Serangan Cinta CEO Dingin

Serangan Cinta CEO Dingin
Chapter Eighty


__ADS_3

Saat sampai di depan gedung apartemen. Kleine hendak mengambil barangnya dan keluar dari mobil. Tapi, yang mengejutkan adalah mobil itu tiba-tiba bergerak maju lagi. Dia tersentak kaget dan menatap Lion dengan bingung.


Lion tidak menoleh hanya menjawab, "aku akan membantu membawa barangnya nanti, sekarang akan memarkirkan mobilnya ke lantai bawah tanah."


"Tidak perlu!" Tolak Kleine cepat, tapi mobil itu sudah masuk pintu bawah tanah.


"Tidak masalah!" Balas Lion dengan santai.


"Tapi aku tidak ingin!" Balas Kleine dalam hati mengutuk.


Karena mobilnya sudah terparkir dengan mulus dan barang belanjaan sudah berada di tangan Lion yang entah bagaimana bisa begitu. Kleine hanya bisa memimpin pria itu berjalan ke lantai atas.


Lion yang membawa banyak tas belanjaan menyunggingkan senyum kecil. Rencananya hari ini berjalan dengan mulus.


Di depan pintu, Kleine dengan ringan membuka pintu dan membiarkan Lion meletakkan barang di atas meja.


"Karena sudah selesai tuan muda Lion yang terhormat bisa pulang dan melanjutkan pekerjaannya," ujar Kleine sopan dan membungkuk dengan dua tangan menunjuk kearah pintu yang terbuka lebar. "Kleine mengucapkan terimakasih banyak untuk siang ini!"


"Apa kau mengusirku?" Tanya Lion dingin.


"Tidak juga!" Balas Kleine santai dan berdiri ke posisi semula karena pinggangnya sakit.


"Kalau begitu aku izin tidur disini untuk beberapa jam dulu!" Ujar Lion dengan tenang dan merebahkan dirinya di sofa.


"Selamat tidur!" Ujar Lion dan berbalik memunggungi Kleine.


"Hei, siapa yang mengizinkan mu tidur disana!?" Ujar Kleine kesal.


Lion berbalik dengan segera, "apakah itu berarti aku harus tidur ke kamar?" Ujarnya dan mulai duduk dengan sigap. "Katakan, aku harus tidur di kamar yang mana? Yang itu tau itu?" Lanjutnya dengan jari telunjuk yang terulur ke arah kamar di belakang Kleine.


"Siapa bilang aku ingin kau tidur di kamar!" Geram Kleine tidak habis pikir.


Hei... Inikah tuan muda Lion yang dingin dan kejam itu?


Ini lebih seperti orang yang tidak tahu malu!


"Lalu dimana aku harus tidur?" Tanya Lion dengan bingung.


"Pulang! Tentu saja di rumahmu!" Teriak Kleine kesal dan teramat muak dengan wajah bingung dan polos yang ditampilkan Lion.


"Tapi aku terlalu lelah menyetir!" Ujar Lion dengan wajah memelas.


"Huh! Siapa yang peduli! Kau bisa menelpon supirmu atau asisten untuk menjemputmu!" Ujar Kleine dengan malas, dia merasa lelah menunduk terus-menerus dan mulai duduk dengan tenang di sofa.

__ADS_1


"Baterai handphone ku habis!" Ujarnya memperlihatkan layar handphone nya yang hitam.


"Aku memiliki charger di sini!"


Kleine pikir itu cukup untuk merobek muka pria ini. Tapi siapa yang tahu bahwa wajah Lion terlalu tebal untuk dibuka begitu cepat.


"Handphone milikku adalah handphone yang disesuaikan secara khusus. Tidak ada charger yang cocok selain yang ada di rumah dan perusahaan!"


"Kalau begitu gunakan handphone milikku untuk menelponnya!" Dia mendorong handphonenya pada Lion.


Lion mengambilnya dengan semangat dan melihat nomor telepon milik Kleine. Memasukkan nomornya sendiri dan menyimpannya dengan nama yang bagus. Lalu dia menghubungi nomornya.


"Apa sudah selesai?" Tanya Kleine tidak nyaman, dia merasa ada yang aneh.


Wajah Lion menjadi lelah. "Sepertinya aku tidak ingat nomor asisten tau sopirku?" Ujarnya dengan susah payah.


"Kau tidak ingat nomor mereka?" Tanya Kleine benar-benar kehilangan otak. "Lalu nomor siapa yang kau tulis?" Ujarnya menyelidik karena tidak akan percaya begitu saja pada apa yang Lion ucapkan.


"Ini nomorku!" Ujarnya memperlihatkan layar putih yang memiliki nama.


Kleine hampir gila karena nama yang tertera di layar.


"Hati yang terlengkapi❤️"


"Apa yang kau lakukan?" Tanya Kleine marah besar.


Dengan wajah polos, Lion menatap Kleine, "aku hanya menyimpan nomor telepon ku di handphone mu agar kita bisa saling menghubungi nantinya!" Jawabnya dengan kepala tertunduk.


"Tapi tidak harus memiliki simbol hati di bagian akhir kan?" Tanya Kleine setelah menghela nafas kasar.


"Kakek bilang kita harus memberi tanda ini pada orang yang kita sayang!" Jawab Lion tanpa ragu membuat Kleine tidak tahu harus mengatakan apa lagi.


Anak siapa yang hilang ini?


Tolong segera hubungi saya! Pikir Kleine.


***


Tiga bocah itu telah di tangkap dengan selamat oleh para bodyguard. Mereka di ikat pada kursi belajar dengan dua tang dibelakang. Bahkan kedua kaki mereka juga di ikat ke kursi.


"Lepaskan kami! Wanita gila!" Maki salah satunya dengan ganas.


"Nakal adalah satu hal! Manja adalah hal lain! Dan pintar adalah masalah usaha, tapi genius adalah keberuntungan!" Ujar Aigiee dengan malas.

__ADS_1


Tangannya mengelus ikat pinggang kecil itu dengan manja.


"Aku suka orang yang patuh, bukan nakal! Aku suka anak mandiri, bukan manja! Aku tidak suka orang malas belajar dan aku ingin kalian tidak terlalu percaya pada keberuntungan!" Aigiee mengatakan itu dengan senyum menawan. Menatap ketiga bocah nakal itu dengan tatapan yang berhasil membuat ketiganya tidak berani berkata apapun lagi.


"Siapapun yang bisa menjawab pertanyaan dariku bisa bebas, dan yang tidak bisa...." Dia sengaja tidak mengatakan hal terakhir karena dia yakin semua orang akan tahu maksud yang dia miliki.


Aigiee melirik jam tangannya yang mewah. "Tiga puluh menit, hanya waktu itu yang akan ku beri pada kalian. Setelah itu..."


Dia menatap ketiganya secara berurutan, "aku akan mengurung kalian bersama Cuttie kecil yang manja! Oh, tenang! Aku bisa menjamin kalian akan menyukainya. Tapi... Aku tidak yakin dia akan menyukai kalian!" Ujarnya dengan kalimat terakhir yang sengaja direndahkan.


"Persoalan pertama!" Ujarnya tanpa menunggu semua orang beraksi.


Dia membalik buku dengan tenang.


"8+9:5x10+√32+1/2:5°-3 adalah...?" Ujarnya dengan lambat karena takut anak-anak itu tidak cukup mendengar.


"Apa soalnya jelas?" Tanya Aigiee dengan senyum nakal.


"Pertanyaan macam apa itu!" Ujar anak kedua dengan kesal.


"Oh, aku juga tidak tahu! Coba tanya author!" Ujar Aigiee dengan santai.


"Pertanyaan kedua, sebutkan luas negara Indonesia, sebutkan pulau apa saja yang ada, ada berapa provinsi, sebutkan semuanya, ada berapa kota di setiap provinsi, dan rata-rata penduduk dari tahun kemerdekaan sampai sekarang!" Ujar Aigiee dengan senyumnya yang semakin merekah.


"Kau gila! Dasar wanita gila... Pertanyaan macam apa itu? Jika tidak bisa membuat pertanyaan cari saja di google!" Protes anak ketiga dengan geram.


"Apa peduliku!" Ujarnya dengan malas, "Selanjutnya pertanyaan ketiga..." Dia sengaja menunda untuk melihat wajah gelap anak-anak yang tampak imut itu.


"Sebutkan salah satu nama siswa di SMA n 1 Jakarta, dan juga biografinya!"


"Tidak masuk akal/ stress/gila gila..." Ujar ketiganya bersamaan.


Bahkan para pelayan dan bodyguard yang berada disamping untuk menyaksikan kesenangan tidak bisa menahan diri.


Semua pertanyaan itu konyol, siapa yang bisa menjawabnya?


"Aturan permainan, setiap satu menit adalah uang. Jadi, jika kalian menyia-nyiakan uang. Maka ikat pinggang ini akan memukul kalian dengan manis!" Ujar Aigiee tenang.


"Waktunya berjalan dari sekarang!"


###


:!+_+

__ADS_1


__ADS_2