
Saat ini Aigiee sangat puas dengan lukisannya yang begitu indah. Dia menatap tiga bocah itu dan mengangguk pada kepala pelayan.
"Karena yang nakal telah dihukum, maka aku meringankan hukuman kalian berdua..." Dia menatap dua pelayan yang bersembunyi di balik kepala pelayan.
"Kalian hanya perlu berlari keliling taman depan sebanyak sepuluh kali saja. Dan kau awasi dia, dan mereka boleh kembali ke kamarnya!" Setelah memberikan banyak titah. Aigiee berjalan melewati mereka dengan kunci mobil terbarunya.
"Oh..." Dia berbalik dan menatap kerumunan yang hendak bubar. "Setelah guru privat mereka datang, katakan untuk memberikan salinan materinya padaku." Perintahnya pada kepala pelayan.
"Dan kalian..." Tatapnya pada ketiga bocah yang baru saja lepas dari genggaman penjaga. "Aku akan mengetes kalian setelah ini. Jika kalian tidak bisa menjawab, maka bersiap-siaplah untuk hasil yang sangat tidak kalian sukai!" Ancamnya dengan ganas.
Lalu Aigiee berbalik dengan gembira.
Zoey sangat tidak beruntung. Dia baru mengetahui bahwa mertuanya adalah musuh ibunya dan mantan kekasih ayahnya!
Dia bahkan baru tahu jika rival lamanya ini dulu adalah tunangan istrinya.
Dihadapkan satu meja dengan satu musuh masih baik-baik saja. Tapi ini dengan dua musuh bebuyutan dan masih dengan istri yang telah membohonginya selama dua tahun!
Dua tahun!!!
"Sayang banget loh kamu gak jadi mantu mama, padahal waktu itu mama udah cocok banget sama kamu!" Ujar Daisy, ibunya Lea pada Max.
"Kalau cocok kenapa gak sama mama aja?" Tanya Lea kesal karena ibunya membahas hal itu didepan suaminya.
"Kamu ini!" Marah Daisy karena Lea bicara sembarangan.
"Ah, Tante bisa aja. Jadi gak enak!" Ujar Max cepat untuk menghindari pertengkaran ibu dan anak. Dia sangat mencintai Lea bagaimana mungkin dia bisa tahan melihat wanita itu dimarahi oleh ibunya sendiri?
"Ma, aku pulang karena permintaan mama. Aku bawa Zoey juga karena sekarang aku udah punya suami. Mama bisa gak hargai Zoey demi aku dikit aja? Kalau gak bisa yaudah, mending mama gak usah ganggu kehidupan Lea lagi. Cari aja anak lain di panti, terus kawinin tuh sama menantu pilihan mama!" Teriak Lea tidak puas karena sejak tadi ibunya selau memojokkan suaminya.
"Ayo mas kita pulang!" Ujar Lea dan menarik tangan Zoey untuk pergi dari rumah yang tidak pernah membuat dia nyaman itu. Lea sedikit menyesal sekarang.
__ADS_1
Untuk apa dia memikirkan perkataan Kleine?
Lihat saja sekarang, semuanya menjadi semakin berantakan. Zoey yang terus dihina ibunya dan dibandingkan dengan Max. Dan Zoey yang tidak mendapat apapun di kunjungan ini.
Zoey tidak berdiri, dia menarik tangan Lea dan memintanya untuk duduk kembali dengan kode mata.
Zoey merasa kalah jika dia pergi sekarang, dia tidak akan pergi sebelum makan siang ini selesai.
Daisy tidak terpengaruh dengan perkataan dari Lea. Dia terus mengangkat berbagai makanan dan meletakkannya di piring Max. Dia bahkan tidak peduli jika Lea pergi dengan cepat, dia muak melihat anak wanita yang pernah menjadi saingan cintanya.
Lea mendapat tatapan dari Zoey dan dengan enggan duduk kembali.
"Makan yang banyak nak Max, kamu kelihatan kurus banget sekarang!" Ujarnya mengabaikan sepenuhnya dua orang itu.
Lea makan, begitu juga Zoey. Mereka makan dalam diam dan tidak ingin memicu perdebatan yang tidak berarti. Tapi setelah mendengar itu Lea mencibir, "nyenyenye, sekalian aja nikahin tuh Max sama anak orang lain. Bukannya waktu itu bilang udah anggapan Max anak sendiri kan?"
Daisy masih tak bergeming. Dia terus makan dengan riang bersama dengan Max. Tapi, Max tidak setenang Daisy. Dia ingin mengatakan sesuatu agar Lea berhenti marah dan ingin menjelaskan bahwa ini hanya salah paham. Tapi memang apa yang salah paham?
"Punya anak seperti merawat lintah yang kenyang menghisap darah langsung pergi begitu saja!" Ujar Daisy dengan sarkas.
Lea yabgs udah muak dengan sikap ibunya tidak lagi ingin peduli. Dia terus berjalan keluar bersama dengan tangan Zoey.
Zoey juga tidak mencegah Lea menarik tangannya lagi. Dia tahu emosi Lea dengan baik. Jadi dia hanya bisa tersenyum senang dengan Lea yang sejak tadi selalu membelanya apa pun yang ibunya katakan.
Saat mobil keluar dari gerbang rumah, air mata Lea tidak bisa ditampung lagi. Kedua tangannya menutupi wajahnya.
Zoey tidak menghiburnya saat ini. Dia tetap fokus menyetir menjauh dari rumah itu. Saat ada di jalan yang sepi, dia berhenti dan menatap Lea.
Lea tidak tahan lagi dan berlari ke pelukan Zoey.
"Aku tahu seharusnya gak bohong sama kamu. Tapi kamu tahu sendiri kan setelah datang kesini! Ibu aku sama ibu kamu musuh. Dan kamu juga benci banget sama ibu aku. Kita mungkin gak akan pernah nikah selamanya. Dan yang paling parah kamu pasti benci banget sama aku setelah tahu identitas asli aku.
__ADS_1
Aku gak maksud nyembunyiin semuanya dari kamu... Tapi...hiks..." Lea terisak lama dan terus meminta maaf dan bergumam sampai dia terlalu Leah dan tertidur pulas.
Sekarang kemeja Zoey sudah basah kuyup. Dia dengan perlahan menggeser tubuh Lea kembali ke kursi penumpang dan memasang sabuk pengaman untuknya. Lalu dia mulai mengemudi lagi di tengah ketidaknyamanan yang dia rasa.
Lion yang pergi dengan ruang tadi siang kembali dengan wajah hitam saat ini. Semua karyawan menjadi sangat takut dan lebih takut Dati sebelumnya. Mereka berpikir, "apakah ada proyek besar yang gagal?"
Jadi, mereka hanya melirik sebentar sebelum dengan cepat kembali ke komputer mereka dan mencoba menyelesaikan tugas mereka secepat mungkin.
Geon juga tidak tahu apa yang terjadi pada Lion kali ini. Dia berada di garda paling depan dan dibelakangnya sekertaris yang memegang dokumen berdiri gementaran.
Bahkan para manajer yang ingin melaporkan pekerjaan mereka menjadi ragu untuk masuk keruangan.
"Tun Geon, bisakah anda membantu saya menyerahkan dokumen ini?" Tanya menajemen konsumsi pada Geon.
Geon menggeleng, "aku punya banyak hal yang harus di kerjakan. Kalian bisa langsung masuk saja sendiri!" Ujar Geon dan langsung melarikan diri dari tempat itu membuat kelompok itu memarahi nya karena menjadi begitu pengecut.
Bahkan tidak menyadari bahwa diri mereka sendiri juga pengecut.
Kleine yang telah membuat kerusuhan di tempat itu tidak peduli sama sekali.
Dia dan Piscel yang hendak kembali ke gedung balet melihat seorang anak murah sedang dimarahi oleh banyak orang.
Kleine awalnya tidak ingin peduli, tapi Piscel berbeda. Dia sangat peduli terhadap pembullyan karena dia juga pernah mengalami hal itu dulunya.
Mereka berjalan mendekat dan mencoba mengerti situasinya terlebih dahulu sebelum mengambil tindakan. Cukup lama mereka menonton dalam diam dan mengamati.
Sampai akhirnya Piscel turun tangan secara langsung untuk mencegah paman itu memukul pemuda yang sedang teraniaya.
"Semua masalah bisa diselesaikan dengan baik-baik tanpa harus menggunakan kekerasan!" Ujar Piscel dengan tangannya yang terus menahan tangan paman itu dengan kokoh.
###
__ADS_1
😂