
Membuat orang lain mempercayai kita itu tidak sulit. Tapi, akankah mempertahankannya masih semudah itu?
Dan jika kepercayaan itu sudah hilang, apakah masih bisa kembali lagi?
Banyak orang akan kesulitan percaya lagi setelah kepercayaannya telah pergi.
Sama halnya dengan memaafkan seseorang, tapi apa yang mereka lakukan tidak bisa dilupakan.
***
Kleine, Bles dan Jefri datang ke bangsal tempat adik Jefri dirawat. Saat sedang berada di lorong menuju ruang Jania, adiknya Jefri. Mereka bertemu dengan seorang dokter.
"Lama tidak berjumpa Kleine!" sapanya ramah dengan senyum yang sedikit aneh.
"Kebetulan sekali Key," jawab Kleine dengan malas.
"Sedang apa kau disini?" Tanya Key dengan bingung, dia menaikkan sebelah alisnya dan melirik dua pria dibelakang kliene.
"Itu sebabnya aku mengatakan kebetulan bisa bertemu denganmu disini. Ini... Tolong kau rawat dia, aku akan menunggu diruanganmu!" Ujar Kleine mendorong Jefri kedepan Key.
Setelah berbicara, Kleine berbalik menuju ke arah lift yang baru saja mereka naiki tadi.
Jefri yang dijual sedikit bingung. Key baru saya ingin menolak tapi Kleine sudah naik lift dan pintunya sudah tertutup. Bles yang menjadi sopir antar jemput tidak tahu harus apa.
"Hah, sudahlah! Dia memang selalu saja begitu, baiklah kalian butuh bantuan apa?" Ujar Key dengan pasrah. lalu menatap dua orang didepannya penuh tanda tanya.
Jefri menggaruk belakang kepalanya dengan bingung.
Dan menceritakan apa yang dia inginkan. Bles hanya bisa bersama dengan Key dan Jefri. Toh ingin menyusul Kleine dia tidak tahu harus ke lantai berapa!
Key yang mendengarkan cerita Jefri tentang betapa beruntungnya bisa bertemu dengan Kleine menjadi tertawa seperti yang sebelumnya Bles lakukan. sedangkan Bles sendiri hanya bisa menahan bibirnya yang berkedut.
***
Karena ada beberapa telepon, Lion terpaksa mengangkatnya dulu sebelum naik ke lantai atas. Dia tidak melihat tiga orang yang lewat didepan punggungnya.
Setelah lima belas menit berlalu, dia menutup teleponnya dan berjalan ke atas. Melewati meja resepsionis, dia memasuki lift dan naik ke lantai lima. Tapi, saat berada dilantai dua. Liftnya berhenti dan seorang wanita cantik masuk dengan gaya yang malas.
Lion melihat wanita itu dengan sangat lamat.
Rambutnya yang kuncir kuda dengan anting rantai kupu-kupu yang sangat berkilau. Wajahnya yang tirus dan putih sangat cantik.
Tidak tahu kenapa. Tapi, Lion sangat ingin berkenalan dengan gadis itu.
Kleine merasa pria dibelakangnya selalu memperhatikan dia dengan mata yang sedikit mesum?
__ADS_1
Dia melihat kebelakang dan matanya bertemu dengan mata pekat yang tajam.
"Jaga pandanganmu tuan!" Tegur Kleine setelah melihat atas bawah penampilan Lion.
Pria berkacamata emas itu sangat tinggi dan rapi. Seharusnya tidak seperti yang Kleine pikir kan?
Kleine memutar matanya dan kembali menghadap kedepan.
Lion yang mendapat teguran dari Kleine sedikit tersentak. Dia merapikan jas hitamnya dan membuang muka kearah lain. dia juga merasa sangat tidak pantas mencuri pandang pada seorang gadis lajang. Belum lagi mereka hanya berdua saja di lift itu.
Tapi, sebaik apapun Lion mencoba menjaga matanya. Dia selalu suka mencuri-curi pandang pada rambut Kleine yang begitu hitam dan halus.
Tangannya yang nakal terangkat dan sangat ingin mengelus kepala Kleine.
Berulang kali dia mengingatkan dirinya untuk tidak ceroboh. Tangannya yang nakal ia kunci erat dengan tangan yang lainnya.
Sebagai seorang pria yang tidak pernah tertarik pada wanita. Lion merasa jantungnya sangat aneh hari ini. Dengan wajah yang terbuang, Lion mencoba mengambil satu langkah lebih dekat dengan Kleine.
Kedua tangannya dia kunci didepan tubuhnya.
Kleine merasakan pergerakan dibelakangnya. Memutar matanya dengan malas dan hendak menegur Lion lagi. Tapi, siapa yang mengira akan ada kontraksi pada liftnya detik itu juga.
Karena posisi Kleine tadinya ingin berbalik adalah posisi yang paling tidak seimbang. Dia jatuh ke pelukan Lion yang kokoh akibat goncangan itu. Kedua tangannya menjadi jarak pemisah antara dua tubuh yang nyaris menyatu itu.
Kepala Kleine sedikit mendongak.
Lion juga melihat mata besar Kleine yang sangat cerah dan penuh semangat. Bulu mata Kleine yang panjang sangat lentik di setiap gerakannya.
Saat lift berhenti dan pintu terbuka. Beberapa dokter dan perawat berdiri dengan diam dan kaku.
Jika dilihat dari sudut pandang mereka. Itu seperti adegan yang sedikit tidak boleh menjadi pertontonan publik.
Seorang dokter wanita berdehem keras.
"Ekhm...ekhem..." Dehemnya terus menerus untuk menarik perhatian dua orang didepan mereka.
Kleine dan Lion yang saling menilai tersadar langsung.
Kleine mendorong dada Lion menjauh dan segera keluar dari lift dengan malu.
Dia melihat banyak dokter dan perawat yang melihat kejadian barusan. Dia berjalan dengan cepat keruangan Key.
Lion tetap berada di lift tanpa rasa malu meskipun semua orang menatapnya dengan pandangan yang mengejek ataupun pandangan yang sangat aneh.
Beberapa perawat wanita tidak bisa menahan diri untuk berhenti menatap pria tampan itu.
__ADS_1
Bahkan seorang perawat yang sangat cantik tidak bisa menahan dirinya. Dia dengan percaya diri berjalan mendekati Lion.
Jika dia bisa mendapatkan perhatian cinta pria itu, dia tidak perlu terus menjadi perawat.
Bisa dilihat dari pakaian dan gayanya bahwa Lion adalah seorang konglomerat. Apalagi jam tangan mahal yang tidak bisa berbohong itu.
Namun, belum selangkah tanpa jarak dengan Lion. Lion sudah bergerak menjauh dari para wanita dan berdiri diantara para lelaki.
Dia menatap tajam kearah wanita itu dan mengeluarkan aura mendominasi yang tidak mau didekati. Hal ini tentu saja membuat perawat itu menjadi agak canggung.
Dokter wanita yang tadi sedikit dongkol karena perawat itu mengambil langkah lebih dulu darinya menjadi senang melihat hal itu. Dia juga bersyukur tidak bergerak lebih cepat, jika tidak dia mungkin akan malu seperti perawat tidak tahu malu itu.
Sedangkan saat ini, Kleine menatap dengan bingung. Sepertinya dia sedikit tersesat. Tidak, bukan tersesat!
Dia jelas turun di lantai yang salah karena pria itu. Tangan Kleine terkepal kesal saat mengingat kejadian memalukan tadi.
Siapapun itu, ingatkan Kleine untuk merugikan pria itu jika bertemu lagi!
Karena telah salah lantai, Kleine terlalu malas untuk naik lift lagi. Dan moodnya yang memang rendah sudah jatuh sekarang.
Dan yang paling penting, dia sudah tidak punya niat lagi untuk menunggu di ruangan Key.
Dari balik kaca, Kleine melihat pada taman belakang rumah sakit yang hijau. Sepertinya lebih baik dia berjalan-jalan ketempat itu saja.
Hari ini, Kleine telah banyak berencana. Tapi, selalu saja gagal karena moodnya selalu suka hancur untuk hal yang kecil.
Trauma menaiki lift, Kleine hanya bisa memutuskan untuk memilih tangga sebagai akses untuk turun kelantai satu.
Lion yang berada di dalam lift merasa sangat pusing. Dia selalu tidak bisa menghilangkan Kleine dari pikirannya. Matanya yang bersinar dan besar, bulu matanya yang lentik dan sangat menggoda.
Lalu jangan lupakan aroma yang sangat harum dari rambut Kleine. Lion sangat ingin bertemu lagi dengan gadis itu. Dia ingin memeluknya dan mencium aroma rambutnya yang harum dan menenangkan itu.
Tanpa Lion sadari, dia tersenyum disepanjang lorong menuju bangsal tuan tua.
Saat mencapai pintu bangsal tuan tua. Lion mendengar suara keributan didalam. Senyumnya lenyap dalam sekejap.
Dia membuka pintu bangsal dengan wajah dingin.
Geon yang memarahi bawahannya mendengar suara pintu terbuka. Dia menoleh dan melihat wajah datar dan dingin dari Lion.
"Bos ini gawat! Tuan tua kembali melarikan diri lagi," lapor Geon dengan wajah panik.
"Tunggu apa lagi, segera cari!" Perintah Lion tak terbantahkan.
Geon ingin mengatakan bahwa dia sudah mengirimkan banyak pengawal untuk mencari. Tapi, melihat wajah tidak senang Lion. Dia mencari ke luar dengan tergesa-gesa. Dua pengawal lainnya menunduk pada Lion dan mengikuti langkah Geon.
__ADS_1