Serangan Cinta CEO Dingin

Serangan Cinta CEO Dingin
Chapter Eighteen


__ADS_3

Ada banyak hal kecil yang bisa membuat kita bahagia. Namun, sayangnya kita yang terlalu sering tidak puas dengan apa yang ada didepan mata itu.


Seringkali kita lebih memilih pandangan yang lebih jauh dan lebih besar. Padahal, yang sudah pasti ada didepan mata.


Kita selalu berdalih tentang ini dan itu. Kita beralasan ingin lebih mengetes kemampuan kita sampai dibatas mana. Padahal, kita hanya ingin memenuhi hasrat yang besar saja.


Meskipun mimpi memang untuk dicapai. Dan batasan memang haruslah dilampaui, tapi kita juga harus melihat sebagaimana kita mampu dulu sebelum melangkah lebih jauh.


Namun, puas diri bukan berarti berhenti dititik itu. Puas diri hanya untuk mensyukuri apa yang didapat dulu. Masalah yang lebih jauh, kamu bisa menikmatinya setelah selesai menghabiskan nikmat yang sekarang.


***


Karena tadi Kleine memang sudah makan. Dia tidak makan banyak, dia mendorong beberapa makannya ke depan Jefri yang sedang makan dengan lahap.


Kleine memindai Jefri yang sedang asik dengan dunianya sendiri itu dengan wajah datar.


Menurut pengamatan Kleine, bocah ini haruslah berumur enam belas atau tujuh belas tahun.


Mungkin baru kelas satu atau dua SMA. Sekarang adalah hari Senin, seharusnya dia sedang bersekolah di pagi hari seperti ini.


Tapi, dia justru mencopet dan mendapat pukulan dari warga. Di lihat dari hati wajahnya, seharusnya Jefri adalah famous sekolah. Dari serial drama yang biasa Kleine tonton, tipe wajah seperti Jefri akan memiliki seluruh gadis sekolah sebagai penggemar.


"Terus makanlah dan dengarkan dalam diam!" Ujar Kleine dengan malas.


Kedua tangannya terlipat di atas meja bulat itu. Lalu, kepalanya dia letakkan pada kedua tangannya.


"Aku sebenarnya bukan orang baik, tapi kau cukup benar kalau aku adalah orang kaya. Aku bisa membantumu membayar biaya pengobatan adikmu. Tapi, aku tidak ingin kau bekerja untukku. Aku ingin kau membantuku dengan satu hal.


Hal ini cukup menegangkan, siap tidak siap kau harus menerimanya. Tidak ada penolakan ataupun penyesalan. Aku bisa memberikanmu waktu untuk berpikir lagi..."


"Tidak perlu!" Potong Jefri dengan cepat.


Meskipun dia merasa merinding saat mendengar setiap kata dari Kleine. Dia tetap tidak ragu, seburuk apapun itu. Dia yakin, selama dia mengikuti Kleine. Dia jelas tidak kan pernah dirugikan.


Walau dia sendiri tidak mengerti, dia hanya yakin dan percaya.


Kleine yang dipotong ucapannya merasa tidak senang. Dia mengamati Jefri dengan cermat.


Merasakan tatapan Kleine yang tampak biasa saja. Namun, tatapan itu berhasil membuat tubuh Jefri gemetar dan takut. Meskipun tatapan Kleine terkesan malas dan sangat tidak tajam. Tapi, itu mengandung rasa dingin dan penindasan yang kuat.


Perasaan itu seperti sedang diintai oleh raja hutan!


Kleine melihat tangan Jefri yang gemetar dan rotinya juga jatuh kembali ke piring.


Mengangkat bahunya dengan malas, Kleine membuang muka.


"Baiklah, kau sendiri yang bilang. Jangan menyesal kemudian!" Ujar Kleine dengan malas. Badannya kembali dia lepaskan pada sandaran kursi.


Jefri tidak menjawab, dia hanya mengangguk dengan semangat.


Tidak peduli apa, seburuk apapun itu dia yakin itu bukan jenis yang terlalu ilegal bukan?

__ADS_1


Bahkan jika itu memang ilegal, lalu apa?


Organisasi yang mengincarnya itu juga bukan orang baik. Dan untuk membalas dendam adiknya, tentu saja dia harus menjadi jahat pada akhirnya.


"Apa kau sudah selesai?" Tanya Kleine bosan saat melihat Jefri duduk termangu dan tidak melanjutkan makannya.


"Ah?" Bingung Jefri, dia menatap Kleine dengan mata bulat yang penuh tanda tanya.


Meskipun wajahnya memar dan sangat membiru. Tapi, dengan mata bulat dan wajah yang bingung itu. Apalagi wajahnya adalah salah satu jenis ketampanan yang banyak disukai gadis. Itu benar-benar tak tertahankan.


Bahkan dua gadis remaja yang duduk tidak jauh dari mereka tidak bisa menahan diri untuk berseru bahagia.


Bahan salah satu dari keduanya berjalan mendekat.


"Itu, apakah aku bisa mendapat WeChat mu?" Tanya gadis itu dengan malu-malu. Pipinya memerah di kulit yang putih itu menjadi sangat menggoda.


Kleine menaikkan sebelah alisnya dengan senyum licik.


"Sungguh lucu!" Pikir Kleine.


Jefri menoleh dengan wajah datar.


"Aku tidak punya WeChat, bisa jangan ganggu kami?" Tanya Jefri setelah penolakan dingin pada wanita muda itu.


Karena malu, gadis itu berbalik dan menarik temannya keluar dari kafe secepat mungkin setelah membayar.


Kleine tidak mempertanyakan tingkah Jefri yang dingin dan cuek itu. Dia hanya tersenyum semakin dalam, dan menatap Jefri dengan nakal.


Jefri menatap Kleine bingung, sepertinya tadi dia mendengar sesuatu. Tapi, dia tidak mendengarnya dengan jelas. Dan Kleine juga tidak terlihat akan menjelaskan. Jadi, dia tidak bertanya lebih banyak.


"Selesaikan makanmu dengan cepat! Aku sudah bosan menunggu disini seharian," ujar Kleine dengan nada kesal dan sangat melebih-lebihkan.


Jefri memutar matanya dengan malas, untung Kleine tidak melihatnya karena Jefri sedang menunduk. Kalau tidak, kurasa tidak akan semudah itu.


Jefri tetap menunduk dan melanjutkan makan dengan cepat.


Setelah mereka keluar dari kafe. Sinar matahari sudah melambung tinggi. Kleine menatap keatas dengan cemberut.


Wajahnya yang cantik dan cemberut adalah gabungan yang sangat imut. Banyak orang yang lewat menjadi ngiler ataupun suka. Seperti beberapa wanita yang lewat, mereka melihat Kleine dengan tajam tanpa Kleine tahu siapa mereka.


Atau beberapa pemuda yang akan bersiul dan mencoba meminta WeChat Kleine.


Kleine menolak mereka semua dengan dingin. Bahkan dia sampai memukul seseorang sebagai contoh bahwa dia tidak mudah didekati.


Jefri yang mengikuti dibelakangnya menatap dengan kagum pada gerakan indah Kleine.


Tendangan itu sangat kuat dan lincah. Jika bukan karena terlalu lama menahan diri, mungkin Jefri sudah bertepuk tangan dengan ria sekarang.


Semua orang bahkan melihat dengan senang. Ada yang ingin memvideokan ulah Kleine. Tapi, mereka harus menyesal karena sebuah mobil Meserati hitam berhenti dan menyeret Kleine serta Jefri pergi.


Karena merasa tidak ada yang perlu ditonton lagi, kerumunan itu bubar.

__ADS_1


"Apakah kau tidak bisa berhenti membuat keributan disaat aku menjemput? Jika dia tahu, pasti aku lagi yang akan disalahkan!" Ujar seorang pria berusia yang sama dengan Kleine kesal.


Dia menatap Kleine yang duduk disampingnya.


"Apa kamu harus menyalahkan Tuhan kerena wajahku terlalu cantik ini?" Tanya Kleine percaya diri.


Pria itu tersedak, untunglah dia sudah mendapat SIM. Jika tidak mungkin sekarang sudah menabrak karena jawaban Kleine terlalu percaya diri.


Jefri mengalami jungkir balik karena mobilnya yang berhenti mendadak dan melaju mendadak kemudian.


Hanya Kleine yang tenang karena dia sudah memasang seatbelt.


Mendengar suara yang kacau dibelakang, pria itu menoleh. Barulah setelah itu dia ingat bahwa ada orang lain selain Kleine hari ini.


"Siapa dia?" Tanya pria itu dengan bingung.


Kleine mengabaikan mereka, matanya tertutup seakan dia sedang tidur. Tapi, mulutnya tetap terbuka untuk menjawab.


"Manusia, tentu saja!" Jawabnya tanpa beban.


"Aku bertanya namanya dan mengapa dia bisa ada disini!" Gumam pria itu dengan gigi yang beradu.


"Tanya orangnya, aku tidak ingat siapa namanya!" Jawab Kleine malas dan membuang muka untuk benar-benar tertidur.


"Selalu saja!" Ujar pria itu dengan emosi yang tidak hilang.


"Namaku Bles, siapa namamu?" Tanya pria itu.


Jefri tidak menjawab, dia hanya menatap dengan bingung.


Menebak pikiran Jefri, Bles menjawab dengan acuh.


"Seseorang pernah berkata padaku untuk memperkenalkan diri sendiri dulu sebelum ingin tahu nama orang lain;" jawabnya dengan dongkol dan melirik Kleine yang sudah terlelap.


Memahaminya, Jefri mengangguk dengan ringan. Dia juga melirik Kleine yang sudah tidur itu.


Sepertinya dia bertemu dengan kakak perempuan cantik yang hebat dan juga unik! Pikir Jefri dalam hati.


"Namaku Jefri, aku adalah orang beruntung yang bisa mendapat bantuan kakak ini," jawab Jefri percaya diri yang membuat Bles kaget dan kembali mengguncang mobil sampai Kleine yang baru tidur langsung terbangun.


Kleine menatap Bles dengan tajam.


Menghadapi tatapan Kleine, bukannya takut. Bles justru tertawa dengan sangat keras. Membuat Jefri dengan Kleine menatap pria itu dengan ngeri.


Saat di yang ada dipikiran keduanya hanyalah:


"Dia sudah tidak waras!" Pikir Kleine menggelengkan kepalanya dengan ikhlas.


"Apakah dia gila?" Pikir Jefri dengan sedikit takut, dia melihat tangan Bles yang memegang kemudi.


Apakah mereka masih akan sampai tujuan dengan selamat? Pikir Jefri semakin jauh.

__ADS_1


__ADS_2