
Saat ketiga anak-anak nakal itu di keluarkan dari ruang bawah tanah. Mereka langsung gemetar ketakutan. Siapa yang bisa menjelaskan dari mana datangnya singa yang menatap mereka dengan senyuman licik ini?
Wajah mereka menjadi sangat waspada dan menatap singa itu dengan takut. Melihat kiri dan kanan untuk mencari bantuan. Tapi, mereka melihat kepala pelayan yang membuka pintu hanya berlalu dengan tenang.
"Apa ini adalah patung atau robot?" Pikir ketiganya.
Mereka baru saja akan mendekat, tapi raja hutan yang nyasar itu langsung mengaum membuat kaki ketiganya lemas dan jatuh berlutut.
"Ahhh.... Jangan makan kami!" Teriak mereka bertiga serempak saat singa itu berjalan mendekat.
Mata mereka tertutup rapat di saat singa itu sudah berdiri tiga langkah dari mereka. Tubuh singa itu sangat besar dan gemuk.
"Ada apa, apa kalian takut?" Tanya Aigiee dengan remeh dan berdecih ringan. Dia berjalan mendekati mereka. Singa itu menoleh dan menerima elusan lembut dari tangan Aigiee.
Dia mengeram dengan manja. Anak-anak yang melihatnya hanya merasa ngeri dengan bunyi halus itu.
"K..kkau yang membawanya?" Tanya anak pertama dengan gemetar tapi juga ada emosi kemarahan didalamnya.
"Bukankah kemarin sudah ku bilang, aku tidak suka di ganggu. Dan aku punya teman yang memilki kucing peliharaan yang imut!" Jawab Aigiee dengan malas.
"Ini kucing!?" Tanya anak ketiga dengan gemetar, jika mereka tahu kucing yang di maksud adalah ini. Apakah mereka masih mau mengganggu sebelumnya?
Tapi siapa yang bisa dengan tenangnya memanggil singa sebagai kucing?
Akan baik jika itu harimau, setidaknya mereka dari ras yang sama!
Dan ini...
Ini jelas singa! Bukan kucing hutan.
"Ya, namanya memang Cuttie, dia sangat lembut dan menggemaskan!" Ujar Aigiee dengan sayang dan mencubit pipi Cuttie dengan gemas.
Mereka bertiga menatap wanita gila itu.
Mereka tidak salah, ini benar-benar wanita gila.
Mereka tidak tahu segila apa wanita yang memelihara hewan seperti itu!
"Mulai sekarang dia akan menjadi pengawas kalian selama satu bulan ke depan. Kalian harus belajar dengan patuh! Jika tidak... Tanya saja pada Cuttie apa yang akan di lakukan?" Ujar Aigiee dengan senyum licik.
Para pelayan yang lewat sesekali masih akan gemetar ketakutan.
Di dalam hati mengutuk tuan mereka yang membawa hal seperti ini untuk melatih tuan muda. Mereka berharap satu bulan kedepan nyawa mereka masih ada!
Satu bulan!
__ADS_1
Ini satu bulan bersama dengan singa!
Singa adalah hewan liar sejak awal, sebaik apapun dia dilatih. Jika sisi liatnya bangkit, maka tidak ada yang akan bisa menanggungnya.
"Mungkin dia akan menggigit sebagian dari kaki atau tangan kalian?" Ujar Aigiee semakin senang dengan senyum lebar karena melihat wajah ketiga bocah itu yang semakin pucat.
"Tapi kalian bisa tenang! Karena Cuttie hanya suka menggigit dan mengunyah bukan menelan." Di Ia menepuk kepala Cuttie. "Tapi aku tidak tahu jika sewaktu-waktu mungkin dia tertarik?" Lanjutnya dengan sombong.
Ketiga bocah itu yang sudah merancang untuk melarikan diri semalam semakin menyukai ide itu dan membulatkan tekad mereka. Lagipula siapa yang tertarik menjadi mangsa hewan ini?
"Oh, aku lupa mengatakan bahwa penciuman Cuttie sama tajamnya dengan anjing polisi. Siapapun yang menghilang, meskipun sudah terkubur di puluhan meter bawah tanah. Dia masih bisa menemukan dengan mudah," ujar Aigiee dengan santai seakan hanya berbicara saja.
Tapi anak-anak cerdas itu mengerti maksudnya.
Wanita ini sangat licik dan cerdas. Dia bahkan bisa menebak pikiran mereka dengan mudah. Sepertinya mereka telah menabrak tembok yang keras.
"Aku juga ingin mengatakan sesuatu pada kesempatan yang begitu baik ini. Sebenarnya aku sudah merencanakan untuk berlibur selama satu pekan ke depan. Jadi kalian harus sangat berhati-hati! Karena aku tidak begitu memahami pikiran singa!"
"Apa kau akan pergi dan meninggalkan benda ini disini?" Tanya anak kedua dengan kesal.
"Ya!"
"Wanita gila, kejam, jahat!"
"Kau tidak boleh pergi!"
"Apa kalian bisa mencegahku?"
"Bagaimana jika kita bernegosiasi?" Tanya anak pertama dengan bijak.
Mereka tidak ingin di tinggal dengan hewan ini. Setidaknya wanita ini juga harus tinggal, jika singa itu mengamuk maka dia juga akan kena imbasnya.
Aigiee menjadi tertarik dengan tawaran itu, dia tertawa kecil di dalam hatinya.
"Baiklah!"
"Jangan pergi kemanapun, lalu kami akan memberimu tawaran yang menarik."
"Tawaran macam apa yang bisa kau berikan padaku agar tidak pergi?"
"Ayah memberiku sebuah villa di Bali dengan harga yang sangat fantastis, jika kau mau aku akan memberikannya padamu!" Ujar anak pertama dengan bangga.
Aigiee terkejut, dan anak pertama semakin bangga. Tapi dia tidak tahu bahwa Aigiee tidak terkejut pada harganya melainkan pada kegilaan pria itu.
Benar-benar pikiran orang super kaya tidak bisa ditebak dan dilakukan oleh orang kaya biasa. Siapa yang akan memberikan aset miliaran rupiah pada anak umur tujuh tahun?
__ADS_1
"Apa kalian juga punya." Tanya Aigiee pada dua anak lainnya.
"Dasar rakus!" Decak anak pertama mengejek kerakusan Aigiee.
Dia semakin percaya bahwa ibu tiri mereka ini hanya menikah karena uang.
Aigiee tidak peduli, jikapun suara hati anak pertama bisa dia dengar, dia cukup setuju dengan itu.
Pada dasarnya dia memang menikah karena uang.
Dua anak lainnya tidak menjawab dan memandang Aigiee semakin rendah.
"Kenapa diam saja? Apa kalian tidak mendapat?" Tanya Aigiee dengan malas.
"Tentu saja ayah memberi kami juga. Itu di ada di Jakarta dan Surabaya!" Ujar anak kedua dengan sombong.
"Oh!" Balas Aigiee dengan singkat.
Dia menatap ketiganya dengan senyum manis, "aku tidak tertarik dengan tawarannya!" Ujarnya singkat.
"Kau!!!" Anak pertama tidak tahu lagi harus bagaimana, emosinya selalu di ungkit oleh wanita itu.
"Selamat tinggal, aku titip Cuttie disini, bye bye..." Ujar Aigiee dan segera berbalik.
"Tunggu, kami juga bisa menyerahkan punya kami padamu!" Ujar anak kedua dan ketiga setelah membuat kesepakatan.
Aigiee berbalik dengan senyum manis. "Sayangnya aku tetap tidak tertarik." Aigiee langsung berbalik dan menyeret koper yang telah disediakan oleh pelayan sejak semalam.
"Sampai jumpa lagi pekan depan, ekm... Jika kalian masih hidup!" Ujar Aigiee yang memang sengaja menakuti mereka.
Seperti biasanya, setiap kali Lion mengantar makanan, dia pasti akan ikut makan di apartemen. Dan mengusirnya akan sama sulitnya dengan melepaskan lintah yang menempel di kulit.
"Bukankah kau masih harus bekerja?" Tanya Kleine terlalu kesal.
"Sebenarnya perusahaan besar itu hanya bagian depannya saja. Pekerjaan ku tidak sebanyak dan sepadat itu," jawab Lion dengan tenang.
"Benarkah?" Tanya Kleine tidak percaya.
"Ya!" Jawab Lion percaya diri.
"Aku tidak peduli, pergi!" Ujar Kleine dan mendorong tubuh tidak siap Lion keluar dari rumah. Dengan segera dia menutup pintu.
###
😘
__ADS_1