Serangan Cinta CEO Dingin

Serangan Cinta CEO Dingin
Chapter Ninety-four


__ADS_3

Berita yang Kleine keluarkan terus meningkat, awalnya itu hanya berita-berita kecil yang tidak terhubung sama sekali. Tapi, lama-lama berita itu menjadi satu di bawah tangan tim perusahaan.


Kleine menyerang balik alamat IP yang ingin menyerangnya.


Aigiee juga menyaksikan berita kecil yang telah menghebohkan internet selama dua hari ini. Serangan balik ini memiliki lubang yang sama. Dia tidak bertanya pada Kleine apa yang terjadi karena dia tahu betapa gilanya gadis itu dalam menghadapi orang yang suka memprovokasi dia.


Aigiee saat ini sedang berlibur seperti yang dia katakan. Dia tidak khawatir Cuttie akan memakan orang. Karena dia telah mengenal Cuttie sejak kecil. Cuttie itu hanya bentuknya saja yang ganas. Aslinya Cuttie adalah jiwa anjing polisi. Sejak ada kasus khusus, akan ada beberapa tentara yang meminjam Cuttie untuk membantu menemukan sesuatu atau barang penting yang di curi.


Aigiee sebenarnya tidak pergi jauh, dia hanya kembali ke rumah lamanya sebelum menikah yang baru beberapa hari ini dia tinggalkan.


Aigiee mengawasi pergerakan rumah itu dari cctv. Dia melihat ke tiga anak itu yang gemetar karena selalu di awasi oleh mata tajam Cuttie.


Bahkan guru piano mereka juga menjadi tidak berani bergerak terlalu banyak. Meskipun kenakalan tiga anak ini membuat mereka ingin menyerah. Tapi, jika mengajar dengan pengawasan dari singa...


Mereka ingin langsung lari jika bukan karena telah di tahan oleh pengawal yang ada disana. Aigiee mengawasi setiap gerakan itu dengan senyum tulus. Dia merasa ketiga anak itu nakal, tapi memang sedikit menyenangkan.


Piscel melihat berita yang di kirim oleh orang suruhannya berulang kali. Tidak ada jejak yang mendukung bahwa pria yang saat ini menjadi suami Aigiee adalah orang yang terkait dengan kasus delapan tahun silam.


Dia terlalu sibuk mencari berita tentang pria yang berada di sisi Aigiee saat ini. Tapi, semuanya terlalu bersih kecuali kelainan tentang kemunculan tiga bayi kembar.


Tidak ada satupun berita tentang bayi itu. Bahkan tidak ada jejak rumah sakit tempat bayi itu dilahirkan. Namun, umur bayi ini sedikit berhubungan dengan kasus menghilangnya Aigiee delapan tahun lalu.


Piscel punya tebakan liar ini dan memiliki keputusan untuk melakukan sesuatu. Dia membuang pikiran saat ini dan melihat waktu. Kantung matanya sudah terlalu hitam karena tangisan dan tidak makan ataupun tidur sejak dia mendapat berita kemarin siang.


Perutnya berteriak protes dan minta untuk segera di isi.


Piscel bukan orang yang pilih-pilih makanan seperti Kleine. Dia mengambil handphone miliknya dan memesan makanan secara acak.


Sembari menunggu makanan sampai, Piscel memilih untuk mandi dan setelahnya melihat internet hanya untuk menemukan sebuah berita yang membuatnya tersenyum sedikit.


Azel sangat kesal dan marah saat ini.


"Bukankah kakek bilang dia pulang? Lalu kemana dia pergi?" tanya Azel berteriak pada kakeknya di dalam mobil.

__ADS_1


Tuan tua Carlos juga tidak berdaya. Ini adalah rumah tua milik keluarga Bramansa. Tentu saja jika pria tua itu pulang maka akan ke tempat ini. Tapi, pengawal itu mengatakan bahwa pria tua itu mengambil pengasingan. Bagaimana dia bisa tahu akan hal itu?


"Kakek juga tidak tahu bahwa dia sudah pergi!" Ujar pria tua itu tidak berdaya.


"Heh!"


"Sudah sudah... Bukankah kita akan bertemu dengan perusahaan itu?" Ujarnya mencoba mencari solusi agar cucunya tidak marah lagi.


Azel hanya mendengus dan melihat berita. Dia semakin senang karena berita itu terus naik.


Wajah Toni juga semakin merekah saat dia melihat bahwa perusahaan saingannya sudah tidak ada harapan lagi. Dia tersenyum puas, apalagi setelah mendapatkan beberapa artis besar dari pialang itu.


Ya, memang benar bahwa dia telah membayar beberapa karyawan dan manajer untuk pindah ke perusahaan miliknya. Tapi, dia tetap tidak bisa merebut artis setia dari sana. Untungnya perusahaan itu semakin buruk, jadi dia tidak peduli dengan orang bodoh yang telah menolak tawaran darinya.


Dia sekarang sedang merapikan dasinya di bantu oleh sekertaris seksinya untuk mempersiapkan pertemuannya dengan tuan tua Carlos yang sudah sangat dinantikan.


Setelah keluar dari ruangan kerja, dia melihat Jaena berdiri di depannya dan sudah terlihat rapi.


"Bukankah kau akan bertemu dengan tuan tua Carlos? Aku tentu saja akan mengikuti mu!" Jawabnya dengan manja dan langsung berlari kecil dan merebut lengan Toni.


Tingkah lakunya membuat para karyawan yang lewat seperti melihat cp muda. Mereka sangat ingin berteriak histeris atas perhatian keduanya.


Toni melirik wajah sekertaris nya, "kau bisa pergi!" Ujarnya dan berjalan ke lift dengan Jaena di tangannya.


Lea masih berperang dingin dengan Zoey, jadi dia tidak memperhatikan berita internet. Bahkan restoran mereka harus di tutup beberapa hari ini karena keduanya sedang tidak punya mood untuk memasak.


***


Keributan di luar tidak mempengaruhi orang-orang yang berada di desa. Saat ini Davin melihat kakek kesayangannya telah dikalahkan tiga kali berturut-turut oleh orang baru itu.


Dia menatap permainan semakin menarik.


"Hei nak! Lihat siapa yang lebih hebat darinya..." Ujar tuna tua Bramansa dengan sombong.

__ADS_1


Davin hanya berpaling, "Tante Kleine pasti lebih hebat!" Ujarnya dengan malas.


Bramansa memandang tiga sahabat miliknya untuk bertanya siapa yang di maksud oleh anak ini.


"Itu adalah orang yang membawa mereka kesini!" Ujar Keno menjelaskan.


Dia tidak sedih karena kalah dari Bramansa. Karena dia memang selalu kalah dengan pria tua ini. Awalnya dia berharap bisa menang sekali saja, tapi ternyata sangat buruk.


"Ohhh..." Entah mengapa Bramansa tiba-tiba mengingat wajah samar di kegelapan waktu itu.


Dia tidak berniat menghubungkan keduanya, itu hanya terhubung secara tidak langsung.


"Apakah dia cantik?" Tanya Bramansa penasaran pada Davin yang kini menatapnya tidak senang.


"Hei! Pria tua ini... Bukankah kau bilang tidak ingin peduli lagi dengan pernikahan cucu durhakamu itu?" Tanya kakek Bao dengan main-main.


"Ya, aku hanya terbiasa saja!" Balas Bramansa agak malu.


Davin tidak menjawab dan tidak menghiraukan pria tua itu. Dia hanya merasa bahwa pria tua ini sangat licik dan penuh konsfirasi.


"Akhem... Kakek sepertinya tidak nyaman, nah Davin? Bisakah membuatkan kakek teh hangat?" Tanya kakek Keno untuk melepaskan kecanggungan yang di buat oleh temannya.


Davin mengangguk dengan patuh dan berlari ke rumah sebelah.


"Anak ini terobsesi untuk membalas ayahnya. Dia selalu ingin tumbuh lebih cepat untuk menjadi pelindung bagi ibu dan adiknya. Dia benar-benar membuat aku iri. Hei, bukan cucumu saja yang di khawatir kan tentang pernikahannya. Cucuku yang lebih tua darimu itu juga telah lama melajang.


Hei.... Jika bukan karena wanita tua itu menentang hubungan mereka. Aku pasti sudah punya cicit sekarang!"


Kakek Keno penuh penyesalan, dia menatap punggung Davin yang jauh dengan penuh kerinduan.


Dua pria tua di sampingnya juga tampak kasihan untuk Keno. Hanya Bramansa yang tersenyum main-main.


###

__ADS_1


__ADS_2