Serangan Cinta CEO Dingin

Serangan Cinta CEO Dingin
Chapter Twenty Five


__ADS_3

Kleine mengetuk pintu berwarna merah mudah didepannya.


"Cuttie? Apa kau sedang didalam?" Tanyanya dengan pelan, wajahnya tampak sangat senang walaupun dia tidak tersenyum.


"Cuttie?" Panggilnya lagi saat tidak mendapat tanggapan dari dalam.


Dia berjalan dua langkah lagi untuk menghapus jarak dengan pintu. Tangannya bergeser ke bawah tempat untuk membuka pintu. Dengan pelan, pintu itu perlahan terbuka. Tidak ada penerangan didalam, siangpun terasa malam ketika kamu membuka pintu.


Kleine mengerutkan keningnya dengan cemas, dia bergegas masuk dan mendapati Cuttie yang duduk telungkup dengan lemas. Kleine menarik nafas lega, dia bernafas berat sekali lagi sebelum maju mendekati Cuttie.


"Oh, lihat ada yang sedang marah disini?" Ujar Kleine dengan wajah menggoda. Dia duduk disamping Cuttie dan mengelus kepalanya dengan penuh kasih sayang.


Cuttie membuang muka menjauhi matanya dari wajah menggoda Kleine yang mengejeknya itu. Tapi, kepalanya tetap dia disana agar tangan Kleine tidak melepaskan elusannya pada dia.


Kleine tertawa kecil melihat aksi Cuttie yang marah namun tidak mau dia berhenti mengelusnya.


"Baiklah aku tahu aku salah, jadi maafkan aku ya?" Ujar Kleine meminta maaf dengan tulus, dia mengulurkan tangannya terbuka menghadap keatas disamping wajah Cuttie.


Cuttie mendengus dan tidak mau menanggapi Kleine, dia bergerak dan berdiri. Punggungnya menghadap wajah Kleine dengan sombong.


Senyum Kleine semakin lebar saat dia melihat tingkah Cuttie yang menurutnya semakin menggemaskan. Jadi, dia meloncat ke punggung Cuttie dan memeluknya dengan erat. "Jadi Cuttie tidak mau memaafkan aku?" Tanyanya dengan gemas tangan-tangannya memeluk perut Cuttie dengan erat. "Baiklah kalau begitu, ayo rasakan ini!" Teriak Kleine dan mulai menggelitiki Cuttie.


Cuttie merasa perutnya menjadi geli dan tidak nyaman. Kaki empatnya bergetar serentak, karena tidak bisa menahan dan terus berusaha menghindari pelukan erat Kleine. Mereka berdua akhirnya jatuh dan berguling-guling, Cuttie menggosokkan kepala bersurai panjangnya pada leher Kleine.


"Miawww,..." Geramnya pelan dan pasrah saat dia tidak berhasil menghentikan perbuatan tangan Kleine yang nakal.

__ADS_1


Melihat Cuttie yang sudah tidak melakukan perlawanan lagi, Kleine bertanya dengan sombong:"jadi, apakah sekarang aku sudah dimaafkan?" Dia memandang Cuttie yang terbaring lemas.


Cuttie menatap Kleine dengan mata kesal, dia hanya bisa mengangguk pelan dan mengeong kecil.


Ketuk ... ketuk...


Kleine menoleh saat dia mendengar suara ketukan itu. "Siapa!" Tanyanya dengan malas dan cuek seperti biasanya. Seakan wajah yang ceria dan konyol tadi bukanlah dia.


Dua pelayan wanita yang tadi diperintahkan untuk mengantarkan makanan tidak bisa menahan rasa dingin di punggung mereka ketika mendengar suara Kleine yang tampak tidak ramah itu.


"Ini kami nona, kami mengantarkan makanan untuk Cuttie!" Jawab salah satu mereka dengan gugup. Lalu membuka pintu dan memperlihatkan wajah mereka didepan Kleine.


Kleine hanya menanggapi dengan anggukan ringan lalu berkata untuk meletakkan makanan itu lebih dekat dengan dia.


"Letakkan saja disini lalu kalian bisa kembali ke tugas kalian lagi," perintah Kleine menunjuk kearah sampingnya.


Cuttie yang tadi sudah duduk sejak kedatangan dua orang itu melihat apa yang Kleine lirik. Dia membuang muka setelah melihat sejenak. Makanan yang lezat itu sudah terlalu membosankan untuk dimakan.


"Ada apa? Kau masih tidak mau memaafkan aku, itu sebabnya kau tidak ingin makan?" Tanya Kleine dengan bingung.


Singa manja itu menggeleng, tapi juga mengangguk dengan tidak pasti.


Kleine mematahkan kepalnya kearah samping kanan dan melihat singa manja itu dari bawah keatas dan dari atas kebawah berulang kali. Hal ini tentu saja membuat singa itu merasa bersalah dan sedikit cemas dengan tatapan Kleine yang tampak sangat aneh itu, dia bahkan mundur satu langkah dengan panik.


Kleine tersenyum kecil melihat tingkah menggemaskan singa kesayangannya ini. "Baiklah, baiklah jangan takut! Aku tidak akan menggigitmu, seharusnya aku yang takut kau gigit!" Canda Kleine dan megambil satu puring berisi daging panggang yang sangat besar.

__ADS_1


"Ini terlihat lezat, bagaimana kalau aku yang menyuapimu?" Tawar Kleine dengan tulus. Singa itu langsung bersemangat mendengar ucapan Kleine, dia mau dua langkah lebih dekat dengan gadis kecil itu.


Mulutnya terbuka lebar tanda bahWa dia siap menerima makanan. Saat yang bersamaan, pintu terbuka membuat tiga orang yang ingin masuk menjadi membeku. Paman Zen dan Bles sudah biasa melihat hal seperti itu. Tapi, Jefri tidak terbiasa. Dia berlari dengan panik hendak menyelamatkan Kleine dari kulit sang singa.


Tapi tangannya dicegah oleh Bles dan paman Zen. Jefri menoleh dan melihat kedua orang yang berdiri dimasing-masing sisinya itu dengan tanda tanya. "Kenapa kalian mencegahku? Apa kalian tidak melihat, singa itu akan memakan Kleine!" Teriak Jefri dengan marah.


Kleine dan singa itu menoleh dengan tidak senang terhadapĀ  teriakan itu. Mereka menatap dengan mata jama mereka, Jefri yang melihat kearah Kleine lagi menjadi terkejut dengan empat mata ganas itu.


"Benar-benar sama ganasnya!" Pikir paman Zen dan juga Bles.


Hanya Jefri yang berpikir bahwa dia merasa ada yang salah disini. Tapi, belum sempat dia ingin menanyakan keraguannya itu, tangannya sudah ditarik menjauh oleh Bles. "Maaf telah mengganggu nona, kami akan datang lagi nanti!" Ujar paman Bles lembut dan menutup pintu dengan sangat pelan sehingga tidak meninggalkan suara apapun.


"Baiklah sekarang tidak ada gangguan lagi! Buka mulutmu sebesar mungkin dan pesawat akan lepas landas...." Ujar Kleine dengan nada kekanakan yang ingin menyuapi seekor bayi kecil.


Singa itu juga tidak lagi merasa kesal, dia membuka mulutnya dengan sangat besar.


Sepotong daging sapi panggang yang beratnya mencapai dua kilogram itu langsung masuk dalam satu suapan saja. Kleine meletakkan piringnya dan mengambil satu piring lainnya.


Singa itu juga mengunyah dengan sangat cepat. Sehingga sepotong besar daging itu habis setelah beberapa menit saja.


***


"Tadi itu?" Tanya Jefri setelah berhenti dari tarikan Bles.


"Itu adalah Cuttie, hewan yang begitu Kleine manjakan dan hewan itu hanya akan menuruti perintah Kleine, dia bisa sangat ganas jika menghadapi orang lain. Tapi, dia akan sangat manja jika dihadapan Kleine. Dan tugas yang ingin Kleine berikan padamu nantinya sudah pasti akan berhubungan dengan dia, jadi siapkan mentalmu nak!" Jelas Bles dengan sangat prihatin menatap Jefri yang tampak masih kuda namun berumur pendek itu.

__ADS_1


Jefri melihat tatapan Bles itu dan merasa sedikit ngeri di bulu kuduknya. Mendengar suara langkah kaki mendekat, Jefri menoleh kebelakang dan juga menatapnya dengan penuh pengertian dan rasa kasihan.


"Apa dia benar-benar keluar lubang buaya masuk sarang singa?" Tanya Jefri dalam pikirannya.


__ADS_2