
Piscel terdiam lama setelah menutup telepon. Dia memandangi teleponnya dengan khawatir, tapi dia tidak bisa menemui Kleine untuk sekarang. Dia ingin menelepon lagi, tapi dia merasa dia tidak akan mendapat jawaban.
Dia mencari seseorang yang mungkin bisa membantunya, dia melihat nama Key dan menelepon nomor itu.
Tapi setelah lama, tidak ada juga yang kunjung menjawabnya.
Dia berpikir mungkin saat ini Key sedang melakukan operasi dan handphone miliknya di tinggalkan di ruangan kerjanya.
Piscel ingin sekali datang ke tempat Kleine secara langsung. Tapi, ada sesuatu yang tidak bisa jelaskan sehingga dia benar-benar tidak bisa datang.
Piscel mencari kontak lainnya dan akhirnya melihat nama yang tampaknya bisa dijadikan harapan.
"Bles apakah kau sibuk?" Tanya Piscel langsung saat telepon di jawab oleh Bles.
Bles yang sedang fokus melukis terganggu karena dering telepon yang tidak kunjung berhenti. Jadi dia melihat bahwa itu Piscel dan merasa mungkin itu penting. Jadi dia menjawabnya dengan cepat, tapi siapa yang tahu darimana orang yang tergesa-gesa ini datang.
"Ya, ada apa?" Tanya Bles dengan tenang.
"Kleine... Kleine mungkin sedang tidak baik sekarang! Bisakah kau datang dan melihat kondisinya?" Pinta Piscel dengan gugup.
"Apa yang mungkin terjadi pada orang seperti dia?" Tanya Bles dengan malas setelah mengingat sifat Kleine yang selalu bertentangan dengan dia.
"Tragedi delapan tahun yang lalu!" Ujar Piscel dengan pelan.
Bles yang masih mencoret-coret pensilnya langsung tercegang. Pensilnya jatuh ke lantai dan patah menjadi dua.
"Aku akan pergi segera!" Ujarnya cepat dan menutup telepon tanpa menunggu jawaban dari Piscel.
Meskipun telepon telah dimatikan begitu saja, Piscel akhirnya bisa menghela nafas dengan tenang.
Tragedi delapan tahun yang lalu telah membuat banyak orang menjadi trauma. Di depan itu hanya tragedi biasa yang penuh teka-teki. Tapi, di dunia bawah, semua orang tahu bahwa ada kejadian khusus delapan tahun lalu.
Lebih tepatnya, mereka bertemu dengan Bles di tengah kekacauan itu dan menjadi teman baik. Bles tentu saja tahu apa yang terjadi delapan tahun lalu.
"Anda akan kemana?" Tanya asisten Bles yang melihat Bles dengan wajah panik tampak terburu-buru.
"Aku akan menemui seseorang, kau jangan biarkan siapapun masuk ke ruangan ku!" Ujar Bles cepat dan segera berlari ke tempat parkir.
Sebenarnya ini bukan pertama kalinya dia melihat wajah bosnya yang begitu panik. Tapi, waktu itu terjadi beberapa tahun lalu yang dia bahkan tidak bisa mengingatnya dengan jelas.
__ADS_1
Bles langsung tancap gas dan mobil itu melaju di tengah jalan.
Dunia internet kacau saat ini, perusahaan Carlos juga gelisah. Dan dunia hiburan sedang tidak baik.
Orang-orang yang di hitamkan telah pulih menjadi putih, para pejalan kaki bahkan ikut campur dalam pertempuran serangan balik. Fans artis yang sebelumnya kalah jumlah telah berkuasa dan menuntut hukum atas nama idola mereka.
Delora terus mengarahkan orang lain untuk terus maju dan menyerang tanpa batas. Semua orang juga terlalu bersemangat dan tidak ingin pulang, mereka bahkan lupa untuk makan. Karena itu, Delora memesan banyak makanan untuk karyawan nya makan nanti.
Dia juga membeli cemilan dan minuman agar proses menyerang menjadi menyenangkan dan nyaman.
Sedangkan...
Dibawah tatapan dingin Lion, Rafa harus memeriksa kondisi Kleine dengan cepat tanpa boleh bertanya ataupun menunda sedikit pun waktu. Geon juga di usir oleh Lion dan di titahkan untuk segera memperbaiki pintu.
"Bagaimana pintunya?" Tanya Geon pada tukang perbaiki yang dia pesan.
"Ini agar rumit! Mungkin perlu kusen pintu yang baru..." Jelas tukang itu dengan senyum canggung.
"Kalau begitu pesan saja yang baru dan lebih kokoh dari ini, aku ingin pintu ini selesai hari ini juga!" Ujar Geon dengan dingin dan segera berbalik untuk mengintip ke ruangan.
"Siap tuan!" Jawab tukang itu dengan hormat.
"Dia sepertinya di rangsang oleh sesuatu sehingga dia menjadi demam seperti ini. Kau hanya perlu mengompres dia setiap beberapa menit saja. Dan ini adalah obat penurun demam yang sengaja aku bawa.
Berikan ini sesuai dengan petunjuk yang ada." Rafa menjadi profesional ketika itu menyangkut pasien, dia menjelaskan beberapa hal lagi sebelum menatap Lion dengan alis yang dimainkan naik turun.
"Jadi boleh aku tahu siapa dia?" Tanya Rafa dengan senyum menggoda.
"Belum selesai!" Ujar Lion dan menunjuk pada tangannya dan tangan Kleine.
Awalnya Rafa pikir itu karena Lion ingin memamerkan kemesraan mereka. Tapi, tiba-tiba matanya yang tajam melihat ada sedikit noda darah disana.
"Dia terluka? Apa yang kau lakukan padanya?" Tanya Rafa dan menatap Lion seakan teman baiknya itu adalah pria bejat.
"Berhentilah berpikir terlalu jauh!" Ujarnya, lalu dia perlahan melepaskan tangan Kleine.
Tapi, tangan Kleine masih menggenggam tangannya dengan sangat erat.
Alis Rafa naik sebelah karena fenomena ini. Dia bahkan tersenyum dengan licik.
__ADS_1
Kleine menjadi gelisah lagi dan membuat Lion tidak berani melepaskan tangan wanita itu.
"Haha... Sepertinya tanganmu adalah obat bagi lukanya!" Ejek rafa dan juga di susul oleh kerutan kening dari Geon.
"Ada apa?" Tanya Geon bingung dengan tawa Rafa yang tampaknya tidak beralasan.
"Lihat tangan mereka, sangat romantis," ujar Rafa dan melirik tangan keduanya.
Lion hanya diam saja saat di ejek oleh Rafa, dia bahkan membiarkan Geon untuk menonton kesenangan. Geon melihatnya dengan senyuman yang aneh. "Ya... Sangat serasi!" Ujarnya kemudian melangkah lebih dekat.
"Ambilkan air hangat!" Ujar Lion saat Geon baru saja mengambil langkah ketiganya.
"Hei...kau ini!" Ujar Geon dengan kesal dan berbalik sebelum Lion mengancamnya dengan tatapan dingin itu.
"Kemari!" Ujar Lion dan mengulurkan tangannya pada Rafa. Rafa berpura-pura tidak mengerti dan menatap Lion dengan bingung.
"Aku pikir Papua belakangan ini sangat butuh relawan..."
"Ya aku juga berpikir bagus untuk berlibur, bukankah di Papua ada salju? Aku akan sangat menikmatinya!"
"Apa Afrika juga menarik?"
Pertanyaan Lion kali ini membuat Rafa terdiam. Oke, dia kalah!
Rafa mengambil tablet obat dan membuka bungkusnya. Lalu dia menyerahkan tablet itu ke tangan Lion.
Geon juga segera sampai dengan secangkir air hangat.
Lion melihat ke arah Rafa dengan alis yang berkerut.
"Apa lagi?" Tanya Rafa dengan wajah muram.
"Bagaimana dia bisa meminumnya?" Tanya Lion secara sadar.
Rafa memutar matanya dengan malas. "Jika dia bangun tentu saja kau bisa memintanya secara langsung. Jika dia tidak sadar maka silahkan membangunkannya..." Ujarnya dengan santai dan berjalan keluar dari kamar itu.
Saat dia akan keluar, dia berhenti di tengah pintu, "Jika dia tidak bisa bangun, maka itu mungkin kau perlu menggunakan mulutmu untuk memberinya!" Ujarnya dengan jahil dan menyeret Geon pergi dari sana.
Lion menoleh dan menatap dingin ke arah kepergian Rafa.
__ADS_1
###