
Pria itu berjalan mendekat.
"Apa yang kau lakukan padanya!" Tanya Aigiee dengan marah.
Pria itu tidak menjawab dan terus berjalan mendekat ke arah Aigiee dan Cuttie.
Dia berjongkok dan mengambil sesuatu di antara rambut lehernya yang lebat. "Temanmu cukup baik dalam bersembunyi, sayangnya dia terlalu mudah untuk bersaing denganku!" Ujar pria itu dengan senyum aneh.
Dia mengamati alat perekam suara yang kecil itu. "Dengar! Ini adalah Bisnisku dengan dia, sebaiknya kau jangan ikut campur... Atau mungkin ini akan menjadi lebih buruk lagi!" Ujarnya dengan dingin.
"Apa yang kau lakukan!" Teriak Aigiee dengan marah, dia merebut benda kecil itu tapi tidak berhasil karena pria itu telah membuang perekam itu ke sembarang arah dan di injak dengan ganas oleh pelayan terdekat.
Mata Aigiee memerah karena melihatnya. "Sayang!" Ujarnya dengan rendah dan mengangkat dagu Aigiee. "Berpura-pura lupa dan tidak tahu tidak akan membuat mu terhindar dari kejadian itu!" Ujar pria itu dengan senyum manis dan membuang dagu Aigiee dengan kasar.
Dia berdiri dan menatap ketiga anaknya yang menatapnya bangga.
"Mulai sekarang dia akan selalu di rumah, jangan nakal lagi!" Ujar pria itu malas dan berjalan ke luar setelah memberi perintah pada bawahannya.
Beberapa orang berseragam hitam itu maju dan merebut Cuttie dari Aigiee. "Apa yang kalian lakukan? Kembalikan!" Teriak Aigiee dan menyerang orang-orang yang mengambil Cuttie darinya.
Tapi dia merasa tubuhnya lemah dan tidak berdaya. Setiap serangannya seperti sedang menggunakan tahu untuk menghancurkan batu.
"Kau tenang saja, aku tidak akan membunuhnya. Hanya membiarkan dia kembali pada tuannya yang usil!" Ujar pria itu berbalik sejenak, dia melirik jam di tangannya dan segera bergegas pergi lagi.
Saat kata-kata pria itu berakhir, kesadaran Aigiee juga berakhir.
Bles memberitahu tentang kondisi Kleine pada Piscel. Piscel merasa sangat bersalah karena dia merasa telah menyakiti Kleine. Dia sangat ingin menemui Kleine saat ini. Tapi, mereka hanya bisa bertemu beberapa bulan sekali untuk menghindari kecurigaan dari seseorang.
"Apa makanannya siap?" Tanya Dewi dari pintu dapur.
"Iya, sebentar lagi!" Jawab Bles dengan cepat.
__ADS_1
Dewi menggeleng dan berjalan ke meja makan. Dia sesekali akan melihat ke arah kamar Kleine. Bles dengan cepat membawa dua hidangan di tangannya, "tunggu dulu, masih ada beberapa hidangan lagi!" Ujarnya dan dengan cepat kembali ke dapur.
Dewi hanya mengangkat bahunya dengan malas, "terserah!" Ujarnya dan mulai membaca sesuatu dari handphonenya.
Sebenarnya itu tidak lain dan tidak bukan tentang berita yang baru saja Kleine hebohkan. Dengan cepat, K.E entertainment mendapatkan kembali harga sahamnya yang sempat turun. Karena banyak tikus yang terbuang, Delora hanya bisa meninggalkan senyum pasrah.
Tidak masalah, lagipula bukan dia yang akan mengurus hal itu. Setelah masalah ini selesai, dia akan mengambil cuti satu pekannya dengan riang. Dia sangat merindukan kekasihnya dan ingin berkunjung ke negeri kincir angin itu.
Dia tidak tahu bahwa saat ini Kleine sedang demam. Jika dia tahu, dia mungkin akan menjadi gelisah karena liburnya mungkin akan di tunda.
"Apa yang kau lihat?" Tanya Bles yang saat ini sudah duduk rapi dengan sendok dan garpu di masing-masing tangannya.
"Tidak ada!" Jawab Dewi cepat dan menyimpan handphone itu di sakunya.
Lalu dia melihat ke sekeliling, "apa kau tidak mengundangnya untuk makan bersama?" Tanya Dewi dengan pelan.
"Kau ini bagaimana? Aku sudah memasak! Tentu saja sisanya kau yang melakukan nya..." Ujar Bles tidak terima di jadikan pembantu gratis.
"Jangan lupa siapa yang mengundangku kesini!" Ujar Dewi dengan malas dan mulai mengambil makanan ke piringnya sendiri.
Tapi saat dia berbalik dia melihat Lion yang berdiri di depan pintu. "Tidak perlu, kalian makan saja!" Ujarnya dan berjalan dengan gelas kosong ke dapur.
"Apa dia sudah sadar?" Tanya Dewi yang langsung mengangkat telinga Bles dengan cepat Bles melihat Lion meminta jawaban.
Lion melihat Dewi dengan aneh dan hanya mengangguk kecil, "dia sudah bangun!" Ujarnya pelan.
Saat ini Bles ingin segera berlari dan menemui Kleine, tapi suara Dewi menginterupsinya. "Dia hanya setengah sadar saat ini, lebih baik untuk tidak mengganggunya dulu."
Bles dengan enggan kembali duduk dan ikut makan bersama Dewi. Awalnya dia tidak berniat makan karena masih mengkhawatirkan Kleine. Awalnya dia hanya akan makan beberapa saja yang cukup untuk membiarkan perutnya aman dari kehampaan.
Namun, setelah dia tahu bahwa Kleine baik-baik saja. Dan sudah siuman, dia menjadi bersemangat untuk makan.
__ADS_1
Lion memotong sedikit sayur dan wortel. Dia juga memasukkan ikan ayam yang dia potong kecil-kecil. Lalu mulai mencuci beras dan mulai menyatukan semua yang dia potong tadi, menambahkan sedikit garam. Lalu dia memasukkan wadah ke rice cooker.
Sembari menunggu bubur siap, Lion mulai memasak air untuk membuat susu.
Air itu matang dengan cepat, Lion mulai membuat susu. Selagi menunggu bubur siap, Lion mengantar susu ke kamar Kleine.
"Minumlah ini dulu," ujarnya dengan lembut.
Kleine yang berbaring perlahan membuka matanya yang sangat berat.
Kleine hanya memalingkan muka tanpa darahnya itu ke samping yang menandakan bahwa dia tidak ingin meminum benda itu.
Lion meletakkan susu di nakas setelah menyingkirkan wadah air kompres. "Minumlah sedikit saja, aku sudah membuatkan bubur untukmu, rasanya pasti tidak mengecewakan." Ujar Lion dan membantu Kleine untuk duduk.
Kleine hanya menggeleng karena dia tidak memiliki kekuatan untuk bersuara.
Dia juga ingin memberontak jika bukan karena saat ini dia tidak bisa bergerak sama sekali. Jika bisa, dia sangat ingin mengatakan bahwa dia tidak suka benda lembek dan cair yang di sebut bubur itu.
Tapi, Lion tidak peduli meskipun dia mengerti pandangan Kleine.
Dengan bantuan dari Lion, atau lebih tepatnya paksaan dari Lion. Kleine meminum seperempat susu di gelas.
"Kau pasti makan sembarangan siang kemarin, lain kali kau harus memperhatikan apa yang kau makan!" Omel Lion setelah berpikir keras apa yang mungkin membuat gadis di depannya sakit.
Dia tidak bisa memikirkan hal lain, kecuali makan siang yang di tolak oleh Kleine kemarin. "Dan jangan memakan terlalu banyak Snack." Dia menatap Kleine yang hanya mengabaikan ucapannya. "Itu tidak baik untuk kesehatan!" Lanjutnya.
"Buburnya sudah matang!" Ketuk Dewi di pintu, dia melihat gadis kecil yang keras kepala itu sedang di omeli oleh seorang pria. Entah mengapa dia merasa senang melihatnya.
Lion menoleh dan mengangguk tanda mengerti. "Aku akan mengambil lainnya untukmu, tunggu sebentar dan jangan tidur dulu!" Ujar Lion dan dengan cepat pergi tanpa menunggu persetujuan dari Kleine.
Kleine yang menggelengkan kepalanya hanya menatap Lion dengan kesal.
__ADS_1
Dewi melihat wajah Kleine yang sedang kesusahan, dia dengan baik hati menyampaikan apa yang ingin di sampaikan oleh Kleine pada Lion. "Dia sebenarnya sangat tidak suka bubur yang asin, kau mungkin membuat dia semakin sakit jika memberinya bubur itu."
###