Serangan Cinta CEO Dingin

Serangan Cinta CEO Dingin
Chapter Seventy-two


__ADS_3

"Sudah selesai?" Tanya Kleine sembari meletakkan gelas kopinya di atas meja dengan perlahan.


Delora merasa puas, begitu juga dengan Piscel. Jadi mereka mengangguk dengan santai.


"Oke, jadi kenapa kau memanggilku kesini hanya dengan satu kalimat pendek. Bahkan tidak memberi alamat pasti... Apa kau tahu bahwa aku harus masuk ke banyak kafe karena ini?" Tanya Delora tidak bahagia sama sekali.


Kleine tidak menjawab, dia hanya mengarahkan Delora dengan bola matanya.


Delora mengikuti bola mata itu sampai pada wajah seorang pemuda yang tadi dia rebut minumannya. "Eh? Siapa ini?" Tanya Delora bingung.


"Saya Rich! Rich Ricardo, aku adalah artis kecil di perusahaan anda Miss..." Ujar Rich cepat tanpa meluangkan waktu untuk malu ataupun ragu.


"Artis?" Tanya Delora dengan bingung, "kenapa kau bisa begitu bebas?" Tanyanya dengan heran, dia bahkan menatap tanya pada Kleine dan Piscel.


Kleine hanya diam tanpa menanggapi, sedangkan Piscel dengan baik hati menjelaskan.


"Kenapa kau mengambil pekerjaan itu? Bukankah para artis di latih dan juga syuting?" Tanya Delora tidak senang karena menurutnya Rich telah menodai nama baik perusahaan.


"Itu... Aku belum mendapat agen yang membantuku mendapatkan peran ataupun iklan. Karena tidak ada pekerjaan yang bisa menghasilkan uang, jadi aku harus mencari pekerjaan lain."


Rich menjelaskan dengan lemah.


"Tanpa agen? Lalu bagaimana dengan manager?" Tanya Delora lagi.


"Manager tidak peduli!" Jawab Rich singkat dan agak kecewa.


"Tunggu dulu! Sudah berapa lama kau menjadi artis di perusahaan?" Tanya Piscel.


"Sekitar tiga tahun atau lebih!" Ujar Rich juga bingung.


"Ohhh... Lalu bagaimana kau bisa tidak mendapat agen?" Tanya Piscel dengan heran, dia bahkan menatap Delora dengan merendahkan dan mengejek.


Delora tidak senang dengan tatapan sarkas yang dipasang oleh Piscel.


"Iya, katakan bagaimana itu bisa terjadi, seharusnya kau sudah mendapat agen sejak pertama kau masuk bukan?" Tanya Delora agak tidak sabar yang membuat rich menjadi gugup dan takut. Seakan dia sedang di interogasi karena telah berbuat salah.


"Sebelumnya memang punya agen, itu adalah agen Jane! Tapi karena agen Jane di turunkan menjadi asisten artis lagi. Aku tidak tidak memiliki agen lagi!" Jawab Rich gagap saking gugupnya.


"Bukankah masalah ini sudah kukatakan, artis yang kehilangan agennya bisa melapor pada managernya atau pada HRD. Kenapa kau masih tidak dapat agen?" Ujar Delora merasa masalah ini sangat tidak masuk akal.

__ADS_1


"Itu karena tidak ada agen yang mau menerimaku!"


"Apa?" Wajah Delora berwarna sangat aneh. "Bagaimana bisa!" Lanjut Piscel juga ikut penasaran.


"Draka dan aku adalah teman baik sebelumnya..." Rich ingin menjelaskannya, tapi Delora menghentikannya.


"Apa hubungannya dengan itu?" Tanya Delora tidak sabar.


"Itu karena kami menjadi musuh dan Draka terus menekan ku dengan bantuan dari Jane. Aku hanya di beri beberapa peran kecil yang tidak pernah menonjol. Bahkan hanya iklan dukungan yang tidak populer. Jadi para agen mengira aku pemalas dan tidak berbakat, itu sebabnya tidak ada yang menerimaku!" Ujar Rich pasrah.


Tiba-tiba kepalanya yang tertunduk terangkat tinggi, "tapi aku sungguh bisa berakting, aku bisa menyanyi bahkan bermain alat musik. Aku hanya tidak punya peluang, aku pasti akan terkenal dan menghasilkan banyak uang untuk perusahaan jika aku diberi satu kesempatan saja!" Ujarnya dengan yakin.


"Cih... Sombong/ angkuh!" Ujar Delora dengan Piscel yang sangat kompak bahkan gaya meludah palsupun sangat persis sama. Hanya Kleine yang mendengarkan dalam diam dan percaya omongan Rich.


"Tapi aku mengatakan yang sebenarnya!" Ujar Rich lemah.


Delora ingin mengatakan bahwa Rich buruk jika bahkan para agen tidak menginginkan nya. Tapi, suaranya terkecat di tenggorokan karena Kleine sudah berbicara lebih dulu.


"Kontrakmu dengan perusahaan masih tersisa tujuh tahun sedikit kurang?" Tanya Kleine tenang.


Rich hanya mengangguk tanpa mengeluarkan suara lagi.


Rich yang mendengar nama itu merasa itu adalah kata yang sangat familiar. Namun, belum sempat Rich berpikir lebih jauh. Suara Kleine telah menginterupsi kesadarannya lagi.


"Kau yakin bisa menari dan menyanyi?" Tanya Kleine memastikan.


Rich mengangguk dengan percaya diri.


"Ini!" Ujar Delora malas dan menyerahkan handphone miliknya pada Kleine.


"Aku punya bibit bagus, mau atau tidak? Dalam tiga detik!" Ujar Kleine dengan santai.


Orang diujung sana sama seperti yang Delora alami tadi. Dia tidak bisa berkata-kata!


Tapi setidaknya dia diberi tiga detik untuk menjawab dibanding Delora yang bahkan tidak diberi kesempatan untuk bernafas sama sekali.


"Tiga...


"Dua...

__ADS_1


"... Sa...


"Ya!" Jawab orang diseberang sana cepat.


"Bagus, sampai jumpa!" Ujar Kleine dan mematikan telepon dengan sembarang dan menyerahkannya kembali pada Delora. "Terselesaikan!" Ujarnya ringan, mengambil tangan Piscel dan pergi dari sana sebelum semua orang sadar.


Saat Delora dan Rich sadar, Kleine sudah berdiri di pintu. Delora ingin mengejarnya, tapi dia terlalu malas untuk itu.


Kleine membawa mobil Piscel ke gang kecil tempat restoran Lea berada.


Jika tebakannya tidak salah, saat ini Lea sudah harus pulang.


Tidak seperti hari biasanya, restoran ini sangat sepi. Entah itu di luar ataupun didalam.


Zoey mengerutkan keningnya saat melihat dua orang gadis berdiri di pintu masuk.


Saat melihat Kleine dia menatap dua orang itu dengan tidak senang. "Ada gerangan apa yang membuat nona besar ini bersedia datang ke rumah kecil kami?" Tanya Zoey malas.


"Berlibur!" Jawab Kleine singkat. Mengambil kursi terdekat dan duduk dengan sembarangan.


"Kami ingin bertemu dengan Lea!" Ujar Piscel lebih sopan dibanding Kleine.


Merasakan nada Piscel yang begitu lembut dan sopan. Tentu saja Zoey memperbaiki sikapnya.


"Dia sedang tidur!" Jawab Zoey sedikit lebih sopan saat memandang Piscel yang terlihat enak dipandang.


"Kami tahu!" Jawab Kleine dengan malas. "Itu hanya basa-basi saja, yang benar-benar ingin kami temui adalah dirimu!" Tunjuk Kleine pada Zoey.


"Aku?" Heran Zoey dan ikut menunjuk dirinya sendiri.


"Tanpa Lea katakan, kami sebagai teman baiknya tahu apa yang akan terjadi. Sebenarnya aku tidak benar-benar ingin dia bertemu dengan ibunya lagi. Tapi, aku tidak ingin hubungan kalian nanti penuh konflik hanya karena kebenaran yang terbuka karena buah sudah matang!" Jelas Kleine pelan dan penuh perhatian.


Zoey tidak membalas Kleine, dia merasa Kleine tidak membuat masalah kali ini. Piscel mengambil inisiatif untuk duduk karena tidak ada yang menawarkan kursi untuknya. Karena dia merasa tidak ada hubungannya dengan topik ini, jadi dia diam saja dan membaca buku menu dengan penuh perhatian.


"Aku tidak melarangmu untuk marah pada Lea atau membantunya karena berbohong. Tapi aku melarangmu untuk marah terlalu lama. Juga jangan perang berbuat hal yang akan menyakiti hatinya. Lea itu adalah mutiara yang sangat berharga bagiku.


Jika kau kehilangannya suatu hari nanti karena tidak menghargai dan menyimpannya dengan baik. Maka itu pasti telah kembali ke laut tempat asalnya. Saranku..." Kleine berdiri dan berjalan mendekati Zoey.


###

__ADS_1


__ADS_2