
Kita hidup di dunia yang bulat. Yang punya perputaran sendiri, baik di porosnya ataupun di garis orbitnya.
Layaknya sebuah lingkaran yang berputar. Sudah pasti ada atas dan bawah. Dan sebuah buki yang berputar membuat dua sisi yang berbeda dalam satu waktu.
Satu sisi akan mendapatkan cahaya matahari yang terang namun juga panas yang menyengat. Satu sisi lainnya akan mendapatkan kegelapan yang kelam, namun nyaman dan membawa ketenangan.
Setiap sisi itu masing-masing memiliki sisi lain yang bercabang. Terus begitu dan akan selalu ada hitam dan putihnya.
Seperti matahari yang memberikan sebuah penerangan dan rasa hangat. Juga membawa sisi buruk dengan panasnya yang kadang berlebih. Begitu juga dengan malam yang dingin dan mencekam. Tapi, membawa kita ketenangan sehingga kita bisa beristirahat dengan nyaman.
Hitam dan putih tidak pernah bisa dipisahkan. Jalan apapun yang kamu pilih akan memiliki dua sisi itu. Jadi, keputusan apapun yang kamu pilih belum tentu menentukan akhir yang baik.
Tapi percayalah, seburuk apapun sebuah keputusan. Hasilnya selalu punya dua sisi, dan itu mungkin adalah yang terbaik untukmu.
***
Umur Azel tidak pernah berada jauh dari umur Kleine. Jika umur Kleine adalah dua puluh dua tahun, maka umur Azel pasti sedang mendekati tahun dua puluh satu.
Jarak keduanya hanya sedikit lebih dari satu tahun.
Sejak kecil, Azel sudah memiliki pipi chubby yang putih. Dan setelah dewasa, pipinya tetap chubby dan sangat mulus.
Dia cantik dengan pipi gembul itu, tampak sangat imut dan awet muda. Matanya yang hitam bulat dan berair sangat membuat orang lain ingin memanjakannya.
Belum lagi wajah itu dipadukan dengan rambut sebahu.
Jika Kleine adalah kecantikan dewasa yang tampak keren.
Azel yang punya tubuh modis dan wajah imut itu adalah kecantikan anak-anak yang imut namun juga sangat seksi.
Azel terawat dengan baik sejak dia berada di rumah itu. Hanya tingginya saja yang sangat kurang, mungkin karena garis DNA gadis itu memang tidak mendukungnya. Atau itu mungkin karena Tuhan mencoba membuat tingginya cocok dengan tubuhnya.
Awalnya Azel sangat marah dan benci pada kedua orang tuanya karena waktu terakhir kali.
Dia merasa kesal sekaligus takut pada saat bersamaan saat itu.
__ADS_1
Dia kesal karena waktu itu kedua orangtuanya tampak sangat mengkhawatirkan Kleine dibanding dia. Dan orangtuanya yang hanya memandangnya setelah dia dibawa pergi oleh banyak orang berseragam hitam itu.
Dia juga takut karena orang-orang yang membawanya tampak sangat sangar.
Tapi setelah dia melihat para orang itu membawanya masuk ke mobil yang begitu bagus. Dia mengajari diam dan penuh tanda tanya.
Apalagi saat dia melihat orang tuanya mendapat sebuah koper sebelum rombongan itu membawanya pergi.
Apakah dia dijual? Pikirnya saat itu.
Tapi, para rombongan itu memperlakukan dia dengan baik. Apalagi setelah dia sampai pada sebuah rumah yang begitu besar dan sangat mahal. Dia menjadi sangat senang.
Ada seorang kakek tua yang mengaku sebagai kakeknya dan memanjakan dia tanpa batas. Ada banyak teman yang begitu tampan. Dan banyak lagi hal menarik lainnya.
Apapun yang dia mau, pasti akan dia dapatkan. Perlahan dia mulai melupakan orangtuanya yang dulu pernah memberi dia kasih sayang.
Dia juga mengejek Kleine yang mungkin hidup menderita bersama orang tuanya. Azel tidak lagi memiliki dendam dengan Kleine. Karena menurutnya Kleine sudah tidak lagi menjadi saingannya.
Dia sekarang sudah kaya, dan Kleine mungkin masih menjadi pelayan menyedihkan ibunya!
Kakek tua itu tidak berharap bahwa orang yang tidak Azel suka adalah pelayan yang sudah sangat lama mengabdi disini. Dia juga beruntung karena Azel menolak untuk memecat pelayan itu dan hanya menyuruh dan menghukumnya.
Pelayan ini sangat setia dan dia sangat pandai merawat rumah. Jika dia dipecat, yang tersisa di rumah ini nantinya hanya pelayan baru yang tidak kompeten dan berpengalaman.
***
Kleine sendiri terpaksa harus kembali ke perumahannya untuk berganti baju. Tidak mungkin dia akan tetap berjalan-jalan dengan pakaian yang aneh ini bukan?
Penjaga gerbang heran melihat Kleine yang baru saja pergi telah kembali lagi. Tapi, dia juga tidak terlalu peduli. Karena pada dasarnya Kleine memang sering melakukan hal itu. Dan sedikit menjadi hal yang umum.
Lion mendengar suara mobil dari halaman sebelah. Dia yang sedang membaca buku santai di pondok depan rumahnya mengangkat sebelah alisnya dengan heran.
Tadi, sekitar beberapa waktu yang lalu dia mendengar keributan. Sekarang dia mendengar suara mobil yang masuk lagi. Itu baru beberapa menit yang lalu, sepertinya tidak sampai satu jam.
Pikir Lion sembari melirik jam ditangannya.
__ADS_1
Kleine lupa untuk singgah ke warung pecel lele kesukaannya. Tapi, sekarang dai sudah malas untuk memutar mobil. Jadi, dia hanya bisa menelepon pemilik warung dan meminta diantar kesini.
Kleine melepas seluruh pakaiannya yang sangat mencolok itu. Dia beralih ke kaos putih yang sangat longgar, dan celana jeans setengah paha.
Memegang telepon genggam ditangan kanannya dan juga satu kota minuman dingin. Kleine berjalan keluar rumah dan duduk di pondok yang ada dihalaman depan ini.
Karena ini adalah perumahan yang paling dalam. Harganya juga paling mahal dan yang paling penting. Ini adalah desain yang paling mewah dan paling luas. Halaman depan rumah ini saja seluas seratus meter persegi. Belum lagi ada sebuah pondok atau gazebo di atas kolam ikan hias. Ada banyak pohon hias dan tanaman yang sangat menyegarkan mata.
Siapapun yang sedang mengalami stres mungkin akan segera sembuh jika berada disini selama satu hari.
Dia orang yang bertetangga itu masing-masing sibuk dengan urusan mereka sendiri.
Yang satu terlihat begitu santai, dan yang lain sangat sibuk dan tergesa-gesa.
Delora sangat kesal saat dia berjalan ke kantornya.
Para karyawan di kantor yang melihat atasan mereka itu ingin menyapa. Tapi, melihat wajah Delora yang begitu hitam. Belum ada yang berani maju untuk menyapa duluan. Mereka hanya bisa menunduk saat berpapasan dengan bos mereka itu.
Di meja resepsionis awalnya Delora ingin lewat begitu saja. Tapi, mengingat sumber kekesalan itu. Dia berhenti dan menatap resepsionis itu dengan wajah kusam.
"Panggil sekertaris Mau kesini dan perintahkan dia untuk mencari orang dengan mobil ini yang baru datang pagi ini!" Ujarnya dan melemparkan telepon genggamnya dengan asal ke resepsionis yang hanya bisa melongo itu.
Setelahnya dia berjalan ke lift khusus bos dan menaiki dengan wajah yang masih tetap dongkol.
"Waw... Kurasa kita harus siap-siap melihat pertunjukan yang bagus hari ini!" Ujar resepsionis setelah melihat Poto mobil itu pada teman disampingnya.
"Apa maksudmu?" Tanyanya dan mendekat untuk melihat juga Poto yang ada didalam telepon genggam milik bos mereka itu.
Dia juga tersenyum menggoda saat melihat Poto mobil itu. Mereka saling memandang penuh arti.
"Tunggu apa lagi, cepat telepon sekertaris Mau dan beritahu yang bos perintahkan!" Ujar temannya.
"Hallo, sekertaris Mau! Bisakah anda datang ke meja resepsionis sekarang. Tadi bos De meninggalkan sebuah tugas untuk anda disini!" Ujar resepsionis itu dengan nada tenang. Namun juga sedikit tersenyum dalam setiap katanya.
Sekertaris Mau yang masih mengambil minum di pantry menjadi bingung. Bukankah bos Delora bisa meneleponnya langsung dan memberikan perintah secara langsung? Kenapa harus melewati meja resepsionis?
__ADS_1
Karena tidak mau salah bertindak. Sekertaris Mau langsung turun ke lantai bawah untu melihat tugas seperti apa yang dikirim bos Delora untuknya.