
"Ada apa ini?" Tanya penjaga itu pada Lion yang mengabaikannya dan terus mendobrak pintu.
Lion tetap mengabaikannya dan berusaha mengerahkan seluruh tenaganya untuk menabrak pintu besi yang tebal itu.
Kleine sendiri seperti kembali ke masa itu. Dia berada di dunia yang aneh, tentang cahaya dan kegelapan. Tapi, kali ini dia seperti di tarik ke dalam kegelapan dan menjauh sebanyak mungkin dari cahaya.
Kakinya bergerak sendiri tanpa dia arahkan, dia ingin berteriak tolong karena jalan itu terlalu gelap dan membuat dia takut. Sayangnya jangankan berteriak, dia bahkan tidak bisa membuka mulutnya untuk sekedar berbisik.
Air mata jatuh dan menjadi asap ketika itu sampai di tanah. Kleine ingin mengerakkan tangannya untuk menghapus air matanya agar tidak jatuh ke bawah. Tapi, tangannya terasa berat.
Dia merasa kesadarannya semakin hilang, harapannya untuk bertahan sirna.
Kleine hanya mendengar suara drum yang seakan mengiring kepergian dirinya dari sang cahaya.
Penjaga itu memegang Lion agar dia menghentikan aksinya. Tapi, Lion malah mendorong penjaga itu dan akhirnya bisa mengerahkan seluruh kemampuannya untuk menghancurkan pintu itu. Suara yang begitu kuat tidak berhasil membangunkan Kleine dari alam bawah sadarnya. Lion melihat ruang tamu yang hancur dan berantakan.
Dia langsung berlari dan melihat Kleine yang bersimpuh di depan sofa.
"Apa kau baik?" Tanya Lion cepat setelah menggoyang tubuh Kleine namun gadis itu hanya diam seperti tidak memiliki jiwa.
Penjaga itu mengejar Lion stelah berdiri, dia melihat seorang gadis yang kehilangan jiwanya si tengah tempat yang sangat berantakan.
Bahkan orang lain yang penasaran tentang itu langsung menutup mulut mereka ketika masuk.
"Apa yang terjadi?" Tanya seseorang tanpa sengaja.
Lion menoleh dan menatap semua orang itu dengan tajam.
Penjaga itu seakan mengerti dengan arti dari tatapan Lion. Jadi, dia menarik orang lain untuk pergi dan berhenti menonton kegembiraan.
Semua orang tidak ingin pergi dan masih ingin berdiri. Mereka ingin tahu apa yang sedang terjadi. Tapi, melihat mata Lion yang setajam elang itu. Mereka dengan enggan menjauh dan keluar satu-persatu.
Lion memeluk Kleine dengan cepat.
__ADS_1
"Sadarlah!" Bisiknya pelan dan menggendong Kleine ke kamar Kleine yang memang tidak terkunci. Dia meletakkan tubuh Kleine di kasur dan menepuk wajah Kleine pelan agar gadis itu sadar.
Namun, semua usahanya itu sia-sia. Dia mengambil air di nakas dan memercikkan air itu ke wajah Kleine beberapa kali. Tapi, tetap tidak bisa.
Suhu tubuh Kleine semakin panas, Lion menyentuh keningnya dan segera menarik tangannya kembali setelah itu.
Dia keluar dan menelepon Geon.
"Panggil tukang perbaikan pintu ke alamat ini..."
Setelah menelepon Geon, dia menekan nomor lainnya.
"Cepatlah datang..." Ujarnya cepat, setelah itu Lion berjalan ke dapur dan mengambil es dari lemari pendingin.
Dia meletakkan es itu di wadah dan mencari kain untuk mengompres kening Kleine.
Kleine merasa ada hujan kecil di tengah kegelapan yang penuh sesak itu. Dia merasa ruangan itu terlalu gelap dan sempit, bahkan tidak ada udara untuk dia bernafas. Meski begitu, suhu dan tekanan udara di sini sangat panas. Kleine sangat bersyukur karena ada hujan yang datang untuk melepas panasnya.
Tapi, hujan itu hanya sejenak dan segera pergi tanpa ada jejak.
Kakinya tidak terkontrol dan bergerak maju tanpa titah. Tangannya telah dia coba gerak kan berulang kali, tapi tetap tidak bisa. Dia ingin berteriak, tapi semuanya terasa kosong.
Lion kembali dengan segera dan menempelkan handuk yang sudah di keras ke kening Kleine.
Lion ingin mencari kotak obat di rumah Kleine untuk menemukan pil penurun panas. Tapi, saat dia akan berdiri, tangannya yang kebetulan berada di dekat tangan Kleine di tarik oleh gadis itu.
Baru saat itulah Lion sadar bahwa tangan Kleine telah berdarah. Dia melihat noda darah yang cukup banyak. Hal ini membuat Lion semakin ingin menemukan kotak obat.
Tapi, tangannya di genggam erat oleh tangan Kleine.
Lion ingin melepaskan tangan itu, tapi dia tiba-tiba melihat air mata jatuh dari mata tertutup Kleine. Wajah Kleine juga sangat kusut dan membuat Lion menjadi semakin khawatir.
Lion membiarkan tangannya di genggam oleh Kleine. Sedangkan menggerakkan tangan lainnya untuk menghapus air mata Kleine.
__ADS_1
Air mata itu terasa hangat, Lion menyentuh handuk yang ternyata juga hampir kering karena terlalu panas. Dia mengambil handuk itu dan memasukkan nya ke dalam baskom es. Memerahnya dengan. Satu tangan tidaklah mudah. Lion berusaha sebaik mungkin agar handuk itu tidak basah sebelum menempelkan nya lagi ke kening Kleine.
Kening Kleine yang kusut karena handuknya di ambil tadi telah kembali lurus.
Kleine saat ini hanya tahu bahwa ada sesuatu yang dingin telah menempel pada dirinya. Dia juga telah bisa menggerakkan satu tangannya untuk menyentuh sebuah benda yang sangat dingin.
Tangan Lion pada dan dasarnya memang dingin, setelah menyentuh es, tentu saja tangannya menjadi semakin dingin.
Dengan segera Geon datang dengan tukang perbaikan pintu. Di basement, Geon bertemu dengan dokter yang telah Lion pesan.
"Kau disini?" Tanya Geon dengan bingung setelah menatap sahabatnya yang sudah cukup lama tidak dia temui.
"Ya, pria lajang itu sepertinya kerasukan setan. Entah gerangan pa dia memanggil ku datang kemari. Sedangkan dia sakit dan hampir mati saja tidak pernah memanggil ku!" Jawab Rafa dengan wajah kesal karena di telepon mendadak dan di suruh datang kesini bahkan sebelum dia menjawab.
Hei... Jika dia bisa, dia tidak ingin peduli dengan panggilan singkat dari Lion itu. Tapi, dia masih punya otak yang berpikir jernih. Jika tidak karena darurat, dia pasti tidak akan di panggil begitu saja oleh orang itu.
"Dia juga memanggilku untuk meminta tukang perbaikan ini." Geon menunjuk orang di belakangnya.
Orang di belakang Geon tersenyum sebagai salam. Rafa melihatnya sekilas sebelum memandang Geon dengan pikiran yang bisa di terbaik oleh Geon.
Mereka saat ini sedang berpikir yang aneh-aneh.
Tanpa berlama-lama lagi, mereka bergegas ke dalam untuk check-in.
Mereka di antarkan oleh penjaga ke lantai tempat Lion berada. Dan yang mereka lihat semakin membuat mereka terkejut. Pintu itu bahkan lebih buruk dari pintu yang hancur.
Kusen pintunya lebur, pintunya jatuh di lantai dengan banyak bekas pukulan. Geon menelan ludahnya dengan susah payah. Apa yang terjadi disini.
"Jika sampai cepatlah masuk!" Suara dingin dari dalam kamar mengambil alih pikiran liar mereka.
Rafa dengan cepat masuk dan melihat Lion yang sedang duduk di kasur dengan seorang gadis yang memiliki handuk di keningnya.
Gambaran itu cukup menarik untuk Rafa dan Geon yang berdiri di pintu.
__ADS_1
Keduanya saling pandang dengan senyum khusus.
###