Serangan Cinta CEO Dingin

Serangan Cinta CEO Dingin
Chapter Seventy seven


__ADS_3

"Davin, Devan! Ayo mandi di sungai!" Teriak anak gadis yang sangat manis pada dua orang yang ada di bawah pohon beringin itu.


"Ya..." Jawab Devan bersemangat dan berlari menuju Waria.


Davin hanya mendongak dan tidak tertarik untuk ikut bermain. Dia jauh lebih suka membaca buku dibanding bermain di sungai.


Walaupun sungai disini sangat jernih dan sejuk, tapi dia bisa mandi setiap pagi dan sore saja. Dia benar-benar tidak tertarik untuk mandi di siang yang terik ini.


Devan berbalik saat melihat kakaknya yang tampak tidak tertarik. "Kak, tidak ikut?" Tanyanya bingung.


Sebenarnya tidak perlu bingung lagi karena kakaknya memang tidak suka bermain. Tapi, dia masih tidak enak jika meninggalkan kakaknya sendiri lagi.


Kakaknya ini sangatlah introvert dan tertutup. Banyak warga desa prihatin dengan sifat kakaknya.


Desa ini tidak sepenuhnya di huni oleh warga desa asli. Sebagian warga disini adalah orang kaya dari kota yang memilih pensiun atau ingin menjauh dari keramaian dunia yang kacau.


Banyak kakek baik hati dan ramah yang bisa mengajarkan mereka banyak hal. Banyak juga paman baik yang memilih pensiun dini dan menikmati hidup sederhana.


Orang di desa ini makmur. Semuanya ramah tama dan suka berbagi. Tidak sedikit kasus seperti ibu mereka yang melarikan diri saat sedang hamil. Warga desa tidak mengejek atau menggunjing nya karena sebagian warga desa disini berpendidikan tinggi.


Mereka tidak berpikir buruk terhadap wanita hamil yang mengunjungi tempat ini.


Ada yang memang di tinggal suami atau hamil di luar nikah. Tapi ada juga yang suaminya meninggal karena tugas negara atau karena kondisi tubuh yang tidak bagus sehingga harus berada di tempat yang tenang.


Pendidikan paling rendah di desa ini adalah SMA dan yang paling tinggi tidak pasti.


"Tidak!" Jawab Davin dengan pasti, Devan hanya mengangguk dan berbalik karena Waria sudah memanggilnya lagi.


"Kakakmu masih sangat pendiam, tapi ibu bilang orang seperti kakakmu akan menjadi orang hebat suatu hari nanti!" Ujar Waria saat Devan sudah berada di sampingnya.


"Ya, ibu bilang juga begitu! Dan kakak memang sangat pintar. Aku tidak tahu apakah aku bisa mendapat otaknya sedikit. Kau kan tahu betapa buruknya nilaiku di ujian kakek Cebol minggu lalu," ujar Devan sedikit gusar.


"Ya, setidaknya nilaiku jauh lebih baik darimu!" Ejek Waria dan merangkul Devan seperti dua sahabat karib yang tidak akan lepas selamanya.


"Tapi bibi Kapri bilang nilaiku jauh lebih bagus dibandingkan anak biasa dikotak pada umur yang sama!" Ujar Devan membela dirinya karena tidak setuju dengan ejekan dari Waria.

__ADS_1


"Yayaya... Kita memang masih muda bukan? Banyak hal yang bisa terjadi tanpa di duga. Mungkin suatu hari kau akan dirasuki roh Maudy Ayunda yang sedang tidur dan menjadi pintar? Haha..." Ledek Waria dan melarikan diri dari Devan.


Awalnya paruh pertama perkataan Waria membuat Devan mengangguk setuju. Tapi setelah kalimat akhir, dia mengejar Waria dengan kesal.


"Kau benar-benar sangat suka mengejekku ya!" Ujar bocah itu dengan marah dan terus mengejar Waria dengan bersemangat.


"Tunggu saja aku akan memukulmu jika tertangkap!" Teriak Devan kesal karena lari Waria yang sangat cepat.


Waria berbalik, "kalau begitu cobalah! Wleeee...."


Setelah mengejek Devan, Waria berbalik dan terus berlari menuju tepi sungai teman anak-anak lainnya berada.


"Awas saja!" Bisik Devan dengan kesal.


"Sepertinya kita bisa menjadi besan suatu hari nanti..." Ujar seorang wanita pada wanita lainnya.


Tapi wanita lainnya tidak mendengar apa yang wanita itu ucapkan. Fokusnya saat ini pada anak kecil lain yang duduk sendirian di bawah pohon beringin.


"Kau mendengarku Floye?" Tanya wanita itu saat melihat ternyata temannya itu masih tidak menanggapi dia.


Floye yang tersadar menatap Disa dengan bingung. "Ada apa?" Tanyanya linglung.


"Tidak, kau tadi tampaknya menjadi kacau, jadi aku memanggilmu dan benar saja!" Ujar Disa santai seakan tidak tahu apa yang sedang dialami oleh Floye. "Apa kau baik-baik saja?" Lanjut dia tampak khawatir.


"Aku baik baik saja!" Geleng Floye dengan lemah.


"Oh, kalau begitu aku akan pulang dan memasak makan siang dulu, jadi aku duluan ya?" Pamit Disa dan mulai kabur.


Floye melihat kepergian Disa sejenak sebelum memutuskan untuk berjalan mendekati Davin.


Floye tahu mengapa kepribadian Davin bisa seperti ini. Yang pertama karena gen dari...


Dan yang kedua karena dia selalu bertekad untuk membalas dendam untuknya. Floye sudah berulang kali mengatakan bahwa tidak apa-apa. Tapi, anaknya yang paling penurut ini adalah yang paling susah diatur.


"Ibu?" Tanyanya bingung saat ibunya berjalan mendekatinya.

__ADS_1


"Davin ibu semakin dewasa dan pengertian!" Puji Floye dengan lembut, dia mengelus kepala anaknya penuh kasih sayang.


"Hemmm!" Jawab Davin seadanya.


Suasana setelahnya menjadi hening. Floye mengamati putranya dalam diam, dan Davin tetap membaca bukunya penuh semangat.


"Bu apa Tante Kleine menelepon? Atau menghubungi baru-baru ini?" Tanya Davin tenang sembari terus menatap bukunya.


Floye menatap putranya. Jika bukan karena dia sendiri yang melahirkan Davin. Dan dia tahu bahwa Kleine belum pernah hamil. Dia ragu anak yang dibesarkannya ini adalah putranya sendiri.


Davin sangat terikat dengan Kleine, setiap hari dia akan menanyakan kapan Kleine akan berkunjung. Floye tidak ingin cemburu dengan sahabat baiknya itu. Dia tahu Kleine tidak tertarik merebut cinta anaknya. Tapi, dia masih merasa sakit setiap kali anaknya menanyakan tentang Kleine.


"Ibu tidak tahu, mungkin bulan depan!" Jawabnya lembut dan nampak sedih.


Davin menoleh, dia melihat wajah ibunya yang bermasalah. Dia adalah orang yang sangat sensitif, dia tahu bahwa ibunya pasti cemburu dengan dia yang selalu menanyakan keadaan Kleine. Tapi, dia benar-benar butuh Kleine untuk belajar lebih banyak lagi.


Tangannya melepaskan buku di tangannya. Meraih tangan lembut Floye dan menatap ibunya dengan tenang. "Bu, aku anakmu dan selamanya akan selalu menjadi anakmu!" Ujarnya mencoba sekuat mungkin untuk menyakinkan keraguan ibunya.


Floye menatap mata putranya yang tegas.


"Bu, Tante Kleine akan selamanya menjadi seorang Tante. Aku hanya menganggapnya sebagai guru dan juga donatur dalam hidupku. Percayalah Bu, bahkan jika bibi Kleine ingin merebutku darimu, mungkin itu sudah terjadi sejak dulu. Dia mungkin ingin aku memanggilnya ibu baptis dan mengajakku ke kota untuk jalan jalan."


"Bu, ibu boleh meragukan orang lain. Tapi ibu tidak boleh meragukan anakmu ini dan juga teman terbaik ibu. Bagaimanapun juga di darahku masih mengalir darahmu!"


Penjelasan anak itu sudah sangat dewasa yang membuat Floye merasa dia belum cukup dewasa. "Nak, ibu tidak meragukan ibumu ataupun Tante Kleine. Ibu hanya meragukan diri ibu sendiri apakah bisa menjadi ibu yang baik untuk kalian? Ibu tidak yakin bagaimana mendidik yang benar... Ibu ..." Floye menangis di depan anaknya tanpa dia sadari.


Tangan kecil Davin menghapus wajah ibunya. "Bu jangan menangis, ibu adalah ibu terbaik di dunia!" Hiburnya dengan kehalusan.


Tangan Floye memegang tangan kecil di pipinya. "Ibu senang memiliki kesempatan untuk merawat kalian!" Ujarnya dengan bahagia.


"Aku juga senang bisa menjadi anak ibu!" Ujar Davin menanggapi langsung.


###


Lunas ya😊

__ADS_1


__ADS_2