
"Owhh... Sepertinya kalian agak sibuk, kalau begitu aku izin ke toilet dulu!" Ujar Kleine dan langsung melarikan dirinya dari tempat itu.
Lea menatap Kleine dengan mata mengancam. Kleine mengabaikannya dan berjalan cepat ke lantai bawah. Zoey juga menghalangi tatapan Lea dari Kleine.
"Lea..." Ujarnya pelan, menurut Lea ini lebih menakutkan dari nada marah Zoey yang sebelumnya. Dia tidak bisa menahan diri agar tidak segera menciut. Lehernya menghilang seketika dan menatap Zoey dengan gugup.
"Heh, ibu dan ayahku bercerai!" Ujar Lea pada akhirnya dan segera membuang muka.
Zoey yang tadi marah menjadi tidak enak mendengar semua itu. Rasanya dia menyesal dan tidak ingin Lea melanjutkan ceritanya. Tapi, matanya tetap menatap Lea menuntut gadis itu terus bercerita padanya. Dia merasa dia berhak tau.
Melihat kegigihan diantara ketidaknyamanan Zoey, Lea harus menelan pil pahit dan terus bercerita.
"Ayah hanya menikahi ibu untuk harta kakek saja, saat dia tidak berhasil mendapatkannya. Ayah melarikan diri dengan istri simpannya. Ibu sangat kecewa dan merasa itu semua adalah palsu. Dia tidak pernah mengurus hidupku, dari kecil aku tinggal bersama kakek..." Lea terus bercerita dengan mata kosong, Zoey segera menghentikan ucapan Lea.
Tangan kirinya menutup mulut Lea, wajahnya mendekat pada mata Lea yang tampak mulai berair.
Saat Kleine berada di tangga, dia sudah memasang kembali topi hitamnya. Dia melihat seorang pria yang dia kenal berada tepat di depannya. Dia mengerutkan keningnya kesal. Inikah yang di sebut kebetulan berulang kali?
Pria ini lagi dan lagi, apa benar-benar dia sekarang menjadi begitu sial karena sangat terikat dengan orang ini. Saat Kleine mengumpat dalam hatinya, kakinya tanpa sadar terlipat dengan kaki lainnya.
Tubuhnya oleng dan dia yang tidak siap menjadi sangat terkejut, dia mencoba meraih pegangan di pinggir tangga, tapi ternyata pegangan itu sangat licik membuat tangan halusnya tergelincir.
Saat dia sudah membayangkan akan jatuh dengan keras di berbagai tingkat tangga, sebuah tangan terulur dan menariknya ke pelukannya.
Saat itu juga topi Kleine yang tidak terpasang sempurna jatuh. Sehingga pandangan mata Kleine dan mata pria itu saling menatap.
"Sepertinya nona ini sangat menyukai terjatuh di pelukan saya?" Goda Lion dengan senyum narsisme.
Kleine yang menyadari telah berada di pelukan Lion langsung dengan sigap berdiri dan menjauh. Tapi, sepertinya dia lupa bahwa itu adalah tangga. Jadi, saat dia mundur, kakinya menaiki tingkat tangga dan tanpa sengaja sedikit tergelincir.
Ya, kaki Kleine mengalami keseleo. Dia tidak bisa berdiri dengan benar dan mengeluh sakit.
Lion menggeleng kecil dan menggendong gadis itu. Dia tidak membawa Kleine baik kembali, karena sepertinya tadi dia mendengar sedikit keributan dari atas. Jadi, dia membawa Kleine turun tangga dan masuk ke ruang tunggu yang tersedia di restoran ini.
Lion meletakkan Kleine dengan pelan di sofa panjang yang tersedia.
__ADS_1
Dia melepas sepatu sports Kleine dan mulai memijitnya dengan pelan tanpa membuat Kleine bereaksi atau menolaknya.
Kleine tidak bereaksi karena dia sedang bingung saat ini. Sepertinya ini agak terlalu ambigu kan?
Mereka jelas tidak kenal, seharusnya ini adalah pertemuan kedua menurut Lion. Tapi, mengapa dia bisa begitu baik?
Kleine rasa jawabannya hanya satu, pria di depannya ini adalah seorang playboy handal. Jadi, dia dengan tegas menarik kakinya menjauh.
Siapa sangka, tangan Lion yang agak lembut itu akan sangat kuat. Dia berusaha menarik kakinya beberapa kali, namun tidak berhasil juga. "Lepaskan!" Teriaknya tidak senang.
"Kakimu sudah bengkak begini, diamlah! Biar aku mengurutnya agar tidak sakit lagi." Lion tetap kukuh dan tidak mau melepaskan kaki Kleine.
"Masalahnya itu sakit, dan yang jadi pertanyaan apakah kau tau cara mengurut kaki dengan benar?" Tanya Kleine dengan malas.
Lion diam dan mengabaikannya, dia terus fokus pada apa yang sedang dia kerjakan. Kleine juga terlalu malas berdebat dengan pria yang mati otak ini. Jadi, dia mengeluarkan handphonenya dan melihat sebuah video lucu dari YouTube.
Karena terlalu fokus pada video itu, Kleine yang sedang tertawa tidak menyadari seseorang sedang menatapnya dengan rakus.
Lion sangat terpana dengan tawa Kleine yang sangat manis itu. Bibir kecil itu sepertinya sangat manis dan Lion ingin mencicipinya. Sejak tadi, Lion bahkan bingung dengan reaksi dirinya sendiri.
Ketika videonya habis, Kleine merasa ada tatapan panas di depannya. Dia melihat Lion yang sedang berlutut itu menyapanya dengan mata yang aneh. "Apa yang kau lihat!" Galak Kleine dan menatap Lion tajam.
Lion segera tersadar dan mengelak, "tidak!" Jawabnya singkat. "Aku akan keluar untuk meminta es, kau tunggu disini dulu!" Ujarnya dan langsung melarikan diri.
Kleine hanya mengangguk ringan dan memilih video lucu yang lainnya.
Lion yang keluar dari pintu segera menyentuh dadanya. Dia menoleh ke arah pintu sejenak dan kemudian melihat kearah tangannya. Untunglah pikirannya tidak meluas terlalu jauh. Jantungnya saat ini berdetak sangat kencang.
Apakah dia benar-benar jatuh cinta pada gadis yang kemarin dia temui secara tidak sengaja?
Lion sangat bingung dengan perasaannya sendiri.
Sementara itu, Zoey dan Lea sedang berada di mode yang agak ambigu. Mata keduanya saling bertatapan sangat lama. "Jangan katakan lagi! Maaf untuk yang tadi, aku benar-benar..." Zoey bingung harus mengatakan apa.
Dia melepaskan tangannya dari mulut Lea, wajahnya dia buang kesamping dengan rasa bersalah.
__ADS_1
Lea tersenyum, heh, menjebakku? Tidak semudah itu sayang! Pikirnya dalam hati.
Lihat saja pembalasan dariku Kleine! Ujarnya dendam dengan penuh tekad.
Dia meneteskan air mata dengan susah payah. "Tidak apa-apa, aku tahu seharusnya aku tidak merahasiakan ini darimu! Tapi..." Lea berkata dengan nada serak dan mata yang sudah merah.
Zoey menoleh dan melihat air mata istrinya yang perlahan jatuh, dia merasa semakin bersalah. "Maaf... Maaf sayang!" Peluknya erat pada tubuh kecil Lea.
Dia balik kepala Zoey, Lea tersenyum menang.
"Sebenarnya aku pengen ngenalin kamu ke ibu aku, tapi dia selalu bilang gak ada waktu. Lama-lama aku merasa kecewa dan pergi dari rumah. Seharusnya aku gak gini, maaf!" Ujar Lea menambah rasa bersalah pada Zoey.
Zoey langsung memotong Lea yang sepertinya masih berniat melanjutkan ucapannya. "Tidak, itu adalah hak kamu ingin mengenalkan mereka padaku atau tidak. Aku juga seharusnya bisa ngertiin kamu, maaf ya!"
"He'eh, Tapi cinta aku sama kamu gak bohong kok! serius."
"Iya aku tahu, aku juga cinta sama kamu!"
Lion masuk keruangan dengan pelan, dia membawa wadah berisi es yang telah di bungkus dengan kain kasa.
Dia melihat Kleine yang tidur malas-malasan di sofa dan sedang tertawa seru dengan apa yang ada di ponselnya.
Dia diam-diam maju, lalu menempelkan es tadi langsung ke kaki Kleine yang tadi bengkak.
Sontak Kleine langsung kaget dan berteriak, "akh!" teriaknya dan handphone terpental ke lantai. Dia langsung berdiri dan menatap sang pelaku dengan tatapan ganas.
Lion juga merasa bersalah karena telah membuat Kleine bereaksi begitu luar biasa. Apalagi setelah dia melihat handphone mahal gadis itu yang tergeletak di lantai tak berdaya.
###
Assalamualaikum semua🤗
Kalian apa kabarnya, sehat kan?
Sama, aku juga 🤭
__ADS_1
Eh, yang tadi komentar kalau cerita ini bikin candu, suitt.. jangan kasih tau siapa-siapa ya, soalnya cerita ini memang mengandung ekstasi, hehe😁😁😁