Serangan Cinta CEO Dingin

Serangan Cinta CEO Dingin
Chapter Fourteen


__ADS_3

Yang tertawa paling akhir tidak selalu pemenang.


Karena akan ada saat dimana yang tertawa paling akhir adalah yang menerima kekalahannya dengan ikhlas.


***


"Sudah ku katakan sebelumnya bahwa proyek kali ini aku yang akan mendapatkannya!"


Seorang remaja berumur tujuh belas tahun menyombongkan dirinya pada remaja lainnya.


Dia mengejek dan menghina remaja lainnya itu.


Namanya Draka, dia adalah artis muda yang sedang naik daun.


Semenjak debutnya dua tahun lalu, Draka selalu mendapat peran yang baik karena uang dan penampilannya tentu saja.


Meskipun tidak selalu mendapat peran utama, dia akan selalu menjadi pemeran yang paling banyak tampil di layar.


Remaja yang berada disisi lain hanya tersenyum dengan acuh.


Namanya Rich, dia debut di waktu yang sama dengan Draka. Hanya saja dia tidak sepopuler pria itu.


Draka memiliki orang dalam di perusahaan ini, tentu saja dia diperlakukan lebih baik dari pendatang baru lainnya.


Rich sebenarnya berakting lebih baik dari Draka dan dari segi penampilan. Wajah Rich justru lebih tampan dari Draka.


Tapi, perusahaan selalu menahannya dan membatasinya. Dia juga tidak mendapat perlakuan yang adil dari agennya.


Agennya dengan agen Draka sama, tapi agennya selalu lebih memperhatikan Draka dibanding Rich.


Rich selalu diberikan peran kecil dan tidak pernah menunjukkan wajah aslinya yang lebih memukau dari Draka.


Dan jika ada masalah dengan nama Draka. Maka, yang menjadi sasaran atau kambing hitamnya selalu Rich.


"Di dunia ini, apa kau yakin kau ingin selalu jujur? Tidak ada yang benar-benar putih di dunia ini. Lagipula hitam dan putih itu selalu berdekatan, jika kau mau... Aku bisa mencarikan kau seorang bos!" Tawar Draka pada rich yang selalu pendiam dan tidak pernah mau meladeninya.


"Apa kau sudah selesai?" Ujar Rich pada akhirnya tidak mau menjawab ataupun menanggapi ucapan Draka.


Dia tetap tersenyum dengan ikhlas.


Draka tidak bisa berkata-kata, di dunia yang hitam adalah putih dan putih adalah hitam ini. Apakah masih ada yang dengan bodoh percaya bahwa kebaikan akan membawa keberuntungan?


Merasa kesal, Draka ingin memaki Rich yang menolak niat baiknya dengan mudah.


Tapi, saat dia ingin mengeluarkan suaranya agennya yang baik memanggilnya.


Rich berpamitan dengan dengan mereka saat melihat agen itu tampak bahagia.


Agen itu juga tidak begitu peduli dengan Rich, dia menatap Draka dengan wajah yang cerah.


"Ada apa?" Tanya Draka menahan kekesalannya saat melihat Rich pergi dengan mudah.

__ADS_1


"Bos besar ingin bertemu denganmu!" Ujar agen itu dengan sangat bahagia dan bersemangat.


"Bos besar? Apa kau yakin?" Ujar Draka juga ikut bersemangat, hanya saja dia tidak menunjukkannya di ekspresinya.


"Ya, tadi sekertaris Mau meneleponku dan ingin dia segera menemui bos besar bersama denganmu!" Jawab agen itu dengan nada yang semakin bersemangat.


"Baiklah, aku yakin ini karena sudah satu tahun ini aku telah berkontribusi terlalu banyak. Dan dia pasti ingin memberiku sebuah penghargaan!" Ujar Draka dengan percaya diri.


Agen itu hanya mengangguk.


Delora sendiri sedang membaca dokumen dengan kesal. Jika bukan karena hari ini, dia tidak tahu bahwa direktur personalia sedang memegang bayi kecil yang sangat merugikan.


Pantas saja banyak sutradara menghentikan kerjasama dengan mereka. Ternyata karena ada seorang artis yang menjadi begitu sombong dan angkuh berkeliaran atas nama perusahaan.


Delora mengirimkan file itu kepada Kleine.


Lalu dia menatap sekertaris Mau yang berdiri kaku didepannya.


"Apa kamu sudah tahu hal ini?" Tanya Delora dengan wajah datar.


"Saya tahu jika orang ini sangat suka merajalela, tapi aku tidak tahu kalau dia ada hubungannya dengan direktur personalia. Belakangan ini saya sibuk mengurus beberapa proyek besar..." Sekertaris Mau ingin terus menjelaskan tapi Delora sudah memotongnya.


"Kau tahu dan masih tidak memberitahu, apa kau tahu siapa yang telah dia ganggu?" Tanya Delora dengan wajah yang semakin gelap.


Jika bukan karena ulah bocah tengil itu, dia tentu saja tidak akan terlalu sibuk jari ini. Setidaknya pekerjaannya akan lebih mudah jika Kleine yang membantunya memeriksa. Tapi...


Sekertaris Mau melihat wajah gelap Delora. Dia masih tidak mengerti apa masalahnya, dia tidak tahu bahwa artis kecil itu bisa menjadi pusat perhatian sangat bos.


Lagipula itu masih artis b-list yang tidak begitu penting. Jika dibandingkan dengan artis A list, itu sangat tidak penting untuk dengan mudah dilaporkan pada bos besar.


Tapi, sekertaris Mau tidak berani menjawab. Dia menunduk dengan wajah bersalah.


"Kau tahu, hari bos nyata kalian akan datang dengan rela hati. Tapi, gara-gara bocah itu... Ah, lupakan!" Teriak Delora dengan sangat kencang dan frustasi.


Sekertaris Mau terkejut mendengarnya.


Apa dia tidak salah mendengar?


Bos nyata?


Bos yang berhasil menyelesaikan setiap krisis perusahaan hanya dengan hitungan menit?


Apa dia benar-benar akan datang sendiri ke perusahaan hari ini?


"Ini, apakah bos benar-benar akan datang?" Tanya sekertaris Mau dengan bergetar dan sedikit bersemangat.


Delora memutar matanya dengan malas, sebenarnya eksepsinya yang sebelumnya mungkin juga seperti itu.


"Ya, dia akan datang dan bahkan sudah berada ditempat parkir empat puluh tiga menit yang lalu. Tapi sekarang dia sudah pergi!" Jawab Delora dengan malas.


Sekertaris Mau yang sedikit bersemangat langsung jatuh. Jadi ini masalahnya!

__ADS_1


Dia juga mulai begitu membenci kelalaian yang telah dia lakukan.


Kleine yang sedang makan menerima pesan Gmail dari Delora. Dia membaca dengan sangat cepat.


Setelah membacanya selama beberapa menit, dia mengabaikan telepon dan terus makan dengan tenang.


Meskipun dia kesal karena tempat parkir yang dia targetkan diambil. Tapi, dia tidak begitu santai sehingga akan mengurus artis kecil ini. Delora saja sudah cukup mengatur artis yang sangat tidak berguna itu.


Saat melihat makanan yang sedang ia makan. Kleine tiba-tiba teringat bau harum makanan yang tadi dia cium. Selera makannya menjadi sedikit berkurang setelah mengingat hal itu.


Dia melihat tembok yang membatasi kedua rumah ini.


Kleine berpikir untuk mencari tahu data tetangga barunya. Setelah itu dia akan mencari cara agar dia bisa ikut mereka makan makanan yang enak itu.


Setelah tidak puas lagi dengan makan itu, Kleine membereskan makannya dan memilih untuk berjalan-jalan seperti biasanya.


Sembari memikirkan cara untuk bisa berkenalan dengan tetangga barunya yang landai memasak ini.


Kleine yakin bahwa yang memasak itu adalah pemilik. Karena di perumahan ini tidak ada yang menyewa pembantu.


Dan jikapun ada yang menyewa pembantu. Itu adalah pembantu harian yang di perkerjakan oleh pihak kompleks.


Itu lebih nyaman dan aman.


Kleine berpikir jika tetangganya adalah pria tua, maka dia harus menyiapkan akting terbaiknya untuk bertingkah manja.


Lion yang sibuk membaca tidak tahu bahwa dia sedang diincar.


Kleine tidak mengendarai mobilnya kali ini. Dia memutuskan untuk naik taksi atau angkutan umum saja.


Delora menatap tajam pria muda yang tersenyum sombong didepannya itu.


"Apa kamu tahu kenapa kamu dipanggil sekarang?" Tanya Delora dengan ekspresi tersenyum.


Agen itu dan Draka yang mendapat senyuman dari bos saling melirik. Mereka menebak dengan jelas apa yang membuat bos mengundang mereka berdua. Tapi, mereka menggeleng dan berpura-pura tidak tahu.


"Kami tidak tahu! Jika bos berkenan, kami berharap bisa diberitahu!" Jawab agen itu dengan bijak.


Sementara itu, Draka menunduk dengan malu.


"Oh kalian tidak tahu? Sangat wajar!" Balas Delora tanpa menghilangkan senyumnya sembari mengangguk kecil.


Kedua orang itu sekarang menjadi sedikit bingung. Tapi, mereka tetap percaya diri. Jadi, tidak ada yang memperhatikan senyum jahat Delora.


"Kau kemari!" Ujar Delora menunjuk Draka.


Draka mendongak dan melihat Delora yang cantik itu. Dia merasa sangat percaya diri dan maju dengan angkuh.


Saat Draka berada didepan mejanya. Delora berdiri dan berjalan memutar meja dengan tangannya yang tetap melukis meja.


Setelah berhenti didepan Draka, dia mengangkat tangannya yang tadi mengelus meja.

__ADS_1


Bertindak memperbaiki pakaian Draka, Delora berkata dengan manis.


"Ternyata memang sangat tampan!"


__ADS_2