
Sebuah jalan itu ada untuk menjadi pengarah kita menuju tujuan kita. Namun, kadang jalan itu sedikit bercabang. Bukan karena jalan itu tidak ingin kita sampai pada tujuan kita dengan cepat dan mudah.
Tapi, seperti waktu yang bukan miliki kita sendiri. Begitu pula dengan jalan. Ada orang lain yang berjalan dijalan yang sama denganmu. Ada orang lain yang akan menemani jalanmu yang terlalu sepi.
Dan akan ada waktu dimana mereka akan kembali di jalur mereka sendiri. Jadi, jika kamu kesal dengan seseorang yang menganggu hidupmu, sabar saja. Dia nanti juga akan pergi dengan sendirinya.
Sayangnya kamu juga harus siap menghadapi sebuah kenyataan. Bahwa ada pendamping yang sementara, dan ada yang hadir untuk menemanimu selamanya.
Jika pendamping itu hadir untuk selamanya. Maka, terimalah dia dengan segala ketidakmauanmu. Karena kadang dia tetap ada disisimu, tapi jiwanya bisa jadi bukan milikmu lagi.
***
Kleine membuka pintu yang begitu besar itu sendirian. Dia mendorong satu daun pintunya dengan asal.
Dia masuk kedalam rumah dengan nuansa hijau cerah yang begitu dia sukai.
"Apakah kau sudah pulang?" Tanya Delora saat dia melihat Kleine membuka pintu dari tangga.
Kleine memutar matanya dengan malas. Apakah dia terlihat seperti belum pulang? Pikirnya dengan jengkel.
"Tidak! Aku tidak pulang!" Ujarnya dengan nada emosional.
"Ups, santai aja kali nona bos! Ini Indonesia, basa-basi adalah hal yang wajib!" Ujar Delora memelas saat menghadapi sikap tidak sabaran Kleine itu.
"Lupakan! Apakah disebelah sudah dihuni?" Tanya Kleine.
Pasalnya tadi dia melihat sebuah mobil yang asing masuk ke komunitas ini.
Dan dia sudah menebaknya sejak awal melihat mobil itu. Karena sudah beberapa hari ini ada keributan dari rumah sebelah. Karena itu juga Kleine merasa tidak senang selama waktu renovasi itu.
Sekarang, dia berharap tetangga itu akan hidup dengan damai tanpa ada keributan.
"Ya, aku melihat mobilnya berhenti didepan pintu saat kau tiba-tiba meneleponku tadi!" Jawab Delora santai.
Dia mengambil makanan di atas kursi dan duduk dengan mulut menangkap setiap butir kacang yang terlempar ke udara.
Kleine sebenarnya hanya bertanya, dia sudah tau kalau rumah itu sudah dihuni. Jadi, dia mengabaikan jawaban Delora dan berjalan menaiki tangga.
__ADS_1
"Oh, jangan lupa untuk membuatkan aku segelas susu hangat nantinya!" Ujarnya mengingatkan Delora saat dia sudah berada ditengah tangga.
"Oke!" Balas Delora dengan singkat.
Kleine melihat rumah sebelah dari balik tirai hijau muda yang terang miliknya.
Rumah itu sunyi seperti tidak ada penghuninya. Sama persis dengan suasana sebelum direnovasi.
"Sangat bagus untuk memiliki seorang tetangga yang pendiam!" Ujar Kleine dengan puas.
Dia menutup tirai dengan santai dan bergegas ke kamar mandi dengan senandung ria.
Sedangkan di rumah sebelah. Lion merasa ada mata tajam yang memandangnya dari sebelah kiri. Tapi, setelah beberapa saat. Pandangan tajam itu menghilang, membuat dia merasa yang sebelumny hanyalah pikirannya saja.
Dia membalik dokumen lagi setelah mengabaikan rasa tajam dari pandangan tadi.
Kleine selesai berhias dan siap turun tangga untuk segera pergi kekantor. Selaras dengan dirinya yang misterius. Kleine menggunakan cadar hijau muda yang serasi dengan bajunya yang hijau.
Saat dia keluar dari kamarnya, dia mencium bau yang sangat harum. Hidungnya mengendus dengan rakus.
Ini adalah bau yang sangat enak dan segar. Kleine tidak bisa menahan diri untuk tidak meneguk air liurnya.
"Bukankah sudah aku bilang kau tidak perlu repot membuat sarapan?" Tanya Kleine pada Delora yang sedang mengaduk sesuatu dan membelakanginya.
Delora mengerutkan kedua alisnya dengan bingung.
"Apa yang kau maksud? Aku tidak memasak apapun, ini hanya membuatkan pesananmu sebelumnya, susu! Apa kau berubah pikiran dan tidak mau minum lagi?" Ujarnya berbalik dan memperlihatkan segelas minuman putih yang kental.
"Ah, lalu siapa yang memasak? Mengapa bisa begitu harum?" Tanya Kleine pada Delora yang masih bingung.
"Bau harum apa yang kau maksud?" Tanya Delora dengan bingung, lalu tiba-tiba dia juga mencium bau harum yang menggoda dari arah kanan.
"Ekhm, ini sangat harus! Sepertinya tetangga baru kita yang sedang memasak?" Ujar Delora kemudian.
Sebelumnya Delora tidak mencium bau harum masakan itu karena dapur ini dipenuhi bau susu yang baru saja diaduk. Sekarang dia bisa mencium bau itu begitu rakus. Perutnya yang memang belum diisi karena belum sarapan memberontak dan menginginkan makanan itu.
Kleine mengangguk setuju, dia melihat ke arah sebelah yang tertutupi banyak dinding dengan mata rindu. Perutnya juga mulai berteriak ingin diisi.
__ADS_1
"Ah, sudahlah. Jangan dicium lagi baunya. Kau hanya akan menjadi semakin berhasrat jika terlalu banyak menciumnya. Kematian susuku!" Ujar Kleine pada akhirnya dan langsung menyerobot susu pesanannya dari tangan Delora.
Dia mengisi perutnya yang lapar dengan segelas susu. Karena pada dasarnya dia sangat lapar, terutama setelah dia berlari sepanjang pagi ini. Jadi, susu itu habis dalam sekali tegukan panjang.
"Ayo pergi!" Ujarnya pada Delora yang nampak masih ingin mendapatkan bau harum itu.
Tidak ingin menunggu Delora yang bengong. Kleine memasang cadarnya yang tadi dia lepas karena minum susu. Dia berjalan keluar dengan kunci yang dia mainkan di ujung hari telunjuknya.
Delora yang tadi masih menikmati aroma harum itu langsung tersadar saat tidak mendapati Kleine didepannya. Dia dengan cepat meletakkan gelas susu yang entah kapan Kleine kosongkan itu.
Setelah itu dia berlari ke depan. Untunglah mobil itu belum sempat dia panaskan sebelumya. Jika tidak, dia yakin Kleine sudah di gerbang sekarang ini dan akan meninggalkan dia seperti biasanya.
Membuat pintu Lamborghini hijau itu, dia melihat Kleine duduk di kursi kemudi.
"Eh, biar aku saja yang menyetir!" Ujar Delora dengan cepat dan ingin menarik tangan Kleine keluar. Tapi, tidak peduli sekuat apa dia berusaha. Kleine tidak bergerak sedikitpun dari kursi itu.
"Tidak perlu!" Tolak langsung Kleine dan dan mendorong Delora yang masih ingin menariknya keluar dari mobil.
"Tapi..." Ujar gadis itu setelah didorong oleh Kleine menjauh. Dia masih tidak setuju Kleine menyetir.
Pasalnya dia ingat terakhir kali Kleine menyetir dan nyawanya nyaris hilang karena kecepatannya melebihi rata-rata.
"Mau masuk atau cari taksi di luar sana?" Tanya Kleine menggoda Delora setelah menutup pintu dan membuka atap mobil.
"Ah, aku masuk! Aku masuk!" Ujar Delora dengan segera dan berlari memutari depan mobil.
Dia lebih baik naik mobil ini daripada harus berjalan keluar kompleks sendirian dengan jalan kaki. Terlebih lagi ini adalah bagian paling dalam kompleks. Untuk mencapai pintu gerbang kompleks, itu butuh ratusan kilometer. Dia tidak akan sanggup berjalan sejauh itu.
Karena kompleks ini sangat ketat, mobil yang boleh masuk kompleks ini hanya satu dari setiap rumah. Jadi, tentu saja di rumah ini tidak ada mobil lain.
Dan mobil lain tidak boleh asal memasukkan seseorang kedalamnya. Karena mereka takut, jika ternyata orang itu bukan orang kompleks.
Hukuman paling ringan dan paling akhir di kompleks ini jika melanggar peraturan adalah tidak diperbolehkan lagi memasuki kompleks.
Jika berani melanggar, uang pembelian rumah kan dikembalikan setengah. Dan mereka akan diusir dari kompleks ini. Dan hal itu sudah ada di perjanjian sebelum membeli rumah.
Karena kompleks ini dibuat oleh orang yang berkuasa. Dan sangat misterius, sampai sekarang tidak ada yang berani melanggar.
__ADS_1
Oh, itu mungkin sejak perlakukan beberapa tahun lalu pada pelanggar. Dan setelah itu baru benar-benar tidak ada yang berani melanggar lagi.