
Setiap orang baik, bukannya tidak punya sifat jahat.
Setiap orang yang penyabar, bukannya tidak punya sifat gegabah.
Setiap orang yang suka mengalah, bukannya tidak punya sifat egois.
Hanya saja, semua itu terkumpul di kedalaman hatinya dan dia tekan sebaik mungkin agar tidak pernah keluar.
Tapi, mungkin dia lupa satu hal. Bahwa sebaik apapun kamu menyembunyikan sesuatu, pada akhirnya sebuah rahasia akan mencari jalannya sendiri untuk keluar.
Semua sifat buruk yang di sembunyikan di hati tadi pada akhirnya akan bersatu dan memberontak bersama. Dan akhirnya menjadi iblis hati yang bisa melukai diri sendiri pada akhirnya.
Tapi, bukankah menjadi orang yang terlalu baik dan terlalu sabar juga selalu menusuk diri sendiri, jadi semua itu tidak ada bedanya.
Jadilah adil pada dirimu sendiri, jangan selalu berpihak pada satu sisi.
Ingatlah ini dengan baik!
***
Kleine membuka matanya dengan berbagai usaha. Tangannya mencoba menghalangi sinar putih terang itu dari matanya yang rapuh.
Setelah matanya terbiasa dengan sinar itu, dia melepas tangannya menjauh dari pandangannya.
Ketika matanya melihat sekeliling, dia tidak melihat hal lain selain cahaya putih yang menyilaukan.
"Kau sudah sadar?" Tanya seorang pria yang juga menggunakan seragam putih.
Kleine tidak ingin menjawab pertanyaan yang tidak berguna itu. Dia justru ingin bertanya ada dimana dia sekarang. Tapi, ternyata suaranya tidak keluar. Tenggorokannya kering dan sangat serak.
Orang itu tampaknya mengerti apa yang sedang terjadi pada Kleine. Dia mengambil segelas air dari nakas dan memberikannya pada Kleine.
Gadis itu awalnya ragu untuk menerimanya, tapi karena dia sangat haus. Jadi, dia menerimanya dan langsung meminumnya tanpa basa-basi.
Orang itu tersenyum melihat tingkah Kleine yang kekanakan.
"Pelan-pelan... Jangan sampai tersedak!" Ujar pria itu dengan baik hati mengingatkan.
Kleine tidak menanggapinya dan terus minum segelas air putih itu dengan rakus.
Setelah itu, Kleine menyerahkan gelas itu dengan sedikit malu-malu. Dia menatap pria itu dengan wajah kecil yang menggemaskan.
"Apa kamu mau lagi?" Tawar pria itu setelah mengambil gelas dari kedua tangan Kleine yang terulur.
Kleine menggelengkan kepalanya. Pria itu meletakkan gelas itu kembali ke nakas dan melihat Kleine yang tampak bermasalah.
"Ada apa?" Tanya pria itu dan mengangkat satu alisnya.
Kleine memberanikan dirinya untuk berbicara.
"Aku, ini dimana?" Tanya gadis itu dengan gugup.
__ADS_1
Pria itu menatap Kleine yang polos dengan tidak berdaya.
Gadis yang begitu polos ini, dia tidak tahu harus bagaimana lagi menanggapi tuannya.
Kenapa dari sekian banyak orang, harus gadis kecil dan lugu ini yang terpilih?
Tapi, tuannya telah memutuskan dan dia tidak akan pernah punya keberanian untuk sedikit membantah.
"Oh, kau hanya bertanya tentang itu? Apa kau penasaran mengapa kau ada disini?" Tanya pria itu dengan senyum sumringah.
Dia menyeret kursi yang berada di ujung bangsal Kleine menuju ke dekat kepala Kleine.
Kleine sedikit waspada dengan perbuatan pria itu. Namun, meski tubuhnya tegang, dia tetap mengangguk.
"Baiklah, biar aku beritahu kamu tempat apa ini... Ini adalah rumah sakit, tentu saja rumah sakit! Kau tahu rumah sakit? Ya, tempat orang untuk mengobati orang sakit!" Ujar pria itu berbicara sendiri dengan asik.
Kleine yang menyaksikan pria bodoh dihadapannya memutar matanya dengan malas secara tidak sadar.
Pria itu selalu memperhatikan tingkah Kleine dan dia tidak melewatkan sedikitpun pergerakan Kleine. Dia bahkan sedikit terkejut saat melihat Kleine yang tadi memutar matanya dengan malas.
Mulutnya yang terbuka lebar juga sampai lupa ingin mengucapkan apa.
Luar biasa! Pikirnya dalam hati.
Kemana perginya gadis penakut dan polos tadi?
Itu sungguh seperti sebuah akting, tapi untuk anak desa dan di umur sekarang bagaimana mungkin bisa berakting dengan baik?
Sudah pasti orang yang dipilih tuannya akan berbeda dari yang lain. Benar, bagaimana dia bisa meragukan penglihatan tuannya yang lebih tajam dari mata elang?
Pria itu mencubit pahanya dengan kuat, sadar! Dia harus sadar!
"P,p...paman?" Tanya Kleine saat melihat pria itu terdiam begitu lama dan tidak melanjutkan ceritanya.
Pria itu tersadar dan melihat Kleine yang kembali polos seperti sebelumnya.
Ini benar-benar terlalu cepat bukan? Siapa yang bisa lebih cepat dari dia dalam mengubah ekspresi?
Oke, baiklah! Tenang! Ujar pria itu dalam hati.
"Ah, oh! Ya benar, jadi sebelum aku melanjutkan ceritaku. Bagaimana kalau kita berkenalan terlebih dahulu? Karena aku tahu namamu, jadi langsung saja aku sebutkan namaku. Hello cantik kecil! Namaku Keys, panggil saja itu!" Ujar Keys dan mengulurkan tangannya untuk bersalaman dengan Kleine.
Melihat Kleine yang tidak menanggapi dia apalagi tangannya yang terulur, dia menarik tangan Kleine untuk berjabatan dengan tangannya yang terabaikan.
Kleine merasa risih dengan tangannya yang diambil paksa dan digoyangkan itu. Dia menarik tangannya dengan tidak senang, dan menatap Keys penuh kebencian.
Keys juga menarik tangannya dengan gemetar.
Untuk pertama kalinya!
Ini adalah pertama kalinya dia merasa takut dengan tatapan seseorang kecuali tuannya. Dan yang paling mengejutkan Keys adalah hal yang menakuti dia adalah seorang anak kecil.
__ADS_1
Tidak bisa dipercaya!
"Ah, baiklah! Maaf membuat kamu tidak nyaman. Jadi aku akan melanjutkan ceritaku?" Tanya Keys dengan sedikit gugup.
Dalam hati dia berharap tatapan mengerikan Kleine segera berakhir.
Kleine tidak pernah menyadari bahwa tatapan matanya yang tampak biasa itu telah menakuti orang didepannya.
Dia bersandar kembali pada kepala bangsal dan mengangguk. Dia sangat tidak menyadari bahwa saat dia bertingkah seperti itu, dia seperti seorang bos besar.
Keys menelan ludahnya dengan susah payah. Oh, gadis ini bahkan belum dilatih oleh tuannya. Tapi, setiap tingkah dan auranya sudah sama dengan milik tuannya.
Sungguh mata tuan tidak pernah menipu!
Jadi, setelah pandangan Kleine menjadi tenang. Keys bisa melanjutkan cerita dengan lancar.
Dia menceritakan awal mula mereka menemukan Kleine di tepi sungai dalam keadaan tidak sadar.
Karena tuannya melihat tubuh gadis kecil yang tidak berdaya itu, dia menolongnya dan membawanya ketempat ini.
"Lalu bagaimana dengan orangtuaku?" Tanya Kleine saat ingat ayah dan ibu tirinya telah mengejar dia saat dia sedang hanyut.
"Ah, tuannya memang melihat mereka sebelumnya. Mereka berbicara tentang kamu, tapi aku tidak tahu detailnya. Lalu mereka pergi dengan sebuah koper yang sangat indah. Tuannya juga bisa tahu namamu setelah mendengar percakapan kedua orang itu dalam persembunyian dia!" Jawab Keys dan berpura-pura tidak tahu banyak detail tentang kejadian itu.
Dia sengaja tidak menceritakan semua isi percakapan kedua orang tua gadis itu. Dia hanya tidak ingin gadis itu kecewa karena orang yang dia percayai dan sayangi hanya memanfaatkan dia saja.
Haiyah, gadis ini sebenarnya terlalu kecil untuk hidup yang begitu menderita.
Apalagi setelah ini...
Ah, lupakan! Dia tidak boleh terlalu memikirkan hal itu.
Tugasnya hanya merawat gadis ini agar menjadi sedikit sehat dan tidak kurus seperti saat ini. Dan juga menghasut gadis ini agar mau tinggal bersama dengan tuannya.
Ya, itu saja tugasnya. Untuk hal lain, bukan tugasnya untuk memikirkan hal itu.
Sedangkan, Kleine sendiri yang mendengar itu hanya bisa tersenyum mengejek dirinya sendiri.
Selama ini dia selalu bermain bodoh. Pada nyatanya, dia tahu banyak hal. Sebelumnya dia terlalu berharap, tapi dia juga tahu bahwa dia memang memasang harapan itu sendiri terlalu tinggi.
Sekarang, buang saja harapan itu. Meskipun usianya masih kekanakan, tapi pikirannya sudah lama didewasakan oleh keadaan.
Sejak awal dia sudah bisa menebak sesuatu, tapi dia tidak bisa memastikannya.
Tapi, setelah drama di tepi sungai itu. Dia rasa dugaan dia selama itu tidak melenceng terlalu jauh.
Jawaban Keys hanya menyakinkan dia saja. Kerena sebelum bertanya dia sudah memiliki jawabannya sendiri.
Dan sekarang, dia sadar!
Dia tidak boleh terus terjebak di zona ini. Jadi, ayo kita berubah!
__ADS_1