
Lion kembali begadang malam ini. Tapi, kali ini dia tidak begadang begitu buruk. Jadi, dia masih bangun dalam keadaan segar. Merapikan dasinya yang agak berantakan, mengambil tas di atas meja dengan cepat berjalan ke bagasi mobil.
Dengan tombol pada kunci telah di tekan. Mobil itu terbuka secara otomatis. Dia masuk dan bersiap ke kantor.
Pagi yang cerah untuk menyambut hari yang bahagia dan membosankan.
Seperti yang di sepakati kemarin. Lion membawa makanan ke apartemen Kleine. Mobil itu bergerak cepat.
Saat sampai di depan pintu apartemen. Lion merapikan jasnya dan menekan bel pintu.
Kleine yang sedang mandi terganggu oleh suara bel pintu. Sedangkan Lion yang tidak mendapat respon terus menekan bel pintu.
"Siapa sih, pagi-pagi ganggu aja!" Ujar Kleine dan membuka pintu dengan wajah garang.
Lion menatap Kleine sebentar sebelum dia membuang muka. "Gadis ini sangat tidak bisa menjaga diri!" Kutuknya di dalam hati.
Dia sesekali mencuri intip pada Kleine yang sedang menggunakan jubah mandi dan rambut basah yang berantakan itu. Apalagi jubah mandi itu tidak berhasil menutupi tulang selangkah Kleine yang sangat menggoda itu.
Lion menelan ludahnya dengan berat.
Melihat Lion yang membuang muka tapi terus mencuri intip. Kleine hanya memutar matanya dengan malas, "Ada apa?" Tanya Kleine acuh. Sepertinya dia lupa akan perjanjian yang kemarin telah dia atur.
Lion mengulurkan tangannya yang berisi tas makanan. "Ini adalah sarapan yang ku buat!" Ujar Lion, wajahnya sedikit merah melihat wajah putih bersih Kleine.
Saat Kleine ingat, dia langsung dengan gembira mengambil makanan itu. "Kenapa lama sih!" Ujar Kleine, "masuk dulu yuk!" Ajaknya ramah. Setelah itu, dia meletakkan sarapan di meja makan. Dia sendiri datang ke lantai dua untuk mengganti pakaian.
Lion masuk dan melihat rumah yang masih sama. Tapi, kali ini tampak lebih hangat dan nyaman. Tidak seperti kemarin yang suram dan sepi. Sepertinya aura tubuh Kleine sangat mempengaruhi lingkungan tempatnya tinggal.
Lion tidak duduk, dia berjalan ke dapur untuk mengambil piring.
__ADS_1
Menyusun sarapan di atas meja. Lalu dia duduk dengan tenang menunggu Kleine turun. Karena terburu-buru dia tidak sarapan. Itu sebabnya dia juga sengaja membuat sarapan yang sangat banyak agar Kleine mengajak dia sarapan bersama.
Sepertinya tidak sia-sia dia menjadi begitu optimis.
Kleine turun dengan baju kaos merah kebesaran dan celana jins yang pendek. Lion yang melihat itu sangat tergoda. Dalam hati dia mengutuk betapa cantik dan seksinya Kleine.
"Oh, aku sudah tidak sabar untuk makan!" Ujar Kleine dan duduk di depan Lion. Dia mengambil roti lapis itu dengan kedua tangannya dan mulai mengunyah dengan semangat.
"Emm... Sangat lezat!" Gumamnya dengan pipi yang penuh makanan.
Lion juga mengambil satu untuk dia makan.
"Kau makan juga?" Tanya Kleine tidak senang karena ada yang merebut sarapannya.
"Aku mengantarnya secara tergesa-gesa, jadi tidak punya waktu untuk makan dulu. Jadi aku memutuskan membawanya ke sini untuk sarapan bersama mu saja!" Jawab Lion santai dan terus menggigit sandwich nya.
"Tapi itu makanan ku!" Ujar Kleine tidak senang.
"Hehmpt!" Balas Kleine setuju secara diam-diam. Lagipula dia hanya makan dua potong.
Sebelumnya Lion juga sudah menyiapkan dua botol susu. Dia menuangkan satu botol untuk mengisi gelasnya dan juga gelas Kleine. Setelah menghabiskan satu potong roti lapis, Lio langsung minum agar tidak tersedak.
Tapi, Kleine berbeda dengan Lion. Kleine adalah seorang foodie yang tidak mau dibilang rakus. Jadi, saat lion baru selesai minum. Kleine sebenarnya sudah menghabiskan tiga potong sandwich tanpa minum sama sekali.
Setelah menghabiskan potongan kedua dengan lamanya dan Kleine hampir menghabiskan potongan kelima. Lion mengambil inisiatif untuk membuka topik.
"Besok pagi kamu pengen aku buatkan apa?" Tanya Lion dengan ramah. Kali ini senyumnya agak lebih halus dari senyum kaku kemarin.
Lion menelan roti lapis dengan susah payah. Mengambil gelas untuk minum dan sepenuhnya mengabaikan pertanyaan Lion. Lion sendiri tidak keberatan. Dia menunggu dengan sabar sampai gadis itu selesai minum.
__ADS_1
Seperti yang Lion duga. Saat Kleine selesai minum, dia langsung menjawab Lion. Tapi jawabannya agak membuat Lio. Sadar diri.
"Hari ini kamu bahkan belum membuatku makan siang dan makan malam. Kenapa begitu cepat menanyakan apa yang ingin aku makan besok?" Tanya Kleine membuat Lion agak tidak tahu harus mengatakan apa.
Tapi setelah terdiam selama tiga detik. Dia menatap Kleine lamar, "Kalau begitu kamu ingin makan apa untuk siang ini dan malam nanti?" Tanya Lion balik.
Ditatap seperti itu membuat Kleine tidak nyaman. "Sebenarnya aku ini omnivora, apapun bisa aku makan!" Jawab Kleine dan mengabaikan Lion sepenuhnya setalah itu karena dia ingin menghabiskan satu potong sandwich yang tersisa.
"Baiklah!" Jawab Lion pelan. Kemudian dia tidak bergegas untuk pergi ke kantor. Dia justru sedang menatap senang pada Kleine yang sedang makan dengan rakus.
Itu seperti seorang tuan rakun yang sedang melihat rakusnya makan dengan lahap. Rasanya Lion sangat ingin sekali mengelus kepala Kleine saat ini. Apalagi pada rambut Kleine yang masih setengah basah.
Dia jadi teringat pertama kali dia melihat Kleine. Saat itu di lift rumah sakit. Dan yang menggodanya pertama kali juga rambut itu. Yang membuat tangannya menjadi begitu gatal untuk menganggu tatanan rapi rambut hitam polos itu.
Kleine menyadari bahwa dia sedang diamati saat ini. Setiap gerakannya, setiap kunyahannya seperti sedang dimata-matai. Dia mendongak dengan pipi bulatnya yang penuh. Menelan dengan susah payah, dia bertanya: "bukankah kau biang terburu-buru? Kenapa tidak pergi sekarang?"
"Kakek pernah mengatakan padaku bahwa tidak baik pergi di saat orang lain sedang makan!" Ujar Lion dengan santai. Kleine juga tidak menanyakannya lagi. Dia menelan potongan terakhir dan meminum susu yang ada di botol tanpa menuangkannya ke cangkir.
Dia juga perang mendengar banyak pria tua mengatakan itu. Katanya bisa berbahaya jika pergi dari ruangan di saat orang lain sedang makan. Tapi, Kleine tidak mempercayainya. Lagipula itu hanya mitos, sangat tidak layak bagi Kleine untuk mempercayai hal itu.
Tapi, Kleine juga tidak akan menegur atau menjelaskan lebih jauh untuk orang-orang yang percaya mitos. Dia hanya sedikit terkejut bahwa orang terpelajar dan pintar seperti Lion akan percaya hal seperti itu. Tapi itu hanya kejutan kecil. Dan kleine tidak menunjukkan hal itu di wajahnya.
Setalah minum setengah botol susu. Kleine mengambil cangkir dari dapur dan mengisinya dengan air putih. Dia minum air itu dengan rakus sebelum bersendawa dengan pelan.
"Alhamdulillah, ini sangat nyaman sekarang!" Bisik ha pelan sembari mengelus perutnya yang agak membuncit.
"Kenapa kau minum lagi setelah minum susu?" Tanya Lion. Agak heran dengan piring kotor dan cangkir di masing-masing tangannya.
"Kebiasaan!" Jawab Kleine singkat.
__ADS_1
###
Assalamualaikum semua😋