Serangan Cinta CEO Dingin

Serangan Cinta CEO Dingin
Chapter Fifty Five


__ADS_3

Setelah tiga puluh menit berlalu, makanan itu sudah tertata rapi di meja makan. Nasi di rice cooker juga sudah matang.


Lion berteriak ke ruang tamu, "makanan siap."


Kleine yang mendengar itu langsung dengan cepat berjalan ke meja makan. Dari tadi dia sudah gila karena berbagai bau harum dari dapur. Tapi, dia tidak mau mendekat karena gengsi.


"Wah, sangat banyak!" Ujar Kleine kagum dengan berbagai jenis hidang yang ada di atas meja.


Tanpa basa-basi Kleine membuka piring di depannya dan mulai mengambil nasi. Menambahkan berbagai lauk ke piring dan sengaja menyisahkan steak.


Lion mengangkat alisnya, tangannya bergerak dan membuat satu potongan steak jatuh ke piring makan Kleine.


Kleine menatap Lion tidak senang, "apa ada yang makan steak dengan nasi?" Tanya Kleine dengan malas.


"Tentu saja ada, kita sebagai orang Indonesia memang harus makan apapun dengan nasi!" Balas Lion tak kalah malas, menggeser kursi dan ikut membuka piringnya.


Lion tidak serakus Kleine. Dia hanya Mengambil beberapa saja.


Kleine menatap steak itu lamat dengan garpu yang melayangkannya sebelum Kleine ingin meletakkan steak itu kembali ke tempat semula.


Lion menatapnya dengan senyum manis, "coba saja dulu! Aku menjamin kau akan sangat menyukai benda itu kedepannya."


Kleine menimbang apakah dia harus mencoba atau tidak. Tapi, dari semua makanan ini. Dia dapat yakin jika steak memiliki bau yang lebih harum dari yang lainnya. Dengan enggan, Kleine meletakkan itu kembali ke piringnya.


Lagipula hanya mencoba sedikit saja, jika dia tidak suka dia bisa membuang makanan itu ke piring Lion kan? Tidak baik membuang makan secara percuma. Karena Lion memaksanya maka dia harus bisa menerima steak itu jika dia tidak suka.


Memotong bagian kecil dari daging itu dan memasukkan ke dalam mulutnya. Mata Kleine yang mengunyah terpejam, menunjukkan betapa dia tidak suka makan benda itu. Tapi, tiba-tiba dia merasa itu sangat lembut dan enak. Setiap bumbu tercampur merata dan tidak berminyak sama sekali.


"Emmm.... Ini sangat enak!" Pujinya dengan mulut yang terus mengunyah steak matanya berbinar dalam kesenangan.


Lion tersenyum licik, tentu saja itu akan sangat enak. Ini adalah resep khusus yang di ajarkan gurunya agar daging tidak berminyak dan memiliki bau amis. Terlebih lagi dagingnya akan sama lembutnya dengan daging ikan.


Kleine mengambil potongan lain dan terus memakannya sampai satu potong steak itu habis olehnya. Tangannya ingin mengambil potong steak yang lain. Siapa tahu tangan jahat akan menarik piring itu menjauh.

__ADS_1


Dia menyapa orang itu dengan sengit, "apa yang kau lakukan?" Tanya Kleine kesal.


Lion tidak menjawabnya, dia menunjuk dengan matanya. "Kau bahkan belum menghabiskan yang itu, ambil lagi setelah kau bisa menghabiskan semua itu!" Ujarnya tegas dan menyembunyikan steak itu jauh dari Kleine.


"Huh!" Kleine kesal, tapi dia melirik ayam ikan dan para sayuran yang ada di piringnya. Hem, lagipula tidak buruk untuk menghabiskan semua ini dulu baru kemudian mulai makan steak lagi. Dengan sombong Kleine menatap steak itu, "awas saja jika kau menghabiskan!" Ancamnya dan mulai makan yang lain dengan nikmat.


Delora sedang berada dalam daftar hitam Kleine sekarang. Dia tidak bisa menghubungi gadis itu sama sekali. Dia hanya bisa makan nasi ladangnya dengan wajah hitam.


Sangat sial memiliki tuan yang sangat tidak pengertian itu, dia hanya bisa menelan ludah dan terus berada dalam tekanan.


Geon tidak jauh lebih baik dari Delora, perusahaannya lebih luas dari milik Delora. Dia harus mengawasi banyak hal dan sangat banyak.


Lebih buruk lagi, saat makan siang. Dia bahkan tidak punya waktu untuk memesan makanan. Dan karyawan yang gila kerja itu sama sekali tidak berniat memesankan dia makanan. Dia sangat lapar, tapi dia tidak menunda berkas penting itu.


Mengingat bahwa dia sedang menyukai seseorang. Geon menangis di dalam hatinya. Jika waktu untuk memesan makanan saja dia tidak punya. Lalu bagaimana dia mendapat waktu untuk menunjukkan hatinya pada sang pujaan hati?


Dua orang yang gila kerja itu tidak masuk dalam pikiran dua bos sama sekali. Kleine makan dengan nikmat, dan Lion makan sembari menikmati wajah cantik Kleine.


Dengan cepat, makanan di piring Kleine bersih, tangannya terulur. "Kembalikan steak milikku!" Ujarnya angkuh, Lion tersenyum pasrah dan menyerahkan steak itu ke Kleine.


Merasa telah di remehkan, tentu saja Kleine tidak terima.


Dia menunjuk perut bagian kanan nya, "yang tadi hanya mengisi bagian ini, masih banyak ruang di sini dan disini!" Tunjuk Kleine pada perut kiri dan perut atas.


Lion terkekeh mendengarnya, dasar gadis rakus!


Saat makan, Kleine masih punya kesempatan untuk mengoceh. "Ngomong-ngomong, semua makanan itu sangat enak. Tapi aku lebih suka daging segar ini!" Ujarnya dan memperlihatkan potongan daging di depan wajah Lion.


Lion tersenyum semakin dalam. Sangat jarang baginya untuk tersenyum tipis. Tapi, melihat semua tingkah Kleine seharian ini telah membuat dia tersenyum sepanjang waktu.


Dia semakin yakin bahwa dirinya sedang sangat tertarik dengan gadis di depannya ini.


"Kau sebenarnya sangat tampan dengan wajah datarmu, kenapa kau selalu suka tersenyum seperti orang gila?" Tanya Kleine blak-blakan yang berhasil merusak senyum manis Lion.

__ADS_1


"Apakah aku jelek jika tersenyum?" Tanya Lion dengan suara rendah dan mencoba memaksakan senyumnya kembali.


Kleine tidak menjawab dengan suara apapun, dia hanya mengangguk.


Senyum Lion saat benar-benar runtuh, bahkan selera makannya pun ikut runtuh. Dia mendorong piringnya ke depan dan minum sebagai penutup.


"Ada apa denganmu? Begitu cepat?" Tanya Kleine heran.


"Aku sudah kenyang," jawab Lion dengan malas tanpa ada senyum.


Kleine hanya mengangkat kedua bahunya dan terus makan. Benar-benar mengabaikan aura sekitar yang tampaknya mulai mencekam.


Lion merasa dirinya menjadi orang paling jelek sedunia karena kata-kata Kleine barusan. Dia jadi ragu apakah wajahnya ini cukup memenuhi selera Kleine. Apakah dia masih punya kesempatan untuk mengejarnya?


Oh perlukah baginya untuk melakukan operasi plastik agar dirinya menjadi tampan saat tersenyum?


"Apakah aku benar-benar jelek?" Tanya Lion sekali lagi untuk memastikan jawaban dari Kleine.


"Tidak begitu jelek, tapi senyummu aneh! Lebih bagus untuk terus menjadi wajah datar saja!" Jawab Kleine tanpa melihat Lion.


Kali ini Lion agak paham maksud Kleine. Karena dia memang sangat jarang tersenyum, jadi pasti senyumnya selalu kaku. Itu sebabnya menurut Kleine senyum Lion jelek.


Dalam hatinya Lion memutuskan untuk belajar lebih banyak tersenyum lagi. Hatinya sedikit lebih lega setelah mengompirmasi jawaban dari Kleine.


"Makanlah perlahan, kau bisa tersedak jika terburu-buru seperti itu!" Ujarnya mengingatkan dengan baik hati. Kleine mengabaikan pria itu dan terus makan. Tapi, di lihat dari tangannya yang mulai melambat. Lion tahu bahwa gadis itu telah mendengarkannya.


Hatinya semakin senang hanya karena hal kecil itu.


Dia melihat Kleine yang duduk di depannya dengan mata pengamat. Semakin dilihat, penampilan Kleine semakin baik dan semakin cantik rasanya.


Dulu Lion merasa tidak perlu ada wanita dalam hidupnya. Dan dia selalu mengejek Zoey yang di budakkan oleh cinta. Sekarang rasanya dia juga rela menjadi budak cinta Kleine.


###

__ADS_1


Assalamualaikum sayang🥰


Gimana kabarnya? Sehat gak tuh? Semoga selalu sehat selalu dan bahagia selalu ya... Aamiin


__ADS_2