Serangan Cinta CEO Dingin

Serangan Cinta CEO Dingin
Chapter Two


__ADS_3

Apakah kamu benar-benar berpikir kehidupan orang baik akan berakhir secepat itu?


....


Manusia itu hanya boneka takdir, hidupnya di mainkan sesuka hati oleh hal itu.


Antara bermain atau dipermainkan, orang dengan hati nurani baik jelas akan lebih memilih dipermainkan.


Tapi, apa semua orang di dunia ini punya hati nurani yang baik?


Ya, tapi sangat sedikit.


Kamu mungkin hanya bisa melihat dia sekali seumur hidup ini.


###


Kleine mengeluh kecil, tangan kurusnya memijat keningnya dengan pelan.


Perlahan dan pasti, matanya terbuka. Mata itu memperlihatkan pupil lelah yang membosankan.


Dia belum mati!


Dia juga merasakan ada kain kasa di keningnya. Matanya memutar dan melihat ke sekeliling.


Dengan gerakan secepat kilat, dia duduk dari posisi tidurnya.


Dia kembali mengamati lingkungan sekitar.


Ruang ini bukan kamar gubuknya.


Kasur? 


Tangannya meremas kasur yang memang keras itu.


Ini?


Dia tidak bisa menahan tanya heran dalam benaknya.


Tempat apa ini?


Ini jelas bukan tempatnya, dan di rumah ayahnya tidak ada ruang ini. Jadi, sudah pasti ini bukan salah satu kamar di rumah ayahnya.


Meski dia hidup di rumah yang terpisah, tapi Kleine tahu detail rumah ayahnya. Karena dialah yang selalu membersihkan rumah itu.


Ruang ini tidak besar, hanya dua meter persegi. Tapi, untuk Kleine yang tidur bersama ayam. Ini adalah tempat yang sangat luas.


Dan lagi, kasur! Selimut dan juga bantal!


Kleine meneteskan air mata haru. Dia tidak pernah merasakan benda-benda ini.


Biasanya dia akan tidur di kandang bersama ayam dan unggas lainnya. Ayahnya tidak membiarkan dia tinggal di dalam rumah.


Di kandang ayam, dia membuat pembatas antara tempat dia tidur dan juga para unggas.


Tidak ada kasur, hanya tumpukan jerami.


Selimut adalah hal yang sangat langka. Dia biasanya menggunakan kain goni untuk selimutnya. Dan bantal? Dia tidak pernah tau rasanya punya bantal.


Karena kandang ayam hanya terbuat dari bambu, ada banyak celah di dinding kandang. Kadang saat musim hujan, dia akan ikut basah.


Saat malam begitu dingin, dia akan menggigil. Dan musim yang paling buruk untuk Kleine adalah flu burung.


Tinggal bersama unggas, Kleine punya resiko lebih besar ikut terkena flu mematikan itu.


"Kau sudah bangun?" Tanya seseorang yang menyadarkan Kleine dari ingatannya.


Perhatiannya teralihkan dari bantal  menuju pintu.


Di sana seorang wanita paruh baya dengan senyum ramah membawa nampan berisi cangkir air.


Kleine sedikit menghindar saat wanita itu meletakkan cangkir air di meja sampingnya.


"Kami menemukan kamu di jalan siang kemarin. Kamu terluka dan banyak memar, untunglah kami datang tepat waktu. Jika tidak, kamu mungkin sudah mati di bawah guyuran hujan."


Wanita itu berniat baik, tapi katanya memang tampak kasar. Bukan karena dia sengaja, tapi kebanyakkan warga desa memang tidak begitu pandai berkata manis.


Kleine tersadar, ya! Ini rumah orang lain. Dia seharusnya berterimakasih, bukan menghindar dan berprasangka buruk.


"Aku, terimakasih bibi!" Ujar Kleine dengan kaku dan sedikit aneh.


Wanita itu tersenyum.


"Tidak masalah, minumlah airnya. Hangat dan sangat bagus untuk tenggorokan yang serak!" Ujarnya dan memberikan air pada Kleine.


Kleine menerimanya dan minum dengan segera.


Air dalam gelas besar itu habis dalam satu tegukan. Rasa airnya sedikit manis. Sangat berbeda dengan air sumur yang biasanya dia minum.


Setelah memberikan gelasnya. Kleine kembali berterimakasih.


Bibi itu mengangguk dan membawa cangkirnya keluar.


Kleine ingin menghentikannya dan bertanya sesuatu, tapi dia tidak jadi melakukannya.


Dia takut jawabannya hanya akan melukai hati kecilnya. Dan dia juga takut bibi itu tidak akan senang dengan orang yang banyak bertanya.

__ADS_1


Bibirnya tersenyum seperti hari yang lalu. Dia seperti orang gila, selalu tersenyum tanpa alasan dan saat sedang sendirian.


Di dunia ini sulit menemukan orang yang baik dan hati nurani yang bersih. Tapi, bukan berarti mereka tidak ada. Mereka hanya tersembunyi di sudut dunia.


Kemarin sepasang suami istri berkepala dua itu akan pulang untuk makan siang. Siapa sangka mereka melihat anak kecil tergeletak di jalanan, di tengah hujan lebat dengan banyak luka dan memar.


Saat melihat wajahnya, mereka ragu untuk membantunya. Jadi, mereka melewatinya begitu saja. Tapi, tidak lama setelahnya. Mereka kembali lagi!


Mereka mungkin tahu bahwa gadis ini dianggap pembawa sial. Tapi, bukan salah gadis ini juga untuk dilahirkan seperti itu.


Mereka belum punya anak, dan mereka berpikir bagaimana jika yang terjadi pada gadis itu juga terjadi pada anak mereka nanti.


Jadi, mereka menolong gadis itu. Meski bukan dengan niat membantu yang sebenarnya. Setidaknya mereka lebih baik daripada orang lain.


Awalnya mereka ingin mengantar anak itu ke rumah orang tuanya. Tapi, mereka ingat cara orang tua gadis itu memperlakukannya.


Mereka takut, niat mereka malah berakhir sia-sia jika mereka mengantarnya ke sana.


Jadi, mereka membawa Kleine pulang.


Karena tidak ada uang untuk memangil dukun dan rumah bidan hanya ada di kota kecil, mereka mengobati Kleine dengan obat penurun panas dan obat merah saja.


Khusus kening dan jari kaki Kleine. Mereka membungkusnya dengan perca hitam. Malamnya demam Kleine sangat tinggi. Membuat dua suami istri yang merindukan anak menunjukkan jiwa kasih sayang mereka.


Malam itu mereka tidak tidur, bergantian menjaga Kleine yang demam tinggi.


Untunglah di sepertiga malam, demam Kleine menurun. Jadi, setelah itu mereka bisa tidur.


Kleine tidak tahu betapa kedua orang itu sangat merawatnya. Tapi, itu tidak menghilangkan rasa terimakasih dan hormat Kleine untuk keduanya.


Suatu hari nanti Kleine berharap dia bisa membalas kebaikan kedua orang itu.


Wanita tadi kembali lagi, dia membawa nampan makanan kali ini.


Kleine malu untuk makan, dia berniat menolaknya. Tapi, saat itu perutnya dengan kasar berteriak marah. Dia malu dan mengelus perutnya dengan kesal.


"Haha, jangan menolak lagi! Ayo, makanlah!"ledak tawa wanita itu.


Kleine terpanah dengan senyum bibi itu. Dalam hatinya dia berharap, akan ada lebih banyak lagi orang lain yang akan tertawa lepas di depannya.


Berjanjilah pada diri sendiri, bahwa dunia ini punya dua sisi. Dan suatu hari kamu pasti akan bisa melangkah ke titik yang terang itu~ Kleine


Kleine tidak makan, meskipun dia sudah mengambil nampannya. Dia menatap bibi itu.


"Bibi, aku, nama, aku... Bibi?" Ujar Kleine dengan acak.


Wanita itu mengerti apa maksud Kleine. Dia tidak bisa menahan rasa kasihan untuk gadis malang ini.


Karena keterasingan, tidak ada yang mau berbicara dengannya.


Jadi, kosakatanya menjadi sangat sedikit.


Kleine mengumamkan nama itu berulang kali.


Eda tertawa lucu melihat Kleine yang berusaha menghapal namanya.


Betapa kejamnya mereka membuat berbagai julukan jahat untuk anak yang lugu ini.


Jelas Kleine sangat lucu! Pikirnya dalam hati.


"Berhentilah mengoceh dan makanlah!" Ujarnya dengan nada bercanda.


Kleine yang mendengar itu langsung makan dengan cepat. Dia teringat saat dia makan di rumah. Dia harus sangat cepat, kalau tidak. Ibu tirinya yang baik itu akan membuang makannya yang pada nyatanya hanya makanan basi.


Berapa lezatnya!


Kleine tidak bisa menahan haru, makanan ini adalah makanan normal dan sangat lezat yang pernah dia makan.


Meskipun ini hanya sepotong nasi dan lauknya hanya sayur kangkung tumis, Kleine makan dengan sangat riang.


Seumur hidup ini, Kleine akan menjadikan makanan sederhana ini sebagai makanan kesukaannya.


Eda yang melihat dia makan dengan begitu antusias tidak bisa menahan perasaan hangat.


Jiwa keibuannya muncul begitu saja. Dia mengelus kepala Kleine dengan lembut.


"Makan dengan pelan-pelan!" Ujarnya dengan halus.


Kleine merasa sangat nyaman dengan tangan yang sedang menggosok rambut ikalnya. Tanpa dia sadari, dia mengikuti arah tangan itu bergerak. Tingkahnya semakin menggemaskan seperti seekor kucing, Eda hanya menggeleng dan terkekeh.


"Makanan lezat!" Puji Kleine dengan senyum polos.


"Oh, kalau begitu makan yang banyak!" Ujar Eda perhatian.


Kleine menanggapi dengan anggukan antusias, lalu dia makan kembali dengan nikmat.


Perih di perutnya juga tidak terasa lagi.


###


Toni, atau ayah Kleine adalah seorang pria baya berumur tiga puluh lebih. Dia dulu adalah orang yang paling tampan di desa ini.


Banyak gadis terpikat dengan pesonanya.


Tapi, suatu waktu. Ibu Kleine datang dan mengklaim Toni sebagai ayah dari bayi di perutnya.

__ADS_1


Ibu Kleine adalah wanita bisu, banyak orang percaya padanya. Penduduk desa membuat pernikahan paksa untuk keduanya.


Toni sangat tidak senang dengan hal itu, dia merasa sangat dirugikan.


Tapi, tanpa bisa menolak. Dia tetap menjadikan ibu Kleine sebagai istri. Sayangnya pernikahan mereka itu sebatas pasangan di atas kertas.


Setelah bayi itu lahir, Toni sangat yakin bayi itu bukan miliknya. Jadi, setelah itu dia tidak mau lagi kembali dan terus pergi entah kemana.


Setelah ibu Kleine mati, Toni merasa bebas. Dendamnya pada wanita itu juga terasa sangat berkurang. Jadi, dia merawat kleine sedikit lebih baik.


Tapi, tidak lama setelah itu. Dia jatuh cinta pada janda muda, dia memutuskan untuk menikah lagi.


Setelahnya dia tidak lagi memperdulikan Kleine. Tanggungjawab merawat Kleine jatuh sepenuhnya pada istri barunya.


Dia tidak memperhatikan apa yang akan dilakukan istrinya pada Kleine.


Dia sangat sibuk, bekerja sana dan sini untuk membuat hidup lebih baik lagi.


Satu tahun kemudian, istrinya yang baru melahirkan seorang putri manis. Dia sangat senang dan menyayangi putri kecilnya yang lain itu.


Pengabaian terhadap Kleine semakin tinggi. Tidak peduli seburuk apa istrinya akan memperlakukan Kleine, Toni hanya meminta untuk tidak membunuhnya.


Sepertinya Toni punya alasan lain untuk tidak membunuhnya, tapi hanya dia dan tuhan yang tahu. Bahkan istrinya tidak pernah tahu alasannya.


Jadi, saat Kleine menghilang selama lebih dari satu hari. Dia sedikit marah pada istrinya.


Meskipun Kleine dulu memang sering menghilang. Tapi, biasanya hanya akan menghilang sebanyak satu hari saja.


Di tambah lagi dia tahu bahwa istrinya tidak memberi Kleine makanan selama dua hari ini.


Dia bertanya-tanya apakah Kleine sudah mati?


"Memangnya kenapa bapak sangat mempedulikan hidupnya?" Tanya istrinya dengan kesal.


"Dia masih berguna! Kita tidak bisa menghilangkan manfaat yang sangat bagus itu," jawab Toni dengan tak kalah kesalnya.


"Manfaat apa yang bisa anak yatim itu bisa berikan pada kita?" Jaena, istri Toni tidak percaya dengan perkataan Toni.


"Kau tidak perlu tahu! Lebih kau membantu aku mencarinya!" Teriak Toni dengan sangat kencang, membuat dia mata kecil yang mengintip menjadi takut.


Gadis itu menatap Toni perlahan pergi dan ibunya yang cemberut. Dia mengepalkan tangannya dengan erat. Dia tidak tahu mengapa bapak dan ibunya bertengkar, tapi dia tahu satu hal.


Semuanya karena Kleine!


Mulai hari ini, Kleine adalah hari yang baik menanti untukmu!


Sedangkan Kleine yang menjadi perdebatan itu sedang bercanda bersama Eda dan suaminya.


Suami Eda bernama Joko, dia dan Eda sudah lebih dari enam tahun menikah dan masih belum di karuniai keturunan.


Joko yang baru pulang bekerja tampak sangat senang juga dengan kehadiran Kleine. Terutama saat dia melihat istrinya yang sangat bahagia.


Selama beberapa tahun ini. Eda sering mendapat tekanan dari mertuanya. Untuk itu mereka memutuskan untuk pindah ke tempat ini.


Sejak mendapat tekanan, Eda sangat jarang menunjukkan senyum yang begitu tulus dari hatinya itu.


Eda dan Joko adalah lulusan SMP, meski tidak begitu pintar. Setidaknya mereka tidak buta huruf.


Jadi dengan baik, mereka akan mengajarkan Kleine membaca. Dan mereka juga akan membelikan Kleine beberapa pensil dan buku untuk Kleine belajar membaca dan menulis.


Kleine sangat senang, akhirnya dia bisa belajar. Walau bukan belajar di sekolah dasar seperti saudaranya. Dia tetap belajar dengan penuh semangat.


Perlahan tapi pasti, hidup Kleine menjadi cukup baik. Kulitnya yang kusam sedikit terawat. Tubuhnya yang kurus juga mulai berisi.


Kleine untuk sejenak bisa melupakan rasa sedih dan keterasingan dari keluarganya.


Hari ini Kleine ingin berjalan-jalan di desa. Dia mengenakan jepit rambut merah muda yang di berikan oleh Eda beberapa hari yang lalu.


Rambut ikalnya tidak lagi berantakan. Kleine, tampak manis dengan gayanya yang sederhana.


Eda dan Joko sangat menyayangi Kleine, mereka bahkan membelikan gadis itu beberapa pakaian yang cukup layak untuk Kleine.


Kleine sangat bersyukur untuk mereka berdua.


Benar, di dunia ini ada orang baik. Mereka akan membantu tanpa rasa takut. Dan mereka akan melakukan banyak hal untuk bisa membantu. Bahkan jika hidup adalah taruhannya.


Hidup ini adalah roda yang berputar. Kadang kamu akan merasakan di titik paling rendah, dan kadang kamu akan merasakan di titik paling tinggi.


Namun, hidup ini juga roda taruhan. Saat kamu berada di atas, adalah taruhan kamu sendiri apakah akan bertahan lama, atau hanya sebentar.


Dalam hal taruhan, kami harus siap kalah, kalah, kalah dan menang jika beruntung.


Dalam sebuah pertaruhan, peluang kamu akan menang hanya 0,01% jika kamu tidak mengamati situasi dengan benar.


Dan jika kamu sudah siap dengan taruhan yang kamu buat. Kamu mungkin mendapat lebih dari satu persen, tapi tidak lebih dari sembilan puluh sembilan persen.


Desa tempat Kleine tinggal saat ini memang bukan desa yang sama dengan desa keluarganya. Jadi, dia tidak mudah ditemukan oleh Toni.


Tapi, sebagai desa yang bertetangga. Wajar bila Kleine di kenal banyak tempat. Gosip Kleine tidak hanya ada di desanya, tapi hampir di seluruh desa yang ada di kabupaten ini.


Eda dan Joko adalah dua orang lewat yang sering mendengar gosip tidak berguna itu. Dulu mereka hanya kasihan pada anak yang selalu menjadi gunjingan itu.


Siapa yang tahu kalau nantinya mereka akan merawat gadis itu. Mereka adalah orang dengan sedikit pendidikan, dan tidak begitu percaya dengan rumor. Tapi, bukan berarti mereka tidak takut akan pembawa sial.


Ini juga alasan mereka sedikit ragu sebelumnya untuk menolong Kleine.

__ADS_1


Untuk masalah mengapa mereka bisa mengenali Kleine. Itu karena penggambaran dalam gosip tentang Kleine sangatlah terperinci.


***


__ADS_2