Serangan Cinta CEO Dingin

Serangan Cinta CEO Dingin
Chapter Forty


__ADS_3

"Nona ini bukankah yang tadi bertemu di pasar judi?" Tanya pria itu itu dengan wajah riang.


Delora melihat orang tua yang mendekatinya. Dia memutar bola matanya keatas dan mencoba mengingat siapa pria tua yang sekarang ada didepan dia dan nyonyanya ini.


Merasakan bahwa Delora tidak dapat mengenalinya dengan baik.


Dia tetap tersenyum dengan sabar dan menjelaskan tentang pertemuan mereka beberapa jam yang lalu.


"Saya adalah pria tua yang nona ini tolong sebelumnya." Jelasnya singkat namun memang berhasil membuat Delora ingat siapa pria tua didepannya ini.


Tapi, dia melirik pria tua itu berulang kali dan tidak menemukan kesamaan antara orang yang tadi dia selamatkan di pasar judi dengan yang sekarang.


Pria tua itu tertawa terbahak-bahak karena wajah Delora yang tampak bingung. "Nona tidak perlu bingung, itu adalah penyamaran saya agar tidak ada yang menyeret saya secara tiba-tiba untuk pulang!" Jelasnya dengan tawa yang masih belum hilang.


Delora membuka mulutnya sedikit berbentuk o dan mengangguk ringan.


Setelah anggukan ringan dari Delora, tuan tua itu tidak kehabisan kata.


"Jadi apakah nona ini yang berhasil membuka giok pirus Persia ini?" Tanya tuan tua itu pada Delora dengan mata penuh kekaguman.


Delora menggeleng, "ini adalah nona saya yang menemukannya!" Jawab Delora dan melirik tuan yang asik bermain handphone didepannya.


Tuan tua itu mengikuti gerakan mata Delora dan empat gadis yang tadi tidak begitu dia perhatikan.


Di tengah keramaian ini dia sendiri masih begitu nyaman untuk membuka handphone. Lebih lagi, dia sepertinya mendengar suara yang sangat luar biasa.


"Double kill!"


"Triple kill!"


Kali ini bahkan orang dari jarak yang tidak terlalu jauh juga bisa mendengar suara itu. Suara yang terus berulang itu membuat semua orang harus lebih menajamkan telinga mereka. Lion bahkan sedikit terganggu dengan pekerjaannya dan terpaksa menoleh.

__ADS_1


Fitur samping gadis bertopeng itu sangat mirip dengan seseorang. Membuat Lion akhirnya tahu siapa yang membuat dia merasa familiar dengan nona Greens ini. Dengan berani Lion menghubungkan gadis yang dia temui di rumah sakit dengan nona Greens yang sekarang duduk disampingnya.


Tapi, setelah mengingat lagi penampilan flamboyan gadis di rumah sakit dengan nona Greens yang feminim dan seksi ini, Lion masih merasa penghubungan itu sedikit tidak cocok.


Semua mata terfokus pada Kleine yangs Edang bermain game.


Kadang ada yang berpikir, bukankah sebelumnya dia mengatakan tidak ada waktu untuk menyiapkan hadiah? Jadi terpaksa membeli jajanan jalan? Tapi setelah melirik giok yang di pegang tuan tua itu, mereka menghapus logika itu dari pikiran mereka.


Seharusnya dia baru saja beristirahat sekarang kan?


Tuan tua itu sedikit kehilangan senyumnya, tapi hanya sedetik sebelum wajahnya kembali ceria.


Wajah keriputnya menilai gadis yang sudah seperti sayuran karena seluruh yang dia pakai berwarna hijau. Jika bukan karena adanya hiasan perak dan rambutnya yang hitam, dia yakin nona didepannya adalah siluman sayur.


"Jadi ini adalah nona yang telah membuka dua batu akik langka itu dalam satu waktu itu?" Tanya tuan tua itu dengan semangat yang tampaknya tidak pernah padam.


Sayangnya tuan tua itu tidak mendapatkan satupun tanggapan dari Kleine. Lion yang melihat pengabaian nona Greens merasa itu memang wajar. Bukankah selama ini sangat sulit menghubungi dan menemui dia?


Sebaliknya bukannya marah, tuan tua itu menjadi sangat tertarik dengan gadis yang ada di depannya. Menurutnya seorang yang bisa mendapat dua giok Persia dalam satu waktu adalah hal yang layak di sombongkan!


Jadi, dia menoleh dan memerintahkan asisten yang berdiri di belakangnya untuk mengambilkan dia satu kursi.


Jadilah tiga orang itu duduk dengan ringan. Satu sibuk bermain game, satu bekerja, dan yang lainnya mengamati sebuah batu dengan mata penuh kekaguman.


Semua orang tidak bisa berkata-kata untuk ini. Bukankah ini perjamuan? Kenapa perjamuannya masih belum di mulai, dan sekarang ada banyak bos besar yang begitu santai saat menjadi tontonan banyak orang!


Nyonya Very bahkan meremas jari suaminya dengan gelisah. Sepertinya perjamuan mereka akan menjadi perjamuan yang kacau dan paling mengesankan di ingatan semua orang.


Jhon juga menoleh saat merasakan remasan yang kuat dari tangan lembut istrinya.


Dia hanya bisa menggelengkan kepala dengan pasrah. Seharusnya dia tidak boleh terlalu rakus dan mengundang dua orang hebat di depannya. Lebih lagi, seharusnya dia tidak perlu memaksa ayahnya untuk datang ke perjamuan.

__ADS_1


Ini benar-benar menjadi perjamuan yang sedikit buruk.


Melihat keponakan tersayangnya yang berdiri penuh kekesalan sembari menatap tiga orang harmonis di sana. Carlie berjalan mendekati gadis itu, dia menepuk punggung Azel untuk membangunkan dia dari lamunannya.


"Bibi?" Tanya Azel bingung.


"Mendekatlah jika kamu ingin bergabung dengan mereka. Sapa saja tuan muda Lion dengan nada yang sering bibi ajarkan padamu!" Bujuknya penuh perhatian dan memberi dukungan dengan mendampingi Azel berjalan menuju Lion.


"Lama tidak berjumpa tuan muda!" Sapa Carlie setelah berhasil menyerte Azel secara paksa mendekati tiga orang yang sibuk dengan pekerjaan masing-masing.


Tuan Jhon juga memerintahkan asistennya untuk mengambil kursi lain untuk istrinya duduk. Dia bahkan meminta assisten itu untuk memberikan kursi kepada seluruh tamu yang masih menonton dengan keadaaan berdiri.


Lion mendengar suara panggilan orang itu, tapi dia sedikit geli dengan nada yang wanita itu gunakan. Lagipula dia baru saja melihat filenya dan sedang membaca dengan fokus. Dia tidak mau harus mengulang lagi karena tidak selesai membaca saat ini. Jadi dia hanya bisa meniru gaya Kleine dan mengabaikan orang yang menyapanya itu.


Wajah Carlie yang tersenyum langsung pecah berkeping-keping. Tangannya terasa sangat pengap karena telah digenggam oleh Azel terlalu erat.


Melihat keponakan cantiknya yang sangat gugup dan pemalu itu menjadi begitu rendah diri. Carlie tidak tahan! Apalagi pandangan semua orang sangat mengejeknya karena sudah menyapa lebih dulu, tapi diabaikan oleh orang yang dia sapa.


Semua orang mengejeknya bukan karena keramahannya dibalas acuh. Tapi semua orang mengira dia ingin memanjat paha tuan muda Lion dengan menyapa lebih dulu!


Setelah mendapat sebuah kursi semua orang mulai duduk dengan nyaman dan menonton pertunjukan bagus didepan mereka yang sangat jarang ditemui.


Jika saja ada popcorn, itu seperti menonton sandiwara yang sering di pamerkan baru-baru ini.


Saat game berakhir, Kleine langsung menyimpan teleponnya di saku. Lalu matanya yang malas atau bulu matanya yang terlalu berat, membuat mata itu sangat sulit menghadap ke depan.


Dengan susah payah dia melihat wajah tua yang penuh harap dan kesenangan itu.


###


Mohon maaf lahir dan batin 🙏

__ADS_1


__ADS_2