmu?" Tanya Kleine dengan heran.


"Apa kau akan melakukan hal itu?" Tanya wanita itu balik yang membuat Kleine hanya menggeleng acuh.


"Orang secantik dirimu selalu membuat orang ingin mempercayai dan melindungi tanpa batas," ujar wanita itu dengan tenang. Pandangannya menatap jauh kedepan yang penuh keramaian.


"Kamu juga sangat cantik, sayangnya aku melihat niatmu yang sudah menyerah begitu saja!" Balas Kleine dengan mengejek. Dia mendudukkan dirinya pada kursi taman yang kosong tadi.


"Apakah semuanya terlihat begitu jelas di matamu?" Tanya wanita itu dengan heran.


"Aku selalu punya firasat yang baik, tidak pernah salah dalam menebak!" Ujar Kleine acuh tak acuh, matanya berkeliling melihat taman yang begitu luas itu.


"Hidupku tidak pernah baik sejak dulu, takdir tidak ingin berpihak padaku. Apakah aku masih harus mempertahankan hidup ini?" Wanita itu mencurahkan masalahnya pada Kleine tanpa dia sadari.


Setetes air mata jatuh membelah pipinya yang putih, mulus dan juga sangat pucat.


"Jika kita harus mengikuti jalan takdir, kita tidak akan pernah bisa bahagia. Kadang, kita harus melepaskan batasan pada diri sendiri. Baru disana kita tahu, bukan kita yang mengikuti takdir. Tapi, takdir yang mengikuti kita... Cobalah!" Bisik Kleine halus didepan telinga wanita itu, setelahnya Kleine berbalik dan pergi untuk mengelilingi taman yang indah dan luas ini.


Wanita itu menoleh dan melihat Kleine yang telah pergi secara perlahan. Air matanya jatuh terus menerus.


Ya, dia benar! Pikir wanita itu dengan yakin. Dia menghapus air matanya dengan kasar.

__ADS_1


__ADS_2