Serangan Cinta CEO Dingin

Serangan Cinta CEO Dingin
Chapter Sixty-four


__ADS_3

Kleine melirik wanita itu dengan malas tanpa menoleh sedikitpun.


Tapi, wajahnya tampak agak tidak bahagia. Berdecak, "Bagaimana kau bisa begitu pelit dengan menciptakan lorong yang sempit sekali?"


Wanita itu berjalan mendekat dan duduk di kursi balon yang ada di samping Kleine.


"Jangan lupa siapa yang telah memberi dana oke?" Balasnya dengan acuh, jari-jari nya terus memutar kepang rambutnya yang pirang itu.


"Memang siapa yang mendanai sehingga sangat pelit begini?" Tanya Kleine asal.


"Oh, kau memang cukup pelupa. Kau sendiri yang mendanainya dan merancang tempat ini nona kaya raya!" Balas Piscel dengan nada mengejek.


"Ah, ini rancangan dariku? Bagaimana aku tidak tahu?" Tanya Kleine bingung dan menatap Piscel dengan tuntutan jawaban.


"Tuhan memang adil. Meskipun kau punya segalanya, itu juga termasuk bonus pikun(:!" Ujar Piscel dengan dua tangan terangkat ke atas.


"Heh!" Dengus Kleine dengan malas, dia berbalik dan mulai menyerang Piscel dengan tongkat tipis yang entah kapan dia ambil.


Piscel juga tahu bahwa Kleine tidak akan pernah datang dengan tenang. Jadi, saat Kleine menyerang, dia telah sangat waspada dan melompat menjauh.


"Sama saja ganasnya! Semoga kau tidak pernah mendapat jodoh!" Doa Piscel mengutuk Kleine yang tetap saja tidak membebani Kleine.


"Jodoh hanya urusan Tuhan, tugasku adalah bersenang-senang dan menunggu takdir darinya!" Balas Kleine dengan senyum provokatif dan mulai menyerang dengan ganas menggunakan tongkat panjang itu.


Piscel terus menghindar dengan lompatan, putaran, melayang, kayang, berjongkok, push up dan berlari ke sisi lain untuk mendapatkan sebuah katana yang terbuat dari plastik.


Dia mencari sedikit momentum untuk melawan kembali.


Tapi dia lupa? Siapa Kleine? Kleine adalah orang yang akan menyerang sampai lawannya berlutut karena tidak punya tenaga lagi.


"Benar-benar berpikir mengapa orang yang tidak masuk akal sepertimu bisa menjadi bintang keberuntungan?" Ujar Piscel dengan nafas yang tenang tanpa terburu-buru sedikitpun. Sebenarnya dia berbicara untuk mengecoh Kleine.


"Kau cukup benar, hari ini bahkan di saat aku berpikir akan di tindas oleh orang kaya sombong. Ternyata dia cukup masuk akal dan penakut!" Ujar Kleine membalas dengan tenang tanpa kehilangan kendali.


"Apa kau pikir akan ada yang menindasmu seperti yang terjadi di drama bos besar yang menyamar sebagai orang miskin dan dihina? Apa kau pikir seperti ini akan ada di kehidupan nyata?" Ejek Piscel dengan senang dan terus menghindar.

__ADS_1


"Ya, itu tidak buruk! Aku sangat menginginkan hal seperti itu. Lalu kau nanti akan turun dan menghukum gadis itu. Bukankah itu sebuah drama yang sangat bagus?" Tanya Kleine santai dan menghiraukan ejekan dari Piscel.


Semakin lama, tongkat kleine mulai menekan Piscel ke sudut.


Piscel tidak menyerah, saat dia melihat Kleine lagi. Dia menemukan sedikit celah dan mulai menyerang dengan katana palsunya.


"Bermimpilah!" Teriaknya dan berhasil menyerang topi Kleine.


Kleine yang tiba-tiba kehilangan topinya menjadi semakin tidak sabar. Dia memutar badannya melompat menyerang dan begitu juga Piscel yang terus melepaskan katanya untuk mendapatkan keuntungan. Walaupun mereka bertarung dengan sangat sengit.


Tapi, tidak ada dari mereka yang melukai kulit satu sama lain.


" Apa kau ingin mendengar sebuah kabar yang bagus?" Tanya Piscel tiba-tiba.


Kleine tidak lengah, tapi dia menjawab dengan pasti dan wajah datar. "Katakan!"


"Beberapa hari yang lalu Aigiee menikah tanpa mengundang kita," ujarnya tenang yang memang berhasil membuat Kleine terkejut.


"Benarkah?"


"Kau kalah!" Ujar Piscel penuh senyuman.


Kleine tidak peduli tentang menang dan kalah, saat ini dia menatap wajah Piscel dengan sangat tenang.


"Apa kau berbohong?" Tanya Kleine datar.


"Tidak, aku mengatakan yang sebenarnya. Aku juga baru mengetahui hal itu kemarin dan dia sudah menikah selama satu Minggu dengan orang yang bahkan tidak kita kenal."


"Dia melakukan itu bukan karena terpaksa kan?" Tanya Kleine bimbang.


"Apa kau pikir ada yang bisa memaksanya untuk menikah? Bahkan jika orang tuanya bangkit dari kuburnya, dia tidak akan!" Jawab Piscel dengan yakin. Dia berjalan ke ruangannya dan mengambil air di atas meja.


Kleine mengikuti dalam diam. Saat ini dia tidak tahu harus mengatakan apa. Dan dia juga merenungkan banyak hal.


"Ada apa?" Tanya Piscel sembari menyerahkan botol lain ke Kleine. "Apa kau kecewa? Teman baikmu yang sangat kau hargai itu bahkan tidak mengundangmu?" Ujarnya mengejek dan membuka tutup botol lalu minum dengan tenang.

__ADS_1


"Sembarangan! Aku hanya menyesali tidak bisa makan secara gratis. Lagipula dia bukan satu-satunya teman yang aku hormati dan sayangi. Bukankah kalian juga sama?"


Kleine berkata seperti itu, tapi wajahnya tampak sangat bermasalah.


Mustahil untuk tidak kecewa, teman-teman lain mungkin tidak seberapa. Dia bisa menerima jika itu adalah Delora yang melakukannya. Dia juga tidak akan begitu kecewa jika Lea tidak mengundangnya.


Tapi, Aigiee berbeda, Piscel juga berbeda. Dia punya banyak teman, tapi teman yang begitu banyak mengalami hidup dan mati bersama. Itu benar-benar tidak bisa di terima.


Piscel yang melihat Kleine tapak tergganggu juga sangat terganggu. Saat dia pertama kali mendengar berita itu dari orang lain. Dia juga sangat terkejut. Sehari kemarin dia sudah merenung begitu banyak. Dia ingin menghubungi yang lain apakah hanya dia sendiri yang tidak tahu?


Tapi, Piscel terlalu takut hasilnya akan mengecewakan dirinya sendiri.


Tapi, saat dia juga tahu bahwa Kleine sama dengannya. Piscel sedikit menebak bahwa semua orang di grup benar-benar tidak tahu apapun.


Beberapa hari ini mereka masih mengobrol di grup seperti biasa. Tampaknya tidak ada yang hilang. Bahkan Aigiee sesekali akan muncul seperti biasanya. Namun, dalam sekejap kabar yang tidak enak datang begitu saja.


"Apakah dia benar-benar tidak menikah secara terpaksa? Mungkin orang itu telah menjebaknya atau mengancamnya?" Tanya Kleine memastikan dan sedikit berharap.


"Entahlah, aku tidak tahu! Lagipula aku baru mengetahuinya kemarin. Lebih lagi aku berpikir hanya aku saja yang tidak diundang. Jadi, aku belum berpikir sampai di sana!" Ujar Piscel dan berjalan ke kursi kerjanya.


"Dari dari yang aku dengar, orang itu adalah duda dengan tiga anak nakal dan manja!" Tambah Piscel dengan senyum mengejek.


Tidak ada yang tahu lebih baik darinya dan juga Kleine tentang gadis itu.


Kleine juga mulai berpikir keras. Sejauh yang dia ingat, Aigiee tidak suka anak-anak. Dia bahkan berkata tidak ingin melahirkan dan punya anak. Dia bilang tidak ingin menanggung berat dan rasa sakit yang meremukkan seluruh tubuh.


Apakah dia menikah dengan duda karena dia pikir dengan begitu tidak perlu hamil?


Dan dia tidak mengundang mereka karena takut tidak mendapat restu?


Nyatanya pikiran seperti itu tidak terlibat di pikiran Kleine saja. Karena Piscel juga sedang memikirkan. Kleine melirik Piscel yang juga sedang meliriknya.


"Kurasa kita menebak hal yang sama?"


###

__ADS_1


Makasih yang udah semangatin Almi. Almi sangat terharu, biarpun gak punya ayang yang menyemangati. Almi senang ada My love yang menyemangati,🥰


__ADS_2