Serangan Cinta CEO Dingin

Serangan Cinta CEO Dingin
Chapter Eighty three


__ADS_3

"Apa kau lupa bahwa hari ini kita telah mengadu?" Tanyanya yang berhasil membuat adik keduanya menciut. "Dia sudah pasti tidak menyayangi kita lagi, itu sebabnya dia membiarkan wanita itu menyiksa kita sesukanya!" Simpulnya dengan kesal.


Anak kedua menunduk dan mulai duduk di sofa bekas yang penuh debu.


"Aku merindukan nenek!" Ujar anak ketiga.


"Dengar!" Ujar anak pertama. Keduanya langsung menatap anak pertama.


"Setelah kita bebas dari sini, lebih baik kita datang ke tempat nenek saja!" Ujarnya.


"Apa kau lupa kak? Nenek sedang kritis saat ini! Dan dokter disana tidak akan pernah membiarkan kita menginap di rumah sakit!" Ujar anak kedua dengan jernih yang menyadarkan kakaknya.


"Tidak peduli apapun! Kita harus pergi dari sini... Wanita gila itu pasti akan terus menyakiti kita. Dan para pelayan sialan itu tidak ada yang berani membantu kita!" Ujar kakak pertama putus asa.


Anak kedua dan ketiga juga terdiam, mereka memang berada di gang buntu saat ini.


"Sudahlah, yang terpenting sekarang adalah mengobati luka kita dulu!" Ujar kakak pertama.


Aigiee bertemu dengan paman Zen yang menyambutnya di gerbang.


"Nona Ai!" Sapanya dengan ramah.


"Paman Zen... Anda terlihat semakin muda saja!" Ujarnya dengan nada bercanda.


"Ah... Nona Ai ini bisa saja!" Ujar paman Zen dengan malu.


"Ini siapa?" Tanya Aigiee pada pria muda dengan seragam SMA.


"Oh, ini adalah teman yang nona Kleine atur untuk Cuttie!" Ujar paman Zen dengan sopan.


Aigiee menatap Jefri dengan prihatin dan juga antisipasi. Hanya orang berbakat yang bisa Kleine tarik ke kubunya. Dia tidak tahu bakat macam apa yang akan pria ini miliki. Dan dia penasaran kejutan yang seperti apa yang akan muncul nanti di dunia bawah.


"Apa Kleine sudah mengatakan tujuan ku kesini paman?" Tanya Aigiee mengalihkan fokusnya.


Sebenarnya dia sudah tahu bahwa Kleine pasti sudah menghubungi laman Zen, terbukti dari apa yang terlihat saat ini. Jika bukan menyambutnya, lalu siapa lagi?


"Ya, nona Kleine sudah mengirim pesan kepada saya sebelumnya!" Ujar paman Zen. "Saya juga sudah menyiapkan berkasnya dan juga pengikat pada Cuttie. Tapi, akan tidak enak jika kami tidak menjamu nona Ai terlebih dahulu. Saya sudah menyiapkan teh dan beberapa makanan ringan untuk nona Ai di sana!" Tunjuknya pada gazebo di samping kiri.


"Aih, sebenarnya tidak perlu repot paman. Tapi, karena sudah disediakan maka Ai tidak akan menolak!" Ujar Aigiee dengan senyum manis.


"Kalau begitu mari nona Ai!" Ajaknya ke tempat itu.


Jefri tidak mengikuti mereka, dia masuk dan berjalan ke lantai atas tempat adiknya di rawat.


"Hei... Bangunlah dik! Sekarang kita sudah punya tempat untuk berlindung... Tidak perlu takut lagi dikejar oleh musuh!" Ujar Jefri dengan prihatin.

__ADS_1


Tangannya mengelus pipi lembut dan kenyal adiknya.


Jefri menghela nafas berat, Cuttie berjalan mendekatinya dan duduk disampingnya. Beberapa hari penyesuaian ini, Cuttie sudah mulai akrab dengan Jefri.


Tangan Jefri yang lain mengelus kepala Cuttie yang membuat singa itu menjadi manja.


"Hei, ini baru beberapa hari dan kau sudah pergi saja. Aku pasti akan merindukanmu!" Ujar Jefri dengan keengganan yang tidak dapat disembunyikan.


"Miawww..." Ujar Cuttie juga tampaknya tidak suka berpisah dengan Jefri.


Jefri tidak tahan dan mulai memeluk Cuttie.


Aigiee melihat keduanya yang begitu mesra. Dia bersandar pada kusen pintu sejenak, menggeleng dan pergi lagi ke gazebo.


"Nona Ai sudah melihat Cuttie?" Tanya paman Zen dengan lembut.


"Ya, dia cukup terikat dengan bocah baru itu!" Jawab Aigiee seadanya, dia duduk dan meminum tehnya lagi.


"Itu memang terlalu lekat seperti keduanya adalah satu keluarga yang telah berpisah begitu lama!" Ujar paman Zen dan merenungkan beberapa hari ini.


"Mata Kleine memang tidak pernah terkena katarak!"


"Haha, nona Kleine bisa marah jika dia tahu nona sedang mengutuknya!"


"Ya, dia tidak akan tahu jika paman Zen tidak membocorkan hal itu."


Keduanya mengobrol dengan ria dan penuh canda tawa.


Azel berdiskusi dengan kakeknya tentang sebuah novel yang baru-baru ini sangat dia sukai.


Azel sangat tertarik dengan dunia entertainment, itu sebanyak dia ingin menjadi seorang artis.


"Kakek, aku sangat suka dengan peran ini. Kakek harus membuat aku menjadi peran ini!" Ujarnya tidak mau ditolak.


Pria tua itu membaca teksnya dan dia juga merasa peran itu sangat menarik.


"Kalau kau suka, maka ayo kita buat!" Ujar pria tua itu dengan senyum cerah. Sangat jarang bagi cucunya untuk tertarik pada suatu profesi.


"Kakek akan mendaftarkan mu menjadi artis di K.E entertainment!" Ujarnya yang langsung ditolak oleh Azel.


"Tidak!"


Tentu saja dia tidak akan mau, apalagi saat dia ingat wanita genit yang telah mendekati pria idamannya.


"Oh? Lalu kau ingin kemana?" Tanya pria tua itu juga sedikit mengerti tentang penolakan Azel.

__ADS_1


"SandiToni entertainment tidak buruk!" Jawab Azel sembarangan.


"Kau yakin?" Tanya pria tua itu agak pesimis.


"Ya!" Jawab Azel dengan pasti.


"Baiklah jika kau ingin itu maka jadilah itu!" Ujar pria tua itu.


Azel tidak tahu bahwa dia secara perlahan telah kembali ke asalnya...


"Sebenarnya Carlos tv juga baik, apa kau tidak tertarik?" Ujar pria tua itu meyakinkan keputusan Azel.


"Aku tidak mau karena peringkat nya jauh dari dua perusahaan tadi!"


"Oh, baiklah!"


***


"Kakak ada apa?" Tanya Devan saat melihat kakaknya yang makan dengan sangat lambat.


"Tidak!" Jawab Davin dengan cepat.


Floye juga melihat putra sulungnya dan merasa sedikit salah. Sepertinya dia telah menggunakan terlalu banyak kekuatan?


"Apa kau ingin ibu menyuapimu?" Tanya Floye dengan rasa bersalah yang besar.


Davin menyapa ibunya yang tampak terganggu setiap waktu, dia ingin menggeleng. Tapi mata ibunya yang penuh harap membuatnya mengangguk tanpa sadar.


Floye memang sangat senang sekarang karena anggukan dari Davin. Dia dengan cepat mengangkat sendok ke mulut Davin.


"Hei! Ada apa dengan kalian ini? Aku juga ingin... Aaaaa....." Ujar Devan membuka mulutnya besar.


Davin mengunyah dengan pelan, sangat dewasa dan elegan.


Devan adalah kebalikannya, dia mengunyah dengan cepat dan tubuh yang membungkuk.


Floye yang tadinya sedikit ketakutan kini menjadi lega. Anaknya tetaplah anaknya, tidak akan bisa menjadi anak Kleine bagaimana pun caranya. Dia merasa bersalah karena telah memikirkan Kleine dengan buruk.


Davin melihat ibunya yang tampak sudah tenang dan tidak terganggu. Dia mulai berpikir lagi dan sepertinya tahu apa yang telah menganggu pikiran ibunya hari ini.


"Bu, aku menyayangimu!" Ujar Davin manja dan dewasa


"Aku juga sayang ibu!" Ujar Devan yang kekanakan.


"Ibu juga sayang kalian berdua!" Floye mencubit pipi keduanya dengan gemas.

__ADS_1


###


^∆^


__ADS_2