Serangan Cinta CEO Dingin

Serangan Cinta CEO Dingin
Chapter Nineteen


__ADS_3

Tertawa itu semudah menyipitkan kedua mata, melengkungkan kedua sudut bibir, membukanya lebar dan mengeluarkan suara haha yang keras.


Sayangnya, apakah itu adalah tawa bahagia atau tawa yang terpaksa. Tidak ada yang tahu. Apakah itu adalah tawa yang menghibur hati, atau justru tawa yang menyengat hati.


Dulu, tawa itu digunakan untuk mengungkapkan rasa bahagia. Tapi, sekarang tawa merupakan sumber wajah baru untuk menutupi hati yang sedang terluka.


Untukmu dibelahan dunia ini. Ingatlah bahwa tidak setiap tangisan itu diartikan sebagai lemah dan cengeng. Ada juga tangis yang diartikan sebagai tangis hebat.


Sesekali menangislah jika bersedih. Jangan biarkan hatimu perlahan menjadi keropos karena terlalu lama direndam air.


***


"Bisakah kau berhenti berisik? Apa kau tidak mendengar mobil lain yang memakimu? Berulang kali menyetir dengan tersendat! Apa kau tidak bisa menyetir dengan baik?" Teriak Kleine dengan kesal setelah Bles masih tidak mau berhenti tertawa.


"Ah, sepertinya tidak bisa...haha!" Jawab Bles dengan wajah yang sangat gembira.


Kleine memutar matanya dan menyingsingkan bajunya dengan malas. Melempar Bles yang sedang asik tertawa ke kursi belakang lalu mengambil alih posisi kemudi.


Jefri langsung menghindar kesamping saat Bles terlempar kearahnya.


Kleine menyetir dengan cepat dan ugal-ugalan. Dia menyerobot mobil lain dengan lincah satu demi satu. Dan saat melihat ada pos polisi, Kleine dengan lincah akan melambat.


Bles yang terlempar masih bingung bagaimana dia bisa melayang. Dan semakin bingung saat mobil itu bergerak sangat cepat.


Jefri memasang seatbelt dengan sangat cepat. Ini adalah nyawa, dia tidak tahu kalau Kleine punya kemampuan menyetir yang begitu baik!


Matanya terpejam ketakutan. Sedangkan Bles belum punya kesempatan untuk memakai seatbelt. Jadi, badannya yang kurus masih mengikuti gerakan mobil yang ke kiri dan ke kanan. Bahkan Bles harus merasakan rasanya terlempar ke depan.


Jefri hanya bisa mengejek betapa tidak beruntungnya Bles.


"Bisakah kau menjadi waras sedikit saja?" Tanya Bles setelah mobil itu menyetir dengan pelan saat melewati pos polisi.


"Apa kau pikir aku gila sepertimu yang tertawa tanpa alasan?" Tanya Kleine balik dengan bosan.


"Siapa yang gila! Aku tertawa tentu saja dengan alasan," bantah Bles kesal.


***


Lion yang sekarang sudah mulai asik lagi dengan pekerjaannya merasa terganggu oleh suara dering telepon.


Beberapa kali Lion menekan tombol matikan dengan jengkel.


Tapi, seakan telepon itu tidak akan berhenti jika Lion tidak menekan tombol yang benar. Melepas kacamatanya dengan lelah. Lion mengangkat telepon itu dengan tangan lainnya memijat keningnya.


"Katakan!" Perintah Lion begitu dingin dan langsung setelah menekan tombol jawab.

__ADS_1


Bahkan Geon yang ada disisi lain terlonjak kaget.


Dia menetap telepon itu dengan ngeri selama beberapa detik.


"Bos cepatlah datang ke rumah sakit Cemara, penyakit jantung tuan tua kembali kambuh!" Ujar Geon dengan cepat.


Lion yang mendengarnya menjadi semakin lelah.


"Baiklah!" Jawabnya singkat dan langsung menutup sambungan telepon.


Geon yang mendapat jawaban singkat itu hanya bisa menahan dirinya agar tidak mengutuk.


Lion berjalan keluar rumah. Memasang kacamatanya dan melirik pada matahari yang begitu terik.


Lion membuka mobil itu dengan scan yang ada di telepon genggamnya.


Masuk dan setelah itu dia menyetir keluar dengan tenang.


Tidak ada keributan seperti tetangga sebelah.


Saat melewati gerbang rumah tetangganya. Lion menoleh sejenak dengan perasaan yang rumit. Dia merasa sangat terikat dengan rumah itu. Tapi, Lion tidak terlalu memikirkannya dan menyetir dengan lebih cepat membelah kompleks yang rumit ini.


Mengingat peraturan hanya bisa satu mobil di kompleks ini, sama seperti peraturan pemerintah, membuat pergerakan tidak begitu bebas.


Setidaknya, banyak orang yang masih menjaga beberapa mobil di rumah tanpa mengikuti peraturan pemerintah. Tapi, di perumahan ini...


***


"Itu, rumah sakit tempat adikku dirawat adalah rumah sakit Cemara!" Ujar Jefri sedikit ragu untuk mengatakannya.


"Suit... Kau hanya perlu duduk diam dan terima kenyataan saja. Dia sudah tahu itu," jawab Bles dengan santai.


Jefri bingung kenapa Kleine bisa tahu. Dia bahkan belum mengatakannya dan sepertinya arah jalan ini sedikit salah?


Tapi, karena Bles mengatakan itu. Jefri hanya bisa menunggu dalam diam.


Karena Kleine tidak mengebut lagi, jadi Bles akhirnya punya waktu untuk tenang.


Dia bermain game yang baru-baru menjadi tren.


"Ah, kalah lagi!" Teriak Bles dengan marah.


Jefri mengintip game apa yang sedang dimainkan oleh Bles.


"Dasar payah!" Ejek Kleine dari kaca spion.

__ADS_1


"Bukan aku yang payah, game ini memang sulit untuk dimainkan!" Ujar Bles tidak terima.


"Biar aku mencobanya," minta Jefri dengan wajah yang sangat tertarik.


"Ini, tapi aku akan mengingatkanmu lebih dulu. Game ini sangat sulit untuk dimenangkan. Lebih baik jangan menangis jika kalah!" Bles baru saja menyelesaikan kata-katanya ketika dua kata muncul dari teleponnya.


"Double kill!"


Bles baru saja terkejut mendengar itu, saat dua kata lainnya muncul.


"Triple kill!"


Bles menatap bocah kecil itu dengan mata yang membulat.


Tidak lama setelah itu, kata lainnya juga muncul. Setelah itu ketiga kalimat itu datang berulang kali. Kleine melirik wajah Bles yang kaget dengan senyum mengejek.


"Tidak mungkin, kau pasti sudah sering memainkannya!" Ujar Bles tidak terima saat Jefri telah memenangkan game itu.


"Tidak, aku biasanya tidak punya waktu untuk memainkannya!" Jawab Jefri tenang dan mengembalikan telepon itu pada Bles yang menatapnya tidak percaya.


"Mana mungkin bisa menang begitu mudah!" Bantah Bles masih tidak terima.


Umurnya jelas lebih tua dari Jefri, tapi dia kalah dari bocah bau itu. Mana mungkin Bles akan menerimanya dengan ikhlas.


"Terima saja kenyataannya!" Ujar Kleine malas.


Dua buah mobil hitam yang berbeda merek berhenti serempak di tempat parkir bawah tanah rumah sakit Cemara.


Seorang pria berkacamata keluar dari Porche hitam.


Dan seorang gadis keluar pada saat yang bersamaan.


***


"Bukankah kau tadi bilang akan keluar bersama temanmu?" Tanya Carlie pada Azel yang masih asik dengan oleh-oleh yang dia bawah.


Sembari terus memfoto hadiah mahal itu, Azel menjawab dengan repot.


"Aku akan berangkat setelah makan siang saja. Aku ingin menemani bibi makan siang hari ini, bukankah bibi baru pulang? Tentu saja aku harus menemaninya!" Balas Azel dengan wajah yang begitu mengibur.


"Ohhh... Lihatlah keponakan bibi yang begitu berbakti ini, baiklah... Karena kau akan makan siang disini, bagaimana jika bibi masak cumi saus pedas kesukaannya Azel?" Tanya Carlie dengan bahagia.


Azel mengangguk dengan senang.


Masakan Carlie memang sangat lezat, apalagi itu adalah cumi saus pedas yang begitu Azel sukai.

__ADS_1


"Ingatlah untuk tidak terlalu pedas!" Ujar tuan Galio dengan galak.


"Siapa peduli!" Ujar kedua bibi dan ponakan itu kompak.


__ADS_2