
Zoey menatap Kleine tajam. "Kau!" Panggilnya dengan geram.
Kleine berdiri dengan malas didepan dua orang yang masih berpelukan itu. Sembari menepuk debu di pantatnya, "Sudahlah! Aku tidak mungkin sekejam itu. Aku sudah melihatmu di depan pintu tadi, lagipula jika kau tidak bergegas seperti tadi. Aku sedang mempertimbangkan untuk membawa Lea pulang."
Lea menatap Zoey setelah perkataan Kleine selesai. Pipinya memerah dengan sangat cepat.
Kleine memutar matanya dan berbalik, dia berjalan ke lantai atas. "Oh, sangat sulit memiliki seorang teman yang sedang kasmaran!" Bisiknya pelan.
Sejak Lea jatuh hati pada seorang tuan muda yang manja ini. Kleine sebagai teman terdepan mendapat tugas menilai pria itu. Tapi, setelah beberapa tahun, dia sepertinya tidak mendapat sedikitpun celah.
Hubungan mereka bahkan tidak kendor!
"Temanmu ini sangat tidak baik, kau harus menjauh darinya lain kali!" Ujar Zoey tidak senang dan menatap serius pada mata istrinya.
Lea justru tertawa dengan nada serius suaminya itu.
Mendelik tidak senang, "kenapa kau tertawa? Aku serius Lea!" Dia melepaskan Lea dari pelukannya dan membuang muka dengan kesal.
"Ayolah, jangan ngambek!" Lea menghentikan tawanya dan merangkul lengan kokoh Zoey. "Aku tidak bisa menjauh darinya, dia teman terbaik dalam hidupku!" Ujarnya menyakinkan Zoey.
Zoey menoleh dan menatap mata lembut istrinya, "teman terbaik apanya? Setiap kali dia datang pasti akan selalu melukaimu!" Kata Zoey tidak terima dengan jawaban Lea.
"Tentu saja itu ada alasannya."
"Lalu apa alasan yang membuat seorang teman baik akan selalu mencelakai temannya setiap kali bertemu?" Zoey bertanya dengan kesal karena ucapan Lea yang menurutnya tidak masuk akal. Sepertinya otak istrinya ini telah di cuci oleh Kleine itu.
Lea tersenyum dan mengulurkan kedua tangannya ke leher Zoey. Dengan sekali tarikan, kepala tinggi Zoey setara dengan tingginya.
Bibirnya yang tipis dan seksi mendekati telinga Zoey. "Rahasia!" Bisiknya dengan cepat dan langsung melarikan diri ke lantai atas.
Zoey yang masih panas masih terdiam, jadi saat dia sudah sadar. Lea sudah menghilang dari pandangannya. Dia mengusap telinganya yang memerah. Istrinya ini sangat suka memasang masalah di siang hari.
Dia menjadi tidak sabar dengan honeymoon yang akan datang. Ketika hari itu terjadi, dia pasti tidak akan memberi gadis itu ampunan! Pikirnya dengan kejam.
__ADS_1
Kleine duduk di kursi dengan tenang sembari menunggu langkah kaki Lea yang mendekatinya.
"Apa kau tidak merasa resah jika perusahaan itu berada di tangan orang lain?" Tanya Lea sembari mendekat.
Dia kenal betul tabiat pemalas sahabatnya ini. Mereka sudah kenal sejak kecil, dan Lea merasa berteman dengan Kleine adalah situasi yang yang menarik.
"Apa peduli ku? Aku masih bisa pulang jika perusahaan itu bangkrut. Tapi kau tidak bisa pulang dengan mudah..." Ujar Kleine bersandar malas dan menggoda Lea dengan alisnya.
"Heh, tentu saja aku masih bisa pulang jika aku menyesal. Tapi, aku yakin penyesalan itu tidak akan pernah ada!" Balas Lea sombong dan mulai duduk di depan Kleine.
Keduanya saling menatap untuk waktu yang lama. Setelah beberapa detik, suara langkah kaki terdengar mendekat.
"Kalian sedang membicarakan apa?" Tanya Zoey dengan lembut menatap istrinya dan mulai menyajikan teh.
"Tidak ada, oh terimakasih teh ini sepertinya sangat mahal, slurpp..." Ujar Kleine melepas topinya dan menyeruput teh dengan nikmat.
"Tidak sopan!" Geram Zoey kesal karena teh itu di rebut dari tangannya secara tiba-tiba. Padahal dia sudah meracik yang itu untuk istrinya. Dalam hatinya dia mengutuk agar Kleine tersedak dan segera mati di tempat.
"Jangan mengutukku, aku bisa mendengarnya!" Ujar Kleine dengan malas. Sebenarnya dia tidak bisa mendengar suara hati Zoey. Tapi, itu mudah untuk mengetahuinya dari raut wajah Zoey.
Zoey memutar matanya dengan malas dan mulai meracik yang baru untuk Lea. Lea sendiri hanya terkekeh dengan wajah masam suaminya.
"Jadi, apa tujuanmu datang kemari?" Tanya Lea pada Kleine setalah berhasil menenangkan dirinya.
Kleine mengabaikan Lea dan terus menyeruput teh itu sampai habis. Lea sendiri tahu Kleine dengan baik, jadi dia tidak bertanya lagi dan mulai menunggu.
Zoey sendiri tidak terlalu peduli pada dua orang itu. Setelah selesai meracik untuk Lea, dia memberikannya dengan penuh hormat. Lea menerimanya dengan senang hati dan juga ikut menyeruput teh itu.
"Aku ingin menumpang bermain game di sini!" Ujar Kleine malas dan mulai mengeluarkan handphonenya, lalu membuka pintu game dan mulai bermain.
"Kau pikir ini adalah warnet?" Tanya Zoey tidak senang. Lea hanya terkekeh dengan ulah suaminya.
Kleine mengabaikan Zoey dan terus bertempur dengan tenang. Tidak terganggu sama sekali dengan amarah yang saat ini Zoey pancarkan.
__ADS_1
Zoey sendiri tidak tahan dengan sifat Kleine.
Sejak gadis itu masuk ke pintu, dia telah menganggu suasana para tamu. Dia bahkan hampir mencelakai istrinya, lalu merebut teh yang dia racik untuk istrinya dan tujuannya hanya ingin bermain game?
Ini seperti sebuah penghinaan bagi Zoey, saat dia kan membentak Kleine lagi. Sebuah tangan terulur dan mengelus lembut tangannya.
"Sudahlah!" Ujar Lea menghiburnya dengan senyum manis.
"Tapi, dia sangat tidak masuk akal! Lea, dengarkan aku. Kau harus menjauh dari gadis ini sebanyak mungkin! Dia akan membawa pengaruh buruk untukmu!' bujuk Zoey dengan nada memelas.
Kedua tangannya menggenggam erat tangan kanan Lea yang tadi mengelusnya.
Lea menggeleng dengan senyum sombong dan menatap Kleine penuh kebanggaan. Wajah itu seakan mengatakan, lihat suamiku tidak seburuk yang kau pikirkan. Dan carilah pria agar kau tidak lajang!
Kleine yang menoleh setelah mendengar ucapan Zoey menyesal karena mendapat tatapan provokasi dari Lea. Dia dengan malas memutar matanya dan kembali fokus pada gamenya seakan dua orang didepannya tidak ada.
"Kenapa hanya senyum saja, kau harus menjauh darinya. Apa kau mendengar suaraku?" Tanya Zoey.
"Double kill!"
"Triple kill!"
"Savage!"
Zoey yang sedang membujuk istrinya merasa terganggu dengan suara-suara berisik dari handphone Kleine. Jadi, dia berbalik:"berisik!" Teriaknya kesal.
Bukannya kesal ataupun takut, Kleine justru tersenyum dengan manis. Meletakkan handphone pintarnya di atas meja dan menyilangkan kedua tangannya di depan dada.
"Lihat? Pria baik dan penyayang mu itu sepertinya bermuka dua, sekarang dia bahkan membentak gadis kecil Jan malang sepertiku." Senyum Kleine semakin dalam, "benar kataku bahwa dia bukan pria baik-baik."
Lea langsung membantah dengan senyum yang tak kalah manis, "tentu saja kau tidak bisa menilainya dengan begitu mudah. Dia jahat padamu itu artinya dia pria setia yang tidak akan tertarik pada gadis lain."
Senyum Lea sangat mengintimidasi. Kleine dengan tidak sabar berkata, "terserah!" Dan mengambil handphonenya lagi lalu mulai melanjutkan permainannya.
__ADS_1
###
assalamualaikum semua🤪