Serangan Cinta CEO Dingin

Serangan Cinta CEO Dingin
Chapter Seventy nine


__ADS_3

Kleine hening sejenak dan tidak langsung menyetujuinya. Dia ingat bahwa Aigiee telah berbohong pada mereka saat ini. Tidak!


Dia tidak berbohong pada mereka, tapi dia jelas menyembunyikan sesuatu dari mereka.


"Untuk apa?" Tanyanya dingin.


Aigiee terkejut dengan nada dingin yang Kleine gunakan. Bisanya Kleine tidak pernah bertanya padanya tentang apa yang dia.lakukan jika dia meminjam sesuatu. Dia merasa Kleine agak berbeda hari ini.


Dia ingat Kleine yang sedang berkencan hari tadi siang. Apa dia berbuah karena pria yang sekarang sedang dekat dengannya?


Tapi Kleine tampaknya tidak suka kepada pria itu!


"Itu untuk sesuatu yang penting! Aku tidak bisa memberitahukannya padamu untuk saat ini. Jadi bisakah kau meminjamkannya?" Tanya Aigiee sekali lagi.


Kleine sedikit kecewa karena Aigiee tidak mengatakan yang sebenarnya. Tapi, dia masih membiarkan Aigiee meminjam Cuttie. "Aku akan membiarkan paman Zen mengantarnya untukmu, masih alamat yang lama kan?" Tanya Kleine berpura-pura memastikan.


Aigiee terdiam saat ini, tapi dia dengan cepat menjawab. "Tidak! Aku akan menjemputnya sendiri malam ini, tidak perlu merepotkan paman Zen!" Ujarnya tampak bersemangat.


Kleine semakin kecewa dengan tingkah laku Aigiee. "Kalau begitu terserah kau saja!" Ujar Kleine dengan nada rendah dan langsung menutup teleponnya.


Aigiee merasa aneh saat ini, mengapa suara Kleine begitu sedih? Apa karena dia meminjam Cuttie?


Aigiee hanya memikirkannya sejenak karena setelah itu dia menyadari bahwa ketiga bocah itu telah selesai membuat ulah.


Dia masuk ke dalam dan melihat ketiga bocah itu tampak berantakan. "Baiklah apa kalian puas?" Tanya Aigiee dengan senyum lembut.


Ketiga bocah itu kaget oleh suara Aigiee tapi mereka tidak takut dan menoleh kearah Aigiee dengan senyum nakal.


"Ya sangat puas!" Jawab yang tertua.


Mereka menatap Aigiee penuh kemenangan. Saat dia melihat senyum bahagia anak-anak itu, Aigiee selalu merasa ada sesuatu dihatinya yang menjadi sangat ringan. Dia tidak tahu itu apa, tapi dia tidak peduli.


"Kalau begitu apa kalian ingat apa yang aku katakan pagi ini?" Tanya Aigiee dengan senyum jahatnya.

__ADS_1


"Kami tidak peduli!" Jawab mereka serempak.


"Tapi aku peduli!" Bisik Aigiee dengan ganas dan berteriak, "bodyguard!"


Seluruh bodyguard di rumah itu berkumpul dengan cepat di belakang Aigiee. Ketiga bocah itu tampak agak panik ketika mereka melihat bodyguard yang berdiri dengan kokoh dibelakang wanita itu.


"Apa yang ingin kau lakukan?" Teriaknya kakak pertama dengan galak.


Aigiee tersenyum manis, "menurutmu apa yang sedang aku coba lakukan?" Tanya Aigiee nakal.


"Kau!!!" Teriaknya tidak bisa berkata-kata.


"Tangkap mereka dan ikat mereka di kursi belajar!" Perintah Aigiee pada para bodyguard itu.


Ketiga bocah itu saling lirik dan mulai menghitung mundur.


Aigiee tahu apa yang akan mereka lakukan, tapi dia tidak peduli. Dia tahu mereka belum cukup mampu untuk mengalahkan kecepatan sepuluh bodyguard ini.


"Lari!" Teriak kakak tertua saat para bodyguard mulai beraksi.


Mereka bertiga sangat licik dan terarah. Berlari di tiga sisi yang berlainan, satu kebawah, yang lain tetap ditengah dan yang terakhir naik ke lantai atas.


Aigiee tidak bergerak dari tempatnya sampai kepala pelayan datang dengan berbagi buku tipis ke arahnya.


"Nyonya ini buku yang anda minta!" Ujarnya dan menyarahkan tiga buku itu.


Aigiee mengambilnya dan melihat sejenak. "Ambilkan aku ikat pinggang kecil yang ada di lemari atas kamarku!" Ujarnya kemudian yang langsung disanggupi oleh kepala pelayan itu.


Karena mereka tidak cukup tinggi, ikat pinggangnya masih utuh dan belum dirusak.


Aigiee mengambilnya dari kepala pelayan dan berjalan ke lantai bawah yang sudah kacau lagi. Dia berjalan santai ke sofa besar dan sudah ada tiga kursi diletakkan didepannya.


Pelayan disini cukup pintar dan peka. Dia duduk dan menendang jijik pada patung kayu yang dilempar oleh anak pertama.

__ADS_1


Melihat melihat para bodyguard yang masih belum berhasil menangkap satupun dari mereka. Aigiee hanya menggeleng dengan pelan. "Aku tidak tahu wanita jenis mana yang bisa melahirkan tiga anak senakal ini." Bisiknya pelan dengan kepala tertunduk. Tapi pikirannya saat ini melayang pada Kleine yang sifatnya sangat berantakan.


Apakah anak Kleine nanti akan senakal ini?


Kepala pelayan mendengar bisikan pelan wanita itu, tapi dia tidak menanggapi.


Ketiga bocah itu besar tanpa seorang ibu yang mengawasi. Sejak pertama lahir, mereka tidak pernah melihat ibu mereka. Ayah mereka selalu sibuk melakukan dinas kesana dan kesini. Yang membesarkan mereka awalnya adalah nyonya tua. Tapi, nyonya tua sakit beberapa tahun lalu dan tidak ada yang mengendalikan kenakalan mereka.


Biasanya senakal apapun mereka, selama nenek tua itu berucap, mereka akan kembali patuh. Sayangnya kondisi nenek tua itu semakin memburuk dari hari ke hari. Kepala pelayan adalah pelayan senior di sini. Dia telah tinggal lebih lama dari tuan mereka sendiri.


Tapi dia bahkan tidak tahu siapa ibu dari tiga anak itu. Saat itu tuan muda pulang dengan tiga anak di genggaman dan melemparkannya pada nenek tua untuk diurus. Bahkan wanita tua itu sudah lelah terus bertanya siapa ibu dari tiga anak ini.


Nenek tua itu pikir itu bukan anak tuannya karena tidak ada ibu. Dia pikir tuan telah mengadopsi anak orang untuk dibawa pulang. Tapi, setelah tes DNA dilakukan. Itu memang merupakan anak tuan mereka.


Mereka tidak tahu rahasia apa yang disembunyikan oleh tuan mereka. Nyonya tua itu telah memaksa tuan mereka menikah untuk mendapatkan seorang ibu untuk anak-anak ini. Karena semua orang menebak bahwa ibu dari ketiga anak ini mungkin telah meninggal karena kekurangan darah darah selah melahirkan tiga bayi.


Sayangnya dikenalkan dengan berbagi jenis gadis, tuannya tidak pernah tertarik sedikitpun. Itulah mengapa dia terkejut saat tuan telah mengikat seorang wanita dengan pernikahan kontrak. Dia punya sedikit tebakan yang melenceng. Tapi, dia tidak berani berpikiran terlalu luas.


Saat sampai di tempat parkir bawah tanah, Kleine bingung. "Kenapa kau berhenti disini?" Tanyanya bingung karena baru bangun tidur.


"Barangmu banyak, jadi aku akan membantu membawanya ke lantai atas." Ujar Lion yang sudah membuka pintu mobil dan mengambil barang-barang dari kursi belakang.


"Eh, tidak perlu!" Tolak Kleine yang terlambat karena Lion sudah membawa semua tas itu keluar. Kleine keluar mobil dan mencoba merebut tas itu. Tapi, Lion menolak dan Kleine hanya bisa pasrah.


Waria dan Devan sudah sampai disana dan banyak anak melambai pada keduanya. "Kesini!" Teriak anak yang jauh lebih tinggi dan dewasa dari yang lainnya.


Terhitung ada sembilan anak termasuk Waria dan Devan.


"Ya!" Teriak keduanya antusias dan melepas baju dengan cepat. Lalu melompat ke air yang agak dalam dan mengalir itu. Berenang menuju tengah sungai dan sampai pada perkumpulan anak-anak.


Ada empat wanita dan lima pria, mereka memercikkan air ke yang lain.


Davin sendiri telah ditinggal oleh ibunya yang pulang untuk memasak. Dia terus membaca dengan tenang dan mengawasi kerbau yang makan rumput dengan gembira.

__ADS_1


###


:)


__ADS_2