
Seperti yang Aigiee katakan, setiap menit yang berlalu. Dia akan mencambuk telapak kaki ketiganya. Semakin banyak waktu berlalu, kekuatan yang digunakan semakin besar.
Kepala pelayan ingin maju dan memohon ampun untuk ketiganya. Tapi tangan Aigiee terangkat, artinya tidak ada yang boleh maju atau bersuara.
Lion akhirnya telah berhasil Kleine usir. Tapi bukannya dia merasa sedih, dia cukup gembira. Karena dia telah mendapatkan dua nomor pribadi Kleine.
Dia kembali ke kantor dengan senyum kecil yang sangat jarang orang lihat. Bahkan semua karyawan disana terpana melihatnya. Sama seperti reaksi Kleine sebelumnya. Mereka merasa senyum Lion aneh dan menakutkan.
Tapi tentu saja tidak ada yang berani mengatakannya secara langsung.
"Kau sudah kembali?" Tanya Geon dengan sinis.
Lion hanya mengangguk.
Melihat anggukan santai Lion, Geon tidak bisa menahan diri untuk tidak mengomel.
"Apa kau tahu aku harus menunda rapat penting, menunda janji temu dengan klien, berbohong untukmu, dan meresmikan cabang yang baru..."
"Ya..ya, atur pertemuan siang tadi menjadi sore dan malam ini!" Ujar Lion dengan santai.
"Kau...!" Geram Geon kesal, tapi dia tetap pergi untuk mengatur ulang pertemuan.
Setelah mengusir Lion, Kleine mendapat sebuah pesan masuk dari Lion.
Hati yang terlengkapi ❤️
Aku sudah sampai dengan selamat, tidak perlu khawatir sayang😘
Kleine mengeram dengan ganas.
Dia merasa itu menjijikkan, jadi dia ingin menghapusnya dan mengganti nama pada nomor itu.
Tapi belum sempat dia berbuat apapun, telepon itu sudah bergetar karena ada yang memangilnya.
"Sandera"
Kleine menekan tombol hijau dan menjawab 'ya' dengan ringan.
"Kleine, apa kau baik?" Tanya orang diujung sana.
"Ya" jawab Kleine seadanya.
"Em... Aku ingin bertanya satu hal!" Ujarnya lembut, "apakah boleh?" Lanjutnya.
"Ya!" Jawab Kleine lagi dengan singkat.
"Anak-anak sangat merindukanmu, mereka ingin tahu kapan kau akan berkunjung?" Tanyanya agak ragu.
__ADS_1
"Aku akan kesana akhir pekan ini jika aku punya waktu!" Jawabnya dengan tenang.
"Ah, baiklah kalau begitu!" Ujarnya lalu panggilan itu berakhir disana saja.
"Bu apakah itu tadi adalah telepon dari Tante Kleine?" Tanya Davin yang baru saja pulang dengan tali kerbau di tangannya.
Floye berbalik dan melihat putranya yang tampak lebih dewasa dibanding anak lain. Di depan rumah kayu yang sederhana itu, sepasang ibu dan anak tak lupa seekor kerbau.
Mereka sangat serasi dan sangat cantik dimasukkan ke dalam lukisan, pikir seseorang.
Dia mulai menggores kertas putih dengan cepat.
"Ya, ibu bertanya kapan Tante kalian akan berkunjung."
"Lalu apa yang Tante katakan?"
"Mungkin akhir pekan ini atau nanti, belum pasti!"
Wajah bersemangat Davin agak pudar. Floye yang melihatnya menjadi tidak nyaman.
"Memangnya apa yang dijanjikan Tante Kleine padamu sehingga kau sangat bersemangat menunggu Tante Kleine datang?" Ujarnya setelah mengumpulkan semangat yang telah jatuh. Dia berjongkok, dan menggenggam kedua bahu Davin.
Davin ingat bahwa ibunya tidak suka dia menyentuh internet karena tidak ingin dia tahu tentang ayahnya. Jadi tidak mungkin dia mengatakan bahwa Kleine akan memberinya komputer bukan?
Setelah berpikir sejenak, dia hanya menggeleng. "Itu hanya beberapa mainan saja!" Ujarnya dengan cepat tanpa ada jejak kebohongan.
"Ah, begitu!" Ujar Floye dan dengan cepat berbalik.
"Kalau begitu kau mandilah dan bersih-bersih, setelah itu tunggulah di meja makan. Ibu akan mencari adikmu dulu!" Ujarnya cepat dan sudah keluar dari pagar rumah.
Davin berbalik dan melihat ibunya yang sangat terburu-buru. Dia menyentuh bahu kirinya dengan santai. Mungkin ibunya berpikir bahwa dia hanya mengerahkan sedikit kekuatan. Tapi, Davin merasa tulang bahunya akan remuk karena remasan itu.
Dia menarik nafas selama beberapa menit, lalu masuk dengan tenang ke dalam rumah.
Sebelum masuk, Davin menoleh dan minat ke arah pintu masuk desa. Jika dia menebak dengan benar, akan ada seseorang yang akan menetap ke desa ini besok.
Setelah melihat sejenak, dia masuk dengan hati-hati agar bahunya tidak menyenggol apapun.
Setelah menutup telepon, seperti sebuah perencanaan. Karel menelepon Kleine saat ini. Kleine membuang nafas kasar dan mengangkat telepon dengan tidak senang. "Katakan!" Ujar Kleine dengan tidak sabar.
"Bisa bertemu?" Tanyanya dengan suara rendah seperti biasanya.
"Aku terlalu banyak pekerjaan!" Ujar Kleine dengan malas.
"Nona Kleine atau mungkin nona Greens? Anda yakin punya banyak pekerjaan?" Tanya Karel dengan sinis.
"Lalu apa peduliku? Aku hanya tidak ingin bertemu denganmu!" Ujar Kleine dengan bosan, dia menatap tas belanjaan yang begitu banyak di atas meja.
__ADS_1
Dia mengambil satu cemilan, dan membukanya dengan kasar.
"Aku sudah mencarinya selama lima tahun terakhir, aku mengaku kalah! Bisakah anda memberi saya belas kasihan?" Ujarnya dengan lelah kali ini benar-benar menghilangkan kesombongan yang selalu dia miliki.
"Aku bukan tuhan yang maha pengasih!" Jawab Kleine dengan singkat.
"Aku tahu, tapi aku mohon! Kau bisa meminta apapun dariku! Aku akan memberikannya untukmu!" Ujarnya dengan putus asa karena tidak tahu lagi harus memohon yang jenis apa agar hati batu Kleine bisa luluh.
"Kau yakin?" Tanya Kleine mulai tertarik dengan topik ini.
Karel merasa aneh dengan nada Kleine yang begitu bersemangat, dia ragu sejenak.
"Lupakan jika kau tidak yakin!" Ujar Kleine segera dan tidak berniat untuk bertoleransi dengan Karel.
Dia akan mematikan panggilan ketika suara Karel mengintruksikan dirinya, "tunggu!" Ujarnya cepat.
"Katakan dengan cepat, ya atau tidak! Jika dalam hitungan ketiga masih belum pasti. Jangan berharap bisa menghubungi aku lagi ataupun mendapatkan informasi dariku!" Ujar Kleine ganas yang membuat Karel tidak punya waktu untuk ragu lagi.
"Ya!" Ujar pria itu cepat sebelum Kleine mulai menghitung.
Ini adalah pengalaman, dia pernah mendapat hal seperti itu yang membuat dia kehilangan orang itu. Sekarang bukan waktunya untuk ragu.
"Baiklah! Aku suka anak pertamamu, jadi dia akan menjadi karyawan saat besar nanti. Sampai jumpa lagi nanti malam!" Ujar Kleine dengan santai dan menutup telepon.
Karel di ujung lain terpana. Hati ini dia tahu bahwa dia telah memiliki seorang anak.
Tidak...
Jika yang Kleine katakan adalah anak pertama, bukankah ada yang kedua atau ketiga?
Dia punya anak kembar?
Karel tidak tahu harus bahagia atau menyesal. Setelah lima tahun, akhirnya dia mendapat kabar yang begitu baik.
Tapi, dia menyesal karena telah menjual anak pertamanya.
"Tuan!" Ujar asisten Karel untuk menyadarkan pria yang masih melamun itu.
Dia tidak menjawab, tapi hanya menoleh untuk bertanya ada apa.
"Ada rapat dengan dewan direksi lima menit lagi tuan!!" Ujar asisten itu dengan hormat.
Karel tidak menjawab, dia berdiri dan berjalan keluar.
###
;)-_-
__ADS_1