Serangan Cinta CEO Dingin

Serangan Cinta CEO Dingin
Chapter Fifty Four


__ADS_3

Lea menatap layar yang sudah menghitam itu dengan lamat. Sebenarnya dia tidak ingin berpikir macam-macam, tapi sepertinya pikirnya memang masuk akal?


Kleine kembali ke emosinya yang sebelumnya. Dia berjalan ke dapur dan hendak mengusir Lion dari sini. Tapi, tiba-tiba dia mencium bau bawang goreng yang sangat harum.


Awalnya dia ingin marah tidak jelas pada Lion. Tapi, seketika semua emosi itu meluap dan menjadi kenyamanan yang memanjakan perut.


"Apa yang sedang kau masak?" Tanya Kleine berdiri di samping Lion untuk mengintip panci yang sedang menggoreng bawang.


Lion sudah menyadari ada sesuatu yang begitu besar mendekatinya. Sayangnya emosi besar dan ganas itu menghilang tiba-tiba yang membuat Lion agak sedikit heran.


Dia juga tidak kaget dengan kedatangan tiba-tiba dari Kleine. Karena aura barusan jelas tidak mungkin sebagai halusinasinya.


"Kebetulan kau disini, aku akan menumis kangkung. Apa kau suka? Lalu apa kau ingin pedas atau tidak?" Ujarnya tanpa menoleh pada Kleine.


Saat ini Kleine benar-benar lupa akan emosinya yang sebelumnya, dia hanya menjawab dengan, "ekstra pedas!" Ujarnya singkat.


"Apa kau sangat menyukai pedas?" Tanya Lion lagi.


"Ya aku sangat menyukainya, tapi ingatlah untuk tambahkan lebih banyak bawang putih juga!" Ujar Kleine.


Lion hanya mengangguk mengiyakan.


Perut Kleine sudah tidak sabar karena bau harum barusan. Apalagi sekarang memang sudah masuk waktunya makan siang.


Kembali ke ruang tamu hanya akan membuat dia menderita karena menahan lapar. Jadi lebih baik disini dan mengawasi apa yang akan Lion masak.


Dapur itu umunya memang besar, jadi saat dua orang mengisi dapur itu. Itu masih terasa cukup luas dan tidak sesak.


Kleine melihat daging yang belum di potong, "Apakah kau akan membuat steak dengan ini?" Tanyanya dan mengangkat daging sapi itu dengan dua jarinya seperti sangat menjijikkan.


Lion yang menoleh melihatnya tampak jijik dengan daging sapi tersenyum.


"Ya? Apa kau tidak suka daging sapi?" Tanya Lion seperti tahu isi pikiran Kleine.


Kleine meletakkan daging itu dengan acuh.

__ADS_1


"Tidak begitu benci, hanya saja aku tidak suka sesuatu yang terlalu berminyak dari benda ini!" Jawabnya malas dan menunjuk daging itu seakan melihat sampah masyarakat.


Lion tidak pernah kehilangan senyum tipisnya, bahkan sekarang senyumnya sangat lebar. Jika Geon atau orang yang mengenalnya melihat hal ini. Mungkin mereka sudah lama mempersiapkan akhir dunia yang akan datang.


Karena semua orang tahu betul betapa pria ini pelit senyum dan pelit kata. Tidak mau memulai percakapan lebih dulu. Dan banyak lagi.


"Kalau begitu aku akan membuat kau menyukainya dan bahkan ingin terus memakannya!" Tekad Lion.


"Tidak akan, aku suka tubuh langsing ini dan tidak ingin cepat gemuk karena benda ini!" Jawab Kleine mengada-ngada.


Lion hanya berbalik untuk memasukkan syur setelah bumbu itu mengeluarkan bau yang tidak bisa di tolak indra penciuman. Setelah menutup panci, dia mengambil pisau dan memotong daging dengan penuh perhatian.


Jika tebakan Lion benar, Kleine adalah gadis dengan emosi yang buruk. Bisa marah untuk hal kecil dan tidak bisa di tenangkan dengan mudah. Tapi, setelah melihat gadis di sampingnya yang menonton dengan seksama. Lion tahu bahwa bau makanan yang harum benar-benar bisa membeli emosinya.


Dengan ini, Lion semakin yakin tentang kemajuan hubungan mereka.


Karena ini pertama kalinya Lion menjadi sangat tertarik pada seorang gadis. Maka, Lion harus bisa mengejarnya dengan lancar.


Ternyata memang tidak sulit untuk menyenangkan wanita ini. Itu sama saja dengan cara menyenangkan seorang pria biasa. Cukup senang kan perutnya, mata hatinya pasti berada di dalam genggaman.


"Heh, apa membutuhkan waktu yang sangat lama untuk memasak?" Keluh Kleine saat sudah berdiri tiga menit di dapur dengan percuma.


Dia berbalik untuk menegur Kleine, siapa yang tahu dia akan melihat fitur samping Kleine dengan mulut yang mengerucut.


"Sangat lucu!" Pikirnya.


"Kalau begitu kau bisa menunggu dan bermain game di ruang tamu," sarannya dengan tulus.


"Tapi perutku sudah minta di isi!" Jawab Kleine dengan gusar menggosok perutnya yang sejak tadi meronta-ronta.


Lion melirik ke perut Kleine, memang sangat rata dan kurus. Mematikan api dari sayur kangkung, Lion mengambil piring, mengelap dengan tisu. Lalu setelahnya dia memasukkan sayur kangkung tumis pedas ke dalam piring secara perlahan.


"Oh, itu sangat harum!" Ujar Kleine yang kehilangan citra dinginnya. Tapi, bukannya merasa aneh, Lion justru merasa ekspresi alami Kleine ini sangat bagus daripada ekspresi dinginnya.


Kleine mendekati Lion yang sedang menuangkan kuah, dengan sendok di tangannya yang entah dia dapatkan dari mana.

__ADS_1


Tangan jahil Kleine akan mengambil sayur itu untuk dia cicipi.


Tapi, tangannya langsung di tepis oleh tangan Lion. "Tidak boleh!" Ujar Lion ganas. "Tapi aku hanya ingin mencicipinya saja!" Ujar Kleine memelas.


Melihat mata Kleine yang sangat besar dan berair membuat Lio. Tidak tega dan membiarkan Kleine mencicipi kangkung itu. Lagipula hanya mencicipi bukan? Pikirnya.


Siapa yang tahu, setelah dia hanya berbalik untuk melegakan panci di wastafel dan satu potong kangkung itu hanya bersisa setengah saja. Dia segara merebut pring menjauh dari jangkauan Kleine.


Kleine menatap Lion dengan cemberut, bibirnya yang berminyak dan merah membuat Lion tertegun sejenak. Sangat imut dan seksi! Batin Lion berteriak tidak tahan.


"Ini adalah lauk untuk di makan!" Ujar Lion dengan cicitan kecil.


"Tapi aku lapar! Kau masak lagi saja yang lainnya, yang itu biarkan aku memakannya!" Ujar Kleine dengan manis.


Lion menggeleng, "tidak! Aku hanya membeli kangkung sebagai sayuran dan tidak membeli sayur lain!" Ujarnya tegas menolak permintaan Kleine.


"Tapi..." Ujar Kleine mulai memasang wajah imutnya lagi, matanya membesar dan berair.


Lion tidak tahan, "jika kau lapar kau bisa makan makanan ringan yang tadi aku beli, itu ada di sana!" Tunjuknya pada suatu tempat.


Kleine awalnya tidak mau berkompromi, apalagi kangkung pedas itu sangat enak. Tapi, melihat wajah Lion yang sangat tidak senang. Kleine berkompromi dan maju ke arah itu dengan lemas.


Sesekali dia akan melirik ke piring yang sedang Lion pegang.


"Huh, siapa juga yang mau makan itu!" Ujarnya sombong dan membawa tiga bungkus kripik kentang ke ruang tamu.


Kepergian Kleine membuat dapur kembali tenang. Akhirnya Lion bisa masak dengan tenang tanpa gangguan dari Kleine.


Kleine yang duduk di sofa menjilat lidahnya dengan penyesalan. "Oh, itu sangat enak!" Bisiknya lembut.


Dia melihat ke dapur sesekali dan kembali ingat rasa kangkung itu lagi.


"Ah, mengapa memasak saja harus selama itu!" Teriak Kleine frustasi dan memasukkan segenggam kripik yang remuk ke dalam mulutnya.


Lion yang mendengarkan teriakan frustasi dari ruang tamu entah mengapa menjadi sangat senang. Dia dengan telaten meletakkan steak yang sudah matang ke meja makan. Lalu, dia juga menyiapkan bumbu balado untuk ayamnya, dan mematikan kompor yang diatasnya terdapat panci berisi ikan asam manis.

__ADS_1


###


Assalamualaikum semua😝


__ADS_2