Serangan Cinta CEO Dingin

Serangan Cinta CEO Dingin
Chapter Sixty-two


__ADS_3

Di dalam mobil, Lea masih gugup dan tidak berani memulai topik. Zoey yang berada di kursi kemudi memutar badannya menghadap gadis yang duduk disampingnya.


"Jadi, kemana kita akan pergi nona cantik?" Tanya Zoey dengan senyum menggoda untuk menenangkan suasana tegang di dalam mobil itu.


Lea terdiam lama mendengar pertanyaan itu. Lalu, dia menatap Zoey dengan sangat serius. "Zoey berjanjilah satu hal padaku!" Perkataan Lea yang begitu tiba-tiba membuat Zoey merasa terkejut.


Dia tidak langsung menyetujui permintaan dari Lea. Dia terus menatap Lea lamat dari atas kebawah dan dari bawah ke atas. Membuat Lea yang di tatap menjadi tidak nyaman dan bergerak gelisah.


"Aku tidak suka berjanji untuk apa yang tidak aku ketahui Lea!" Ujar Zoey juga dengan wajah yang serius.


"Aku mohon, berjanjilah dulu satu hal. Setelah itu kau bisa melakukan apapun, dan aku akan menceritakan semuanya padamu dengan jelas tanpa kurang sedikitpun!" Jelas Lea cepat.


"Baiklah, apa yang kau ingin aku janjikan?" Tanya Zoey sedikit mengalah karena melihat wajah Lea yang agak pucat.


"Jangan pergi meninggalkan ku. Aku harap kamu tetap disisiku walaupun kau sedang sangat marah. Kau bisa memukulku jika kau mau, tapi jangan tinggalkan aku oke?" Pinta Lea.


Kedua tangannya menggenggam satu tangan Zoey dengan kencang.


Zoey tahu bahwa Lea tidak sesederhana yang terlihat. Seorang gadis yang terus menerima keadaan yang begitu susah. Dari kaya sampai ketitik paling bawah ini, apakah benar-benar karena tulus?


Dia melihat mata memohon Lea sejenak. Lalu melepaskan tangan Lea, badannya kembali menghadap ke depan. Dia bahkan memutar kemudi tanpa mengatakan ia ataupun untuk berjanji pada Lea.


"Katakan padaku Zoey! Kau akan berjanji kan?" Tanya Lea sedikit takut karena Zoey memilih untuk diam dan tidak menanggapinya.


"Alamat!" Pinta Zoey tanpa menanggapi kata-kata dari Lea.


Lea tertegun karena satu kata barusan terasa sangat dingin dan cuek. Dalam hanya lea sangat takut. Tapi, kapan lagi dia harus jujur? Sampai Zoey tahu semuanya dari orang lain?


Bukankah sudah sengat terlambat saat semua itu terjadi nanti? Kapan lagi kesempatan baginya untuk membela diri dan menjelaskan?


Lea dengan enggan menyebutkan alamatnya.


Mendengar alamatnya, Zoey menatap Lea dengan tatapan misterius. Dia juga sedikit menebak apa yang akan terjadi berikutnya. Dia merasa sedikit sakit di hatinya karena telah di bohongi oleh Lea. Tapi, dia merasa tidak boleh menebak terlalu jauh.

__ADS_1


Namun, dilihat dari reaksi Lea. Dia entah mengapa menjadi sangat yakin dengan tebakannya.


Tangannya yang memegang kemudi terkepal erat.


***


Azel pagi ini menjadi rajin. Dia bangun lebih pagi, belajar membuat sarapan dari chef di rumahnya. Lalu, dia dengan sangat riang pergi ke rumah sakit.


Tekadnya untuk mengejar restu sangat besar.


Sayangnya dia datang terlambat. Jika itu beberapa Minggu yang lalu. Mungkin Azel akan masuk nominasi yang akan tuan tua calonkan pada Lion. Sekarang karena Lion telah pindah tempat tinggal. Dia benar-benar tidak berdaya lagi dan tidak ingin ikut campur dengan urusan itu. Lagipula umur Lion masih terbilang cukup mudah. Dia juga tidak terburu-buru untuk mencari cicit lagi.


Sebelumya dia lupa takdir, sekarang dia ingat.


Dari pada membuat keputusan yang akan dia sesali kedepannya. Lebih baik dia diam dan menunggu hasil saja.


Jikapun dia ingin menjodohkan Lion lagi. Itu mungkin dengan gadis penyelamat yang waktu itu. Sayangnya dia tidak dapat menemukan jejak gadis itu.


Tapi, dia tetap mengutuk cucunya yang begitu durhaka itu. Sejak hari itu, dia bahkan tidak datang menemuinya lagi. Malah, sekarang seorang gadis kecil yang terus menganggu istirahat nya. Jika bukan karena suatu alasan. Dan juga karena rasa kesopanan, mungkin dia sudah lama mengusir gadis tidak jelas yang mencoba menyenangkannya ini.


"Pagi juga gadis kecil!" Sambutnya dengan lembut.


"Apa kakek sudah sarapan, lihat apakah masakan ku ini akan berguna atau tidak!" Tanya Azel dan meletakkan kantung makanan di atas meja.


"Oh, kau membuatkan makanan untuk pria tua ini? Sayang sekali pria tua ini sudah makan bubur yang di beli oleh ajudan!" Ujar nya dengan malu.


Azel memasang wajah kecewa. "Ya... Padahal aku membuatnya dengan susah payah. Tapi, bagaimana jika kakek mencicipinya sedikit saja?" Tanya Azel kembali bersemangat di akhir kalimat.


Tuan tua Bramansa menggeleng dengan senyuman. "Pria tua ini tidak bisa makan terlalu banyak, kau bisa membagikannya pada orang lain saja! " Tolaknya secara halus.


Untuk gadis yang mendekati dia dengan tujuan yang begitu jelas. Tidak baik untuk mencari harapan yang tidak pasti bukan.


Namun, Azel tidak mengerti kode kata yang tuan tua itu buatkan. Dia merasa kecewa dan cemberut.

__ADS_1


"Henm, kalau begitu Azel saja yang memakannya!" Ujar gadis itu dengan pipi kembung dan membuka bekal.


Dia lalu melahap melawan itu didepan pria tua itu.


"Sebenarnya gadi ini sedikit lucu!" Pikir tuan tua Bramansa dengan senyum tulus.


Sayangnya dia sudah punya calon yang lebih baik. Dan juga, dia tidak ingin lagi ikut campur dengan urusan cucunya. Akan sangat bagus jika mereka memang di takdir kan. Karena dengan itu jalan akan terbentuk dengan sendirinya.


Kleine berjalan di tangga ke lantai tiga dengan lamunan. Kali ini tidak ada lagi yang berlari lagi. Mungkin karena hari yang sudah semakin siang, dan semua siswa sudah menempati tempat latihannya masing-masing.


Tapi yang Kleine tidak habis pikir adalah. Ukuran tangga di sini jelas lebih kecil dari tangga yang tadi. Bahkan ini juga tangga yang sangat berbahaya dan curam. Apakah ini untuk latihan berjalan dengan tangan yang bergelantung di anakan tangga?


Jika tadi adalah dua, maka yang sekarang adalah satu setengah.


Kleine berpikir bagaimana bentuk lorong di lantai tiga nantinya. Apakah hanya muat untuk semut lewat?


Biasanya para pelatih memang belum datang di jam ini. Mereka masih sarapan dengan tenang di kafe lantai bawah. Tapi, jangan merasa lega untuk hal itu. Karena mereka yang begitu santai itu juga sedang menonton pengawasan di ruang masing-masing.


Jadi, mereka akan tahu dengan muda siapa yang telah datang terlambat dan tetap bisa menghukum dengan keras. Bahkan sebelum pelatih datang, mereka selalu menetapkan kepada seluruh siswanya untuk melakukan pemanasan.


Siapa yang baru datang langsung bersantai ataupun mencari masalah. Maka mereka juga akan di hukum.


Sebenarnya hal itu bertujuan baik. Mereka hanya ingin meminimalisir pembullyan dan juga pertengkaran. Itu saja.


Seperti yang Kleine duga, lantai tiga sangat cocok dengan perkiraannya. Sangat sempit, seseorang hanya bisa berjalan dengan memiringkan badannya saja.


Karena ini memang pertama kali Kleine datang kesini, jadi dia masih sedikit terkejut dengan pemandangan ini. Bahkan tidak bisa menahan mulutnya untuk tidak mengutuk seseorang.


Seseorang yang mengawasi Kleine dari tadi hanya tersenyum licik.


###


Lagi rajin nih, doain aku rajin terus ya! aamiin,😊

__ADS_1


Jumpa lagi besok ya🥰


__ADS_2