Serangan Cinta CEO Dingin

Serangan Cinta CEO Dingin
Chapter Seven


__ADS_3

Ketahuilah, bahwa hidup ini tersusun dari berbagai teka-teki yang harus kamu pecahkan sendiri.


Setiap pertanyaan dan setiap misteri memang akan terjawab dan terungkap pada akhirnya. Tapi, waktunya mungkin terlalu lama jika kamu terus menunggu.


Kleine sudah tidak sadarkan diri saat Toni berhasil menangkapnya.


Jaena menangis histeris disamping tubuh Kleine yang tergeletak tak berdaya.


Toni sendiri sibuk memompa dada Kleine agar gadis itu tersadar.


Warga desa melihat mereka dengan bingung, dan sedikit terkejut.


Bagaimana ceritanya bisa menjadi seperti ini?


Bukankah keduanya tidak menyukai gadis pembawa sial itu?


Warga desa hanya mengerumuni dan tidak ada niat untuk membantu. Sedangkan rombongan itu sendiri tetap diam dan menahan Azel yang terus ingin melarikan diri.


Azel juga menatap kedua orang tuanya dengan tidak percaya.


Mengapa ayah dan ibunya begitu memperhatikan gadis pembawa sial itu?


Mengapa tidak ada dari keduanya yang memperhatikan dia?


Apa yang sebenarnya keduanya lakukan?


Jaena melihat Kleine yang masih tidak bangun. Dia berlari dan bergegas untuk menampar pemimpin itu.


Plak...


Bunyi yang nyaring itu mengheningkan udara. Tidak ada yang menyangka Jaena akan begitu berani menampar ketua rombongan itu.


Semua warga desa terkejut, bahkan Toni menghentikan kegiatannya. Dia memandang istrinya dengan tidak percaya dan sedikit takut mulai merambat.


"Kau sangat keji! Biadab..." Maki Jaena pada pimpinan yang masih membeku itu.


"Sekarang putriku sekarat! Kau harus bertanggungjawab, itu adalah satu-satunya putriku!" Keluh wanita itu, dia menangis dengan derai air mata yang tak kunjung berhenti. Dia terduduk dengan kedua tangan menutupi wajahnya.


Pemimpin itu tidak percaya dia akan di tampar oleh seorang wanita desa, dan apalagi sekarang dia sedang di maki habis-habisan.


Dia yang sejak awal merasa bangga dan sombong dengan posisinya menjadi sangat marah.


"Bukankah sudah terungkap yang mana nona muda kami? Kalau begitu ambil ini untuk berobat putrimu dan jangan ganggu kami lagi!" Bentaknya sembari melemparkan koper yang berisi uang tadi ke Jaena.


Lalu dia berbalik dan membawa rombongan yang pendiam itu pergi dari tempat kejadian.


Jaena menatap putrinya yang telah dibawa pergi dengan paksa.


"Ibu... Ayah..." Teriak Azel dengan putus asa, tubuhnya yang mungil telah di gendong seperti karung beras.

__ADS_1


Jaena terduduk dengan tidak pasti. Dia menatap kepergian rombongan itu yang semakin lama semakin kecil siluetnya.


"Putriku!" Lirihnya.


Dia tersenyum mengejek dirinya sendiri. Akting ini telah berakhir, putrinya akan punya masa depan yang cerah. Dan hidupnya juga akan menjadi lebih baik dengan uang ini.


Untuk seorang putri, bukankah dia bisa membuatnya lagi dengan suaminya? Mungkin itu seorang putra?


Toni mendekati Jaena setalah rombongan itu tidak terlihat lagi. Dia menarik koper itu dari tangan Jaena dan mengusir para penduduk desa untuk menjauh.


Setelah tidak ada lagi pertunjukan warga desa perlahan pergi. Walaupun ada beberapa warga desa yang enggan pergi dan menatap koper di tangan Toni dengan iri. Tapi, mereka juga tidak berani untuk merebut koper itu dari Toni.


Ada alasan tertentu mengapa warga desa tidak berani mengusik Toni, tapi tidak ada yang tahu dengan pasti.


Setelah tidak ada lagi warga desa yang tersisa. Toni dan Jaena menatap tubuh Kleine yang sudah nyaris tak bernyawa.


Melirik untuk terakhir kali, mereka berbalik dan pulang ke desa.


Tidak ada satupun niatan untuk mengurus Kleine. Semua sudah berakhir, apa yang mereka mau juga sudah tercapai.


Gadis pembawa sial ini sudah tidak berguna, jadi untuk apa lagi dia hidup?


"Untuk pertama kalinya kau hidup, ini yang paling menguntungkan!" Ujar Toni dengan nada yang sangat dingin, dia dengan kasar menendang kembali tubuh Kleine ke sungai.


Menyaksikan tubuh itu semakin terbawa arus, keduanya pergi dengan tenang.


Setelah itu Jaena dan Toni pergi dengan wajah yang bahagia.


Mengangkat tangannya, dua orang berseragam hitam muncul.


Itu adalah orang yang berbeda dari rombongan yang tadi. Ini tampak lebih gagah dan kuat dari yang sebelumnya.


"Tolong gadis itu dan bawa dia ke rumah sakit! Jaga dia sampai sembuh dan antar padaku saat dia sudah terlihat lebih baik!" Titahnya dan pergi ke arah yang berlawanan dari Toni dan Jaena tadi.


***


Sebenarnya hidup ini tidak pernah begitu buruk. Hanya saja, memiliki terlalu banyak misteri yang tidak dipecahkan membuat kita akan terjatuh.


Mungkin, itu sama seperti sebuah jebakan, tidak terlihat namun berbahaya. Begitulah arti sebuah misteri pada kehidupan.


Jika kamu tidak mau terjebak, maka pecahkan atau menjadilah lebih licik dari pembuat misteri itu.


Kleine yang sekarat mendapat pertolongan VIP di ruang gawat darurat. Dia tidak tahu apa yang terjadi pada dirinya saat ini.


Karena alam bawah sadarnya sedang menguasai dia saat ini.


Dia melihat ke tempat yang begitu suram di depannya. Tidak, dia punya dua sisi yang dia lihat.


Dia bisa melihat dua sisi yang indah dan jelek dalam satu pandangan.

__ADS_1


Semuanya terbagi di mata kiri dan kanannya. Seakan dia berada di titik tengah kedua pemandangan itu.


Sebanyak apapun dia mencoba untuk melihat ke arah taman yang indah, dia tetap tidak bisa berpaling dari kesuraman yang ada pada taman yang lainnya.


Kleine seperti diberi dua pilihan, dan apapun yang dia pilih akan menjadi jalan hidupnya ke depan.


Kleine ingin melangkah ke tempat yang penuh bunga dan kupu-kupu itu. Tapi, kakinya tidak mengikuti instruksi dari otaknya.


Karena sekarang dia sudah berada di tengah kesuraman itu sendiri.


Di tempatnya berdiri, dia bisa melihat banyak darah berceceran. Dan segala barang yang ada tersusun sangat berantakan. Tapi, yang menjadi titik paling diperhatikan adalah...


Tidak ada sedikitpun sinar kehidupan disini. Dia hanya bisa melihat aura kematian dan ketiadaan.


Apakah kalian bertanya apakah Kleine takut?


Tidak!


Dia tidak takut, tapi dia merasa ada sesuatu dalam jiwanya yang sedang meronta.


Seakan selama ini, dunianya memang ini! Bukan tempat indah yang tadi.


Hidupnya memang seperti ini, jadi untuk apa terus berharap akan ada hari untuk bermain di taman itu?


Jika harapan selalu menjatuhkanmu, kenapa masih terus mengumpulkan harapan itu seakan kamu tidak akan bisa hidup tanpanya?


Kleine tidak sadar bahwa dia telah terbentuk dengan licik. Dia juga tidak menyadari akan keberadaan asap hitam yang telah mengelilingi dia.


Dia mulai penuh pikiran yang sedikit menyimpang dari dirinya yang polos dan bodoh sebelumnya.


Di depannya, ada suatu proyeksi yang memperlihatkan pertarungan dan pembunuhan.


Dan itu penuh darah dan kebencian. Namun, Kleine tidak berpaling, dia justru tampak bahagia menonton setiap detail kejadian.


Dia seperti sedang menonton film komedi, karena sesekali dia akan tertawa.


Gambar lainnya muncul, kali ini seperti film pertempuran. Lebih banyak darah berceceran, dan lebih banyak sayatan dan luka.


Tapi Kleine tidak takut, dia justru tampak senang.


Seharusnya anak seumuran dia tidak di perbolehkan melihat hal itu. Tapi, dia sudah melihat banyak saat ini.


Seharusnya anak lain yang seumuran dengan dia akan berteriak ketakutan. Tapi, dia justru tertawa sangat keras.


Entah dia sudah gila, atau apa tidak bisa dimengerti dengan mudah.


Waktu berlalu dengan cepat, tapi Kleine tidak menyadarinya. Satu demi satu film yang kejam akan muncul secara kasat mata di depan gadis itu.


Namun, ketenangan dan kenyamanan Kleine harus terganggu.

__ADS_1


Dia melihat cahaya yang sangat terang muncul dari balik proyeksi itu. Cahaya itu semakin meluas dan mendekati dia.


Terlalu menyilaukan untuk Kleine lihat. Dia menutupi matanya dengan kedua tangannya yang sedari tadi menganggur.


__ADS_2