
Setiap detik yang akan kita lewati itu seperti menunggu sebuah kejutan. Karena kita tidak pernah tahu apa yang akan terjadi di detik berikutnya itu.
Sebaik apapun kita bisa membaca masa depan. Percayalah bahwa kamu tidak akan bisa menebaknya dengan pasti.
Kejutan yang hadirpun biasanya sangat luar biasa.
Apakah kamu penasaran apa yang akan terjadi padamu di detik berikutnya?
***
"Ternyata memang sangat tampan!" Ujar Delora dengan sensual dan menggoda.
Sekertaris Mau yang melihat tingkah Delora dari samping pintu tidak bisa menahan dirinya agar tidak bergetar.
"Sangat mengerikan!" Bisiknya pada diri sendiri.
Dia tidak tahu bahwa bos yang selama ini dia layani bisa begitu berbeda dari sifat tegasnya.
Draka benar-benar akan tamat hari ini! Pikir sekertaris Mau.
Sedangkan itu, agen Draka atau Jane menatap ulah Delora dengan mata senang.
Karir kedepannya tidak akan begitu buruk! Pikir Jane dengan sangat gembira.
Dia mulai membayangkan dirinya yang akan menjadi pusat perhatian.
Ketampanan Draka memang tidak bisa ditolak. Bahkan bos besarpun tergoda dengan ketampanan Draka! Pikir Jane.
Draka meneguk air ludahnya dengan susah payah saat tangan Delora semakin nakal dan mengelus jakunnya.
Pria itu mengangkat wajahnya lebih angkuh.
Lihatlah bos besar yang sangat cantik ini saja bisa tergoda dengan ketampanan dia. Draka yakin tahun ini dia bisa naik menjadi artis A list dengan mudah.
Melihat wajah Draka yang semakin angkuh. Delora tersenyum licik. Dengan tangannya yang terus mengelus leher Draka, lalu pada wajah Draka. Setelah itu, dia secara tiba-tiba langsung menampar Draka.
Sekertaris Mau yang sudah tau bahwa Delora akan bertindak secara kasat masih terkejut melihat hasilnya.
Apalagi Jane dan Draka yang tidak siap sama sekali. Dengan keadaan beku, Draka menyentuh wajahnya yang mendapat lima sidik jari.
Jane membulatkan kedua matanya dengan tidak percaya.
"Ini?" Tanya Jane tidak terima dan maju dua langkah lebih dekat dengan Draka dan Delora.
Delora menatap Jane tajam dan mengangkat sebelah alisnya.
__ADS_1
"Keberatan?"
Plak
Tamparan lain datang disisi yang berbeda setelah pertanyaan Delora itu terlontar.
Draka yang masih linglung langsung marah setelah menerima dua tamparan secara tidak siap.
Matanya melotot tajam ke wajah orang cantik yang telah menampar wajahnya sebanyak dua kali.
Ini adalah pertama kalinya dia dipermalukan begitu baik. Dan yang mempermalukannya adalah seorang wanita kecil ini.
"Apa kau merasa marah?" Tanya Delora dengan kesal. Tingginya dengan Draka hampir sama, jadi matanya langsung bertabrakan dengan mata merah Draka.
Sementara itu, beberapa karyawan yang begitu penasaran mengintip melalui celah kunci pintu.
Bahkan ada yang menonton dari ruang pengintai.
Saat melihat Delora menggoda Draka, mereka sangat takjub melihat bos yang seksi itu.
Namun, di detik berikutnya. Mereka sangat terkejut dengan tamparan tanpa perasaan dari Delora.
Tamparan pertama membuat mereka mati kutu, sedangkan tamparan kedua membuat mereka ingin bersorak dengan keras. Jika bukan karena takut ketahuan mereka mungkin sudah berteriak sangat kencang untuk mengungkapkan perasaan bahagia mereka.
Tapi, mereka masih bertanya mengapa Delora bisa begitu marah pada Draka.
Di saat mereka masih bertanya-tanya. Delora juga bertanya secara kasar pada Draka yang menatapnya dengan marah.
"Apa ini mobilmu? Apa kau yang mengendarainya pagi ini?" Tanya Delora dengan santai memperlihatkan layar telponnya pada Draka.
Draka melihat gambar itu dengan angkuh, dia menatap Delora dan mengangguk.
"Lalu apa kau kenal mobil ini?" Tanya Delora memperlihatkan gambar mobil lainnya.
Draka yang tadinya masih marah dengan sombong menciut melihat gambar itu dan mengingat apa yang telah dia lakukan tadi pagi.
"Kenapa diam? Sekarang kau ingat?" Tanya Delora dengan senyum mengintimidasi.
Draka tidak berani mengangguk ataupun menjawab. Umurnya lebih muda dari Delora, dan statusnya jelas lebih rendah dari Delora.
Setelah melihat gambar itu, dia tidak tahu harus menjawab apa.
***
Kleine yang berniat untuk menikmati ibukota ini. Dia sedang menunggu bus yang menuju ke kafe yang sering dia kunjungi.
__ADS_1
Memainkan telepon genggamnya dengan malas, dia duduk mendominasi di halte.
Beberapa menit berlalu. Saat sedang bermain game, Kleine melihat seorang pria berlari cepat di depannya. Ada juga beberapa warga yang berteriak maling dan maling.
Dengan malas, Delora menendang batu kerikil berukuran ibu jarinya kearah pria itu.
Pria pencopet itu merasa ada sesuatu yang tajam dan keras menabrak kakinya. Membuat dia oleng dan terjatuh. Di saat bersamaan pula. Keramaian yang mengejarnya juga sampai dan segera menangkap pria itu.
Kerumunan itu ingin memukuli pria muda itu setelah mengambil tas dari pria itu. Saat seorang warga ingin terus memukulinya. Sebuah tangan yang lembut menangkap tangan kasar dan besar itu.
Pria itu menoleh dan melihat seorang gadis dengan pakaian yang flamboyan mencegah tangannya.
"Indonesia punya hukum, anda bisa di penjara bersama dia jika kau terus memukulinya!" Jawab Kleine dengan malas.
Mulutnya terus mengunyah permen karet dan membuat dia tampak sangat nakal.
Warga itu juga tidak lagi berniat memukul pria pencopet itu setelah mendengar ucapan Kleine. Dia juga tidak berniat lagi, terutama karena tangan kecil Kleine yang putih nan mulus itu bisa mencegah tangannya yang besar dan sangat kuat dengan mudah.
"Kalian tidak perlu menggunakan kekerasan. Bukankah akan lebih mudah menangkap dan mengurungnya di penjara?" Tanya Kleine dan berjalan ke bus yang baru saja berhenti.
Warga itu juga membawa pria muda yang ketakutan dan babak belur itu ke polisi. Namun, pria muda itu memberontak dan berlari ke arah Kleine.
Kleine bisa merasakan pria itu mendekatinya.
Dia baru saja akan bersiap untuk menghindar. Tapi, tiba-tiba dia merasakan kakinya terasa berat.
Dia melirik kakinya dengan wajah bingung.
"Tolong jangan biarkan mereka membawaku ke penjara. Nona kakak, aku mohon padamu!" Ujar pria itu menangis dengan sedih yang sangat tidak sesuai dengan statusnya.
Para warga menatap pria muda yang menangis dengan terlalu menyedihkan itu.
"Kalian pergi saja. Saya akan mengurus dia!" Ujar Kleine pada akhirnya merasa kasihan melihat pria muda yang menyedihkan itu.
Para warga itu tidak terlalu peduli lagi. Mereka sudah memukuli pria muda itu sebelumnya. Dan tas yang dicuri juga sudah diambil.
Jadi mereka pergi dengan tenang setelah mendengar perkataan Kleine.
"Berdirilah!" Ujar Kleine dingin setelah seluruh warga pergi.
Pria muda itu masih menangis dan tidak mau melepaskan kaki Kleine. Dia terus memegang kaki yang menjadi harapannya itu dengan erat.
Bus yang berhenti itu menekan belnya.
"Apa kau masih ingin naik nona?" Tanya sopirnya pada Kleine yang masih belum naik juga.
__ADS_1