Serangan Cinta CEO Dingin

Serangan Cinta CEO Dingin
Chapter Forty Nine


__ADS_3

Dua jam sudah berlalu dengan cepat, Lion membuka matanya dan melihat selimut yang memeluknya. Dia dengan santai melempar selimut itu asal dan berjalan ke kamar mandi. Perutnya keroncongan menandakan bahwa dia sedang lapar. Setelah selesai membersihkan diri, dia langsung ke dapur.


Membuka kulkas, dia hanya melihat berbagai sayur segar dan buah yang menggoda. Tapi, dia hanya mengambil satu apel untuk langsung di gigit. Melirik jam tangannya dengan bosan, dia sepertinya terlalu malas untuk memasak.


Jadi, dia memutuskan untuk memesan makanan dari luar.


Mengambil teleponnya, "hallo?" Suara di ujung sana menyapa lebih dulu.


"Aku lapar, antarkan makanan untukku!" Ujarnya singkat dan datar.


"Tidak bisa, sekarang ada tamu penting! Aku juga tidak mau melayanimu. Kau pikir aku Geon si asisten gilamu itu! Huh... Datang saja kesini jika ingin makan," jawab orang di ujung sana dengan malas.


"Oke!" Ujar Lion mengiyakan dengan mudah.


Itu terlalu mudah sehingga Zoey yang sedang memijat bahu istrinya langsung terjungkal kaget.


"Ada apa?" Tanya Lea ikut kaget.


"Eh, tidak apa-apa! Tidak apa-apa. Hanya saja tamu mengesalkan kemarin ingin datang lagi untuk makan!" Jawab Zoey terburu-buru.


"Oh," balas Lea singkat dan malas.


Kleine yang hanya mendengarkan dalam diam menjadi antusias.


Apalagi saat dia melihat wajah Lea yang tampak muram. Dengan senyum licik, "siapa tamu yang bisa membuat Lea kecil kita menjadi muram. Apa itu teh hijau? Teratai putih? Atau cahaya bulan putih? Hah?" Goda Kleine dengan dua alis yang naik turun.


"Heh, suami sangat setia! Tidak ada wanita lain disisinya selain aku. Aku hanya tidak senang karena temannya yang akan datang adalah orang yang begitu mengesalkan." Lea menjelaskan dengan malas.


Kleine mengangkat dagunya dengan senyum mengerti beberapa kali. "Oh, jadi sainganku adalah pria?" Tanya Kleine dengan ejekan dan melirik ke bawah Zoey.


Zoey yang sedang di amati menjadi tidak senang dan segera bersembunyi di balik Lea. "Apa yang kau lihat?" Ujarnya tidak senang.


Kleine membuang muka, "tidak ada!" Ujarnya malas dan segera memfokuskan dirinya pada game lagi.


"Ekhm, aku haus! Tolong tuangkan air," pinta Kleine dengan sedikit batuk.


"Enak saja! Tuang saja sendiri, lagipula jika batuk berobat ke dokter, bukan minta air disini!" Jawab Zoey dengan judes.


"Heh!"


Kleine dengan kasar mengambil teko dan menuangkan air pada cangkirnya yang kosong. "Benar-benar cinta telah membutakan temanku, dia bahkan bisa menyukai orang yang tidak mau menghormati teman baiknya!" Bisik Kleine yang sengaja di buat keras agar dua orang didepannya mendengar dengan jelas setiap kata yang dia ucapkan.

__ADS_1


"Kau ini!" Maki Zoey dengan tidak sabar. "Sudahlah!" Cegah Lea dengan senyum maklum, Kleine yang menang menatap Zoey dengan merendahkan.


Zoey yang direndahkan mencoba menahan emosinya. Jika dia bukan wanita dan jika dia bukan teman baik Lea, sejak tadi mungkin dia sudah masuk rumah sakit karena pukulanku, pikir Zoey.


Jika Lea atau bahkan Kleine mendengar itu, mungkin keduanya sudah akan memandang Zoey semakin rendah.


Menarik nafas berat, "huh, sudahlah." Ujarnya dengan tenang, "aku akan ke bawah untuk melihat apakah dia sudah datang! Kau harus berhati-hati saat berada di dekatnya!" Jelasnya dengan lembut dan berbalik enggan dari Lea.


Kleine membuang muka dan memutar matanya berulang kali. "Drama king!" Cibirnya.


Setelah Zoey pergi, kedua wanita itu kembali serius lagi.


Kleine meletakkan handphone di atas meja. Menatap Lea dengan mata elangnya. Lea juga menghilangkan senyum penuh kasih, dia juga menatap Kleine dengan tajam.


"Beberapa hari yang lalu bibi menelpon. Dia bilang rindu kamu," ucap Kleine memulai topik.


"Katakan padanya kalau rindu itu berat, dia gak akan sanggup! Biar aku saja." Balas Lea bercanda untuk mengusir aura ruangan yang mulai agak mencekam ini.


"Aku serius Lea!" Geram Kleine tidak senang.


"Tapi aku udah di seriusin sama orang lain, maaf kamu telat!" Jawab Lea dengan senyum prihatin.


"Lea!!!" Gertak Kleine agak emosi.


"Argh... Gak pernah nyambung kalau ngomong sama kamu!" Ujar Kleine frustasi.


"Mangkanya cari jodoh biar ada yang nyambung pas ngomong sama kamu!" Ujar Lea dengan senyum licik.


"Terserah! Males banget gue ngajak Lo serius!" Jawab Kleine dengan kesal.


"Kan aku udah bilang kalau aku udah di seriusin sama orang lain!" Jawabnya lagi dengan nada genit.


"Bisa berhenti bercandanya Ya?" Ujar Kleine pasrah pada akhirnya.


"Bisa, jadi ibu kangen sama aku?" Ujar Lea yang mulai serius.


Kleine yang lelah hanya mengangguk sebagai tanda iya.


"Sama, kakek kamu juga bilang kangen sama kamu kemarin!" Jawab Lea dengan dua alis yang terangkat.


"Gue bahas tentang bibi, jangan bawa-bawa kakek ke topik Lea!" Geram Kleine menatap Lea dengan tajam.

__ADS_1


"Oh!" Jawab Lea singkat dan mulai diam untuk mendengarkan apa yang akan Kleine bicarakan.


"Bibi minta kamu pulang besok, katanya satu hari aja!" Jelas Kleine ketika dia melihat Lea yang sudah berada di kode serius.


"Gue gak bisa pulang besok!" Jawabnya singkat.


"Alasan?" Tanya Kleine


"Gue kerja!" Balasnya singkat dan membuang muka.


"Lo yakin ini alasan Lo?" Tanya Kleine yang hanya dijawab anggukan oleh Lea. "Berapa sih yang bisa di hasilkan restoran ini selama sehari? Gak sebanyak itu juga kan? Gue bisa bayar Lo selama sehari. Tapi tolong temui bibi Ya!" Pinta Kleine dengan sangat memohon.


"Kalau gue butuh uang, gue gak akan menyerahkan kemewahan gue yang dulu dan melarat kayak sekarang ini kali Kleine!" Jawab Lea dengan tawa konyol, tapi dia terus membuang muka tidak berani menatap mata Kleine.


"Kalau gitu gue mohon Lo temuin bibi satu hari aja, setelah itu Lo bisa minta apapun dari gue!" Ujar Kleine pada akhirnya.


Lea menoleh dan menatap mata Kleine yang sangat yakin. "Apapun?" Tanya Lea memastikan. Kleine mengangguk dan mengiyakan.


"Kalau gitu impas in aja Kleine, gue pulang buat temuin ibu gue, Lo pulang buat temuin kakek Lo. Adil dan impas! Kerjasama yang saling seimbang bukan?" Tanya Lea dengan senyum provokasi.


"Gak!" Jawab Kleine cepat.


"Kalau gitu sama, gue juga gak mau pulang!" Jawab Lea menang.


"Apa yang gak mau pulang!" Tanya Zoey dari atas tangga yang seketika mematikan api kemenangan Lea.


Kleine tersenyum licik dan menaikkan alisnya sebagai tanda kemenangan.


Mulut Kleine bergerak kecil seakan mengatakan, 'Lo kalah!'


Zoey mendekat sangat cepat, "apa yang gak mau pulang? Jelasin sama aku Lea? Kamu gak mau pulang kemana?" Dia bertanya dengan tergesa-gesa.


Pasalnya, sejak mereka pacaran hingga menikah, Lea tidak pernah mengenalkannya pada kedua orangtuanya. Yang dia tahu bahwa Lea berasal dari kampung dan keluarganya sangat miskin. Tapi Lea tidak pernah berniat mengenalkan kedua karang tuannya padanya.


"Lea jawab aku! Kenapa kau tidak ingin pulang? Apa yang kau maksud adalah pulang ke rumah orang tuamu? Bukankah kau bilang kita harus menghormati yang lebih tua? Kau selalu mengatakan itu padaku! Tapi apa kau pernah menghormati orang tuamu dengan mengenalkan mereka padaku? Tidak, maksudku apa kau masih mencintaiku? Jadi kau masih punya orang tua?" Berbagai pertanyaan itu keluar secara acak tanpa Zoey pikirkan.


Selama ini, Lea tidak pernah memperkenalkan dia pada orang tuanya. Zoey pikir itu karena orang tua Lea sudah pergi dan Lea tidak mau membahas nya. Zoey juga tidak enak membahasnya setelah bertanya pada Lea dan Lea tidak berniat menjawabnya. Apalagi saat itu tatapan Lea menjadi suram dan sendu.


####


Maaf untuk typo yang masih bersebaran😭

__ADS_1


jumpa lagi lain kali👋


__ADS_2