
Lion berjalan keluar ruangan rawat tuan tua Bramansa. Di depan ruangan adalah jendela kaca yang besar, dia berjalan mendekat dan melihat keramaian dibawah sana.
Ada banyak pasien rumah sakit dan pendampingnya yang mencari udara segar. Lion melihat sosok yang tidak asing, seharusnya dia tidak lupa dengan gadis itu bukan?
Tapi karena jaraknya terlalu jauh, Lion tidak pasti apakah orang yang disana adalah orang yang sama dengan orang tadi. Dia menajamkan matanya berharap bisa menghapus buram pada gambar wanita itu. Sayangnya sebaik apapun dia berusaha, hasilnya tetap nihil.
Sedangkan Kleine sendiri memandang ke atas karena dia merasa ada sesuatu yang selalu memperhatikan gerakannya. Dia mencoba mencari arah pasti dari tatapan tajam itu, tapi dia tidak berhasil menemukannya.
Saat Kleine masih sibuk melihat keatas, dua orang pria menghampirinya.
Ya, mereka adalah Jefri dan Bles.
"Kau sedang melihat apa?" Tanya Bles ikut melirik kelantai atas rumah sakit.
Kleine menoleh dan melihat keduanya yang juga sedang melihat keatas. Dengan santainya Kleine menggeleng, "tidak ada!" Jawabnya pelan lalu dia bertanya tentang keberadaan Keys.
"Oh, dia tiba-tiba mendapat panggilan dari direktur rumah sakit ini, aku tidak tahu mengapa. Mungkin itu sangat penting, melihat betapa paniknya wajah dia saat berpamitan dengan kami secara tergesa-gesa," Bles menjawab dengan rinci.
Kline bersenandung dan sedikit mengangguk.
"Apakah kau tidak menemani adikmu?" Tanya Kleine dengan heran karena Jefri masih disini.
Jefri yang ditatap Kleine dengan tatapan itu hanya bisa tersenyum dengan malu, tangannya menggaruk belakang lehernya. "Adikku koma, dan dokter Keys bilang dia akan mengirim suster untuk merawatnya. Sekarang aku menganggur, bukankah kau bilang ingin aku melakukan sesuatu?" Jelasnya dengan sedikit ragu, dia tidak tahu sebenarnya siapa yang telah membantunya.
Sepertinya yang membayar biaya rumah sakit bukan Kleine melainkan Keys. Yang mengirim perawat untuk menjaga adiknya juga Keys, yang mengirim mereka kesini Bles. Dan dia harus berterimakasih pada Kleine, bukankah ini memang agak membingungkan.
Tapi, Jefri juga berpikir bahwa dia tidak akan mungkin ditolong oleh keduanya jika bukan karena koneksi dari Kleine.
Dia juga penasaran imbalan seperti apa yang sebenarnya sangat diinginkan oleh Kleine. Mengapa saat dia mengatakan dia beruntung telah dibantu oleh Kleine mereka mentertawakan dia.
Sedikit yang dia mulai mengerti, mungkin mereka mentertawakan dia karena dia terlalu polos dengan mengatakan itu. Buktinya yang menjalankan keinginannya dia memang bukan Kleine!
__ADS_1
"Oh, kau benar-benar ingin membalasnya hari ini?" Tanya Kleine dengan senyum licik.
Entah mengapa Jefri menjadi sedikit ragu setelah dia melihat senyum Kleine yang tampak sangat tidak menyakinkan itu. Tapi, tidak menunggu lama, dia tetap mengangguk.
Kleine tersenyum dengan mantap, "baiklah kalau begitu, Bles kau tahu harus mengantar aku kemana bukan?" Tanyanya pada Bles yang sejak tadi meyaksikan dalam diam.
Setelah ditanya, Bles mengangguk dengan bersemangat. Akhirnya yang dia tunggu akan datang! Batinnya berteriak terlalu gembira. Dia menatap penuh simpati pada Jefri yang masih sangat polos itu.
Lalu, mereka bertiga berjalan ketempat parkir. Dan mobil Meserati hitam itu kembali membelah jalanan ibukota. Kleine bermain dengan handphonenya sampai tertidur. Perjalanan kali ini tampaknya cukup jauh
Jefri merasa dirinya menjadi sangat gugup disepanjang perjalanan. Dia melihat Kleine yang dengan tenang tertidur. Lalu, dia menatap Bles yang menyetir dengan riang. Wajah Bles tidak pernah kehilangan senyum.
"Apakah kau tahu apa yang aku akan lakukan? Bisakah kau memberitahu aku?" Tanya Jefri pada Bles yang sangat asik sendiri.
Bles melirik Jefri dari kaca spion, dia tersenyum licik dan mengangkat alisnya untuk menggoda Jefri. "Ini adalah sebuah kejutan yang sangat indah, kau tenang saja. Kita akan sampai dalam waktu tiga puluh menit, kau bisa tidur jika kau mau."
Mendengar bahwa mereka akan sampai ditempat dalam waktu tiga puluh menit lagi, Jefri menjadi semakin gugup.
Bles tersenyum semakin lebar saat melihat Jefri yang semakin gugup. Dia bahkan bersenandung lebih keras, mengangguk dan menggeleng seperti orang kesurupan.
Saat Kleine melihat keatas, saat itu mata tajam Lion memudar. Terutama saat ada dua orang yang menghampiri Kleine dan melihat keatas membuat Lion sedikit memalingkan muka. Tapi, dia harus menyesal karena itu. Sebab Kleine menghilang bersama dengan dua pria tadi.
Dengan kesal, dia menghampiri geon dan memberinya banyak tugas dari ini dan itu. Dari urusan perusahaan, rumah dan kesehatan kakeknya. Geon yang tiba-tiba mendapat semua tugas itu hanya bisa menangis tanpa air mata.
Tak terasa, hari sudah menjelang waktunya makan siang. Lion yang sedang dalam suasana hati buruk tidak ingin memasak untuk dirinya sendiri seperti tadi pagi. Dia hanya bisa datang ke restoran teman baiknya.
Azel dan Carlie memakan makanan yang sangat pedas dan merah didepan tuan tua Galio. Mereka membuat gerakan yang sangat menggoda untuk menarik minat tuan tua itu.
"Berhentilah menggodaku!" Ujarnya dengan wajah masam.
"Oh, ayolah paman! Ini hanya sedikit pedas, kau bisa mencobanya jika kau mau," ujar Carlie menggoyangkan ayam bakar asam pedas didepan wajah tuan tua Galio.
__ADS_1
"Kau ini!" Geram tuan tua Galio dengan kesal.
Tuan Galio menajamkan matanya untuk mengintimidasi Carlie. Tapi, bukannya takut, Carlie justru ikut membuka matanya lebar dengan senyum yang tak kalah lebar untuk bermain adu mata dengan tuan tua Galio.
"Eh,.. bibi sudahlah, jangan menggoda kakek lagi! Bagaimana jika kakek tergoda dan benar-benar ingin memakannya dan melupakan kesehatannya?" Ujar Azel menengahi pertempuran mata kedua orang itu yang sudah sangat sengit.
"Baiklah, ini waktunya makan bukan bertempur!" Ujar Azel sekali lagi saat tidak ada dari keduanya yang ingin mengalah.
Mereka masih tidak menanggapi Azel yang membuat gadis itu merenggut dengan kesal. "Ya sudah kalau kalian ingin bertengkar, aku kenyang! Aku pergi dulu," pamit Azel dengan wajah masam.
Keduanya memegang tangan Azel agar tidak pergi dan berteriak serempak agar Azel jangan pergi.
"Jangan pergi/ tidak boleh pergi!" Teriak keduanya dengan kompak.
Azel melirik dua orang didepannya yang memegang tangan kirinya dengan erat. Dua paman dan ponakan ini sepertinya lebih seperti ayah dan anak kandung? Pikir Azel.
"Kakek tidak bertengkar lagi/bibi tidak menggoda kakek lagi!" Ujar keduanya kembali kompak, hal ini membuat Azel semakin menaikkan alisnya dengan bingung.
"Baiklah!" Ujar Azel pada akhirnya. Dia tidak ingin dibuat semakin bingung dengan ulah keduanya yang benar-benar seperti ayah dan anak perempuan.
Azel kembali duduk dengan tenang, sesuai perkataan keduanya. Mereka benar-benar tidak membuat keributan lagi. Azel makan dalam diam dan sangat sedikit. Sebagai penyuka kecantikan, tentu saja dia juga penggemar tubuh langsing.
"Kau makan sangat sedikit, bibi sudah memasak makanan kesukaanmu secara khusus, makanlah lebih banyak hari ini!" Ujar Carlie saat melihat Azel yang hampir selesai makan. Dia menambahkan beberapa layak lagi ke piring Azel yang nyaris kosong itu.
"Tapi aku sudah kenyang bibi!" Ujar Azel memelas, tapi saat dia berbalik dia mendapati wajah Carlie yang bertingkah lebih menyedihkan dari dia. Azel hanya bisa menunduk dengan patuh dan memutar matanya dengan malas. "Baiklah!" Ujarnya dengan suara patuh dan pelan.
Carlie mengangguk dengan senang dan melanjutkan makannya dengan tenang. Tuan tua Galio menatap Carlie dengan senang kali ini. Cucunya makan sedikit lebih banyak setiap kali ada Carlie disini. Akan lebih baik jika Carlie tidak perlu bekerja dan selalu berada di rumah saja.
Tapi, dia juga tidak ingin mengekang Carlie. Carlie hanyalah keponakannya saja dan tidak lebih dari itu. Dan dilihat dari sikap Azel, mungkin dia tidak akan patuh dengan Carlie lagi jika Carlie bukan seorang wanita karir seperti sekarang.
Mengingat betapa Carlie memanjakan Azel, tuan tua itu juga teringat kenangan istrinya yang begitu memanjakan putrinya. Hai, dia jadi merindukan istrinya yang sudah lama pergi.
__ADS_1