
"Anda ingin kemana paman?" Tanya Kleine dengan nada main-main, menirukan gaya Shifa.
"A..aku akan pergi mengantar beras, karena masalahnya sudah selesai aku akan pergi lebih dulu!" Ujarnya gagal menatap Kleine dengan ngeri.
"Hah? Selesai?" Tanya Kleine bingung dan menatap ke belakang dengan penuh tanda tanya. "Apa masalahnya sudah selesai?" Tanya Kleine pada Piscel.
Piscel menggeleng dengan santai dan berjalan mendekati Kleine, "tentu saja belum selesai. Uangnya dan pencurinya masih belum ditemukan!" Ujar Piscel dan menatap orang itu ganas.
"Bu..bukan aku pencurinya!" Tolak langsung penuduh itu dengan gagap.
"Ah, apa aku bilang laman pencurinya?" Tanya Piscel pada Kleine dengan wajah heran.
Kleine menggeleng, "hei paman! Kami awalnya hanya ingin bertanya selain kau yang melihat dia mencurinya, apakah ada orang lain? Tapi sepertinya jawabannya sudah jelas!" Ujar Kleine yang membuat penuduh itu ketakutan.
Orang yang telah terbodohi juga menatap penuduh itu tidak senang.
Sepertinya semua orang sudah memikirkan jawaban atas semua masalah ini. Pemilik toko menatap Rich dengan penyesalan.
"Aku akan melihat tasnya!" Ujar seseorang mengusulkan dan merebut tas dari penuduh itu.
Penuduh itu tidak ingin tasnya di ambil alih, tapi kakinya telah di tekan sangat kuat oleh sesuatu yang tidak diketahui. Setelah sedikit perjuangan, orang itu langsung mengeluarkan semua isi tas tanpa mengeledah.
Berbagai macam barang berjatuhan dan berceceran sana dan sini.
Ada banyak hal dan juga kantong plastik hitam. Lontong itu jatuh dengan bunyi yang keras. Antara massanya yang terlalu berat. Atau jarak jatuhnya yang terlalu tinggi, kantong plastik itu langsung pecah setelah menyentuh permukaan tanah.
Ada uang recehan yang menarik perhatian semua orang.
Piscel berjalan maju dan mengangkat kantong plastik. "Yoyoyo... Haiya... Paman, kau sangat keren!" Puji Piscel dengan senyum mengejek.
Karena masalahnya sudah selesai Kleine terlalu malas untuk ikut campur. Dia mundur beberapa langkah dan membiarkan semua orang bertindak.
Piscel juga berbalik untuk melihat Rich yang berdiri termangu. "Ekm! Paman, karena uangmu sudah di temukan, bisakah kau mengembalikan uang anak ini?" Tanya Piscel sarkas.
Paman itu dengan malu mengembalikan uang milik Rich. "Maaf karena telah menuduhmu!" Ujar paman itu pada Rich.
__ADS_1
Rich menggeleng, "tidak masalah!" Ujarnya dengan senyum manis.
Piscel hendak menyeret Kleine pergi karena masalahnya sudah selesai. Tapi Kleine tidak bergerak, "kau ikut aku!" Ujar Kleine pada Rich.
Rich ingin menanyakan 5W+1H pada Kleine. Tapi instingnya menyatakan untuk tidak terlalu banyak bertanya. Jadi, dia dengan patuh mengikuti Kleine pergi dalam diam.
Mereka berjalan ke sebuah kafe yang berada tidak jauh dari sana.
Piscel tidak bertanya lebih jauh tentang tindakan Kleine. Dia kurang lebih tahu apa yang akan Kleine lakukan. Tapi, Rich yang tidak akrab sudah sangat gugup saat ini.
Delora dengan cepat sampai di tujuan yang Kleine kirimkan. Dia memutar nomornya dan ingin menanyakan lokasi Kleine saat ini. Siapa yang tahu bahwa telepon itu langsung dimatikan dan ada satu kata singkat sebagai balasan.
"Kafe!"
Tuhan tahu ada berapa banyak jenis kafe di daerah ini. Delora ingin bertanya lebih banyak saat ternya pesannya hanya mendapat tanda seru merah.
Dengan pasrah Delora hanya bisa datang ke beberapa kafe untuk melihat. Bahkan dia mendapat tatapan sinis dan mengejek dari pegawai kafe karena dia hanya datang dan tidak memesan apa pun.
Setelah kafe ke empat, Delora tidak yakin apakah masih tidak bertemu atau akan bertemu. Jika masih tidak, maka Delora memutuskan untuk kembali ke perusahaan. Dia tidak ingin terus membuang waktunya untuk mencari dan mempermalukan diri.
Untunglah di kafe ke lima, Delora melihat tiga orang duduk dan menikmati coffee dengan tenang. Dia mengepalkan tangannya dengan erat. Apa sulitnya mengetik tiga kata lagi selain kafe.
Setidaknya dia menjadi lebih ringan dengan kode itu. Tapi itulah Kleine dengan berbagai sifatnya membuat orang lain mudah muak!
Saat dua langkah lebih dekat dengan meja itu, Kleine berkata dengan bosan. "Sangat lama!"
"Itu semua juga karena kau yang begitu pelit mengirimkan informasi!" Bantah Delora dengan kesal, dia mengambil satu kursi yang tersisa dan duduk dengan lelah. Merebut minuman milik Rich yang tidak tersentuh sama sekali dan meminumnya dalam sekali teguk.
"Ciuh... Rakus!" Ujar Piscel tanpa malu-malu.
"Piscel? Sedang apa kau disini?" Tanya Delora cepat.
"Hei seharusnya kau tanyakan itu pada dirimu sendiri!" Jawab Piscel memulai perdebatannya.
Kleine menghiraukan perdebatan keduanya seakan dunianya begitu damai dan aman. Sedangkan Rich, dia saat ini menatap Delora dengan bingung.
__ADS_1
Kemarin dia tidak berani menemui Delora secara langsung. Sekarang Delora datang dengan sendirinya, dia tidak tahu harus senang atau bahagia.
Seperti yang diduga oleh para manajer itu. Mereka dimarahi habis-habisan oleh Lion.
"Bukankah dari data ini uang yang di keluarkan hanya dua juta saja? Jadi kemana dua juta lainnya terpakai?" Teriak Lion dan melempar berkas itu keras di atas meja.
"Laporan ini jelas masih salah, hal sekecil ini bahkan memerlukan aku untuk menyelesaikan nya? Kalian...." Begitulah para karyawan itu keluar dengan kepala tertunduk.
Saat mereka keluar, Geon berdiri didepan mereka dengan secangkir kopi hangat.
"Ada apa?" Tanya Geon heran.
"Kau pasti tahu mengapa tuan muda begitu galak hari ini kan? Tolonglah, kau asisten nya kau harus bisa menenangkan dia!" Ujar para eksekutif itu dengan nada memelas.
"Eh? Sebenarnya aku tidak tahu apa yang sedang terjadi. Tapi, pagi ini tuan meminta untuk mengatur ulang jadwalnya selama satu bulan ke depan. Dan dia juga pergi lebih awal siang ini. Sepertinya dia memasak untuk seseorang, lalu dia pulang dengan marah. Aku tidak tahu apa yang terjadi padanya!" Ujar Geon menjelaskan secara rinci.
"Itu dia!" Ujar semangat seseorang paman.
Semua orang menatapnya bingung.
"Ada apa?" Tanya paman yang lain.
"Tuan muda pasti memasak untuk orang yang dia sukai. Tapi, saat mengantarkan makanan ternyata wanita itu menolak makanannya yang membuat tuan mudah kecewa dan meluapkan kekesalannya dengan kita pekerja kecil ini!" Ujar paman itu agak bersemangat dan lelah secara bersamaan.
"Tidak mungkin tuan muda akan kesal hanya hal sekecil itu. Mungkin itu karena tuan muda melihat sudah ada pria lain yang mengantarkan makanan untuk wanita itu!" Sanggah yang lain.
"Berhenti menebak! Kalian akan musnah jika tuan muda mendengarnya!" Ujar Geon santai dan membawa kopinya ke ruang kerjanya.
Dia sebenarnya agak setuju dengan tebakan mereka. Tapi, dia mengenal Lion lebih baik. Jadi dia tidak yakin bahwa tuan mudanya sedang jatuh cinta saat ini.
Tapi, mulut karyawan itu memang suka bergosip. Dalam sekejap, hampir semua orang tahu bahwa tuan muda mereka sedang mengejar seorang gadis.
Para gadis cemburu dengan gadis yang sedang di kejar tuan mereka. Dan para pria penasaran dengan penampilan orang itu.
Meskipun itu hanya gosip, tapi sebenarnya itu memang nyata.
__ADS_1
###
😝